
Pesona Upik Abu
Sri Rejeki jatuh dari tangga dan menderita amnesia ketika dia masih berusia delapan tahun.
Saat dia berusia 18, dia mulai menemukan potongan ingatannya yang hilang.
Gadis ceria itu mulai menyadari bahwa orang tua yang merawatnya selama sepuluh tahun itu mungkin bukanlah orang tua kandungnya. Apalagi sejak dia menemukan ada 'Sri Rejeki lain' yang sudah meninggal 10 tahun lalu, yang kemungkinan anak kandung orang tuanya.
Kecelakaan yang ibunya alami, membuat ibunya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga, tak bisa bekerja. Demi menopang perekonomian keluarga karena ayahnya seorang penjudi dan tukang mabuk, Sri menggantikan ibunya bekerja di sebuah apartemen milik Sagara, anak majikan ibunya yang seorang pewaris kaya.
Dari apartemen itulah, dia mulai mendapatkan sebuah titik terang yang memandunya mengungkap kecelakaan 10 tahun lalu.
Dalam pencarian jati diri, kebohongan demi kebohongan harus dia rajut, sebagai pelindung hatinya agar tetap utuh, membawanya pada takdir yang tak mudah dijalani.
Read
Chapter: Bab 29Sri meremas erat tali ranselnya. Kuku-kukunya memutih, menahan gejolak amarah yang mendadak membakar dada. Dia memang belum mengingat seluruh detail masa kecilnya tentang Aurora, namun kepingan ingatan yang kembali lewat kilatan memori kemarin sudah lebih dari cukup. Ada rasa sesak dan tidak terima yang membubung tinggi di dalam hatinya. Posisi sebagai putri tunggal di keluarga Natawijaya—kasih sayang Ananta dan Dikara—seharusnya adalah miliknya, bukan milik Aurora yang datang sebagai anak angkat pengganti. Kini, sepupu dari gadis pengambil posisinya itu berdiri di depannya, melontarkan hinaan tanpa tahu selembar pun fakta yang sebenarnya. Sri menarik napas dalam-dalam, mengunci tatapan berapi-api Leona dengan ketenangan yang mematikan. "Menjaga ucapanmu akan jauh lebih baik, Leona," ujar Sri, suaranya mengalun tenang namun sanggup memotong keriuhan kelas. "Asal kamu tahu, Sagara Mahardika itu sejak awal dijodohkan de
Last Updated: 2026-06-05
Chapter: Bab 28Aroma kopi hitam menyambut Sri begitu ia menggeser pintu kaca apartemen Sagara.Pagi itu, suasana terasa lebih sibuk dari biasanya. Di ruang tengah, Pak Hendra sudah berdiri tegak dengan beberapa berkas di tangan, tampak serius membicarakan agenda mingguan bersama Sagara yang duduk di sofa dengan laptop menyala di pangkuannya.Sri tidak ingin menjadi pengganggu. Ia segera menundukkan kepala, memberikan senyum tipis yang sopan sebagai bentuk tata krama, lalu melangkah lurus menuju ruang utilitas untuk mengambil perlengkapan kerjanya.Di balik penampilannya yang tenang, otaknya terus berputar memikirkan tanggal 20 Mei yang kian dekat—hari ziarah, sekaligus hari di mana ia akan melihat orang tua kandungnya di balik bayangan identitas Sri Rejeki.Ketika Sagara beranjak bangkit dan berjalan masuk ke kamar utama untuk menerima panggilan telepon penting. Tinggallah Pak Hendra sendirian di ruang tengah, sibuk meneliti selembar kertas memo.Sri
Last Updated: 2026-06-05
