LOGINAthena terbangun dari tidurnya saat fajar tiba. Wanita itu memang memiliki kebiasaan bangun di jam seperti ini, karena ia harus pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar atau mencari sayuran liar atau ikan yang bisa digunakan untuk makan. Setelahnya ia akan pergi bekerja di sebuah kedai mie kecil di pusat kota.
Pintu ruangan itu terbuka, Sopia masuk ke dalam kamar itu. "Yang Mulia, Anda sudah bangun?"
Athena menganggukan kepalanya. "Ya."
"Yang Mulia, saya telah menyiapkan air mandian untuk Anda. Apakah Anda ingin membersihkan tubuh sekarang?"
"Ya, Sopia."
Sopia mendekati Athena, membantu Athena turun dari ranjang dengan hati-hati.
Tempat mandi Athena terhubung dengan kamar Athena. Saat sampai di sana, Athena melihat ke kolam pemandian yang cukup besar untuk dirinya sendirian. Di permukaan air terdapat kelopak bunga mawar merah. Sungguh tempat pemandian yang sangat mahal dan tidak mampu diimpikan oleh seorang Athena.
Sopia membantu Athena melepaskan pakaiannya. Sekarang yang tersisa hanya selembar kain tipis yang membalut tubuh Athena.
Wanita itu melangkah memasuki kolam, air hangat menyapa kakinya, perlahan-lahan tubuhnya mulai tenggelam oleh air. Athena duduk, memejamkan matanya. Rasanya begitu nyaman.
Di tepi kolam, Sopia membantu Athena menggosok tubuhnya. Athena, tidak pernah dilayani seperti ini, ia sedikit tidak terbiasa, tapi ia harus segera membiasakan dirinya dengan hal ini. Setidaknya sampai ia melahirkan anak untuk Sang Jenderal Luminastra.
Waktu berlalu, Athena selesai membersihkan tubuhnya. Ia mengenakan pakaian dibantu olehh Sopia. Di meja, sarapan telah disiapkan.
"Yang Mulia, Yang Mulia Putri berpesan agar Anda tidak perlu memberikan salam pagi ini, Yang Mulia ingin Anda istirahat lebih banyak." Sopia menyampaikan pesan dari Lucianne.
"Baik." Athena mengikuti perintah dari Lucianne.
Athena mulai menyantap sarapannya, lalu setelah itu ia meminum ramuan untuk menyuburkan kandungan. Meski pahit, Athena tidak mengeluh. Ini adalah harga untuk kehidupan ibunya.
Di paviliun utama, Lucianne mengunjungi Altherr. Setiap pagi ia memiliki kebiasaan sarapan dengan suaminya.
"Apakah Jenderal Agung sudah bangun?" Lucianne bertanya pada Colton, kepala pelayan di paviliun utama.
"Menjawab Yang Mulia, saat ini Jenderal Agung sedang berada di arena latihan."
"Aku akan pergi ke sana."
"Baik, Yang Mulia."
Lucianne pergi ke arena latihan, wanita itu menyusuri koridor, melewati taman dan terus melangkah sampai ke tempat tujuannya.
Di depan sana, Altherr sedang berlatih bela diri dengan menggunakan pedang. Pria itu bertelanjang dada. Keringat menetes ke dada bidang dan jatuh mengalir ke perutnya. Melihat Altherr berlatih seperti ini adalah salah satu hal yang disukai oleh Lucianne.
"Suamiku." Lucianne memanggil Altherr dengan lembut.
Altherr menghentikan latihannya. Ia mengarahkan pandangannya pada Lucianne yang kini mendekat ke arahnya.
"Selamat pagi, Suamiku." Lucianne tersenyum lembut seperti biasanya.
Hati Altherr sakit melihat senyum yang sangat ia sukai itu. Semalam ia menghabiskan malam dengan wanita lain, tapi pagi ini istri yang ia cintai tersenyum begitu lembut padanya. Apakah hati Lucianne tidak sakit ia bersama wanita lain?
Altherr mengejek dirinya sendiri, Lucianne yang mendorong dirinya ke wanita lain. Istrinya ini tersenyum lembut seperti itu karena ia telah melakukan sesuai dengan keinginannya.
"Apa yang membawa istriku ke sini?"
Nada bicara Altherr terdapat kemarahan dan Lucianne yang sangat mengenal suaminya, tentu saja tahu bahwa suaminya masih marah.
Lucianne menyeka keringat di leher Altherr dengan sapu tangannya. "Ayo sarapan bersama."
"Aku akan membersihkan tubuhku dulu."
"Baik, Suamiku. Aku akan menunggumu di meja makan."
