Share

Bab 5

Diberi senyuman hangat "Good morning" tanpa rasa bersalah. 

"Aku hanya mencoba membuat makanan untukmu"

Gebi menggelengkan kepala. Lalu acuh pergi meninggalkan lelaki tampan tapi gila. menurutnya

"Sudah jadi" Dengan semangat Setta meletak sushi buatannya dengan resep yang sudah diganti dari pembuatan umum.

Argebi memandang dingin kearah makanan. Tapi bukan berarti tidak ingin mencoba, karena makanan tidak boleh dibuang. Itu menyesatkan

Menyuap satu sushi buatan Setta kemulut. Sambil memejamkan mata menikmati hidangan. Setta tersenyum berharap satu kata saja keluar dari mulut Gebi.

Tapi, tidak kunjung didengar.

"Hm Hakkan, ini lumayan" penuturan Gebi meyorak kan hati Setta. Rasanya ingin membuat yang lebih banyak lagi.

"Apa kau sudah coba?" Setta menggeleng

"Cobalah"

Setta dengan ragu mengambil sumpit. Menyuap kedalam mulut dengan antusias. Tapi, keantusiasan dirinya hilang ketika merasakan betapa anehnya makanan ini.

"Telan" penuh penekanan membuat Setta menelan sushi buatannya dibantu air mineral.

"Hakkan kausetta, aku hargai usahamu. Bereskan dapurku lalu pergilah jika sudah membaik" 

"Panggil aku Setta"

"Settan"

Gebi beranjak. Hari weekend, tapi tidak ada bedanya dari hari lain. Tetap berada dirumah membuat nya jauh lebih betah. 

Tapi sepertinya hari ini tidak, karena orang asing sedang berada disatu atap dengannya.

"Selesai"

Argebi memandang "Cepat sekali"

"Settan, sudah mulai membaik?" 

Lelaki itu protes, namanya dipanggil tidak sesuai. Meleset, sudah salah arti.

"Setta. Tidak pakai N"

Merasa tidak digubris. Setta mendekat kearah gadis bersurai hitam mencoba mencari tahu apa yang dilakukannya.

Tidak banyak, hanya berkutat dengan sebuah laptop.

"Kau sedang apa?" Setta menyentuh pergelangan tangan Gebi. Membuat sang empu terkaget.

Setta melepas tautan tangannya. "oh,Maaf"

Gebi menangguk tanda jawaban. Menutup laptop dan berlalu dengan terburu. "Siapa dia"

"Aku harus ke supermaket" menyandeng tas selempang. Setta berdiri, ingin ikut. 

"Tidak, aku sendiri saja"

"Ikut"

"Kau belum pulih"

Setta memasang jasnya, lalu berlalu mengambil payung. "Ayo"

Hari gerimis. Dingin menyeruak, musim penghujan diharuskan memakai jaket tebal, jika tidak siapkan mental untuk mati membeku.

"Kapan kau pulang" Disela perjalanan trotoar, sekilas Setta melirik.

"Aku akan tinggal bersamamu"

Mendadak Argebi berhenti memandang dalam pemilik mata biru. "Siapa kau"

"Jodohmu"

Argebi menunjukkan senyum. Bukan senyum tulus tapi senyum sinis, membuat orang yang memandang akan ketakutan melihat wajah dinginnya yang dihiasi senyum mematikan.

"Gadis aneh"

"Itu aku"

"I love you"

Argebi mengambil payung hitam yang ada ditangan Setta. Seketika gerimis mengenai permukaan kepala lelaki berjambul. Bukan menyingkir tapi tetap mengikuti Argebi dengan langkah tegap.

"Berhenti mengikutiku" sentak Gebi

Setta berhenti. Argebi merasa seakan waktu yang pas, pergi sendiri tanpa diikuti lelaki penguntit.

Argebi senang jika sendiri lagi. Tapi rasanya kehadiran seorang Setta membuat fikiran bercabang menjadi beberapa bagian.

klek

Belum memasukkan kunci,pintu sudah terbuka. "Good night Ar"

Ingin Gebi memaki. Tapi rasanya tidak pantas seorang wanita berteriak seperti nyamuk yang kelaparan. Argebi masuk kerumah meletak barang belanjaan. Ia kira akan bebas, tapi nyatanya ia akan semakin terhempas dilautan aura Setta.

"Kenapa kau kembali?"

"Karena aku suka disini"

"Apa kau tidak punya rumah?" Argebi menyusun semua belanjaan kedalam kulkas.

"Tidak"

"Bohong"

"Kalau kau tahu, lalu mengapa bertanya" Setta menghidupkan tv menonton serial drama didalam sana.

"Aku ingin sekali punya kemampuan, seperti tau masa depan" Gumamam Setta mengalihkan perhatian Gebi.

"Kau tidak akan suka. Karena itu tidak mudah"

Kening Setta mengerut, "Kau berkata seolah pernah merasakan"

Argebu terdiam. "sudahlah, aku hanya me-review film drama ini" sanggah Setta melihat Gebi memikirkan sesuatu.

Masuk keselimut, menutup badan sepenuhnya. Hujan turun semakin lebat terdengar jatuh keatap membuat suara bergemuruh.

"Kau mau apa" 

Gebi duduk, melihat Setta ingin naik kekasurnya. " Tidur" jawabnya santai

"Dibawah saja" Gebi menendang Setta sehingga terjatuh

Aww

Ringisan memekak masuk keindra pendengaran. "Maafkan aku" 

Duar...

Dep

"Kyaaaa"

Sambaran petir menggema bersamaan padam lampu diseluruh koto. Seperti orang buta tidak bisa melihat apapun, walau mencari secercah cahaya. Tapi tidak ditemukan.

Setta mendengar suara tangisan, meraba ponsel. Menghidupkan lampunya. 

"Kau menangis?"

Bukan jawaban yang diterima taoi sebuah pelukan ketakutan. Mendekap erat bergantung pada dada. Menempelnya kepala menandakan ketakutan yang teramat besar.

"Tenanglah"

Tidak tau apa yang ditakutkan Setta membawa Argebi tidur seperti pertama kali. Terlelap dalam kegelapan dan dingin nya malam. Tapi tidak berlaku, karena dekapan sudah menghangatkan

Setta memandang hangat pada wanita dipelukan. Semakin terasa badan dicengram erat. "Setakut itu" Gumam Setta mengelus rambut Gebi.

Hujan deras dibumbui dengan suara petir bergemuruh. Tidak ada tanda-tanda untuk reda. Bahkan lampu yang padam belum juga hidup. Hanya ditemani cahaya petir yang sesekali menyambar masuk ke ventilasi.

"Aku akan menghidupkan lilin"

Argebi menggeleng tegas. "Tetap disini" cicitnya.

"Sebentar saja"

"Diam" bentakan Gebi mengejutkan Setta sesaat. Ia menghembus nafas kasar mungkin gadis ini benar benar takut sehingga rasa itu menguasai dirinya.

Dentuman seng memekak telinga. Uap mengepul diudara layaknya seperti tangan yang menyapa. Argebi melihat itu, karena jiwa yang marah sudah kembali. Jiwa jahat yang bisa menyakiti telah terlepas dari kurugan.

Argebi takut setengah mati. Ingin lari sekuat mungkin agar tidak melihat. Berpura-pura biasa saja padahal hati bergejolak ingin menangis sejadi jadi. 

"Argebi aku datang" bisikan halus menggema beberapa kali hingga hilang dibawa angin. Menyentak selimut melihat lampu yang padam sudah hidup kembali.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status