Chapter: AbadiMalam semakin melarut di Istana Agung. Angin utara yang bertiup dari puncak pegunungan membawa serpihan es halus yang menempel di selasar batu luar. Di dalam Ruang Balai Utama, perapian batu berukuran besar masih membara tebal, memancarkan kehangatan yang mengusir hawa dingin abad ke-13 yang menusuk tulang.Bapa Anselm melangkah masuk dengan mengapit sebuah kotak kayu jati tua yang dilapisi besi tempa. Di belakangnya, dua juru tulis muda membawa pundi-pundi kulit berisi dokumen sensus wilayah terbaru yang baru saja diselesaikan oleh para pengawas tanah (bailiff)."Paduka Raja, Ratu Meghan," Bapa Anselm membungkuk hormat sebelum meletakkan perkamen sensus di atas meja oak. "Ini adalah catatan lengkap mengenai jumlah populasi serf, pengrajin, serta alokasi lahan pertanian di seluruh lima distrik utama pasca-pemulihan musim dingin."Meghan mengambil naskah terbesar, membuka lipatan kulit lembu yang wangi minyak cengkeh itu di bawah temaram cahaya lilin. Matanya dengan cepat memindai
Huling Na-update: 2026-10-24
Chapter: Era BaruDi Ruang Kerja Utama, Meghan duduk di depan tumpukan peta batas lahan bersama Lord Silas. Di hadapan mereka, dua orang perwakilan dari serikat pemotong kayu (woodcutters guild) berdiri canggung dengan tangan kasar yang terlipat di depan dada."Kalian meminta penambahan kuota tebang di kawasan Hutan Barat," ujar Meghan, suarasa tenang namun penuh penekanan. Matanya menatap berkas laporan kuota tahunan. "Namun laporan dari pengawas hutan menyebutkan bahwa penebangan di sektor tiga telah melebihi batas yang diizinkan dalam Piagam 1293."salah satu perwakilan serikat membungkuk pelan. "Ratu Meghan, permintaan kayu oak tebal dari galangan kapal di Selat Selatan meningkat dua kali lipat musim ini. Jika kami tidak menambah kuota tebang, galangan kapal akan kekurangan bahan baku.""Permintaan pasar tidak serta-merta menggugurkan hukum konservasi wilayah diraja," sela Meghan tanpa getaran sedikit pun. "Jika kalian menebak habis sektor tiga sekarang, dalam lima tahun mendatang Hutan Barat
Huling Na-update: 2026-10-22
Chapter: Abad ke 13Keesokan harinya, sebelum fajar sepenuhnya menyingsing di ufuk timur, kabut tebal menyelimuti dinding-dinding granit Istana Agung. Salju tipis mengendap di atas bahu baju zirah para prajurit yang berjaga di sepanjang selasar benteng.Sesuai janji, Ralph membawa Ashton ke pelataran pertahanan luar di Menara Barat. Di sana, empat puluh prajurit pemanah yang mengenakan jubah wol tebal berlogo naga tengah bersiap di balik celah tembok benteng. Di hadapan mereka, jajaran busur silang dan busur tegap tertata rapi di atas peti kayu oak."Di benteng seluas ini, Ashton," ujar Ralph, suaranya dalam dan tenang di tengah tiupan angin dingin, "prajurit pemanah adalah mata dan garis pertahanan pertamamu. Seorang penguasa harus paham berapa lama waktu yang dibutuhkan prajuritnya untuk mengisi ulang anak panah dalam kondisi jemari yang membeku."Ashton memperhatikan seorang pemanah veteran yang tengah melumasi tali busur silang dengan lemak sapi. Tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit tipis
Huling Na-update: 2026-10-18
Chapter: Kerja Bagus, AshtonMemasuki akhir tahun, konsolidasi wilayah tidak lagi sebatas mengamankan perbatasan, melainkan memperkuat jalur komunikasi antar-kastil penopang. Di wilayah perbukitan barat, akses jalan menuju Benteng Batu Hitam kerap terhalang oleh erosi salju dan serangan penyamun lokal yang memanfaatkan celah hutan tebal.Di Ruang Arsip Istana, Ralph memeriksa peta topografi bersama Panglima Gomund. Cahaya lilin memantulkan binar pada baju zirah tempa yang masih melekat di bahu Sang Raja."Penyamun di Hutan Barat bukan tentara terorganisir," ujar Gomund seraya menunjuk titik persimpangan di peta. "Mereka adalah sisa-sisa petani liar dan desertir perang yang menolak membayar pajak tanah. Mereka menyerang kereta pasokan yang tidak dikawal ketat.""Bukan masalah besar, tapi merusak reputasi keamanan yang baru kita bangun," pangkas Ralph dingin. "Gomund, kirim dua unit kavaleri ringan untuk patroli rutin setiap tiga hari. Jika ada penyamun yang tertangkap, jangan dipenjara di ibu kota. Hukum lan
Huling Na-update: 2026-10-15
