LOGINHer life knew no purpose until she met him; Her Alpha. Her redemption. Aria was born into poverty. She lives like a normal human, unaware of the existence of werewolves or the supernatural world. Abandoned by an ex-lover, Aria hopes never to fall in love. Her father’s constant gambling habit puts her family in debt to a notorious loan shark and they must find a way to pay up within a short period. Only a miracle can save them. When an arrogant Hayden Slade comes into her life with an offer to bear a child for him, it feels too good to be true. But just maybe, he could be the miracle she prayed for. As the alpha of one of the largest werewolf packs, Alpha Hayden Slade has accomplished almost everything he wants for his pack, but not without a price. For a cursed Alpha counting the days to his death, his greatest challenge is providing an heir for his pack before his demise. But what could be worse than the curse of untimely death? Being mated to a weak Half-blood that has no idea of her identity. A weakling that can never be his Luna. He offers her a deal to bear him an heir, not wanting any form of attachment to a half-human, half-wolf. Catching feelings isn’t a part of the deal, but what happens when he finds out that only she holds the power to break his curse? What happens when Aria discovers the real reason behind his offer and her place in the transaction? With an obsessed ex desperate to become his Luna, and a psychotic enemy who wants to overthrow the Alpha, will their bond stand the test of time? Or will Aria desert her mate when he needs her the most?
View More"Dua puluh juta, apa masih kurang?"
Seorang pria memberikan negosiasi kerjasama dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka. Ramli, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu nampak berpikir seribu kali sebelum memutuskannya. Pria itu adalah pelayan di rumah Rangga dan Vina. Pasangan suami-istri dan sedang mencari cara untuk segera mendapatkan anak. "Tugasmu cuma satu, hamili istriku!" lanjut Rangga, suami Vina.Sang istri, Vina berdiri di samping suaminya dengan wajah tak nyaman.
Bagaimana bisa dirinya harus berhubungan intim dengan pria yang menjadi pelayan di rumahnya.
Rangga kembali menegaskan tujuannya untuk mengajak Ramli bekerja sama dengan dirinya. Karena ia tahu jika Ramli sangat membutuhkan uang untuk membiayai ketiga anaknya yang ada di kampung. "Ini untuk uang muka, setelah Vina benar-benar hamil, aku genapin semuanya menjadi seratus juta. Aku rasa yang ini sudah cukup untuk biaya anak-anakmu di kampung, bahkan lebih dari cukup. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja aku tidak akan menuntutmu, setelah Vina hamil kamu bisa hidup seperti biasa, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakan kerjasama kita ini. Jangan sampai ada yang tahu!" kata Rangga dengan entengnya. Ramli, pria berwajah tegas dan sedikit pas-pasan, memiliki tatapan mata yang tajam, rambut hitam ikal dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh yang atletis bak binaraga karena pria itu pernah menjadi penjaga tempat gym di desanya. Tak ayal, ia memiliki tubuh yang proporsional dan gagah. "Tapi Pak... Apa ini tidak keterlaluan? Bu Vina adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria seperti saya? Saya rasa ini sangat tidak masuk akal!" sahut Ramli, berusaha untuk menjaga martabat majikannya. "Hah, persetan dengan itu semua. Kami berdua hanya menginginkan anak. Jika tidak, rumah tangga kami yang harus dikorbankan, dan aku harus kehilangan segalanya, apa yang aku bangun selama ini akan sia-sia, aku tidak mau itu terjadi!" kata Rangga dengan tegas. Vina menundukkan wajahnya, sebenarnya wanita itu tidak setuju dengan kerjasama yang diusulkan sang suami. Pasalnya, ia dan Ramli harus melewati masa-masa yang sangat intim yang tak seharusnya mereka lakukan. "Mas, kamu yakin ingin aku melakukan ini? Kok aku ragu, ya!" ucap Vina kepada Rangga, wanita cantik putri dari seorang konglomerat di kota itu. "Kita tidak punya pilihan lain. Kamu tahu Papamu ingin sekali kita segera memiliki keturunan, sedangkan kamu tahu sendiri, setelah kecelakaan itu, dokter memvonis aku mandul, tidak mungkin aku bisa memberimu anak, sedangkan aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, Vin! Terpaksa, kita harus melakukan cara ini!" kata Rangga meyakinkan istrinya. Vina berusaha mengerti, sang suami memang mengalami permasalahan pada sistem reproduksinya.Setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Rangga divonis tidak bisa memiliki keturunan, testisnya bermasalah karena terkena paparan zat kimia.
