FAZER LOGINHari pernikahan tiba, ini adalah pertama kalinya Athena, seorang rakyat rendahan akan bertemu dengan jenderal agung Luminastra yang sangat terkenal.
Wanita itu mengenakan pakaian pengantin yang indah, wajahnya yang biasa terlihat tanpa polesan riasan kini mendapatkan sentuhan riasan. Ia juga mengenakan beberapa perhiasan yang tidak pernah ia pakai sebelumnya.
Di sebelahnya saat ini ada Altherr, pria berwajah dingin yang tidak menunjukan keramahan sama sekali. Athena merasa sangat gugup sekarang, ia tidak tahu apakah ia bisa menjalani pernikahan dengan pria ini atau tidak, tapi ia tidak bisa mundur. Ibunya membutuhkan dokter dan juga obat-obatan yang hanya bisa ia dapatkan dengan cara seperti ini.
Ritual pernikahan itu hanya dihadiri oleh beberapa orang saja. Altherr sengaja merahasiakan pernikahan itu dari khalayak umum bahkan ia tidak meminta orangtuanya untuk hadir di sana.
Proses pernikahan itu berlangsung, Lucianne ada di sana, menyaksikan suaminya menikah lagi.
Lucianne tidak memiliki hak untuk merasa tersakiti jika bukan karena kekurangannya, suaminya tidak akan pernah menikah lagi. Ia sudah mempersiapkan hatinya untuk hari ini, tapi meski begitu masih ada rasa sakit di sana.
Setelah beberapa penghormatan dan ucapan janji suci, pernikahan antara Altherr dan Athena telah sah.
Setelah ritual itu selesai, Altherr segera meninggalkan aula. Ia pergi tanpa melihat ke wajah Athena atau Lucianne sama sekali.
Hati Lucianne seperti ditusuk-tusuk jarum. Altherr adalah belahan jiwanya, saat Altherr terluka ia juga merasakannya.
Lucianne tidak mengejar Altherr, ia akan membiarkan Altherr untuk menyendiri terlebih dahulu. Ia melangkah mendekati Athena.
"Ayo aku antar ke kamarmu."
"Baik, Yang Mulia."
"Jangan memanggilku, Nyonya. Cukup panggil saja aku Kakak." Lucianne tidak ingin memberi jarak pada Athena. Mereka berdua sama-sama istri sah Altherr, jadi kedudukan mereka sama.
"Baik, Kakak."
Lucianne tersenyum lembut. "Itu lebih enak didengar."
Setelahnya Lucianne mulai melangkah bersama dengan Athena. Hari ini Lucianne hanya akan mengantar Athena ke kamar pengantin, besok baru ia akan membawa Athena untuk berkeliling tempat ini.
"Athena, Yang Mulia mungkin akan bersikap tidak begitu ramah padamu, aku harap kau bisa memakluminya." Lucianne tidak ingin Athena membenci Altherr karena sikap dingin Altherr.
Athena menganggukan kepalanya. "Ya, Kakak." Ia sudah mengetahui alasan kenapa Lucianne memintanya untuk menikahi suaminya, itu karena mereka tidak kunjung memiliki keturunan.
Kesetiaan jenderal agung terhadap istrinya bukan lagi rahasia umum. Jenderal agung adalah pangeran ke empat Luminastra, ia adalah adik kandung raja saat ini.
Ayah dan kakaknya memiliki tiga selir, hanya dia seorang pangeran yang tidak mengambil selir setelah sepuluh tahun menikah.
Setelah berjalan beberapa saat, kedua wanita cantik yang diikuti oleh dua baris pelayan itu sampai di pavilion tempat Athena akan tinggal selama menjadi istri Altherr.
"Tempat ini sekarang menjadi tempat tinggalmu. Jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa mengatakannya pada pelayan."
"Terima kasih, Kakak."
"Baiklah, itu saja." Lucianne tidak mengantar Athena sampai ke dalam kamar pengantin. Paviliun ini, dia sendiri yang telah mengatur orang untuk menyiapkannya.
Tempat ini indah dan nyaman. Lucianne bukan hanya ingin membuat Athena merasa betah, tapi juga ingin agar Altherr nyaman berada di sana. Lucianne tahu segala hal yang Altherr sukai, misalnya rancangan kamar dan juga aroma wewangian di lingkungan itu.
"Kakak, bagaimana dengan ibuku?" Hari ini ibunya dibawa ke balai pengobatan untuk mendapatkan perawatan dari tabib istana.
"Ibumu telah berada di balai pengobatan, saat ini tabib sedang memeriksanya. Kau tidak perlu mengkhawatirkan tentang ibumu, ibumu pasti akan mendapatkan pengobatan yang terbaik."
"Terima kasih, Kakak."