Chapter: Akhir AbadLonceng Katedral Agung berdentang tujuh kali, gaungnya memecah kesunyian fajar musim dingin. Asap tipis membumbung dari cerobong-cerobong batu di sepanjang pemukiman di bawah benteng, menandakan aktivitas pagi warga kota yang mulai menggeliat di bawah naungan kedamaian yang stabil.Di dalam Balai Penilaian Feodal Istana Agung, meja oak raksasa dipenuhi oleh gulungan perkamen berkulit lembu, timbangan perak untuk keping uang emas florin, serta stempel-stempel wilayah dari seluruh kadipaten bawahan. Hari ini adalah Michaelmas Assessment, hari di mana seluruh vassal, lord, dan kepala guild (serikat pengrajin dan pedagang) berkumpul untuk menyerahkan kewajiban pajak tanah, upeti tahunan, serta memperbarui sumpah feodal (fealty) di hadapan takhta.Ralph duduk di atas kursi kayu berukir naga, mengenakan jubah beludru tebal bersulam benang perak dan baju zirah rantai (hauberk) tebal di bagian dada. Di sisinya, Meghan tampil anggun dalam gaun wol tebal berwarna hijau zamrud, mahkota tiara
Huling Na-update: 2026-10-11
Chapter: Pembelajaran AshtonPangeran Ashton yang kini menginjak usia sembilan tahun duduk di samping meja oak besar di Ruang Studi Diraja. Di hadapannya terbentang naskah perkamen kulit lembu yang ditulis dengan tinta empedu. Ia sedang mempelajari daftar kewajiban upeti dan pajak tanah (tithe) dari para penguasa lahan (landlord) di perbatasan."Ashton," panggil Meghan seraya meletakkan segel lilin merah di atas meja. "Jika seorang baron di wilayah barat menolak mengirimkan kavaleri berkuda saat panggilan perang dibunyikan, apa langkah hukum feodal yang harus kau ambil?"Ashton mendongak. Matanya yang berwarna kelabu menatap ibunya tanpa ragu. "Sesuai Piagam Diraja tahun 1292, hak atas tanah (fiefdom) miliknya dicabut. Tanah itu kembali menjadi milik Mahkota, dan ia bisa dijatuhi hukuman pengasingan atas tindakan pembangkangan (felony)."Ralph, yang sedang memeriksa mata pedang besi tempa milik garda depan di dekat perapian besar, mengangguk setuju."Bagus," ujar Ralph dengan suara beratnya. "Di era ini, t
Huling Na-update: 2026-10-08
Chapter: 174. ProtektifKeiran mengancingkan manset jasnya dengan presisi sebelum melangkah menuju pintu utama kamar. Langkah kakinya yang berat dan berirama konstan menggema pelan di atas lantai marmer, menandai dimulainya rutinitas di dalam hunian megah yang kini sepenuhnya menjadi ruang aman bagi Shaluna.Shaluna memandangi punggung tegap pria itu hingga menghilang di balik pintu yang mengatup rapat. Suasana di dalam kamar utama kembali hening, namun bukan keheningan yang mencekam seperti yang biasa ia rasakan di masa lalu. Keheningan kali ini diisi oleh rasa kepastian yang kokoh. Jminan terselubung bahwa di luar sana, Keiran sedang memegang penuh kendali atas segala hal yang berpotensi mengusik ketenangannya.Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian kasual yang nyaman, Shaluna melangkah keluar menuju ruang makan. Di atas meja kayu jati yang panjang, sarapan hangat sudah tertata rapi sesuai standar efisiensi yang disukai Keiran. Dua orang staf rumah tangga bekerja dengan cekatan tanpa menimbul
Huling Na-update: 2026-10-24
Chapter: 173. Penerbangan RaganUdara malam di apartemen sewaan kawasan Docklands, Melbourne, terasa jauh lebih menusuk dari biasanya. Layar ponsel di tangan Ragan sudah mati, menyisakan pantulan wajahnya sendiri yang tampak kusam di bawah temaram lampu meja.Tidak ada teriakan. Tidak ada bantingan barang. Ragan hanya duduk diam di tepi kasur sempitnya, menatap lurus ke dinding putih kosong di hadapannya dengan tatapan kosong. Pikirannya menolak merangkai kalimat, terjebak dalam lingkaran kebas yang mendalam.Dua tahun.Dua tahun ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusannya meninggalkan Jakarta adalah bentuk penebusan. Dua tahun ia menghabiskan waktu di ruang-ruang konseling yang dingin, merobek ego masa lalunya, menerima kenyataan bahwa ia cacat dalam cara yang tidak bisa diperbaiki, dan belajar hidup dalam keheningan tanpa tuntutan siapa pun.Ia pikir ia telah membayar lunas harga dari kebohongannya.Namun, majalah bisnis yang ia lihat di etalase sore tadi meruntuhkan seluruh ilusi itu dalam satu detik.
