Secrets In A Bottle

Secrets In A Bottle

last updateLast Updated : 2023-06-19
By:  Arbest SavageOngoing
Language: English
goodnovel16goodnovel
10
4 ratings. 4 reviews
13Chapters
3.9Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Synopsis

Natasha is single mother who works as a waitress at a nightclub to make ends meet. The one thing she can't stand are people who get everything handed to them, like the rich, snooty patrons she have to wait on night after night. However, when a handsome and charming clubgoer becomes smitten with her, she find herself drawn to his enigmatic way. After a few coffee dates, she wonder if this could be the one, but then she learns that he's actually the club's billionaire party boy owner—a man she has heard about and hated from afar for years. He swears he's changed and that he has fallen for her, but she is not convinced: Can she trust him to leave his partying lifestyle behind to become a family man?

View More

Chapter 1

Chapter 1

"Bu Lea, kamu yakin mau donasi semua organ tubuhmu?"

"Ya, aku yakin."

Begitu kalimat itu terucap, Lea Leroy malah tersenyum, seperti seseorang yang akhirnya bebas dari beban.

Sang dokter terdiam sejenak, lalu mencoba membujuknya kembali, "Memang kankermu sudah memasuki tahap menengah hingga lanjut, tapi kalau kamu mau berobat serius, mungkin hidupmu bisa bertahan lebih lama."

Lea tersenyum makin lebar dan langsung menggeleng. "Nggak usah, Dok. Tiap hari aku sudah menantikan ini. Mungkin aku cuma punya waktu sebulan. Nanti pas sudah waktunya, aku akan kabari rumah sakit. Tolong bantu donasikan semua organ tubuhku ke orang-orang yang butuh, ya. Terima kasih."

Sambil berkata begitu, Lea tetap tersenyum dan bangkit meninggalkan ruangan.

Dokter itu hanya bisa menatap kepergiannya dengan kaget. Dia belum pernah menemui pasien yang begitu siap menerima ajalnya seperti ini.

Baru saja keluar dari rumah sakit, Lea mendapat telepon dari Aaron Skyler.

Suara pria itu terdengar dingin dan berat. "Hari ini kamu izin pergi ke mana?"

Jari-jari Lea yang menggenggam ponsel sedikit menegang. Dia berbohong, "Cuma flu biasa."

Jelas orang di ujung telepon sana juga tidak benar-benar peduli. "Datanglah ke klub Bello. Di ruang VIP nomor 314."

Lea juga tidak banyak bicara. Dia langsung bergegas ke sana.

Begitu masuk ke ruangan, di sana sudah ada banyak rekan bisnis Aaron.

"Wah, Bu Lea akhirnya datang juga. Aku sudah lama dengar tentangmu. Katanya kamu jago banget minum, nggak akan teler meski minum terus."

"Kabarnya kamu sering berhasil dapat kerja sama gara-gara jago minum. Hari ini kami ingin lihat langsung."

"Di meja ini ada 99 gelas minuman. Kalau kamu bisa habiskan semuanya, kerja sama hari ini akan langsung disepakati!"

Di sofa di samping, Aaron duduk dengan tersenyum samar. Dia berkata dengan nada santai, "Jangan buat aku kecewa."

Semua orang menatap penuh harap. Lea juga tidak menolak.

Lea tersenyum sambil mengangkat segelas minuman, lalu berkata, "Kalau begitu, aku akan mencoba sebaik mungkin."

Lea terus menenggak minuman satu per satu sampai perutnya terasa perih seperti terbakar. Dengan kondisi kanker lambung yang dia derita, rasa sakitnya jadi berkali-kali lipat lebih menyakitkan dari biasanya.

Wajahnya tampak pucat pasi, bahkan tangannya pun gemetar.

Meski begitu, dia terus saja meminumnya gelas demi gelas.

Sementara itu, dari awal hingga akhir, Aaron hanya memandanginya dengan tatapan dingin dan acuh tak acuh.

Akhirnya, di bawah tatapan takjub semua orang, Lea menghabiskan gelas terakhir dari total 99 gelas.

Seketika, ruangan bergemuruh dengan tepuk tangan. "Luar biasa! Hebat sekali!"

Keringat dingin muncul di dahi Lea. Dia hanya bisa tersenyum kaku.

Rekan kerja mereka sangat tertarik padanya dan berkata, "Bu Lea, kamu akan rugi mengikuti Pak Aaron. Lihat saja bagaimana dia memperlakukanmu. Dia nggak peduli padamu. Mending pindah kerja ke tempatku."