Lucianne tersenyum lembut. "Baiklah, kalau begitu aku pergi."
"Ya, Kakak."
Athena menundukan kepalanya memberi hormat, lalu setelah itu Lucianne pergi bersama dengan setengah dari pelayan yang mengikuti mereka tadi. Sementara setengahnya masih tetap tinggal untuk melayani Athena.
Sebelumnya, Lucianne telah berpesan pada semua pelayan di kediaman itu untuk mempelakukan Athena dengan hormat. Lucianne tidak akan mentolerir pelayan yang berani bersikap kurang ajar pada Athena.
"Yang Mulia, saya adalah Sopia, kepala pelayan di Paviliun Mawar." Seorang wanita yang berusia dua puluhan tahun itu berkata dengan sopan pada Athena.
Sopia adalah salah satu pelayan yang telah menemani Lucianne sejak Lucianne pindah ke kediaman ini. Lucianne mempercayakan kepengurusan Athena pada Sopia karena ia tahu Sopia adalah pelayan yang cekatan dan penuh perhatian.
Athena tidak terbiasa dengan panggilan barunya. Ia hanyalah seorang wanita dari kelas yang bahkan lebih rendah dari pelayan istana, tapi sekarang ia dipanggil 'Yang Mulia'. Hal ini benar-benar tidak pernah ada dalam mimpi terliar Athena.
"Mari saya antarkan ke kamar Anda, Yang Mulia."
"Ya, terima kasih."
Athena masuk, ia mengikuti langkah Sopia. Di bangunan utama, hanya ada satu kamar. Itu adalah kamar yang akan digunakan oleh Athena selama ia berada di pavilion itu.
"Yang Mulia, silahkan masuk."
"Ya, terima kasih."
"Yang Mulia tidak perlu sungkan.. Jika Yang Mulia membutuhkan sesuatu saya berada di luar kamar Anda."
"Baik."
Sopia keluar dari sana. Ia menunggu di depan pintu dengan dua pelayan muda lainnya.
Di dalam kamar, Athena duduk di atas ranjang. Wanita itu menunggu kedatangan Altherr dengan gelisah. Waktu demi waktu berlalu, tapi Alterr tidak kunjung datang.
Matahari telah berbenam, sudah beberapa jam sejak Athena ditinggalkan begitu saja setelah janji suci pernikahan diucapkan.
Tidak hanya Athena yang sedang menunggu, Lucianne juga menunggu. Menunggu kabar bahwa Altherr telah memasuki kamar Athena.
Waktu berlalu lagi, sekarang sudah tengah malam. Athena mulai mengantuk. Mungkin jenderal agung tidak akan datang untuk menemuinya malam ini. Athena memutuskan untuk tidur.
Jika itu wanita lain, mungkin wanita itu akan kesal setengah mati setelah ditinggalkan di malam pertama, tapi hal itu tidak terjadi pada Athena. Ia tidak kesal sama sekali. Ini mungkin yang terbaik, karena ia juga tidak tahu harus melakukan jika Atlerr datang.
Athena berdiri dari posisi duduknya yang bertahan selama beberapa waktu, pintu kamar itu terbuka dengan kasar.
Athena sedikit terkejut, wanita itu segera mengarahkan pandangannya pada sosok Alterr yang kini melangkah ke arahnya.
Tatapan pria itu dingin dan penuh kebencian. Athena mengerti arti tatapan ini karena di kediaman ayahnya, orang-orang sering melihatnya seperti ini.
Tanpa mengatakan apapun tubuh Athena didorong dengan kasar hingga jatuh ke atas ranjang. Dari jarak ini Athena bisa mencium bau arak di tubuh Alterr. Bahkan untuk datang ke sini dalam keadaan sadar saja pria ini tidak bisa.
Pakaian Athena dilucuti dengan kasar. Malam pertama itu dilalui oleh Athena dengan menahan rasa sakit. Altherr tidak memberikan cumbuan-cumbuan manis seperti yang biasa ia lakukan pada Lucianne sebelum mereka bercinta, pria itu langsung menghujam milik Athena, tidak peduli apakah wanita itu siap atau belum. Tidak ada jejak kelembutan sama sekali di sana.
Setelah selesai, Alterr kembali memakai pakaiannya. Pria itu kini berbalik memunggungi Athena.
"Jika dalam enam bulan kau tidak mengandung, maka kau akan mendapatkan hukuman mati!" Itu adalah kalimat pertama yang diucapkan oleh Altherr pada Athena setelah mereka selesai berhubungan badan.
Altherr meninggalkan kamar itu tanpa ragu sedikit pun. Ia sudah melakukan apa yang harus ia lakukan sesuai dengan permintaan istri tersayangnya.
