Home / Rumah Tangga / Sebelum Kita Bercerai / Bab 42. Pacar Maura?

Share

Bab 42. Pacar Maura?

Author: Clau Sheera
last update publish date: 2025-05-05 16:25:07

Dewangga melihat-lihat beberapa pakaian yang telah Alena pilihkan.

“Terima kasih, Alena. Saya akan mengambil semuanya,” ujar pria itu mengangguk puas. “Kamu bisa pilih pakaian yang kamu mau, biar saya yang bayar.”

“Aku … udah milih gaun ini. Menurut kamu gimana? Bagus nggak buatku?” tanya wanita itu sambil meletakkan gaun itu di depan tubuhnya.

Dewangga melihatnya sekilas dan mengangguk. “Bagus,” ujarnya yang perhatiannya segera teralihkan pada sebuah gaun sifon lembut berwarna pink muda dengan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 125. Tamu

    Selepas turun dari London Eye, Maura bergegas menyusuri sungai Thames dengan langkah kecil yang cepat menuju apartemen. Sesekali dia menoleh ke belakang, ke arah Dewangga yang berjalan cukup jauh darinya namun terasa seperti mengikutinya.Kue bomboloni, bahkan tiramisu yang sempat diidamkannya tadi menguap dari pikiran. Yang ada di pikirannya sekarang adalah segera pulang.Maura mendecih, kesal. Wanita itu menghentikan langkahnya di dekat bangku kayu di pinggir sungai Thames sambil melipat kedua tangannya di dada. Saat Dewangga melintas di depannya, dia semakin kesal karena berpikir Dewangga tak tahu malu dengan mengikutinya setelah permintaannya tempo hari ditolak.“Kamu ngikutin aku, ya?” keluh Maura saat Dewangga sekitar lima langkah melewatinya.Dewangga berhenti dan menoleh ke belakang.“Ngikutin? Kenapa aku ngikutin? Aku mau pulang,” jawab pria itu dengan ekspresi wajah sedikit bingung yang Maura benci.“Pulang? Pulang ke mana? Orang dari tadi kamu ngikutin,” keluh Maura sambil

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 124. London Eye

    “Nyonya, pria tidak bercerita. Bos juga sama,” kata Zefan perlahan. “Pria itu, kalau ada masalah biasanya diselesaikan diam-diam. Kalau masalahnya di luar kendali kayak waktu itu, seorang pria akan merasa gagal. Itulah yang bos rasakan, Nyonya.”Maura menatap keseriusan di wajah Zefan.“Meski nggak kelihatan, tapi bos sebenarnya menyalahkan dirinya sendiri. Nyonya nggak tahu, kan, kalau bos diam-diam menempatkan penjaga di sekitar rumah Nyonya? Bos menyalahkan dirinya sendiri. Katanya, kalau dia menempatkan penjaga lebih banyak lagi, mungkin anak itu masih ada. Mungkin tinggal menunggu kelahirannya, bahkan mungkin dia udah lahir.”“Udah, cukup!” pinta Maura dengan emosi yang tiba-tiba naik. “Kenapa kamu ngomong kayak gitu? Intinya kamu lagi mendukung Dewangga, kan? Karena dia bos dan sahabat kamu, kan? Kamu pengen aku maafin dia?”“Bos kan nggak salah tentang kejadian itu, Nyonya. Meski diam, tapi dia nunggu anaknya lahir sampai-sampai membeli beberapa keperluan bayi kayak—”“Cukup, Z

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 123. Kunjungan Zefan

    Pagi hari di akhir pekan, Maura tengah berjalan-jalan bersama Ruslan sambil menikmati sepotong roti panggang yang dibeli ayahnya sebelum kafe buka sekitar satu jam lagi.“Papa, gimana urusan pekerjaan Papa?” tanya wanita itu. “Rasanya seneng banget bisa jalan-jalan bareng Papa kayak gini.”Ruslan yang tangannya digandeng tersenyum lembut. “Pekerjaan papa lancar. Papa juga senang kita ada waktu buat jalan-jalan. Kamu udah ketemu Dewangga? Dia datang ke sini, buat menjalin kerja sama dengan perusahaan tempat papa bekerja. Dia akan jadi partner proyek yang sedang papa kerjakan.”“Oh, ya?” Maura mengunyah rotinya yang tiba-tiba terasa seperti spons keras. “Dia datang ke kafe dua hari lalu dan minta buat rujuk.”“Lalu apa jawaban kamu?”“Aku bilang … aku nggak mau,” jawab Maura.“Apa alasannya? Apa boleh papa tahu?”“Yah.” Maura mengedikkan bahunya sambil menarik napas panjang. “Aku cuma nggak mau kembali.”Ruslan mengangguk mengerti.“Papa lihat, dia pernah mengikutimu waktu kamu lagi jal