Lea menjawab dengan tenang, "Terima kasih, Pak Aaron sudah sangat baik padaku."

"Aku kasih gaji tiga kali lipat!"

Namun, Lea tetap teguh menolaknya dengan menggelengkan kepala.

Semua orang heran dan tidak mengerti. "Kenapa kamu nggak mau pergi?"

Lea tersenyum tipis. "Aku masih punya utang yang harus dibayar."

Rekan bisnisnya mengira Lea berutang uang pada Grup Skyler. Mereka merasa sayang, jadi mereka menyerah.

Akhirnya, kerja sama hari ini pun berhasil disepakati.

Acara itu selesai dan langit pun sudah gelap.

Seorang sopir datang menjemput. Lea langsung duduk di kursi depan seperti biasa.

Aaron tidak suka duduk bersamanya.

Mobil itu berhenti di depan apartemennya. Lea mengucapkan terima kasih dan turun dengan letih.

Karena terlalu lelah, dia tidak sadar kalau Aaron juga ikut turun.

Aaron memperhatikan langkah Lea yang tersaruk-saruk. Sorot mata Aaron makin dalam.

Lea sama sekali tidak menyadarinya sampai dia naik ke lantai atas dan berhenti di depan pintu sambil mengeluarkan kunci.

Namun, tiba-tiba seseorang menarik pergelangan tangannya dan membalikkan tubuhnya, menekannya ke dinding.

Lampu sensor di koridor kebetulan menyala. Lalu, di detik berikutnya, Aaron menciumnya paksa.

Ciuman itu begitu intens dan penuh hasrat, membuat Lea nyaris tak bisa bernapas.

Setelah cukup lama, barulah dia melepaskannya. Padahal yang memaksa mencium adalah Aaron sendiri, tetapi justru matanya memerah, suaranya bergetar. "Selalu bersikap seperti ini, kamu sengaja membuatku merasa kasihan, ya? Waktu mereka mengajakmu pergi, kenapa kamu menolaknya? Kenapa kamu masih di sini, Lea?"

Lea berusaha mengendalikan napas dan emosinya. "Aku tetap di sini untuk menebus kesalahan."

Jawaban itu justru memicu amarah Aaron. Dia menghantam dinding dengan tinjunya.

Tatapannya penuh kebencian, tajam dan menyakitkan seperti pisau yang mengiris habis dirinya. "Kalau begitu kenapa kamu nggak mati saja? Mati saja sana!"

Lea tersenyum getir. Seperti yang Aaron inginkan, Lea memang sudah hampir mati.

Baru hendak bicara, tiba-tiba ponsel Aaron berdering.

Lea menunduk dan melihat nama yang tertera di layar.

Chloe Eleuther adalah tunangan Aaron yang sekarang.

Saat melihat panggilan dari Chloe, napas Aaron jadi lebih berat. Aaron balik badan, seolah mencoba menenangkan diri.

Begitu telepon tersambung, nada bicara Aaron kembali tenang dan lembut seperti citra dirinya yang biasanya; tenang dan sopan.

"Chloe."

Entah apa yang dikatakan dari seberang, ekspresi Aaron sedikit berubah. Detik berikutnya, dia melepaskan genggamannya pada Lea. Tanpa berkata sepatah pun, Aaron berbalik dan meninggalkannya.

Lea bersandar di dinding. Saat melihat Aaron telah pergi, Lea akhirnya tak bisa menahan diri lagi. Dia membuka pintu dan bergegas ke kamar mandi, muntah hebat.

Dia terus muntah sampai dunia terasa berputar. Setelah cukup lama, dia mendongak dan melihat isi kloset penuh dengan darah muntahannya.

Sangat banyak.

Warna merah yang mencolok.

Lea menekan tombol toilet dengan tangan gemetar. Dia berniat berdiri, tetapi tubuhnya sudah terlalu lemah hingga akhirnya jatuh pingsan.

Dalam pingsannya, dia bermimpi.

Dia kembali ke masa kuliah. Di bawah pohon angsana, dia berjalan bersama Aaron dan Maybell Skyler.

Maybell menarik-narik lengan Lea sambil terus merengek manja, "Lea, akhir pekan ini fakultas kita mau adakan acara gabungan sama Fakultas Hukum. Temenin aku, ya?"

Raut wajah Aaron langsung terlihat tidak senang. Aaron segera menarik Lea ke sisinya. "Maybell, memangnya aku akan mengizinkamu ajak pacarku begitu saja?"

