Share

Bab 6

"Ada apa" Tanya Setta

Argebi menggeleng kuat pergi kedapur. Membuka kulkas sambil menggela nafas, merasakan sensasi dingin dari udara. Tangan menyentuh botol dan meneguk isinya. Tenggorokan nain turun hingga air menetes keluar beberapa tetas keleher. 

"Sial"Umpat Setta dari ruang tengah mengalihkan perhatian Gebi.

Berjalan perlahan menatap kedepan dengan lurus. Pandangan jatuh pada perut milik Setta. Darah mengalir deras membasahi baju.

"Ada apa" Argebi memutar badan seratus delapan puluh derajat, terbilang cukup panik mengambil peralatan medis. 

"Biarku obati" 

Engghhh

Rintihan terdengar saat Gebi sedikit menekan perut Setta dengan telapak tangan. Mulai mengobati sesuai yang ia ketahui.

Setta memejamkan mata menikmati rasa sakit yang di terima. 

"Aku harus pergi" mendongak menatap wajah Setta. "Sekarang?" dibalas anggukan.

"Tidak. Ini sudah larut, biarkan lukamu sedikit membaik"

"Tidak bisa" Sedikit terkejut, baru beberapa jam yang lalu ia berkata tidak akan pergi. Lalu sekarang memaksa untuk pergi secepatnya.

"Pergilah" Argebi mengemasi perlengkapan dan obat-obatan dan meletak ketempat semula. Setta tersenyum kecil, mengambil jas dan payung. Menutup pintu hingga bayangan lelaki itu hilang dari pandangan.

"Siapa kau sebenarnya? mengapa aku tidak bisa tahu akan masa depan bahkan masalalu mu walau sedikit saja" gumaman tertera jelas terbang diruangan tanpa audiens yang mendengarkan.

.

Lampu kerlap kerlip berputar kesana kemari. Dentuman musik menjadi saksi para manusia berjoget ria menuntaskan masalah dengan bersenang'senang.

Mabuk, minum alkohol menjadi salah satu cara menenangkan fikiran bagi Edwild. Dengan ditemani beberapa wanita berpakaian mini.

Bersolek serta berjoget menampakkan keahlian dalam menggoda. Edwild meremas botol minuman yang ada dalam genggaman. Beberapa botol kosong sudah terletak jelas diatas meja. 

Artinya Edwild sedang masa mabuk berat. Berjalan sempoyongan sambil berkata tidak jelas.

Bughhh

Edwild tersungkur karena rombongan lelaki memukulnya secara tiba-tiba.

"Hei apa'apaan kau ini" Teriaknya dan mencoba berdiri walau tidak seimbang.

"Kau terlalu bodoh untuk menangkap wanita itu" Ujar salah satu lelaki dari rombongan.

"Wanita itu tidak bisa ditangkap, karena dia bukan manusia biasa" Edwild mengatakan dengan tawaan membuat lelaki dihadapan menahan gejolak marah

Bughhh

Berkali kali dipukul hingga menghancurkan perabotan club. Pecahan dan kekacauan lainnya. Orang-orang berteriak keras menjauh dari perkelahian. Bukan, tapi penindasan. Karena lawan tidak melakukan perlawanan karena dalam mode mabuk.

Darah mengalir dari beberapa bagian. Membuat Edwild seketika pingsan ditengah ruangan. Semua menatap iba tapi tidak ada yang berani membantu.

.

Sebuah gudang bernuansa kotor dan gelap terpampang jelas dipandangan. Mengapa dia bisa disini? lalu apa yang terjadi semalam? kenapa ia tidak bisa mengingatnya?

Argebi turun dari sebuah tempat tidur yang hanya terbuat dari kayu tanpa matras. Membuat punggung sedikit nyeri karena benda keras tempatnya beristirahat.

Semalam usai Setta pergi, yang dia ingat hanya menonton tv. Sambil menikmati semangkuk ramen. Tidak lama rombongan orang mendobrak pintu rumahnya dan membiusnya sampai akhirnya dia berada disini sekarang.

"Hei, keluarkan aku" Menggedor pintu yang terbuat dari besi dengan kuat. Ingin tau apa maksud dan tujuan dia dibawa kemari. Apa salahnya sehingga harus di bawa tidak terhormat seperti semalam.

Argebi memandang kesebelah kanannya. Ada jendela tetapi disilang oleh kayu. Sedikit mengintip keluar, mengernyitkan kening dia tidak kenal daerah ini. Penuh dengan tumbuhan hijau.

Gubrak

Hentakan kayu bertabrakan dengan kayu jendela. Ingin membuka dan mencoba keluar. Tapi cukup keras untuk tenaga seorang wanita.

Teralih mengarah kepintu terbuka. Menampakkan dua lelaki berbadan besar. 

"Ayo, ikut"

Argebi di paksa untuk berjalan. Mencoba berontak malah membuatnya lelah. Jadi ia putusnya mengikuti saja. Kalau mati itu juga kemauannya. Sepasrah itu?

Meneguk ludah yang terasa sulit. Alat-alat menis ada dimana-mana. Persis seperti ruang labor. Tidak lama Argebi melihat sebuah aquarium besar. Dan didalam nya ada manusia.

Argebi menoleh sekali lagi memastikan, manusia? didalam sana. Dikurung

Tapi saat dilihat dengan jelas Argebi tidak bisa menutupi keterkejutannya. Edwild, orang yang memintanya bantuan malah mati disini.

Argebi memandang sekitar dengan tenang. Ada urusan apa Edwild dengan bedebah seperti ini. Pikirnya

Tidak lama seorang lelaki berjas putih layaknya seperti dokter menyapa Gebi dengan senyuman. 

"Hai, baby"

Argebi menggeleng kuat saat tau siapa yang ada dihadapan. Apa dia seorang penelitian? lalu buat apa dia menjadi terlibat.

"Apa mau mu sialan!" desis Argebi yang ditahan karena memberontak.

"Aku hanya ingin menjadikan mu percobaanku yang terbaik"

Matanya mengarah ke tempat lain dan menatap netra abu milik  Argebi.

"Bolehkan?"

"Lepas" Hentakan tidak membuahkan hasil untuk lari dari sini. Karena anak buahnya jauh dari kata lemah.

"Kau penasaran denganku? maka akan kuberi tau saat ini" duduk dikursi dengan santai dan melanjut perkataan

"Aku, Azkria sang pembawa bencana" Diakhiri tawaan yang menggema.

Dia adalah lelaki yang ada saat terjadi pesawat jatuh menyebabkan anggota keluarga Argebi mati. Duduk dengan panik berdoa kepada Tuhan meminta nyawa nya diselamatkan. Sebelum Ledakan terjadi Argrbi loncat dari jendela pesawat membuat semua orang panik tidak terhingga. Sampai akhirnya berenang sejauh mungkin tapi tetap terkena ledakan. Sebelum tidak sadarkan diri Argebi melihat keudara lelaki itu tersenyum dengan bangga. Dan pergi menaiki alat canggihnya yang terletak dipunggungnya.

Argebi yakini dia penyebab pesawat jatuh kala itu. Menyebabkan kematian ribuan orang. Hanya karena satu rasa kepuasan.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status