FAZER LOGINAngin malam di puncak menara tertinggi bertiup begitu kencang, menyabet helai-helai rambut Meghan dan mengirimkan rasa dingin yang menggigit hingga ke tulang.
Di bawah sana, kegelapan kastel tampak seperti jurang tanpa dasar yang menganga, seolah siap menelan siapa saja yang berani terjun ke dalamnya. Meghan berdiri di tepi pembatas batu, menatap lurus ke bawah.Ia sedang berpikir, bagaimana jika ia melompat ke bawah sana lalu mati?Pikiran itu terasa begitu menggoMeghan merindukannya.Di antara seluruh rasa muak, trauma, dan dendam yang ia pelihara dalam setahun isolasi, sebuah kenyataan pahit menghantam dadanya tanpa ampun, hatinya masih berdesir hangat saat namanya dipanggil oleh orang yang dia cintai. Namun di saat yang sama, jantungnya serasa dibelah pedang. Rasa cinta dan benci itu melebur menjadi racun yang mencekik tenggorokannya.Setelah satu tahun lamanya terkurung dalam radius lima meter, setelah bermusim-musim mereka tidak saling bertemu dan bertukar pandang, hari ini matanya kembali menatap iris abu itu. Iris mata yang selalu menjanjikan surga sekaligus neraka dalam waktu yang bersamaan."Meghan," panggil Ralph lagi. Suaranya tidak sekasar setahun lalu, melainkan ada nada rendah yang sarat akan kerinduan yang terpendam.Meghan mundur selangkah. Kakinya yang bebas dari rantai terasa lemas. Kepalanya mendadak pening saat menyadari sesuatu yang keliru, sesuatu yang merusak semua spekulasi dan ingatan raga yang ia tempati.Wajah
Satu tahun. Waktu yang teramat panjang untuk dihabiskan dalam radius lima meter.Meghan tetaplah Meghan. Jiwa Nadira di dalam raga ini terlalu keras kepala untuk menekur dan memohon ampun pada seorang diktator. Ia menolak untuk bersikap baik pada Ralph, menolak menjadi binal seperti selir ayah pria itu, dan alhasil, di sinilah ia sekarang. Terdampar di sudut kamar dengan satu kaki yang masih setia dibungkus besi bundar berantai tebal.Ia tidak lagi tahu tentang kabar di istana ini. Dunia luar seolah telah menghapus keberadaannya.Semua pelayan yang datang mengantar makanan, membersihkan ruangan, dan membantunya berganti baju memiliki satu kesamaan, mereka bisu. Mereka tak pernah dibiarkan berbincang terlalu lama dengan Meghan. Setiap kali Meghan mencoba membuka mulut untuk bertanya, tentang Elanor, tentang politik, atau sekadar hari apa sekarang, para pelayan itu akan langsung gemetar ketakutan dan bergegas pergi.Awalnya, Meghan marah besar dengan aturan isolasi itu. Ia sering
"Aku tidak perlu untuk memohon apa pun." Suara Meghan terdengar serak, tidak ada nada gentar di dalamnya. Ia mendongak, menantang sepasang mata gelap di balik bayangan obor itu. Ralph menunduk, menatapnya dengan senyum miring yang sarat akan cemoohan. "Tidak ingin bebas? Tidak ingin tahu bagaimana hukum berjalan?" Pertanyaan itu sempat membuat pertahanan Meghan goyah. Jiwa Nadira di dalam dirinya menjerit, ingin tahu apakah Elanor masih bernapas di paviliun seberang, atau apakah hukum gantung telah merenggut nyawa Ratu malang itu. Namun, melihat binar manipulatif di mata Ralph, Meghan lekas menarik kembali egonya. Ia mengeraskan rahang, kembali bersikap angkuh. "Tidak perlu. Kebengisanmu sudah terbaca olehku." "Aku bengis bagimu?" Ralph mengangkat sebelah alisnya. Meghan mengangguk mantap, tanpa ragu sedikit pun. Ralph perlahan melangkah maju. Gemerincing rantai di kaki Meghan berbunyi kaku saat wanita itu mencoba menggeser tubuhnya ke belakang. Menjauh hingg
Belati di leher Meghan ditarik kembali, menyisakan goresan tipis kemerahan yang terasa perih. Namun, siksaan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Tubuh ringkih Meghan diseret kasar menjauh dari paviliun Ratu Elanor, melewati lorong-lorong dingin, dan diempaskan begitu saja ke lantai kamarnya sendiri. "Aku tidak suka bagaimana selir mencoba mengaturku!" gertak Ralph, suaranya menggelegar memenuhi ruangan, mengirimkan sensor ketakutan yang instan pada setiap pelayan yang berjaga di luar. Mata Meghan merah, wajahnya kacau balau bercampur air mata dan keringat. Ia mendongak, menatap sang tirani dengan napas yang memburu satu-satu. Dia memang bukan pemilik tubuh Meghan yang asli. Ingatan-ingatan masa lalu raga ini tidak sepenuhnya Nadira pahami. Karena jika saja Nadira paham, jika saja ia memiliki ketakutan yang sama dengan Meghan yang asli, ia pasti tahu bahwa menaikkan nada tinggi di depan sang Raja akan langsung dihadiahi hukuman mati yang kejam. Meghan yang asli pasti tidak
"Paduka! Yang Mulia Putri Anneliese ... napasnya telah berhenti!" Pekikan panik dari pelayan senior itu memecah keheningan paviliun utama seperti sambaran petir. Tak butuh waktu lama bagi langkah kaki yang berat dan berwibawa untuk bergema di sepanjang koridor batu. Ralph datang dengan jubah hitamnya yang berkibar, membawa atmosfer kematian yang pekat. Wajahnya datar, tapi sepasang matanya berkilat kejam, siap menjatuhkan titah hukuman mati bagi Elanor atas kegagalan melahirkan penerus yang tangguh. Namun, tepat di ambang pintu kamar Ratu, langkah sang Raja terhenti. Sosok Meghan berdiri di sana, pasang badan dengan kedua tangan terentang, menghalangi jalan masuk Ralph. "Paduka, Ratu Elanor tidak bersalah," ucap Meghan, suaranya bergetar hebat menahan rasa takut yang luar biasa. Namun sepasang matanya menatap lurus ke dalam manik mata gelap sang Raja tanpa beralih sedikit pun. "Jika Paduka membutuhkan nyawa sebagai ganti atas kegagalan ini, ambil nyawaku. Jadikan aku kambing
Satu minggu berlalu seperti kabut tebal yang mencekik paviliun utama. Pagi itu, Meghan berdiri di koridor yang sunyi saat pintu ek besar kamar Ratu Elanor terbuka. Sosok tegap Ralph melangkah keluar. Pria itu menampilkan raut wajah yang datar, sedingin dinding batu kastil tua, seolah tidak baru saja menjenguk istri dan anak kandungnya sendiri. Saat berpapasan, sepasang mata gelap Ralph sempat bergulir ke arah Meghan. Namun, tidak ada sapaan, tidak ada kata, bahkan tidak ada binar kejam seperti malam terkutuk itu. Ralph melangkah pergi begitu saja, mengabaikannya sepenuhnya. Meghan mengembuskan napas pelan, ia justru sangat senang diabaikan oleh sang tirani. Hubungan mereka memang paling benar jika tetap sekaku belati. Meghan segera mengetuk pintu dan menyelinap masuk ke dalam kamar. Hawa hangat bercampur aroma ramuan obat langsung menyergap indra penciumannya. Hubungan Elanor dan Meghan sebenarnya tidak terlalu hangat, ada sekat tak kasat mata antara sang Ratu dan seorang







