LOGINMaura mundur beberapa langkah dan secara naluri berlindung di balik tubuh Dewangga. Tiba-tiba saja ada perasaan takut yang menyergap hatinya saat melihat sorot mata pria asing itu.
“Dia beneran pacarmu, Maura?” tanya Dewangga menahan geram sambil menoleh dan menatapnya penuh penghakiman. “Aku nggak tahu, aku nggak ingat,” jawab Maura dengan pupil mata bergetar. Dewangga menarik napasnya panjang sambil mengepalkan tangannya. Amarahnya yang hampir meSelepas turun dari London Eye, Maura bergegas menyusuri sungai Thames dengan langkah kecil yang cepat menuju apartemen. Sesekali dia menoleh ke belakang, ke arah Dewangga yang berjalan cukup jauh darinya namun terasa seperti mengikutinya.Kue bomboloni, bahkan tiramisu yang sempat diidamkannya tadi menguap dari pikiran. Yang ada di pikirannya sekarang adalah segera pulang.Maura mendecih, kesal. Wanita itu menghentikan langkahnya di dekat bangku kayu di pinggir sungai Thames sambil melipat kedua tangannya di dada. Saat Dewangga melintas di depannya, dia semakin kesal karena berpikir Dewangga tak tahu malu dengan mengikutinya setelah permintaannya tempo hari ditolak.“Kamu ngikutin aku, ya?” keluh Maura saat Dewangga sekitar lima langkah melewatinya.Dewangga berhenti dan menoleh ke belakang.“Ngikutin? Kenapa aku ngikutin? Aku mau pulang,” jawab pria itu dengan ekspresi wajah sedikit bingung yang Maura benci.“Pulang? Pulang ke mana? Orang dari tadi kamu ngikutin,” keluh Maura sambil
“Nyonya, pria tidak bercerita. Bos juga sama,” kata Zefan perlahan. “Pria itu, kalau ada masalah biasanya diselesaikan diam-diam. Kalau masalahnya di luar kendali kayak waktu itu, seorang pria akan merasa gagal. Itulah yang bos rasakan, Nyonya.”Maura menatap keseriusan di wajah Zefan.“Meski nggak kelihatan, tapi bos sebenarnya menyalahkan dirinya sendiri. Nyonya nggak tahu, kan, kalau bos diam-diam menempatkan penjaga di sekitar rumah Nyonya? Bos menyalahkan dirinya sendiri. Katanya, kalau dia menempatkan penjaga lebih banyak lagi, mungkin anak itu masih ada. Mungkin tinggal menunggu kelahirannya, bahkan mungkin dia udah lahir.”“Udah, cukup!” pinta Maura dengan emosi yang tiba-tiba naik. “Kenapa kamu ngomong kayak gitu? Intinya kamu lagi mendukung Dewangga, kan? Karena dia bos dan sahabat kamu, kan? Kamu pengen aku maafin dia?”“Bos kan nggak salah tentang kejadian itu, Nyonya. Meski diam, tapi dia nunggu anaknya lahir sampai-sampai membeli beberapa keperluan bayi kayak—”“Cukup, Z
Pagi hari di akhir pekan, Maura tengah berjalan-jalan bersama Ruslan sambil menikmati sepotong roti panggang yang dibeli ayahnya sebelum kafe buka sekitar satu jam lagi.“Papa, gimana urusan pekerjaan Papa?” tanya wanita itu. “Rasanya seneng banget bisa jalan-jalan bareng Papa kayak gini.”Ruslan yang tangannya digandeng tersenyum lembut. “Pekerjaan papa lancar. Papa juga senang kita ada waktu buat jalan-jalan. Kamu udah ketemu Dewangga? Dia datang ke sini, buat menjalin kerja sama dengan perusahaan tempat papa bekerja. Dia akan jadi partner proyek yang sedang papa kerjakan.”“Oh, ya?” Maura mengunyah rotinya yang tiba-tiba terasa seperti spons keras. “Dia datang ke kafe dua hari lalu dan minta buat rujuk.”“Lalu apa jawaban kamu?”“Aku bilang … aku nggak mau,” jawab Maura.“Apa alasannya? Apa boleh papa tahu?”“Yah.” Maura mengedikkan bahunya sambil menarik napas panjang. “Aku cuma nggak mau kembali.”Ruslan mengangguk mengerti.“Papa lihat, dia pernah mengikutimu waktu kamu lagi jal