Apalagi tuntutan dari kedua orang tuanya yang menginginkan mereka untuk segera memberikan keturunan.Karena sudah lima tahun mereka menikah, nyatanya sampai saat ini Vina belum hamil juga.
Vina sendiri sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat karier Rangga hancur karena pria itu bekerja di perusahaan orang tuanya. Terpaksa, Vina mengikuti permintaan sang suami. Dengan sangat terpaksa ia harus bisa menerima Ramli untuk mengisi rahimnya dari benih pria itu. Meskipun wanita itu masih ragu untuk melakukannya karena Ramli hanyalah seorang pembantu di rumah. "Oke, aku setuju melakukannya, tapi Mas, aku nggak yakin jika Ramli bisa memberikan keturunan yang bagus. Kamu tahu dia itu cuma pria dari desa. Mukanya aja muka ndeso, Mas!" kata Vina sambil melihat penampilan Ramli yang sangat sederhana. Ramli sudah merasa dirinya sedang dibicarakan oleh majikannya. Pria itu melihat dirinya sendiri.Sejenak ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang dirasa tidak enak, cenderung bau asam dan kecut. Belum lagi celana tujuh perdelapan yang dipakainya saat bersih-bersih rumah. Nampak sekali penampilan pria itu sangat tidak menarik di mata para wanita.
"Kira-kira Bu Vina mau nggak ya dekat-dekat dengan pria kayak aku? Bu Vina kan cantik, tapi aku... Badan aja baunya kek kambing, gimana aku bisa menghamilinya?" batin Ramli dengan ekspresi bingung. Pantas saja Vina merasa ilfeel melihat Ramli. Wanita itu adalah seorang sosialita yang biasa bergaul dengan wanita-wanita kaya, apa jadinya jika dirinya hamil dari seorang pria yang cuma pelayan di rumahnya. Rangga kembali membujuk istrinya agar mau mengikuti rencananya, "Sudahlah, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu kira. Ramli memang pelayan dari desa, tapi aku nggak meragukan kemampuannya, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa selamat dari preman-preman itu. Aku yakin sekali jika Ramli pasti bisa membantu kita. Apalagi dia sudah terbukti punya tiga anak. Paling cuma satu atau dua malam saja, kamu sudah bisa hamil!" ucap Rangga tanpa memikirkan akibat yang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah karirnya, ia harus menyelamatkan karirnya yang sudah berada di atas. Vina pasrah, karena rasa sayangnya yang berlebihan untuk sang suami, wanita itu pun tidak bisa menolaknya. "Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika bayi yang lahir nanti tidak mirip sama kamu, tapi mirip dia!" jawab Vina dengan wajah lemas. Rangga tersenyum sambil mencium kening sang istri. "Soal itu kamu tenang saja. Yang penting kamu hamil dan melahirkan anak. Ini adalah tujuan utama kita, kan?" kata Rangga. Lalu, pria itu kembali menghampiri Ramli yang sedang berdiri tertunduk. Pria itu terlihat panik, karena kali ini pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan, tapi pekerjaan yang dibilang enak tapi sangat beresiko. Sedangkan dirinya sudah janji kepada anak keduanya untuk membelikannya sepeda baru. "Ramli, bagaimana tawaranku tadi? Istriku sudah setuju untuk melakukannya. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Ingat, kamu membutuhkan uang banyak untuk menyekolahkan anak-anakmu, apa kamu juga tidak ingin membahagiakan orang tuamu, dengan uang itu, kamu bisa merenovasi rumah agar anak-anakmu tinggal dengan nyaman, nggak kebocoran lagi pas hujan. Pikirkan baik-baik tawaran ini. Aku memberikan tawaran khusus untukmu karena aku tahu kamu pasti bisa membantuku," ucap Rangga dengan tegas. Tentu saja sebagai seorang pelayan, mana mungkin ia menyentuh istri majikannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, melihat bagaimana kondisi pernikahan Vina dan Rangga membuat Ramli akhirnya setuju untuk melakukan kerja sama. Apalagi Ramli seringkali mendengar Vina dan suaminya bertengkar hanya gara-gara soal anak, sehingga membuat pria itu tak tega melihat Vina yang menangis setelah pertengkaran itu. Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Ramli bersedia untuk bekerja sama membantu pasangan itu. "Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu kalian. Katakan, bagaimana cara kerjanya?" kata pria itu dengan lugunya. Rangga tertawa mendengar ucapan Ramli yang sangat polos. "Astaga Ramli, bagaimana bisa kamu tanyakan itu, anakmu saja sudah tiga biji, lantas kamu tanya bagaimana cara kerjanya?" kata Rangga yang tanpa sengaja Vina pun ikut tertawa kecil. BERSAMBUNGI opened my eyes slowly to find Slade watching me and a small blush crept up my cheeks. “Why are you awake?” I asked him with a sleepy voice.