Altherr dan Lucianne kemudian meninggalkan tempat itu.
Di meja makan sudah tertata rapi makanan yang dimasak sendiri oleh Lucianne. Selang beberapa waktu, Altherr sudah bergabung ke meja makan.
"Suamiku, ayo makan."
Altherr biasanya akan menanggapi Lucianne dengan lembut, tapi rasa kecewa dan kesalnya masih belum sirna. Ia hanya diam saja.
Lucianne memasukan makanan ke mangkuk Altherr. "Yang Mulia harus makan lebih banyak agar lebih bertenaga."
Altherr tidak mengatakan apapun, ia hanya memakan sarapannya. Ia tahu bahwa yang memasak semua hidangan ini adalah istrinya, meski saat ini ia kecewa pada Lucianne, ia masih tidak ingin menyia-nyiakan kerja keras istrinya.
Sarapan itu selesai.
"Suamiku, aku akan pergi ke tempat suci selama satu bulan ke depan."
"Lucianne! Apakah yang aku lakukan masih belum cukup?!" Altherr tahu kenapa istrinya pergi, wanita ini sengaja ingin meninggalkannya berdua saja dengan Athena.
"Suamiku, ini hanya satu bulan." Lucianne harus memberi ruang bagi Altherr dan Athena untuk menghabiskan waktu bersama lebih banyak.
"Lucianne, kau benar-benar tidak berperasaan!" Altherr kemudian berdiri dan pergi dengan marah. Pria ini tidak bisa mencegah Lucianne karena ia tahu Lucianne pasti akan mengancamnya lagi. Di dunia ini Lucianne adalah satu-satunya kelemahan yang ia miliki.
Lucianne sedih melihat Altherr pergi dalam keadaan marah seperti ini, tapi itu tidak mengurungkan niatnya. Apa yang Altherr atakan tentangnya memang benar, ia adalah wanita yang kejam, tapi semua ini demi Altherr. Bagaimana mungkin ia membuat Altherr mati tanpa ada yang mendoakannya di masa depan.
Setelah dari paviliun utama, Lucianne pergi ke paviliun yang ditinggali oleh Athena.
"Selir Athena memberi salam pada Kakak." Athena memberi hormat pada Lucianne.
"Tidak perlu terlalu formal." Lucianne segera meraih tangan Athena. Wanita itu tersenyum dengann lembut."Apakah kau sudah sarapan?"
"Sudah, Kakak."
"Jika makanan yang dibuatkan dapur tidak sesuai dengan seleramu, kau bisa meminta bagian dapur untuk memasak sesuai dengan yang kau inginkan."
"Tidak ada masalah dengan makanan yang disiapkan, Kakak." Athena sudah terbiasa hidup dalam kemiskinan, makanan yang ia makan di tempat ini adalah kemewahan yang tidak akan pernah ia dapatkan di luar sana.
"Ayo aku temani berkeliling kediaman ini."
"Maaf merepotkanmu, Kakak."
"Tidak sama sekali."
Lucianne kemudian membawa Athena berkeliling, sambil melangkah wanita itu menceritakan banyak hal tentang Altherr. Karena Athena adalah wanita Altherr, maka Athena juga berhak tahu apa yang disukai dan tidak disukai oleh Altherr. Selain itu Lucianne juga mengajarkan beberapa hal untuk menyenangkan Altherr.
"Athena, aku akan pergi ke tempat suci untuk berdoa selama satu bulan. Gunakan kesempatan ini untuk lebih dekat pada Jenderal Agung."
Athena sedikit pesimis tentang hal ini. Mendekati pria yang begitu dingin, apakah dia bisa? Selain itu, dia tidak memiliki pengalaman merayu pria.
"Jika Jenderal Agung menolakmu, jangan putus asa. Aku yakin dengan kepribadianmu dia akan menyukaimu."
Disukai oleh Jenderal Agung, Athena tidak berani mengharapkan hal ini. Ia hanya ingin mengandung dalam waktu dekat, menyelesaikan tugasnya lalu kemudian pergi dari kehidupan Lucianne dan Altherr. Ia tidak akan terus menjadi orang ketiga di antara Lucianne dan Altherr.
"Aku mengerti, Kakak."
Lucianne tersenyum ringan. Ia benar-benar menyukai gadis yang lebih muda beberapa tahun darinya. Setelah itu Lucianne kembali menjelaskan tentang Altherr, ia menyebutkan jadwal Altherr setiap harinya.
Setelah berkeliling, Lucianne dan Athena mengakhiri kegiatan mereka berdua dengan minum teh bersama. Saat matahari sudah semakin tinggi, Lucianne pergi.