Angin dari arah sungai Thames bertiup lembut pagi itu.Maura tengah berjalan-jalan setelah membuka kafe yang dijaga dua orang karyawannya. Kebetulan, pelanggan masih sepi, jadi dia memiliki waktu sebentar untuk menggerakkan tubuhnya sambil mencari kudapan lezat yang tak dijual di kafenya.Sesekali wanita itu menoleh ke belakang, merasa ada seseorang yang memperhatikannya, namun orang-orang yang dilihatnya hanyalah orang asing yang tengah menikmati pemandangan sungai.Maura berjalan lagi sampai ke dekat London Eye. Dia diam sebentar melihat kincir ria raksasa itu. Ada beberapa orang yang sedang mengantri untuk menaiki kapsulnya di sana. Dia belum pernah ke sana sejak tiba di London dengan ayahnya. Haruskah dia ikut naik?Maura menggelengkan kepalanya. Dia segera berbalik dan menyusuri pinggiran sungai untuk kembali ke kafe.“Lain kali aja, kalau waktunya luang biar leluasa,” gumamnya perlahan.***Pekerjaan di kafe berjalan lancar hingga siang.Siang hari itu, Maura pergi ke dapur bela
Laura tersenyum kaku sambil diam-diam mengepalkan tangannya.“Meski aku bukan ibu kandungmu, tapi aku yang mengurusmu sewaktu kecil, Dewangga,” katanya tak terima. “Masa iya kamu kayak gini ke mama?”“Yang benar-benar mengurusku cuma oma Ambar dan bibi pengasuh,” jawab Dewangga.“Kamu lupa? Setiap mama belanja, pasti mama akan ajak kamu, kan?” ujar Laura, meminta pengakuan.“Ya, itu karena Anda ingin berbelanja dengan puas. Dengan mengajakku, Anda bisa memakai black card milik kakek dan bisa Anda pamerkan pada teman-teman Anda,” jawab Dewangga dengan sorot mata tajam. “Anda lupa? Ketika Anda tengah asyik berbelanja, Anda selalu meminta saya menunggu berjam-jam di sofa toko sendirian. Pernah juga Anda meninggalkan saya di mall. Masih beruntung saya bisa pulang sendiri dengan menaiki taksi.”Senyum Laura pudar. Kejadian itu sudah sangat lama berlalu tapi Dewangga ternyata masih ingat jelas. Bahkan dia sendiri sudah hampir lupa.“Tapi Dewangga, mama udah bikin janji sama Sandrina. Temui
Sore itu menara Big Ben terdengar berdentang lima kali dari kejauhan, tanda waktu sudah pukul lima sore.Maura tengah menikmati segelas minuman cokelat hangat dan semilir angin yang berhembus perlahan di sisi sungai Thames sambil melihat pemandangan tower bridge yang cukup ramai dan beberapa kapal pesiar yang melintas.Wanita itu merapatkan jaketnya. Meski sudah tinggal beberapa bulan di sana, dia masih belum terbiasa dengan suhu udaranya yang lebih dingin dari suhu udara di Indonesia.“Mau pancake?” tanya Narendra sambil mendekat dan menyodorkan sebuah pancake panas yang dibungkus kertas roti.“Makasih.” Maura tersenyum sambil menerima pancake itu.Narendra tersenyum sambil menatap kapal pesiar di depan mereka. “Kalau menikmati afternoon tea sambil berlayar kayaknya enak, tuh.”“Males, ah,” jawab Maura sambil menggigit kuenya.Narendra terkekeh geli. Sudah berapa kali wanita itu menolak ajakannya entah apapun itu? Meski cuma menaiki London Eye berdua atau ke tempat manapun yang dia m
Maura menarik napasnya. Siapa juga yang membuat pengumuman menyedihkan seperti itu? Lagi pula bagaimana bisa dia membuat pengumuman sementara dia masih terjebak di ruang rawat inap? Harusnya Dewangga bertanya pada orang di rumah keluarganya.“Kak, jangan batalin perceraian kalian. Kak Angga udah ba
“Ruslan, apa dia putrimu? Kalau yang ini Maura, yang satu ini pasti Alena, kan? Putrimu Alena pintar bercanda, ya!” kata dokter Bram pada Ruslan dengan suara tenang, lalu beralih menatap Alena. “Kata siapa saya ayah kandungnya Maura?” “Kenapa, Dok? Mau menyangkal? Masa Anda nggak kenal dengan putr
Maura tengah memakan potongan pir yang disiapkan Yanti saat pintu diketuk.Bu Dina datang dengan membawa paper bag pink serta sebuah rantang makanan, dan langsung masuk menemui Maura dan oma Ambar.“Apa kabar, Bu?” sapa bu Dina pada oma Ambar.“Baik, baik. Bu Dina sendiri gimana kabarnya? Katanya s
Dewangga tiba di rumah Maura yang tampak lebih sepi. Ketika dia datang, bu Dina membukakan pintu untuknya.“Den, pakaian buat neng Maura ada di kamar atas, udah ibu siapin di paper bag di atas meja belajarnya. Tolong ambil sendiri, ya. Tapi tunggu sebentar, jangan dulu pergi. Ibu lagi bikin sup bua







