Share

Bab 81. Saksi bukan pelaku

Author: Miarosa
last update Last Updated: 2025-08-25 22:17:37

Alister duduk kembali di kursi kantornya keesokan paginya. Cangkir kopi segar sudah tersaji, uapnya tipis, teratur seperti semua hal di sekitarnya. Ia membuka kotak baja, mengenakan sarung tangan, dan menyalakan laptop hitam matte itu.

Flashdisk dengan stiker merah kembali menancap. Ia memilih file rekaman dengan kode waktu yang sesuai, menekan tombol play.

Layar bergetar sejenak sebelum gambar muncul. Kualitasnya tidak sempurna, tapi cukup jelas. Kamera menyorot halaman depan panti. Seorang anak perempuan, lebih tua dari Harika kecil, muncul dengan rambut terikat rapi. Ia tersenyum, berlari kecil masuk ke halaman panti, dan disambut oleh dua anak penghuni panti lainnya.

Awalnya tampak normal. Mereka tertawa, duduk melingkar, bermain dengan mainan seadanya. Alister menyipitkan mata, tubuhnya condong ke depan. "Siapa kau?" gumamnya, berusaha mengenali wajah anak itu.

Namun, suasana berubah. Tawa yang ringan itu tiba-tiba pecah menjadi keributan. Anak perempuan itu berdiri, matanya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sekretaris Ceroboh Kesayangan Tuan Perfeksionis   Bab 85. Senyum yang sama

    Malam mulai turun. Lampu-lampu gedung perkantoran berpendar seperti bintang buatan, namun di salah satu lantai tertinggi, suasana terasa jauh lebih dingin daripada pemandangan indah di luar sana. Alister duduk di balik mejanya, tatapannya kosong pada layar laptop yang menampilkan foto-foto lama. Celina kecil dengan rambut hitam dan gaun sederhana, lalu Adeline muda dengan gaun biru muda dan senyum serupa. Dua nama, dua identitas, tapi hanya satu wajah. Ia mengetuk meja kayu perlahan dengan jarinya, berulang-ulang, ritme yang menandakan pikirannya sedang bekerja keras. Akhirnya ia meraih ponsel, menekan nomor yang jarang ia pakai kecuali untuk urusan yang sangat penting. Suara berat seorang pria terdengar dari seberang."Ya, Pak?" "Dengar baik-baik!" Suara Alister terdengar rendah tapi penuh tekanan. "Aku ingin kau mencari arsip resmi dari kota, terutama perubahan nama. Fokus pada satu hal, aku ingin dokumen yang membuktikan perubahan identitas Celina Diandra menjadi Adeline Ranjaya

  • Sekretaris Ceroboh Kesayangan Tuan Perfeksionis   Bab 84. Rahasia Ranjaya

    Sementara itu, Adeline duduk di kursinya kembali, mencoba menenangkan diri. Gelas di tangannya kini kosong. Ia meletakkannya di meja dengan keras hingga terdengar denting pecah. Ia membuka laci kecil, mengambil sebuah kunci tipis berukir. Dari dalam lemari besi tersembunyi, ia mengeluarkan sebuah kotak hitam. Kotak itu sederhana, tapi di dalamnya tersimpan beberapa foto lama, potongan artikel koran, dan selembar akta adopsi dengan nama yang ia buang jauh-jauh, Celina Diandra. Adeline menatapnya lama. "Aku sudah membunuh nama itu bertahun-tahun lalu," bisiknya pelan. "Dan tidak ada yang boleh membangkitkannya kembali." Matanya berkaca-kaca dan tanpa ia sadari, jemarinya menyusuri ujung kertas akta itu, seolah menggores kembali luka lama yang pernah ia tutup rapat. Ingatan itu menyeretnya ke masa lalu. Celina, bocah 13 tahun dengan rambut hitam, duduk di pojok aula panti asuhan Cempaka. Matanya menatap kosong ke arah jendela yang dihiasi tirai tipis. Hari itu beberapa anak dipanggil