Chapter: Bab 27Denting notifikasi ponsel pintar di atas meja belajar memecah keheningan kamar Sri. Gadis yang tengah belajar untuk ujian itu segera meraih layarnya, mendapati sebuah pesan teks dari Pak Hendra.[Pak Hendra: Nona Sri, pelaku yang mengunci Anda di ruang ganti lapangan golf kemarin sudah berhasil saya temukan.]Sri menegakkan punggungnya. Rasa penasaran langsung merayapi benaknya. Dengan jemari yang bergerak cepat, ia mengetik balasan.[Sri: Siapa orangnya, Pak?]Tidak butuh waktu lama bagi Pak Hendra untuk mengirimkan sebuah nama yang sebenarnya sudah sangat Sri duga sejak awal, bersama potongan videonya.[Pak Hendra: Nona Aurora.]Sri mengembuskan napas pendek. Tebakannya tidak meleset. Wanita itu memang memiliki motif paling besar untuk melakukannya, setelah ancamannya waktu itu di koridor rumah Mahardika tak membuahkan apa-apa.[Sri: Terima kasih informasinya, Pak. Tolong rahasiakan hal ini dari Tuan Sagara. Saya
Last Updated: 2026-06-04
Chapter: Bab 26"Apa yang kamu lihat, Sri?” Suara bariton Sagara memecah sunyi.Sri tersentak. Pertanyaan itu seketika menariknya kembali dari pusaran memori masa lalu yang membingungkan. Ia mati-matian menelan ludah, menekan gejolak emosi yang bergemuruh di dalam dadanya agar suaranya tidak terdengar ganjil.“I-ini, Tuan … saya menemukan beberapa lembar foto. Sepertinya ini foto-foto lama,” jawab Sri dengan suara yang hampir bergetar. Ia berusaha keras mengendalikan napasnya yang sempat memburu.Sagara menyipitkan matanya, mengamati perubahan ekspresi di wajah pembantunya. “Bawa ke sini. Saya mau lihat.”Sri mengangguk patuh. Dengan jari-jari yang masih terasa dingin dan sedikit gemetar, ia memunguti belasan lembar foto yang sempat bertebaran di atas lantai marmer tersebut. Ia menyusunnya tergesa-gesa bersama tumpukan dokumen lama, lalu melangkah mendekati meja kerja tempat Sagara duduk di kursi kebesarannya. Sri mengulurkan tumpukan foto itu dengan kepala t
Last Updated: 2026-06-04
Chapter: Bab 25Sri mengepalkan tangannya kuat-kuat, menatap lurus ke mata ayahnya yang dipenuhi ketamakan. Pikiran bahwa kontrak rahasianya akan terbongkar sempat melintas dan membuat dadanya berdegup kencang. Namun, ia harus tetap berdiri tegak demi melindungi rahasia besarnya. "Bapak tahu itu mobil siapa? Itu mobil Tuan Sagara!! Mobilnya banyak. Asistennya mengantarku pulang karena kami searah," bohong Sri lagi. "Gaun di lemari itu adalah baju pinjaman dari sekolah untuk pentas drama saat perpisahan nanti!!" Pak Surya mendengus, menatap Sri dengan pandangan yang penuh curiga. Sambil berkacak pinggang, pria itu melirik sinis ke lemari pakaian Sri. "Halah, awas saja kalau kamu bohong. Nanti pasti ketahuan!" Pria itu berbalik dan melangkah pergi meninggalkan kamar dengan hentakan kaki kesal karena gagal memeras uang darinya. Begitu pintu berdebam menutup, Sri menghembuskan napas lega, mencoba meredakan debaran jantungnya yang menggila. Namun, tatapa
Last Updated: 2026-06-03
Chapter: Bab 24Mencoba tetap tenang di bawah tatapan ibunya, Sri segera memutar otak dan menyusun sebuah kebohongan demi menutupi sandiwara kontraknya. “Tadi sepulang kerja di apartemen, Lestari ngajakin aku ke studio foto, Bu," ujar Sri sambil memaksakan sebuah senyuman tipis, berharap raut wajahnya terlihat meyakinkan. "Kami melakukan sesi foto bersama buat kenang-kenangan sebelum perpisahan sekolah nanti. Baju dan make-up-nya dipinjamkan dari Lestari. Maaf ya, Bu, aku nggak sempat izin dulu tadi." Bu Sulastri menatap putrinya lekat-lekat, lalu tersenyum hangat. "Anak Ibu cantik sekali. Sampai pangling Ibu melihatnya." Sri memaksakan sebuah senyuman. Untungnya, seorang perawat datang untuk memberikan informasi mengenai kepulangan bu Sulastri. Pak Hendra segera bergerak cepat membantu mengurus administrasi, sementara Sri pergi ke bagian farmasi untuk mengambil obat. Proses administrasi berjalan cepat berkat efisiensi k