"Yang Mulia, apakah Selir Athena benar-benar dapat dipercaya?" Darcy -kepala pelayan Lucianne bertanya dengan khawatir.
Majikannya terlalu baik. Ia takut suatu hari nanti Athena akan berbalik mengkhianati Lucianne dan menginginkan posisi Lucianne sebagai istri utama Jenderal Agung. Ia telah melihat ada begitu banyak wanita licik seperti itu.
Ketika mereka semua dihadapkan dengan kekuasaan, maka wanita-wanita itu menjadi rakus dan lupa pada siapa yang telah membantu mereka sebelumnya.
"Aku tidak pernah salah menilai orang Darcy, yakinlah Athena tidak akan pernah mengecewakanku." Lucianne telah mengamati Athena, meski Athena cenderung pendiam, tapi wanita ini tidak mengabaikan sekitarnya. Athena adalah seorang gadis miskin, tapi ketika ia melihat ada orang yang kelaparan ia masih memberikan setengah makanannya untuk orang itu. Athena memiliki hati yang tulus.
"Siapkan semua barang-barangku, kita akan berangkat sebentar lagi."
"Baik, Yang Mulia."
Lucianne tahu bahwa Altherr akan semakin marah padanya, tapi ia juga tahu bahwa Altherr juga paling mencintainya. Ia yakin Altherr pasti bisa menilai bahwa semua yang ia lakukan saat ini adalah yang terbaik untuk mereka semua.
Satu bulan kepergiannya, ia harap Athena bisa lebih dekat dengan Altherr. Ia berharap suasana di antara keduanya sudah tidak terlalu canggung lagi.
Lucianne bukannya memiliki hati yang terlalu lapang, ia tidak pernah mengharapkan suaminya akan membagi perasaan pada wanita lain. Namun, semua adalah karena ketidakmampuannya sendiri jadi ia tidak memiliki hak untuk terus menjadi satu-satunya wanita di hidup Altherr.
tbc
Hari ini adalah hari ulang tahun Menteri Kehakiman. Altherr, Lucianne dan Athena datang ke perayaan ulang tahun orang penting di Luminastra itu.Setelah memberi salam dan hadiah pada Menteri Kehakiman, Athena membawa Lucianne berkumpul dengan para wanita, sementara Altherr, pria itu saat ini sedang mengobrol dengan beberapa petinggi kerajaan yang juga hadir di sana.Athena merasa tidak nyaman di lingkaran orang-orang kelas atas.“Kakak, aku akan keluar untuk mencari udara segar.”“Ya, Sopia akan menemanimu.”“Baik, Kakak.”Athena segera keluar dari tempat itu. Ia berjalan-jalan ke sekitar taman.“Sopia, aku meninggalkan kipasku. Bisakah kau mengambilkannya?”“Baik, Yang Mulia.”Sopia pergi, Athena kembali melangkah. Wanita itu berhenti hendak menuju ke jembatan lengkung, tapi langkahnya terhenti ketika ia melihat sepasang pria dan wanita sedang bercumbu penuh nafsu di balik pohon.Athena tidak memiliki keinginan untuk mengintip, tapi jika ia melanjutkan langkahnya maka ia akan menggan
“Ada apa ini? Apakah sesuatu yang baik terjadi?” Lucianne melihat ke meja makan yang dipenuhi oleh berbagai jenis hidangan yang tampaknya sangat menggugah selera.“Hari ini Ibu sudah sadarkan diri. Semua makanan ini adalah ungkapan terima kasihku pada Kakak karena telah membantuku.”Lucianne mengerti kenapa saat ini Athena tampak bahagia.“Itu adalah kabar yang sangat baik. Aku turut bahagia untukmu.”“Terima kasih, Kakak.”Lucianne membalas ucapan terima kasih itu dengan senyuman ringan.Altherr datang, pria itu melihat Lucianne dan Athena yang tampak akur.“Suamiku, kau sudah datang.” Lucianne segera menyambut suaminya.“Ya, Istriku.”“Ayo duduklah!”Altherr segera duduk. Meja makan yang dulunya hanya ada dua tempat duduk itu kini telah menambahkan tempat duduk yang baru.Lucianne ingin ia, Altherr dan Athena setiap harinya makan bersama.Altherr melihat ke meja makan, cukup banyak hidangan di sana dan Altherr yakin bukan Lucianne yang memasaknya, karena menu masakan itu baru ia lih
