Share

Malam Pertama

Author: Xavier Alatas
last update Last Updated: 2025-12-25 09:28:23

Malam itu sunyi, tetapi udara terasa tegang, seperti sebelum badai. Lampu kamar diredupkan, hanya cukup untuk menyorot lekuk wajah Ara.

Rambutnya yang terurai jatuh menutupi bahu, gaun pendeknya membungkus tubuhnya dengan lembut, membuatnya terlihat rapuh dan kuat sekaligus.

Arcel berdiri di dekat jendela balkon, punggungnya lurus, bahu lebar menahan ketegangan yang sama sekali tidak menurun. Tangannya masih mengeras di sisi tubuhnya, napasnya teratur, tapi matanya tak bisa lepas dari Ara. Setiap gerakannya dipantau, setiap nafasnya dirasakan seakan menjadi satu dengan detak jantung Arcel.

Ara mengangkat kepalanya, matanya menatap Arcel dari tepi ranjang. Ada campuran kesenangan dan tantangan di sana. Ia tahu Arcel menahan diri, menjaga ritme, menjaga dirinya. Dan itu membuat hatinya berdebar lebih cepat.

“Ar,” bisiknya, suara lembut namun menantang. “Kamu ngapain berdiri di situ aja sih?”

Arcel menoleh, tatapannya dingin tapi tajam. “Aku harus memastikan kamu aman, baby girl.”

Ara m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Milyar Untuk Semalam   Selena Hamil Anak Arcel?!

    Pagi datang tanpa kelembutan. Bukan karena matahari enggan terbit, melainkan karena udara di mansion terasa berubah lebih tegang, lebih waspada, seperti napas yang ditahan terlalu lama. Ara merasakannya sejak membuka mata. Ada firasat yang tidak bisa dijelaskan, menggantung di dada seperti bayangan yang belum menemukan bentuk.Ia turun ke ruang tengah dengan langkah tenang. Wajahnya tetap datar, bahunya tegak. Tidak ada sisa malam tadi di rautnya tidak ada ketakutan, tidak ada kelelahan. Hanya kewaspadaan yang sudah menjadi bagian dari dirinya.Arcel sudah di sana. Berdiri dekat jendela besar, jas hitam rapi, sikapnya tenang seperti biasa. Namun Ara tahu. Ada sesuatu yang menunggu.Belum sempat Ara membuka mulut, suara itu datang. Tangisan tertahan. Patah. Sengaja dibuat terdengar rapuh.Ara menoleh ke arah pintu utama. Seorang perempuan berdiri di sana, ditahan dua anggota pengamanan. Rambutnya kusut tapi sengaja, riasan wajahnya sedikit luntur dengan cara yang terlalu pas untuk dise

  • Satu Milyar Untuk Semalam   Cinta Yang Semakin Dalam

    Malam tidak pernah benar-benar netral. Ia hanya berpihak pada siapa yang siap menyambutnya. Langkah Arcel berhenti tepat di ambang teras batu. Udara dingin menyentuh kulitnya, membawa aroma logam yang samar bau yang tidak pernah salah ia kenali. Ancaman. Ara berdiri di sampingnya, punggung tegak, bahu lurus. Gaun sederhana yang ia kenakan bergerak pelan tertiup angin malam, tapi tidak ada satu pun bagian dari dirinya yang tampak ragu.Bayangan bergerak di antara pepohonan. Bukan satu. Bukan dua. Banyak. Arcel mengangkat tangannya sedikit bukan untuk menahan Ara, melainkan memberi isyarat pada tim yang tersembunyi. Tidak ada teriakan. Tidak ada alarm. Malam ini bukan soal peringatan. Ini soal eksekusi terukur.“Jarak mereka terlalu percaya diri,” gumam Ara.Arcel mengangguk. “Karena mereka pikir aku akan menahan diri.”Ara menoleh. “Dan kau?”Arcel menatap lurus ke depan. “Aku sudah terlalu lama menahan.”Tembakan pertama meletus tanpa aba-aba.Arcel bergerak.Tubuhnya meluncur ke dep