Last Updated: 2026-06-03
Chapter: Extra 3Pesawat komersial mendarat mulus di Bandara Charles de Gaulle.Bagi Maura, ini bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan awal dari mimpi yang sempat tertunda. Pernikahan pertama mereka berjalan dingin tanpa ada pelukan hangat, apalagi sebuah perjalanan bulan madu.Namun kini, di bawah langit Paris yang romantis, Dewangga siap membayar tuntas semua waktu yang hilang.Mereka menginap di sebuah hotel mewah di kawasan Place Vendôme. Dari balkon kamar, Menara Eiffel berdiri megah di kejauhan.Begitu tiba, Dewangga langsung memeluk Maura dari belakang, menghirup aroma rambut istrinya dengan mesra."Akhirnya kita sampai, Sayang. Maaf ya, baru bisa membawamu ke sini sekarang," bisik Dewangga lembut.Maura berbalik, mengalungkan tangannya di leher Dewangga sambil tersenyum manis. "Tidak ada kata terlambat, Dewangga. Aku bahagia sekali."Empat hari di Paris dilewati bagai untaian mimpi indah. Pada hari pertama, mereka berjalan santai menyusuri jalanan berbatu di Montmartre, menikmati atmos
Last Updated: 2026-05-25
Chapter: Extra 2Maura masuk ke ruang rias itu. Mungkin memang kehadirannya yang seorang istri bos akan membuat canggung beberapa orang, padahal dia ingin berbaur dengan siapapun tanpa perlu memandang siapa dirinya.Seorang perias dengan dua asistennya menyambut Maura dengan ramah, meminta wanita itu duduk di kursi menghadap cermin.“Mbak, yang lain beneran ada di sebelah?" tanya Maura sedikit canggung.“Iya, Bu.”“Kok rasanya ada yang aneh, ya?” tanya Maura mulai merasakan keganjilan.“Sebaiknya bu Maura nggak perlu berpikir macam-macam. Fokus saja biar hari ini tampil maksimal," sahut penata rias itu dengan nada menenangkan yang justru terdengar mencurigakan.Kecurigaan Maura memuncak saat dia diminta mengenakan gaun yang tak mirip dengan gaun bridesmaid. Gaun itu berwarna putih bersih, berbahan premium, dengan potongan megah yang sangat indah."Mbak, ini salah kostum nggak, sih? Kenapa gaun saya lebih mirip gaun pengantin?" tanya Maura panik sambil menatap pantulan dirinya di cermin.Penata rias
Last Updated: 2026-05-24
Chapter: Extra 1Ponsel Maura yang tergeletak di ruang tengah berdering beberapa kali saat wanita itu tengah memasak di dapur untuk makan siang. Mia yang mendengarnya segera mengambil ponsel itu dan mengantarkannya pada Maura. “Nyonya, HP-nya bunyi terus dari tadi,” ujarnya sambil menyodorkan ponsel Maura. “Oh, siapa yang menelepon?” tanya Maura sambil meletakkan pisau yang tengah digunakannya mengiris bawang merah. “Nggak ada namanya, Nyonya,” jawab Mia. “Oke, makasih.” Maura menerima ponselnya sambil menggeser tombol hijau di layarnya, sementara Mia berpamitan pergi. “Halo?” “Halo, Maura,” sapa seorang wanita di seberang sana, membuat Maura mengerutkan alisnya. “Ini Marina. Kamu masih ingat aku, ‘kan?” “Oh, iya. Ada apa?” tanya Maura yang sedikit bingung karena Marina tahu nomor ponselnya padahal dia sudah mengganti nomornya dengan yang baru sesaat sebelum berangkat ke London hari itu. “Siang ini ada waktu, ‘kan?” tanya Marina di ujung sana. “Siang ini?” “Iya, siang ini. Waktu itu
