author-banner
Clau Sheera
Clau Sheera
Author

Novel-novel oleh Clau Sheera

Sebelum Kita Bercerai

Sebelum Kita Bercerai

Maura mencintai suaminya—Dewangga— seperti orang gila. Sayangnya Dewangga sangat membencinya karena menuduh Maura telah menjebaknya di kamar hotel sehingga mereka terpaksa menikah. Ketika Dewangga mengajukan gugatan cerai, Maura melarikan diri ke Perancis untuk berlibur sejenak. Nahas, Maura kecelakaan di sana. Dia pulang ke rumah suaminya dalam keadaan amnesia. Dewangga segera menanyakan tentang berkas perceraian mereka yang harus ditandatangani Maura begitu Maura pulang. Tapi, Maura tak ingat. Ketika berkas perceraian itu sudah ditemukan, Dewangga hanya memberikan waktu tiga bulan pada Maura untuk bersiap-siap meninggalkan rumahnya. Dewangga tak akan pernah menyangka bahwa waktu tiga bulan sangat cukup untuk membuat hatinya dan hati Maura berubah.
Baca
Chapter: Bab 92. Tamu Tak Diundang
Pagi datang membawa kesegaran.Di luar, dedaunan masih basah bekas hujan semalam.Maura membuka jendela kamarnya membiarkan udara segar masuk menggantikan udara yang terperangkap semalaman, lalu dia duduk di depan meja rias untuk menyisir rambutnya yang panjang.“Sejak hamil kayaknya rambutku makin jarang rontok, deh,” gumamnya sambil melihat sisirnya bersih tanpa sehelai pun rambut yang terlepas.Wanita itu tersenyum menatap foto janinnya yang diselipkan di sisi bingkai cermin.Anak itu semakin tumbuh besar. Detak jantungnya kuat dan sehat, membuatnya ingin kembali bekerja di restoran milik Andreas.Apa kabar anak-anak resto?Akhir-akhir ini mereka semakin jarang bertukar kabar karena Maura yakin mereka pasti semakin sibuk.Bahkan sudah hampir dua minggu Andreas tak mengirimkan pesan lagi padanya meski hanya sekedar bertanya kabar dan basa-basi.Maura sendiri pun tak mengirimkan pesan karena tak mau mengganggu kesibukan orang lain. Belum lagi ada Marina yang mungkin akan mengamuk kal
Terakhir Diperbarui: 2026-03-04
Chapter: Bab 91. Waktu Berlalu
Keesokan harinya, Maura bangun dengan perasaan yang lebih waspada. Dia mengecek jendela yang semalam dilewati orang misterius itu.Tak ada kerusakan maupun goresan apapun seolah apa yang terjadi semalam hanya halusinasinya.“Tidurmu nyenyak, Mia?” tanya Maura sambil duduk di sofa saat Mia tengah mengelap guci di bufet, sementara bu Dina sedang mencuci pakaian di ruang laundry.“Nyenyak, Nyonya,” jawab Mia yang sekali-kali memijat bahunya. “Nggak biasanya aku ketiduran di meja belajar kayak kebo, bikin badan sakit-sakit. Bangun-bangun udah agak terang di luar, padahal aku set alarm jam lima.”Maura tersenyum sambil menelan ludahnya. Dia yakin semalam bukan mimpi.“Oh, iya. Bukannya waktu semalam kamu udah ngecek semua pintu dan jendela, ya?” tanya Maura lagi, membuat Mia mengerutkan alisnya.“Udah, Nyonya. Apa ada jendela yang saya lupa kunci?” Wanita muda itu balik bertanya dengan wajah bingung.“Nggak.” Maura menggelengkan kepalanya sambil melirik jendela itu. Seingatnya juga, jendel
Terakhir Diperbarui: 2026-03-03
Chapter: Bab 90. Sosok Pria Misterius
“Nyonya, siapa yang datang?” tanya Mia begitu Maura kembali masuk setelah membuang kotak kardus itu. “Nggak ada siapa-siapa. Mungkin ada yang iseng pencet bel. Biasanya sih, anak-anak,” jawab Maura sambil tersenyum dan duduk kembali. “Ah, aku ngantuk.” “Nyonya mau tidur lagi?” tanya Mia. “Ya, sebentar aja. Bangunin kalau satu jam aku belum bangun, ya,” pinta Maura sambil merebahkan diri di sofa dengan mengenakan selimutnya. “Ya, Nyonya.” Mia mengangguk patuh meski sedikit heran dengan perubahan wajah Maura yang tampak sedikit gelisah. Sebenarnya dia ingin bertanya, namun urung karena tak mau mengganggu istirahat Maura. *** Malam datang dengan cepat. Sekitar pukul delapan, Mia mengecek semua pintu dan jendela, memastikan semuanya terkunci dengan aman sementara Maura menonton berita di televisi setelah makan malam. “Nyonya, kapan jadwal Anda periksa ke dokter?” tanya Mia begitu dia selesai mengecek semuanya. “Dua hari lagi, kalau nggak ada keluhan berat,” jawab Maura sa