Sebelum ke kamar ini, Altherr sudah banyak minum arak, tapi ternyata minuman sialan itu tidak membuatnya mabuk sepenuhnya.
Altherr sangat menderita, di satu sisi ia ingin mempertahankan kesetiaannya, tapi di sisi lain ia harus mengikuti kemauan Lucianne yang bertentangan dengan hati nuraninya.
Saat berhubungan badan dengan Athena, Alther hanya membayangkan wanita yang berada di bawahnya adalah Lucianne.
Malam ini Altherr memutuskan untuk tidur di ruang bekerjanya lagi. Sejak beberapa waktu terakhir ini setiap kali ia marah dan kecewa pada Lucianne, ia akan memilih untuk tidur di ruang kerjanya agar bisa menenangkan dirinya.
Setelah Altherr pergi, Athena mulai bergerak untuk mengambil pakaiannya, tapi gerakannya terhenti karena tubuh bagian bawahnya yang seperti terbelah. Bukan hanya karena ini yang pertama kali untuknya, tapi juga karena Altherr melakukannya dengan sangat kasar.
Athena yang kuat hanya bisa menahan semua rasa sakit itu tanpa menjerit atau menangis terisak. Ia memakai kembali pakaiannya dengan tertatih. Setelah itu Athena berbaring di atas ranjang.
Kata-kata yang diucapkan oleh Altherr tadi menggema di kepalanya. Jika dalam enam bulan ia tidak mengandung maka ia akan dihukum mati.
Athena tidak percaya pada Sang Pencipta karena selama ia hidup ia selalu mendapatkan ketidakadilan, tapi kali ini ia masih berdoa untuk sekali saja Sang Pencipta berbaik hati padanya, membiarkan ia mengandung sebelum enam bulan berakhir.
Beberapa saat kemudian, Athena akhirnya tertidur. Meski wanita itu tidak meneteskan air mata sama sekali, di dalam hatinya saat ini ia sedang hancur.
Di paviliun utama, Lucianne telah menerima kabar bahwa Altherr datang ke kamar Athena, tapi pria itu berada di sana hanya untuk waktu yang sebentar.
Lucianne merasa sangat bersalah, entah itu pada Altherr atau Athena. Andai saja ia bisa mengandung, maka baik Altherr maupun Athena tidak akan ada yang terluka.
tbc
Hari ini adalah hari ulang tahun Menteri Kehakiman. Altherr, Lucianne dan Athena datang ke perayaan ulang tahun orang penting di Luminastra itu.Setelah memberi salam dan hadiah pada Menteri Kehakiman, Athena membawa Lucianne berkumpul dengan para wanita, sementara Altherr, pria itu saat ini sedang mengobrol dengan beberapa petinggi kerajaan yang juga hadir di sana.Athena merasa tidak nyaman di lingkaran orang-orang kelas atas.“Kakak, aku akan keluar untuk mencari udara segar.”“Ya, Sopia akan menemanimu.”“Baik, Kakak.”Athena segera keluar dari tempat itu. Ia berjalan-jalan ke sekitar taman.“Sopia, aku meninggalkan kipasku. Bisakah kau mengambilkannya?”“Baik, Yang Mulia.”Sopia pergi, Athena kembali melangkah. Wanita itu berhenti hendak menuju ke jembatan lengkung, tapi langkahnya terhenti ketika ia melihat sepasang pria dan wanita sedang bercumbu penuh nafsu di balik pohon.Athena tidak memiliki keinginan untuk mengintip, tapi jika ia melanjutkan langkahnya maka ia akan menggan
“Ada apa ini? Apakah sesuatu yang baik terjadi?” Lucianne melihat ke meja makan yang dipenuhi oleh berbagai jenis hidangan yang tampaknya sangat menggugah selera.“Hari ini Ibu sudah sadarkan diri. Semua makanan ini adalah ungkapan terima kasihku pada Kakak karena telah membantuku.”Lucianne mengerti kenapa saat ini Athena tampak bahagia.“Itu adalah kabar yang sangat baik. Aku turut bahagia untukmu.”“Terima kasih, Kakak.”Lucianne membalas ucapan terima kasih itu dengan senyuman ringan.Altherr datang, pria itu melihat Lucianne dan Athena yang tampak akur.“Suamiku, kau sudah datang.” Lucianne segera menyambut suaminya.“Ya, Istriku.”“Ayo duduklah!”Altherr segera duduk. Meja makan yang dulunya hanya ada dua tempat duduk itu kini telah menambahkan tempat duduk yang baru.Lucianne ingin ia, Altherr dan Athena setiap harinya makan bersama.Altherr melihat ke meja makan, cukup banyak hidangan di sana dan Altherr yakin bukan Lucianne yang memasaknya, karena menu masakan itu baru ia lih