  • Satu Milyar Untuk Semalam   Badai Baru

    Mansion itu akhirnya bernapas lagi, tapi bukan napas lega. Melainkan napas panjang sebelum lari. Ara menyadarinya sejak langkah pertamanya menuruni tangga utama pagi itu. Tidak ada yang berubah secara kasatmata. Karpet tetap bersih. Lampu gantung tetap berkilau. Para staf tetap bekerja seperti biasa. Namun ada sesuatu yang bergerak di bawah permukaan seperti arus laut yang tenang di atas, tapi menyimpan pusaran di bawahnya.Dan Arcel…Arcel berubah. Bukan pada wajahnya. Bukan pada suaranya. Melainkan pada caranya berdiri.Ia tidak lagi bersandar pada apa pun. Tidak pada meja. Tidak pada dinding. Seolah tubuhnya sendiri sudah menjadi penyangga penuh, siap menerima apa pun yang datang. Tegak. Diam. Mematikan.Ara menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir. “Sejak kapan kau berdiri seperti itu?” tanyanya.Arcel menoleh. Tatapan mereka bertemu. Tidak ada senyum. Tapi ada sesuatu yang lebih dalam dari itu pengakuan tanpa kata. “Sejak aku yakin mereka tidak akan berhenti mengamati,” ja

  • Satu Milyar Untuk Semalam   Ancaman Baru

    Mansion itu tidak pernah benar-benar sunyi setelah malam itu. Ada sesuatu yang berubah. Bukan pada penjagaan. Bukan pada ritme kerja. Tapi pada udara lebih berat, lebih waspada, seolah dinding-dindingnya tahu bahwa sesuatu sedang mengintai dari balik gelap.Ara merasakannya sejak bangun pagi. Ia berdiri di depan jendela kamar, masih mengenakan pakaian rumah sederhana, rambut tergerai tanpa usaha apa pun. Matahari pagi memantul di kaca, menyinari halaman luas yang tampak tenang. Terlalu tenang.Arcel berdiri di belakangnya, diam. Ia tidak menyentuh Ara. Tidak juga berbicara. Tapi kehadirannya terasa seperti lapisan pelindung kedua.“Kamu tidak tidur nyenyak,” kata Arcel akhirnya.Ara tidak menoleh. “Aku tidur. Tapi pikiranku tidak.”Arcel mendekat, berdiri tepat di belakang Ara. Tangannya bertumpu di sisi jendela, mengurung tanpa menekan. “Kamu memikirkan mereka.”“Bukan mereka,” jawab Ara pelan. “Aku memikirkan caramu menatap tadi malam.”Arcel mengernyit. “Caraku?”“Seperti seseorang

  • Satu Milyar Untuk Semalam   Arcel Makin Posesif

    Malam itu tidak berakhir dengan sunyi. Ara bersandar di dada Arcel, selimut menutup mereka berdua, sementara napas yang sempat tak beraturan perlahan menemukan ritmenya. Lampu kamar diredupkan, menyisakan cahaya hangat yang membuat garis wajah Arcel tampak lebih tegas, dan kecantikan Ara hampir terasa tidak nyata. Bukan hanya cantik ia bercahaya, seperti sesuatu yang tidak seharusnya dimiliki dunia sembarangan.Arcel menatapnya lama, seolah ingin menghafal setiap detail. Cara Ara mengerjap pelan, bibirnya yang masih kemerahan, dan ketenangan yang hanya muncul saat ia merasa aman.“Apa?” tanya Ara lirih, menangkap tatapannya.Arcel tersenyum tipis. “Aku cuma lagi mikir dunia ini kejam karena bisa melihatmu.”Ara mengernyit kecil. “Itu pujian atau peringatan?”“Keduanya,” jawab Arcel jujur. Tangannya mengusap punggung Ara, gerakannya pelindung, posesif, tapi penuh kendali. “Kalau orang lain melihatmu seperti aku melihatmu mereka akan iri. Dan orang yang iri, biasanya berubah jadi berba

  • Satu Milyar Untuk Semalam   Lepas, Gak Muat Ar!

    Ara menutup mata, napasnya masih tersengal, tubuhnya menempel sempurna di dada Arcel. Sementara itu, Arcel menahan dirinya sekuat tenaga agar tidak kehilangan kontrol. Malam ini bukan tentang terburu-buru, tapi tentang mengenal setiap detik, setiap napas, setiap getaran yang ada antara mereka.“Baby girl…” bisik Arcel, suaranya serak, hampir pecah, “kau tahu aku nggak bisa berhenti menatapmu.”Ara membuka mata, menatapnya, mata mereka bertemu dalam intensitas yang membuat dunia di luar hilang. “Aku nggak ingin kau berhenti,” jawabnya lembut tapi penuh tantangan, “aku ingin kau tetap di sini, di sampingku, sekarang dan selamanya.”Arcel menarik Ara lebih dekat, menundukkan kepala hingga dahi mereka bersentuhan. Tangan Ara bergerak menelusuri punggungnya, merasakan setiap otot yang menegang karena menahan gairah. “Setiap kali aku memegangmu…” suara Arcel rendah, “rasanya aku ingin kau tetap di sisiku selamanya. Tapi aku juga ingin kau tahu, aku bukan orang yang mudah dikalahkan, baby.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status