Last Updated: 2026-05-19
Chapter: Bab 136. TAMATHari telah pagi sekitar pukul enam. Dewangga masih memejamkan matanya saat Maura terbangun. Wanita itu menatap Dewangga dalam diam, dengan berbagai pikiran di benaknya. Maura pikir pria itu sama sekali tak peduli saat anaknya meninggal karena wajahnya selalu terlihat datar tanpa kesedihan. Maura pikir pria itu tak menginginkan anaknya karena pernah menawarinya opsi untuk menggugurkan kandungannya. Namun ternyata Dewangga memendam segalanya sendiri. “Kamu kelihatan capek banget,” kata Maura perlahan seolah dia tengah berbicara pada dirinya sendiri. Wanita itu turun perlahan dan segera membersihkan diri. Selesai membersihkan diri dan memakai pakaiannya yang telah kering, Dewangga masih tertidur pulas. Maura turun ke lantai bawah. Tampak Mia dan mbok Narti masih menyapu sisa-sisa pecahan kaca yang berserakan, bahkan beberapa guci dan benda lainnya ikut rusak. “Selamat pagi, Nyonya.” Zefan menampakkan dirinya sambil tersenyum, dengan secangkir kopi di tangannya. “Zefan? Kamu udah di
Last Updated: 2026-05-18
Chapter: Bab 135. IzinDewangga dengan cepat melihat ke luar ke arah bawah. Tampak seorang wanita mendongak sambil memakinya dengan kasar dan terus melemparkan batu. Ada yang mengenai dinding, ada juga yang mengenai bingkai jendela.“Berengsek! Balikin rumah saya! Balikin perusahaan saya!!” teriak wanita itu dari arah luar.“Jangan turun! Banyak pecahan kacanya, nanti kena kaki,” peringat Dewangga saat Maura menyibak selimutnya dengan hati-hati dan mulai menurunkan kakinya.Maura menarik kakinya kembali ke atas ranjang sambil menggenggam erat botol hangat di tangannya, kemudian Dewangga segera mendekat dan menyingkirkan selimutnya jauh-jauh.“Buat sementara, tidur dulu di kamar sebelah, Maura,” ujar Dewangga sambil menggendong Maura dan membawanya dengan enteng.“Itu … itu kayaknya suara tante Silvia, ya?” tanya Maura dengan wajah yang masih syok sambil melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu, meninggalkan botol hangatnya.
Last Updated: 2026-05-18
Chapter: Bab 134. Serangan MalamHari sudah cukup larut saat Dewangga pulang ke rumahnya dengan menenteng sebuah tas dan jas kerjanya di tangan.Seluruh lampu utama di semua ruangan telah padam dan ruangan hanya diterangi cahaya lampu dinding yang temaram.Pria itu duduk bersandar setengah berbaring di sofa ruang tengah, melepas lelah setelah seharian ini kegiatannya sangat padat dan menguras tenaga. Banyak hal yang harus diurus termasuk perusahaan Ruslan yang sudah diambil alih olehnya. Belum lagi harus mengurus perusahaan ayahnya sehingga dia belum sempat menemui oma Ambar secara pribadi.Dewangga mengecek arlojinya. Jam sudah menunjukkan waktu pukul sebelas lebih.“Seharusnya Maura masih dalam perjalanan ke London,” ujarnya perlahan sambil memejamkan matanya sejenak.Rasa kantuk yang mulai datang memaksanya untuk membuka mata dan naik ke lantai atas. Namun ketika dia tiba di depan kamarnya, dia melihat pintu kamar sebelah sediki
Last Updated: 2026-05-18