"Kak, kamu kok pelit banget sih!"

Itu … masa-masa paling indah.

Lea sejak kecil adalah seorang yatim piatu. Saat sekolah, dia bertemu dengan Maybell, yang akhirnya menjadi sahabatnya.

Aaron, kakak dari Maybell, adalah idola kampus yang terkenal karena sikapnya yang dingin dan tidak tertarik pada perempuan. Setiap hari Aaron bisa menerima tumpukan surat cinta, yang semuanya langsung dia buang. Awalnya, Lea bahkan tidak berani berbicara dengannya.

Namun, entah kenapa, Aaron selalu muncul di hadapannya. Dia membantu merapikan catatan, menemani ke perpustakaan, bahkan mengantar jemput Lea pulang.

Pernah suatu kali, Aaron nekat menjemput Lea di tengah hujan deras karena Lea tak membawa payung.

Mereka berada di bawah satu payung. Lea tak tahan lagi dan akhirnya bertanya, "Kak Aaron, kamu baik sama aku cuma karena Maybell, ya?"

Dengan ekspresi dingin, Aaron menyudutkannya di sudut tembok. "Lea, kamu benar-benar bodoh. Sekarang, aku kasih tahu alasan sebenarnya kenapa aku selalu baik ke kamu."

Setelah berkata demikian, Aaron memegang tengkuknya dan menciumnya.

Sejak hari itu, hubungan mereka resmi dimulai.

Hingga lima tahun lalu, tepat di malam sebelum pernikahan mereka.

Lea dan Maybell pergi menonton film. Hari itu, malam sudah larut dan mereka melewati sebuah gang kecil dan bertemu dengan beberapa pria mabuk.

Kelompok itu jelas sedang dalam pengaruh alkohol dan kata-kata yang mereka ucapkan sangat tidak sopan. Mereka menghadang dua gadis itu di ujung gang, tidak membiarkan mereka pergi.

Kedua gadis itu ketakutan dan gemetaran. Akhirnya, Maybell berusaha sekuat tenaga menghentikan orang-orang mabuk itu sambil berteriak, "Lea, cepat lari!"

Lea tahu bahwa mereka berdua bukan tandingan kelompok pemabuk itu, jadi dia pun berlari.

Dia lari ke seberang jalan untuk mencari bantuan.

Namun, saat dia kembali, gang itu sudah sunyi. Para pemabuk itu pergi dan yang tersisa hanya Maybell yang penuh luka, tergeletak tak bernyawa, tubuhnya bersimbah darah, jelas telah dilecehkan berkali-kali.

Ketika Aaron tiba di tempat kejadian, yang dilihatnya adalah tubuh adiknya yang sangat mengenaskan.

Siapa pun tahu, penderitaan macam apa yang sudah Maybell alami.

Aaron merasa pikirannya kosong. Dia tiba-tiba menggenggam tangan Lea dengan erat, lalu bertanya dengan rasa sakit dan keputusasaan, "Kenapa kamu harus lari? Kenapa kamu meninggalkan dia sendirian? Lea, kenapa kamu lari?"

Lea tak bisa menjawab. Tak ada yang lebih membenci dirinya selain dirinya sendiri.

Setelah itu, Keluarga Skyler tak pernah mau memaafkan Lea.

Lea kehilangan sahabat terbaiknya, juga menjadi musuh bagi pria yang paling dia cintai.

Syukurlah, kini dia hampir mati.

Dia bisa pergi dan meminta maaf secara langsung kepada Maybell. Aaron juga bisa benar-benar terbebas.
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviews

Arbest Savage
Arbest Savage
please, vote and leave your reviews, it help a lot with the story promotion. YOUR SUPPORT IS WHY I AM STILL GOING.
2022-12-23 01:33:53
0
0
Arbest Savage
Arbest Savage
For those that have gone a long way already, I will suggest you start afresh because lot of mistake have been fixes and changes have occured in each chapters. Thank so much for your patience. Your dear author-Arbest Savage. love you.
2022-12-23 01:32:58
0
0
Arbest Savage
Arbest Savage
I don't know what might later go wrong... but I am loving the beginning. The storyline is beautiful, and you can feel what the characters are going through. but physically and emotionally. PLEASE, MAKE DAILY UPDATE A PRIORITY. I HATE SLOW UPDATE.
2022-11-06 21:34:57
1
0
lingchenxi
lingchenxi
A beautifully written story. Emotional enough to bring you to feel deeply for the characters. Almost in tears for chapter 1.
2022-11-06 18:53:28
4
0
13 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status