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 122. Permintaan Dewangga

    Angin dari arah sungai Thames bertiup lembut pagi itu.Maura tengah berjalan-jalan setelah membuka kafe yang dijaga dua orang karyawannya. Kebetulan, pelanggan masih sepi, jadi dia memiliki waktu sebentar untuk menggerakkan tubuhnya sambil mencari kudapan lezat yang tak dijual di kafenya.Sesekali wanita itu menoleh ke belakang, merasa ada seseorang yang memperhatikannya, namun orang-orang yang dilihatnya hanyalah orang asing yang tengah menikmati pemandangan sungai.Maura berjalan lagi sampai ke dekat London Eye. Dia diam sebentar melihat kincir ria raksasa itu. Ada beberapa orang yang sedang mengantri untuk menaiki kapsulnya di sana. Dia belum pernah ke sana sejak tiba di London dengan ayahnya. Haruskah dia ikut naik?Maura menggelengkan kepalanya. Dia segera berbalik dan menyusuri pinggiran sungai untuk kembali ke kafe.“Lain kali aja, kalau waktunya luang biar leluasa,” gumamnya perlahan.***Pekerjaan di kafe berjalan lancar hingga siang.Siang hari itu, Maura pergi ke dapur bela

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 121. Kesimpulan Narendra

    Laura tersenyum kaku sambil diam-diam mengepalkan tangannya.“Meski aku bukan ibu kandungmu, tapi aku yang mengurusmu sewaktu kecil, Dewangga,” katanya tak terima. “Masa iya kamu kayak gini ke mama?”“Yang benar-benar mengurusku cuma oma Ambar dan bibi pengasuh,” jawab Dewangga.“Kamu lupa? Setiap mama belanja, pasti mama akan ajak kamu, kan?” ujar Laura, meminta pengakuan.“Ya, itu karena Anda ingin berbelanja dengan puas. Dengan mengajakku, Anda bisa memakai black card milik kakek dan bisa Anda pamerkan pada teman-teman Anda,” jawab Dewangga dengan sorot mata tajam. “Anda lupa? Ketika Anda tengah asyik berbelanja, Anda selalu meminta saya menunggu berjam-jam di sofa toko sendirian. Pernah juga Anda meninggalkan saya di mall. Masih beruntung saya bisa pulang sendiri dengan menaiki taksi.”Senyum Laura pudar. Kejadian itu sudah sangat lama berlalu tapi Dewangga ternyata masih ingat jelas. Bahkan dia sendiri sudah hampir lupa.“Tapi Dewangga, mama udah bikin janji sama Sandrina. Temui

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 120. Provokasi Laura

    Sore itu menara Big Ben terdengar berdentang lima kali dari kejauhan, tanda waktu sudah pukul lima sore.Maura tengah menikmati segelas minuman cokelat hangat dan semilir angin yang berhembus perlahan di sisi sungai Thames sambil melihat pemandangan tower bridge yang cukup ramai dan beberapa kapal pesiar yang melintas.Wanita itu merapatkan jaketnya. Meski sudah tinggal beberapa bulan di sana, dia masih belum terbiasa dengan suhu udaranya yang lebih dingin dari suhu udara di Indonesia.“Mau pancake?” tanya Narendra sambil mendekat dan menyodorkan sebuah pancake panas yang dibungkus kertas roti.“Makasih.” Maura tersenyum sambil menerima pancake itu.Narendra tersenyum sambil menatap kapal pesiar di depan mereka. “Kalau menikmati afternoon tea sambil berlayar kayaknya enak, tuh.”“Males, ah,” jawab Maura sambil menggigit kuenya.Narendra terkekeh geli. Sudah berapa kali wanita itu menolak ajakannya entah apapun itu? Meski cuma menaiki London Eye berdua atau ke tempat manapun yang dia m

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 81. Kegelisahan Alena

    “Maura, ini minumnya,” kata Dewangga ketika mereka sampai di dalam kamar. “Aku udah nggak haus,” jawab Maura acuh tak acuh sambil naik ke ranjang dan segera berbaring. “Apa?” Dewangga tertegun tak mengerti, kemudian menghela napasnya saat menatap Maura yang memejamkan mata. “Aku simpan gelasnya d

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 80. Obrolan Dua Wanita

    Clara menatap Narendra dengan marah dan sedih. Gadis itu menangkap mata kakaknya penuh keseriusan, luka, dan harapan yang selalu ada.Sudah bertahun-tahun, tapi perasaan kakaknya terhadap Maura tak pernah berubah, padahal Maura selalu menganggap kakaknya hanya sebagai lalat pengganggu di hidupnya.

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 79. Perkelahian

    Dewangga menghela napasnya.“Kamu punya rokok?” tanyanya.“Nggak, jangan merokok di rumah ini. Itu aturan dari oma di rumah ini, terlebih Maura sedang hamil sekarang,” ujar Narendra tersenyum. “Rokok nggak bisa menyelesaikan masalah.”"Aku tahu. Aku belum berencana ngasih tahu siapapun terkait perc

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 78. Obrolan Sore

    "Dokter bilang, kondisimu masih lemah. Jadi sebaiknya kamu nginap aja di sini, ya. Ini juga rumahmu, Maura. Mulai sekarang, kamu dan Dewangga tinggal aja di kamar ini. Nggak boleh naik tangga." Oma Ambar tersenyum sumringah, mengantar Maura ke kamar tamu di rumah keluarga besar mereka di lantai sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status