Selir Angkuh Kesayangan Paduka
"Panggilkan pelukis tubuh kerajaan sekarang juga! Aku ingin dia mengukir namaku di tengkuk bangsawan kelas tiga ini. Jika dia merasa terlalu tinggi untuk menjadi istri seorang anak selir, maka biar dia merasakan bagaimana rasanya menjadi selir dari Pangeran Mahkota!"
Nadira sudah mati, tapi kemudian hidup pada tubuh seorang putri tunggal dari bangsawan kelas tiga, Meghan. Pada malam pertunangannya, Meghan menolak pinangan dari seorang anak selir dan menghinanya di sana. Membuat murka Pangeran Mahkota, Ralph, ia tiba-tiba dijadikan selir.
Kini, tengkuknya berlukiskan tato dengan nama Ralph sebagai pemiliknya. Menyulut amarahnya, Meghan bertekad akan membuat sejarah baru dalam istana ini. Ia akan membuat Ralph menentang semua aturan kuno dengan status selirnya.
Akankah Meghan berhasil?
Baca
Chapter: Sekolah SelirMeghan melangkah menyusuri lorong panjang yang dihiasi permadani dinding tebal. Namun, langkahnya terhenti di depan pintu jati raksasa menuju perpustakaan agung. Dua penjaga bersenjata tombak menyilangkan senjata mereka, sementara seorang pelayan senior dengan pakaian kaku menghalangi jalannya. "Mohon maaf, Nona Valerius. Perpustakaan ini hanya diperuntukkan bagi anggota keluarga inti dan para murid istana," ucap pelayan itu dengan nada datar yang terkesan merendahkan. Meghan terdiam, tangannya yang menggenggam koin emas di balik saku gaunnya mengeras. "Aku adalah milik Pangeran Mahkota. Namanya ada di kulitku. Apakah itu tidak cukup sebagai izin?" "Status selir memberi Anda hak atas kemewahan, tapi bukan atas pengetahuan rahasia kerajaan," balas si pelayan tanpa emosi. "Namun, jangan berkecil hati. Pangeran Mahkota telah mengatur jadwal Anda. Sebagai selir baru, Anda wajib menghadiri Schola Gratiae, Sekolah Keanggunan." Meghan tidak punya pilihan selain mengikuti arah telun
Terakhir Diperbarui: 2026-04-30
Chapter: Ducat MeghanMeghan membiarkan pakaian sutra birunya merosot ke lantai marmer yang dingin dengan gerakan yang lambat. Ia berdiri dengan kepala terangkat, memamerkan lekuk tubuhnya yang sehat dan sempurna di bawah cahaya temaram lampu minyak. Dalam benak Nadira, ini adalah senjatanya. Ia tahu betapa kuat daya tarik tubuh yang tidak lagi digerogoti penyakit, dan ia yakin bahwa Ralph, seperti pria di masa lalunya, akan tunduk pada hasrat yang meluap.Ralph kemudian menuntunnya menuju ranjang besar berkelambu beludru merah itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ketika punggung Meghan menyentuh kasur yang empuk dan Ralph merangkak naik di atasnya, Meghan menyunggingkan senyum kemenangan. Ia merasa telah berhasil menjerat sang Pangeran Mahkota dalam permainan godaan yang ia ciptakan sendiri.Namun, senyum itu membeku saat Ralph tidak menunjukkan tanda-tanda akan menciumnya.Alih-alih menyatukan tubuh mereka, Ralph justru meraih sebuah belati perak yang terselip di balik jubah yang ia lepaskan tadi.