Keesokan harinya Ean menemui Altherr, pria itu telah menyelidiki mengenai identitas Athena.Athena berasal dari sebuah desa kecil, wanita itu awalnya tinggal bersama dengan paman dan juga ibunya. Pamannya adalah seorang prajurit yang saat ini sudah gugur saat desa tempat tinggal mereka diserang olah para pemberontak beberapa tahun lalu.Setelah itu Athena pindah ke beberapa tempat bersama dengan ibunya dan akhirnya menetap di ibukota. Ibu Athena menderita penyakit serius hingga membuat wanita itu hanya bisa terbaring di ranjang. Setelah ibunya sakit, Athena yang saat itu masih berusia enam belas tahun mulai bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya dan ibunya juga untuk biaya pengobatan ibunya.Athena bekerja di sebuah kedai mie di pusat ibu kota, selain itu dia juga bekerja paruh waktu di sebuah klinik kecil, tempat tabib yang biasa mengobati ibunya membuka usaha.“Saat ini ibu Selir Athena dirawat di rumah sakit kerajaan.” Ean mengakhiri laporannya.Di luar, Athena berdiri. Di
Athena sedang memberi makan seekor anak kucing di taman. Wanita itu menyukai kucing, tapi dia tidak pernah memiliki kesempatan untuk memiliki hewan peliharaan karena dia terlalu sibuk.Athena bisa saja mengambil kucing liar dan membawanya ke rumah, tapi dia tahu menelantarkan kucing di rumahnya adalah tindakan tidak bertanggung jawab.Beberapa langkah tidak jauh dari Athena saat ini ada Declan. Pria itu tersenyum misterius lalu kemudian melangkah menuju Athena.Saat ini Athena dan anak kucing itu terlihat sangat manis, tapi Declan benar-benar tahu bahwa Athena jelas bukan kucing yang manis melainkan kucing liar yang memiliki cakar tajam.“Salam, Tuan Declan.” Sopia segera memberi salam pada Declan.Athena yang tadinya berjongkok segera berdiri, wanita itu kini menatap Declan.“Nona, kita bertemu lagi.” Declan tersenyum pada Athena.Athena hanya membalas dengan anggukan singkat.“Apakah Nona berasal dari kediaman Adipati Miles?”“Tuan, ini adalah Selir Athena, Selir Jenderal Agung.” So
Altherr pergi ke tenda tempat para bandit yang tertangkap di siksa.“Apakah mereka bicara?” Altherr bertanya pada Ean.“Ya, Tuan.” Ean menggunakan metode penyiksaan yang paling kejam untuk membuat beberapa bandit bicara, tapi beberapa yang lainnya memilih tetap bungkam meski sangat tersiksa. “Pasukan berpakaian hitam tidak berasal dari kelompok bandit. Mereka berasal dari organisasi Elang Hitam.”“Organisasi Elang Hitam?”“Benar, Jenderal Agung. Saya mencoba mencari tahu lebih banyak lagi tentang organisasi ini dari para bandit, tapi mereka tidak mengetahui apapun, bahkan mereka juga baru bertemu dengan orang-orang itu hari ini. Tampaknya yang berhubungan dengan orang-orang dari oganisasi itu adalah pemimpin para bandit langsung.”Altherr tidak puas dengan hal ini, jika tidak ada informasi tentang organisasi itu maka dia tidak bisa menangkap pria yang melukai istrinya.“Apakah mereka menyebutkan tentang tempat persembunyian mereka?”“Saya telah menggambar peta tempat mereka tinggal, Y
Upaya penyergapan itu gagal, beberapa bandit berhasil melarikan diri begitu juga dengan Declan dan pasukan rahasianya yang tersisa.Altherr memerintahkan para pasukannya untuk mengejar bandit yang melarikan diri.Setelahnya ia juga memerintahkan pasukannya untuk mengumpulkan mayat para bandit untuk digantung di benteng kota Azure. Pria itu menunjukan bahwa siapapun yang mencoba untuk mencelakai Luminastra hanya akan berakhir dengan tragis.Altherr kembali ke kereta, ia masuk ke dalam sana dan tabib baru saja selesai menangani Lucianne.“Bagaimana keadaan Istriku, Tabib?”“Luka yang dialami oleh Putri Lucianne cukup dalam, tapi itu tidak mengancam nyawanya. Saat ini Putri Lucianne sedang tidur karena pengaruh obat. Dalam beberapa jam ke depan Putri Lucianne akan sadarkan diri.”Altherr lega mendengarnya. Untung saja tidak terjadi hal yang buruk pada istrinya.Di luar kereta, Athena juga mendengar apa yang dikatakan oleh tabib. Wanita itu juga merasa lega.Perjalanan dihentikan sementar