  • Sekretaris Ceroboh Kesayangan Tuan Perfeksionis   Bab 83. Nama Yang Terhapus

    Alister menutup laptop itu perlahan, menarik napas panjang. Pikirannya berputar cepat, ia menekan nomor telepon."Besok pagi datang ke kantorku. Ada sesuatu yang harus kau lihat," ucapnya datar. "Rekaman itu?" tanya Erwin. Alister hanya menjawab dengan satu kata, "Ya." Keesokan paginya, ruangan kantor Alister terasa lebih dingin dari biasanya. Tirai setengah tertutup, cahaya matahari menembus samar, membentuk garis tipis di lantai kayu. Di atas meja, laptop hitam matte sudah siap. Erwin masuk dengan langkah cepat, wajahnya serius. “Anda bilang rekamannya sudah diperbaiki?" Alister mengangguk. "Duduk!" Tanpa basa-basi, ia mengenakan sarung tangan, memasang kembali flashdisk dengan stiker merah itu. Klik. Rekaman diputar. Erwin bersandar sedikit ke depan, matanya menatap layar dengan penuh konsentrasi. Awalnya ia hanya mengernyit, melihat anak-anak panti bermain, lalu suasana berubah. Adegan tawa pecah menjadi kekerasan. Sosok anak perempuan itu berdiri, sorot matanya dingin, puk

  • Sekretaris Ceroboh Kesayangan Tuan Perfeksionis   Bab 82. Fitting baju pengantin

    Alister menatap dirinya di cermin besar ruang tengah. Pakaian pengantin itu terpasang dengan sempurna, putih gading kontras dengan aura dingin yang ia pancarkan. Para penjahit sibuk berkeliling, menusuk jarum di sana-sini, memberi aba-aba kecil untuk ia sedikit mengangkat tangan atau memiringkan tubuh.Adeline tersenyum bahagia, matanya berbinar penuh kebanggaan. "Kau tampak luar biasa, Alister. Persis seperti yang kubayangkan."Alister sekadar menoleh dan mengangguk pelan. Senyumnya tipis, terkendali, tapi pandangannya kosong. Di balik bayangan dirinya di cermin, ia masih melihat sekilas wajah samar anak perempuan dalam rekaman, tangan mungil itu yang berubah menjadi alat penghancur."Pak, bisa sedikit condong ke kanan," ujar penjahit, memecah lamunannya.Alister mengikuti instruksi tanpa suara. Tubuhnya kaku, tidak memberi celah bagi siapa pun untuk menyadari bahwa pikirannya melayang jauh dari ruangan itu.Adeline bangkit dari kursi dan menghampirinya. Dengan kedua tangan, ia merap

  • Sekretaris Ceroboh Kesayangan Tuan Perfeksionis   Bab 81. Saksi bukan pelaku

    Alister duduk kembali di kursi kantornya keesokan paginya. Cangkir kopi segar sudah tersaji, uapnya tipis, teratur seperti semua hal di sekitarnya. Ia membuka kotak baja, mengenakan sarung tangan, dan menyalakan laptop hitam matte itu. Flashdisk dengan stiker merah kembali menancap. Ia memilih file rekaman dengan kode waktu yang sesuai, menekan tombol play. Layar bergetar sejenak sebelum gambar muncul. Kualitasnya tidak sempurna, tapi cukup jelas. Kamera menyorot halaman depan panti. Seorang anak perempuan, lebih tua dari Harika kecil, muncul dengan rambut terikat rapi. Ia tersenyum, berlari kecil masuk ke halaman panti, dan disambut oleh dua anak penghuni panti lainnya. Awalnya tampak normal. Mereka tertawa, duduk melingkar, bermain dengan mainan seadanya. Alister menyipitkan mata, tubuhnya condong ke depan. "Siapa kau?" gumamnya, berusaha mengenali wajah anak itu. Namun, suasana berubah. Tawa yang ringan itu tiba-tiba pecah menjadi keributan. Anak perempuan itu berdiri, matanya

  • Sekretaris Ceroboh Kesayangan Tuan Perfeksionis   Bab 80. File Terlarang

    Di lantai atas kantor, Alister masih duduk di balik meja kerjanya. Lampu meja menyala redup, namun ruangan tetap tampak teratur seperti ruang pameran. Setiap map tersusun lurus, jarak antarpena serasi di tempatnya, bahkan cangkir kopinya selalu diletakkan dengan posisi gagang menghadap ke arah yang sama. Ia membuka satu map, meneliti laporan dengan mata tajam. Setiap angka, setiap catatan ia koreksi, bahkan untuk tanda koma yang meleset pun ia tidak segan mencoret ulang. Tangannya bergerak cepat namun rapi seakan setiap detil kecil adalah cerminan kekuatan dirinya. Sampai dering telepon meja memecah keheningan dengan nada tegas dan singkat. Alister menoleh, bibirnya menipis sebelum ia mengangkat gagang telepon."Ya." Suara di seberang terdengar terburu-buru, namun penuh kepastian. "Pak Alister, rekaman CCTV itu sudah berhasil dipulihkan. Tidak semua, tapi bagian pentingnya sudah bisa ditonton dengan jelas." Alister terdiam sepersekian detik. Tatapannya menusuk ke arah kosong, lal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status