Terakhir Diperbarui: 2026-04-30
Chapter: Buka Pakaianmu SekarangMeghan dipaksa berdiri dan diseret menjauh dari kerumunan. Ia sempat melirik ke arah ayahnya, Baron Valerius, yang hanya bisa menunduk lesu tanpa berani menatap mata putrinya. Langkah kaki Meghan bergema di lorong-lorong istana yang panjang dan sunyi. Setiap langkah itu terasa seperti dentuman genderang perang di kepalanya.Ia bukan lagi Nadira yang menunggu maut di bangsal rumah sakit yang steril. Di sini, di dunia yang penuh dengan aroma lilin lebah dan pengkhianatan ini, ia punya tubuh yang sehat dan dendam yang baru saja menemukan wadahnya.Begitu pintu paviliun ditutup dan dikunci dari luar, Meghan langsung berjalan menuju cermin perunggu di sudut ruangan. Ia menyibakkan rambutnya yang berantakan, menatap pantulan tanda hitam yang masih berdenyut panas di tengkuknya.RALPHNama itu tampak seperti noda yang merusak kulit putihnya. Meghan menyentuh permukaan ukiran itu dengan ujung jarinya, merasakan sisa-sisa tinta yang mengering. Air matanya hampir jatuh karena amarah yang terla
Terakhir Diperbarui: 2026-04-30
Chapter: Milik Ralph“Aku menolak!” Setelah jamuan makan malam yang menyesakkan itu usai, ketegangan beralih ke ruang yang lebih privat tapi tetap disaksikan oleh para petinggi istana. Di sana, Meghan berdiri dengan punggung tegak, mengabaikan tatapan memohon dari ayahnya yang sudah berkeringat dingin. Nadira, dalam jiwa Meghan, tidak bisa lagi membendung rasa muak yang ia rasakan. Ia baru saja mendapatkan kesehatan yang ia dambakan, dan ia tidak akan membiarkan hidup barunya dimulai dengan menjadi sekadar alat pelunas utang bagi keluarganya dan menikah dengan seorang anak selir. "Aku menolaknya!” Lagi. Suara Meghan memecah keheningan ruangan, tenang tapi begitu tajam hingga membuat Carl tersentak kecewa. "Setelah merenungi posisi dan harga diri keluarga Valerius, aku memutuskan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan. Aku adalah putri dari garis keturunan bangsawan yang sah, dan bersanding dengan seorang anak selir adalah sebuah penghinaan yang dilemparkan tepat di wajahku!" Ruangan itu se
Terakhir Diperbarui: 2026-04-30
Chapter: Perubahan Rencana dari Pangeran"Tundukkan kepalamu lebih dalam, Meghan! Kau ingin kita semua dihukum gantung sebelum acara dimulai?" bisik Baron Valerius dengan tangannya yang mencengkeram lengan Meghan hingga kain sutra gaunnya berkerut.Suara terompet kerajaan membahana, memekakkan telinga saat pintu ganda aula utama terbuka lebar. Bau kemenyan dan lilin lebah yang mahal menyeruak, menyambut kedatangan mereka sebagai tamu di atas kertas seharusnya dihormati karena membawa persembahan bagi keluarga istana. Namun, suasana di dalam sana sama sekali tidak terasa seperti penyambutan hangat.Para pengawal istana yang mengenakan zirah mengkilap berdiri kaku di sepanjang karpet merah, memegang tombak yang ujungnya berkilau tajam tertimpa cahaya obor. Setiap langkah Meghan dan ayahnya diiringi oleh tatapan menilai dari para bangsawan yang berbaris di sisi kiri dan kanan. Mereka berbisik di balik kipas sutra dan gelas-gelas kristal, suara mereka terdengar seperti desis ular."Lihatlah si Baron miskin itu! Dia begitu putu
Terakhir Diperbarui: 2026-04-30
Chapter: Perjodohan"Meghan! Jawab Ayah!"Suara itu berat dan menggema di ruangan berbatu yang dingin. Meghan tersentak, kepalanya yang sedari tadi menunduk lemas mendadak tegak. Rasa kantuk yang luar biasa berat seketika sirna, berganti dengan keterkejutan yang menghantam dada.Hal pertama yang ia rasakan adalah paru-parunya.Paru-paru itu terasa kosong, ringan, dan tidak menyakitkan. Tidak ada selang oksigen yang menusuk hidungnya, tidak ada bau obat-obatan yang menyesakkan, dan tidak ada bunyi beeping mesin jantung yang selama dua puluh tujuh tahun menjadi melodi kematiannya.'Aku masih hidup?'"Meghan! Apa kau mengerti sekarang?!"Meghan mengerjapkan mata, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lilin yang temaram. Di depannya berdiri seorang pria paruh baya dengan jubah beludru tebal. Di dada kiri jubah itu, tersemat lencana perak berbentuk burung thrush. Simbol dari keluarga Baron Valerius, gelar bangsawan rendah kelas tiga yang hanya memiliki sebidang tanah kecil di perbatasan kerajaan."Ayah?"
Terakhir Diperbarui: 2026-04-30