Keesokan harinya Ean menemui Altherr, pria itu telah menyelidiki mengenai identitas Athena.Athena berasal dari sebuah desa kecil, wanita itu awalnya tinggal bersama dengan paman dan juga ibunya. Pamannya adalah seorang prajurit yang saat ini sudah gugur saat desa tempat tinggal mereka diserang olah para pemberontak beberapa tahun lalu.Setelah itu Athena pindah ke beberapa tempat bersama dengan ibunya dan akhirnya menetap di ibukota. Ibu Athena menderita penyakit serius hingga membuat wanita itu hanya bisa terbaring di ranjang. Setelah ibunya sakit, Athena yang saat itu masih berusia enam belas tahun mulai bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya dan ibunya juga untuk biaya pengobatan ibunya.Athena bekerja di sebuah kedai mie di pusat ibu kota, selain itu dia juga bekerja paruh waktu di sebuah klinik kecil, tempat tabib yang biasa mengobati ibunya membuka usaha.“Saat ini ibu Selir Athena dirawat di rumah sakit kerajaan.” Ean mengakhiri laporannya.Di luar, Athena berdiri. Di
Athena sedang memberi makan seekor anak kucing di taman. Wanita itu menyukai kucing, tapi dia tidak pernah memiliki kesempatan untuk memiliki hewan peliharaan karena dia terlalu sibuk.Athena bisa saja mengambil kucing liar dan membawanya ke rumah, tapi dia tahu menelantarkan kucing di rumahnya adalah tindakan tidak bertanggung jawab.Beberapa langkah tidak jauh dari Athena saat ini ada Declan. Pria itu tersenyum misterius lalu kemudian melangkah menuju Athena.Saat ini Athena dan anak kucing itu terlihat sangat manis, tapi Declan benar-benar tahu bahwa Athena jelas bukan kucing yang manis melainkan kucing liar yang memiliki cakar tajam.“Salam, Tuan Declan.” Sopia segera memberi salam pada Declan.Athena yang tadinya berjongkok segera berdiri, wanita itu kini menatap Declan.“Nona, kita bertemu lagi.” Declan tersenyum pada Athena.Athena hanya membalas dengan anggukan singkat.“Apakah Nona berasal dari kediaman Adipati Miles?”“Tuan, ini adalah Selir Athena, Selir Jenderal Agung.” So
Altherr pergi ke tenda tempat para bandit yang tertangkap di siksa.“Apakah mereka bicara?” Altherr bertanya pada Ean.“Ya, Tuan.” Ean menggunakan metode penyiksaan yang paling kejam untuk membuat beberapa bandit bicara, tapi beberapa yang lainnya memilih tetap bungkam meski sangat tersiksa. “Pasukan berpakaian hitam tidak berasal dari kelompok bandit. Mereka berasal dari organisasi Elang Hitam.”“Organisasi Elang Hitam?”“Benar, Jenderal Agung. Saya mencoba mencari tahu lebih banyak lagi tentang organisasi ini dari para bandit, tapi mereka tidak mengetahui apapun, bahkan mereka juga baru bertemu dengan orang-orang itu hari ini. Tampaknya yang berhubungan dengan orang-orang dari oganisasi itu adalah pemimpin para bandit langsung.”Altherr tidak puas dengan hal ini, jika tidak ada informasi tentang organisasi itu maka dia tidak bisa menangkap pria yang melukai istrinya.“Apakah mereka menyebutkan tentang tempat persembunyian mereka?”“Saya telah menggambar peta tempat mereka tinggal, Y
Upaya penyergapan itu gagal, beberapa bandit berhasil melarikan diri begitu juga dengan Declan dan pasukan rahasianya yang tersisa.Altherr memerintahkan para pasukannya untuk mengejar bandit yang melarikan diri.Setelahnya ia juga memerintahkan pasukannya untuk mengumpulkan mayat para bandit untuk digantung di benteng kota Azure. Pria itu menunjukan bahwa siapapun yang mencoba untuk mencelakai Luminastra hanya akan berakhir dengan tragis.Altherr kembali ke kereta, ia masuk ke dalam sana dan tabib baru saja selesai menangani Lucianne.“Bagaimana keadaan Istriku, Tabib?”“Luka yang dialami oleh Putri Lucianne cukup dalam, tapi itu tidak mengancam nyawanya. Saat ini Putri Lucianne sedang tidur karena pengaruh obat. Dalam beberapa jam ke depan Putri Lucianne akan sadarkan diri.”Altherr lega mendengarnya. Untung saja tidak terjadi hal yang buruk pada istrinya.Di luar kereta, Athena juga mendengar apa yang dikatakan oleh tabib. Wanita itu juga merasa lega.Perjalanan dihentikan sementar