“Just wondering what I did to get so lucky,” He smiled at me. “And you can go back to sleep, your mom is attending to Zion already,”I have gotten used to waking up at this time to feed my baby, but I had the night off today. It’s been three days after the mating ceremony and I have had to deal with a lot after that. We were also moving into a bigger house. Slade thought the penthouse wasn’t big enough to start a family which is just off considering how large it is. He wants Zion to have the best.Now that we share a mate bond, communication was easier between us. When I was overwhelmed, he’d feel it too, and did everything he could to make me feel better. He was a great dad to his son, and many packs were sending in gifts every day since the birth of Zion, wanting a form of friendship with Dark Wolf.Sapphire was sentenced to death, but only a
ARIA“You look so adorable,” my mom wiped her eyes with the back of her hands as she stared at me “Reminds me of when I married your dad. We didn’t have an elaborate wedding, but it was the best day of my life. Everyone thought I was crazy for marrying him, but it’s the one thing I know I did right and I’d walk down the aisle with him again if I had to,” she finished.“Mom,” I fought back the tears that threatened to fall to my cheeks. Luna Evelyn specifically warned me not to ruin my makeup, and I didn’t want to have to listen to her complain if I did the exact thing she warned me not to do.Today is the mating ceremony. The day I become Luna of Dark Wolf pack, and the day I have dreamed of since I set eye on my mate. It’s funny how much things have changed, almost unbelievable.I didn’t have any expectations coming to dark wolf, but I started to have expectations as the days passed. Expectations that I didn’t expect to come through. I’d hoped my mate will come to love me, but I’d al
SLADE“What happens to Sapphire?” My beta asked me. Since she was pregnant, I knew the council will not put her to death until the baby comes, but she’d lost her right eye completely and could not clearly see with her left. I don’t deny that I want her dead though, and by my hands. After all she did to my mate and my pack, she does not deserve to live. We’d lost several warriors and it saddened me. In all my years as Alpha, I’d not witnessed so much loss in my pack, even during the days of my invasion. My heart was heavy, but the thought of my son brought me joy. People were beginning to ask questions since many of them expected me to die. I did not just survive a curse, but also a silver bullet. I sighed, my right hands reaching up to clutch my chest while I drove with my other free hand. I needed to make a stop at the dungeon where Sapphire was being held and then to Allegra’s hut. I also know I need to address the members of Dark Wolf tonight. I had meetings with the council as w
ARIAI tore my eyes from my baby and turned to my mate. He was smiling down at me while our child slept peacefully. I’d gone into labour at thirty-two weeks, earlier than the doctor had predicted but my baby was surprisingly healthy. A full-breed werewolf would carry a child for six months, but as an hybrid, I was expected to carry my pregnancy for nine months, but my little boy had come out at thirty-two weeks. It’s been almost twenty four hours since I put to bed and I was not to be discharged until tomorrow. Slade has been beside me, only leaving my side to take his own medications. He was healing, the doctor had said, but he still had a bandage around his chest. It wasn’t hard to see that he was obsessed with this child. In the last twenty-four hours, Slade barely allowed anyone near him, not even those who’d come bearing gifts.There was still a lot going on in the pack after the fight. Dark Wolf had won but with many casualties. Audrey helped in taking care of the sick as I was
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore