Share

Bab 7

Jantung terkejut untuk beberapa kali. Disetrum oleh kursi listrik membuat Argebi ingin mati saat ini. 

Sebuah suntikan dicucuk keleher. Cairan bening langsung masuk kedalam tubuh.Hanya tinggal menunggu reaksi.

Azkria tersenyum senang menatap percobaannya dari monitor. Argebi dimasukkan kedalam sebuah tabung berbentuk kaca. Sehingga bisa dilihat dengan jelas dari luar.

Argebi tersadar. Rasanya badan terlalu lelah dan remuk. Membuka mata,yang belum ia sadari tidak memiliki warna abu. Melainkan berwarna Biru cerah. Argebi berubah

Akan menurut pada tuannya. Melakukan segala perintah tanpa bisa memilih baik atau buruk.

"Hahahaha" tawa menggelegar dari Azkria diikuti anak buahnya. Tabung dibuka dengan remote sehingga Argebi langsung bisa keluar. Mendekati Azkria dan menunduk hormat.

"Kau luar biasa"

Argebi akan tetap seperti manusia biasa. Tapi dia bisa dikontrol. Karena didalam dirinya sudah ada ramuan yang disuntik. 

"Cari lelaki ini, kau paham" Argebi melihat sebuah foto dihadapanya. Mata mendeteksi hingga terekam diotak.

"Baik, aku akan menangkapnya untukmu"

Azkria berhati senang menggebrak gebrak meja. Tertawa terbahak bahak karena pekerjaan selama bertahun tahun akan selesai. Yaitu menguasai dunia dengan mengontrol orang-orang hebat. Contohnya Argebi. Pasti memiliki kelebihan sedari kecil. Itu bisa dimanfaatkan. Tapi dunia akan hancur jika ditangan yang salah.

"Apa ada kejadian besar hari ini?" Tanya Azkria dan diangguki  Argebi

"Ada sebuah pesawat tempur yang akan jatuh itu karena anda yang memasukkan bom didalam sana"

"Hahaha, benar. Lalu? apalagi"

Argebi memejamkan mata sekilas kisah yang akan datang terekam jelas diotaknya "Pesawat itu jatuh menabrak kapal pesiar yang mengangkut ribuan orang"

"Hahaha, aku tidak menyangka akan ada bencana sebesar ini. Bahagia nya duniaku" Tawaan menggelegar lagi lagi pecah.

"Pergi, jalani hidup mu seperti semula tapi ingat, tangkap lelaki itu. Paham"

Argebi mengangguk. Dan pergi dari sana diantar oleh anak buah Azkria. Sebelumnya ilmuan itu sudah menanamkan alat canggih didalam otak Argebi. Maka semua yang dilihat oleh Argebi bisa dilihatnya pula dari monitor.

Benar-benar pintar.

Argebi masuk kedalam rumah. Mata memejam dan badan terhentak seperti ada sesuatu yang memasuki nya.

"Kenapa kepalaku sakit sekali" memegang kening dan duduk dipinggir kasur. Efek cairan sudah menghilang tapi jika Azkria ingin mengontrol Argebi bisa menekan tombol merah diremote. Maka mata milik Argebi akan berubah dan otaknya seakan tidak bekerja untuk sang raga.

Argebi selalu merasa dirinya diawasi oleh seseorang. Tapi setiap ingin mengecek, tidak aa siapapun selain dirinya. Lalu apa gejala halusinasi sudah di derita? tentu tidak. Karena Azkria selalu mengawasi dua puluh empat jam tanpa henti.

Pagi yang cerah. Tapi tidak dengan hati Argebi. Selalu merasa galau dan harus waspada.

Berkutat di dapur memasak makanan untuk dirinya. Hanya dirinya. Omelet terhidang di piring ditemani secangkir susu.

Argebi bosan. Bersiap-siap ingin pergi keperpustakaan kota. Mengunci pintu dan berjalan ke halte. Menunggu Bis lalu menaikinya. 

Cukup padat, karena hari weekend. Orang-orang akan berlibur bersama keluarga,sahabat, bahkan pasangan.

Argebi memasuki perpustakaan yang lumayan ramai pengunjung. Menunduk hormat kepada pengurus dan lanjut mencari buku yang ingin dibaca.

Argebi menaiki lantai dua, sepertinya gendre buku yang dia sukai ada disana. Mengambil salah satu buku tebal bercover pohon beringin yang besar dan berjudul 'sejuta fikiran'. Ia tertarik, karena buku itu menceritakan seseorang yang memiliki kemampuan khusus.

Persis seperti dirinya saat ini. Ending dari cerita itupun menyedihkan, karena sang tokoh utama mati mengorbankan dirinya untuk keselamatan orang banyak.

Argebi meletak buku tebal yang dibacanya dalam waktu tiga jam. Terbilang singkat.

Keluar dari perpus Argebi merasakan lapar. Mampir ke restoran jepang yang menyediakan makanan seafood. Duduk disebuah kursi khusus dua orang yang ada diujung. Pembatas kaca menampilkan pemandangan jalanan luar.

Cerah, tiba-tiba menjadi mendung. Argebi menghela nafas merasa kesepian. Gadis ini memiliki sifat introvert. Yaitu cenderung diam dan tidak bisa bergaul dengan keramaian.

"Silakan" Lamunan terbuyar saat pelayan datang membawa makanan dan minumannya.

"Ada tambahan?" tanya waiters wanita berambut panjang dihadapan dan dibalas gelengan kecil sambil tersenyum.

Mendadak mata abu berubah menjadi biru terang. Melihat lelaki bermantel hitam jalan ditrotoar.

Argebi berdiri mengikuti. Berjalan dengan perlahan serta tetap menjaga jarak.

"jangan sampai lolos"

Suara Azkria menggema ditelinganya. Membuat Argebi terus melaksanakan perintah. 

Berbelok kesebuah gang kecil. Menampakkan rumah bertingkar dua didalamnya. Argebi memandang dengan senyum sinis.

Brak

"Brengsek, apa yang terjadi" 

Monitor menampakkan kegelapan. Menandakan pemilik raga yang di intai sedang tidak sadarkan diri.

"Kalian, pergi ketempat ini. Dan habisi lelaki itu"

Pandangan terlihat buram. Memandang sekitar hanya ada kamar berukuran sempit. Dia tidak ingin mengapa dirinya ada disini, yang ia ingat hanyalah merasa lapar dan makan disebuah restoran.

"Ada apa denganku" Gebi mengelus kepalanya yang sedikit berdenyut.

"Kau sudah sadar"

Mata beralih pada lelaki yang ia kenali. Sudah berpisah dan ia kira tidak akan bertemu lagi, lalu ini? dia ada disini.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status