Terakhir Diperbarui: 2026-03-02
Chapter: Bab 89. Kiriman Bunga Kering
Siang itu, Dewangga makan bersama Zefan di sebuah restoran di area pusat perbelanjaan.Selesai makan, keduanya berpisah karena Zefan harus membeli sesuatu sebelum jam istirahat habis, sementara Dewangga berjalan pulang melintasi deretan pertokoan.Ketika melewati sebuah toko perlengkapan bayi, dia berhenti sejenak, kemudian masuk dan disapa pegawai tokonya.“Saya ingin membeli sesuatu buat anak saya,” ujar Dewangga pada pegawai toko itu. “Apa ada rekomendasi produk yang bagus?”“Apa yang mau Anda beli, Pak? Pakaian, boneka, peralatan makan bayi, stroller, atau mainan bayi?”“Hmm … pakaian saja,” jawab Dewangga cepat.“Anaknya usia berapa?”“Dia belum lahir.”Pegawai toko itu menahan senyumnya. “Lalu, perlengkapan apa yang udah dibeli, Pak?”Dewangga berpikir sejenak. Dilihat dari kondisi Maura, sepertinya wanita itu belum membeli sesuatu. Tapi entahlah.
Terakhir Diperbarui: 2026-02-28
Chapter: Bab 88. Resi Palsu
Pagi menjelang. Di luar, udara dingin berhembus perlahan menyapu ranting-ranting basah bekas hujan semalam. Sinar matahari baru nampak setelah tertutup awan tipis sejenak. Zefan menjemput Dewangga tepat setelah pria itu selesai sarapan. “Kamu menginap di rumah nyonya?” tanya Zefan sambil menahan senyum saat Dewangga baru masuk ke mobilnya. “Di mana mobilmu?” “Di pinggir jalan, mogok.” “Mogok? Serius?” tanya Zefan tak percaya karena setahunya, mobil-mobil milik Dewangga sangat terawat sehingga tak akan mogok begitu saja. “Bannya kempes. Nggak ada ban cadangan,” jawab Dewangga dengan wajah datar sambil membuka ponselnya untuk mengecek e-mail. “Pakaian ganti untuk hari ini—” “Sedang dalam perjalanan ke kantor,” jawab Zefan sambil menjalankan mobilnya. “Oke.” “Bagaimana rasanya jadi calon ayah?” tanya Zefan. “Menikah sana, kalau
Terakhir Diperbarui: 2026-02-27
Chapter: Bab 87. Obrolan Dua Insan
“Tuan, ini paket yang Nyonya terima tadi,” kata Mia dengan suara perlahan sambil melirik pintu kamar Maura yang sudah tertutup rapat. “Nggak ada nama pengirimnya.” Dewangga yang tengah berbaring di sofa dengan selimut yang menutupi setengah tubuhnya segera duduk. “Berikan padaku,” pintanya. Mia langsung menyerahkannya. Dewangga segera memeriksa isi paket tersebut dan mengeluarkan boneka pink. “Bonekanya rusak?” Pria itu mengerutkan alisnya. “Seharusnya bukan rusak, Tuan. Tapi sengaja dirusak.” Dewangga mengangguk mengerti. “Lalu, apa yang kamu katakan padanya?” “Saya bilang … mungkin bonekanya tersangkut sesuatu ketika sedang dibungkus sehingga robek, Tuan.” “Bagus. Ini udah malam. Sebaiknya kamu segera tidur.” “Ya, Tuan. Saya permisi,” pamit Mia dan segera beranjak menaiki tangga. Dewangga termenung menatap boneka di tangannya. Meski tidak ada cat merah atau noda darah, keb
Terakhir Diperbarui: 2026-02-26
Anda juga akan menyukai
Obsesi Gila Atasan Suamiku
Obsesi Gila Atasan Suamiku
Rumah Tangga · Fitria callista
3.7K Dibaca
Istri Kampungan Kesayangan Presdir
Istri Kampungan Kesayangan Presdir
Rumah Tangga · Aleena Marsainta Sunting
3.7K Dibaca
Menikahi Pria Lumpuh
Menikahi Pria Lumpuh
Rumah Tangga · Kareniavorg
3.7K Dibaca
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status