Huling Na-update: 2026-10-22
Chapter: 172. Malam PertamaPintu kamar utama tertutup rapat dengan dentung halus yang memutus seluruh suara dari luar. Cahaya di dalam ruangan sangat minim, hanya disokong oleh pendar remang lampu dinding bernuansa warm amber di sudut dekat meja kerja Keiran, membiarkan bayangan tubuh mereka jatuh memanjang di atas lantai kayu tebal.Keiran tidak langsung menurunkan Shaluna ke ranjang. Pria itu berdiri sejenak di sisi tempat tidur king-size, menatap wanita di dalam gendongannya dengan intensitas yang begitu dalam dan dingin. Dalam jarak sedekat ini, Shaluna bisa merasakan kehangatan yang memancar dari tubuh tegap Keiran, seolah pria itu adalah satu-satunya sumber energi di tengah kamar yang sejuk oleh hembusan AC.Dengan gerakan yang sangat terkontrol dan hati-hati, Keiran merebahkan Shaluna ke atas kasur empuk berlapis sprei katun sutra hitam.Shaluna membiarkan punggungnya menyentuh permukaan ranjang, rambut hitamnya yang terurai menyebar di atas bantal. Pandangannya tidak pernah lepas dari wajah Keiran ya
Huling Na-update: 2026-10-15
Chapter: 171. PernikahanPernikahan itu digelar di sebuah kapel privat berarsitektur batu alam di kawasan pinggiran kota yang terisolasi—sebuah tempat yang dipilih dengan presisi tinggi agar seluruh prosesi berjalan di bawah kendali penuh.Di dalam ruang persiapan bernuansa kayu gelap, Shaluna berdiri seorang diri di depan cermin besar.Gaun pengantin berwarna gilded-ivory yang membungkus tubuhnya memancarkan keanggunan yang tidak rumit. Potongannya jatuh dengan tegas, tanpa renda yang ramai, mencerminkan kesederhanaan yang sarat akan wibawa.Jemari Shaluna mengusap permukaan dingin dari kalung mutiara hitam yang terlingkar di lehernya. Perhiasan langka yang dikirimkan ke kamarnya dua jam lalu tanpa catatan nama, namun ia tahu pasti siapa pemiliknya.Pintu kayu tebal berderit halus saat terbuka.Melalui pantulan cermin, Shaluna melihat Keiran melangkah masuk. Pria itu sudah mengenakan setelan jas hitam dengan garis kustom yang sempurna membingkai bahunya yang tegap.Langkah kaki Keiran terdengar konstan
Huling Na-update: 2026-10-11
Chapter: 170. Menjelang PernikahanPersiapan pernikahan itu tidak dirancang seperti pesta korporat yang bising, melainkan sebuah pertunjukan kekuasaan yang sunyi, presisi, dan mutlak.Di penthouse Keiran yang menghadap lanskap Jakarta Selatan, suasana pagi itu terasa dingin dan tenang. Hanya ada beberapa staf senior dari rumah mode ternama serta tim keamanan internal Alvareno Group yang berjaga di luar pintu kaca.Shaluna berdiri di atas podium bundar berlapis beludru di tengah ruangan, mengenakan gaun pengantin berpotongan haute couture berwarna putih gilded-ivory. Kain sutra yang membungkus tubuhnya jatuh dengan anggun, tanpa banyak payet yang mencolok, melainkan garis desain yang tajam, elegan, dan tegas. Mencerminkan status barunya sebagai calon pendamping tunggal sang penguasa Alvareno.Seorang penjahit wanita paruh baya berkebangsaan Prancis sedang merapikan ujung gaun Shaluna dengan hati-hati."Sedikit lagi di bagian pinggang, Mademoiselle Dastan," gumam penjahit itu sopan. "Silakan berdiri tegap."Shalun
Huling Na-update: 2026-10-04
Chapter: 169. IkutTangan Ragan yang memegang pinggiran etalase kaca itu berguncang halus. Napasnya terengah, mengembuskan uap putih yang makin memburu di tengah dinginnya malam Melbourne."Ragan?"Sebuah suara pria beraksen Australia yang familier memecah keheningan di belakangnya.Ragan dengan cepat menarik tangannya dari kaca, membalikkan badan dengan gerakan refleks yang agak panik. Berdiri beberapa langkah di depannya adalah Lian. Pria berkebangsaan Australia-Yunani yang merupakan seorang arsitek lanskap dan rekan satu timnya dalam proyek sukarelawan penataan taman kota yang Ragan ikuti selama enam bulan terakhir.Julian menatap Ragan dengan kening berkerut halus, memperhatikan raut wajah Ragan yang pucat pasi bak tanpa darah."Kamu baik-baik saja?" tanya Lian, melangkah mendekat. Pria itu mengenakan jaket parka tebal dan membawa dua cangkir kopi takeaway. "Aku lihat kamu berdiri mematung di sini dari seberang jalan. Wajahmu seperti baru saja melihat hantu."Ragan menelan ludah, berusaha ker
Huling Na-update: 2026-09-28