Compartir

44. Sangat baik

last update Fecha de publicación: 2025-12-12 11:28:10

"Iya, aku tau Ayah. Tapi kenapa Ayah tiba-tiba bertanya seperti itu? Bukannya Ayah juga tau, kalau aku sangat mencintai Mas Bilal? Nggak mungkinlah aku punya perasaan sama Om Bagas."

Kata-kata itu keluar dari mulutku dengan cepat, seolah ingin melenyapkan keraguan Ayah secepat mungkin. Mataku tetap menatapnya, tapi jantungku berdebar kencang—seperti aku sedang berbohong, padahal aku juga bingung dengan apa yang kurasakan.

Mas Bilal yang selalu kupikirkan, Mas Bilal yang kurindukan, tapi entahla
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   202. Kalian boleh bebas

    "Apa kalian masih betah tinggal di sini?"Pertanyaan itu meluncur pelan dari bibir Laura, saat Bagas dan Dylan duduk berhadapan dengannya."Kalau Ayah sih jelas nggak betah," sahut Dylan cepat, matanya melirik sekilas ke arah Bagas di sampingnya.Di sisi lain meja, Laura duduk berdampingan dengan Qiara yang masih menggendong Kai erat di pelukannya. Bayi mungil itu kini sudah tertidur lelap, napasnya teratur dan tenang—sangat berbeda dari tangisan tanpa henti tadi, seolah kehadiran ayah dan kakeknya saja sudah cukup menyembuhkan segala kegelisahannya."Sama aku juga, Ra... eh maksudku Bun," Bagas ikut menyahut, suaranya terdengar rindu. "Kapan kira-kira aku dan Ayah dibebaskan? Apa Bunda dan Qiara sama sekali nggak rindu kami berdua? Kai sendiri kayaknya rindu berat sama kami."Sebagai seorang ayah sekaligus dokter, naluri Bagas memang lebih peka. Dia paham betul betapa besar dampak kehadiran keluarga bagi pertumbuhan dan ketenangan anak sekecil itu."Kalian boleh bebas, asal kalian ma

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   201. Siapa sangka

    Hati Laura bagai teriris melihat sang cucu, Kai, yang terus menangis tanpa henti. Tangisan itu tak kunjung reda meski sudah dibawa ke dokter dan diberi obat penenang. Merasa tak tega lagi dan mendesak, akhirnya dia memutuskan untuk membawa cucunya langsung ke kantor polisi, satu-satunya tempat di mana ayah dan kakek anak itu berada."Mohon maaf Ibu, Nona. Ini masih terlalu pagi untuk menjenguk tahanan. Kalian bisa kembali lagi nanti pukul 10 pagi," ucap salah satu petugas polisi dengan tegas melarang mereka masuk. Matanya melirik jam dinding di ruangan itu yang masih menunjukkan angka 02.00 dini hari."Maafkan kami, Pak. Tapi ini benar-benar darurat. Anakku menangis terus semalaman, dia nggak bisa tidur, nggak mau makan, karena kangen berat sama Ayah dan Opanya. Tolong izinkan kami sebentar saja, biarkan Kai digendong mereka sebentar saja supaya dia tenang," pinta Qiara dengan nada memelas, air matanya hampir menetes melihat kondisi anaknya yang semakin lemas."Maaf sekali, Nona. Saya

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   200. Menangis terus menerus

    Mobil akhirnya berhenti tepat di depan gerbang rumah yang begitu familiar bagi mereka berdua. Suasana halaman rumah terasa tenang dan teduh, seolah menyambut kedatangan mereka kembali."Kamu mau mampir dulu, Mai??" tanya Qiara lembut begitu dia turun dari mobil."Enggak, Mi. Aku mau langsung pulang saja," jawab Maira sambil merapikan sedikit rambutnya. "Nanti titip salam buat Oma Laura saja, ya??" pintanya dengan nada akrab yang biasa mereka gunakan."Oke." Qiara menganggukkan kepalanya pelan tanda mengerti, senyum tipis terukir di bibirnya.Dia pun tak memaksa, hanya berdiri mematung sejenak di sana, membiarkan Maira membelok mobilnya lalu meninggalkan pekarangan rumah. Hanya setelah mobil Maira benar-benar hilang dari pandangan, barulah Qiara menarik napas panjang lalu melangkah masuk ke dalam rumah.****"Oooeee... Oooeee ....."Tangisan keras Kai memecah keheningan malam. Tidak seperti biasanya, bayi mungil itu menangis terus-menerus dan tak kunjung bisa tidur nyenyak sejak tadi.

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   199. Jadi curiga

    "Itu Om paham," sahut Qiara pelan, wajahnya semakin memerah dan menunduk karena rasa malunya sudah memuncak."Tapi jujur dulu, air apa ini? Om jadi curiga nih," tanya Bagas masih tampak ragu, matanya menyipit menatap botol plastik itu dengan penuh tanda tanya."Air biasa kok, Om. Air putih murni. Aku ambil dari rumah, memang sengaja bawa buat Om satu dan buat Ayah satu," jawab Qiara berusaha terdengar meyakinkan agar suaminya tidak semakin curiga.Dia sengaja berbohong dan tidak berani bilang kalau ini air do'a dari seorang Ustad, karena Maira sudah pesan dari awal. Katanya, kalau jujur takutnya Bagas malah menolak dan menganggapnya takhayul."Di sini 'kan ada air galon. Ngapain repot-repot bawa dari jauh. Yang Om butuhin cuma kamu, Sayang. Nggak ada yang lain," ucap Bagas manja."Ya tapi air di sini kan rasanya beda, Om. Mangkanya aku sengaja bawa air dari rumah," jawab Qiara beralasan."Ya sudah, Om akan meminumnya sampai habis. Tapi ada syaratnya lho.""Ih nggak deh, aku nggak mau

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   198. Kangen setengah mati

    "Pak Bagas, ada yang datang menjenguk Anda." Suara tegap petugas polisi itu seketika membuyarkan lamunan panjangnya. Bagas tersentak kaget, tubuhnya menegang seketika. Sejak pagi dia memang hanya duduk diam mematung di sudut sel yang pengap dan panas itu. Pikirannya melayang jauh, terus menerus membayangkan wajah istrinya tercinta, Qiara, yang kini entah di mana dan bagaimana keadaannya. Rasa rindu itu sudah memenuhi seluruh rongga dadanya. "Pasti kesayanganku, Qiara? Qiara yang datang 'kan, Pak?" Nada suaranya berubah drastis, tiba-tiba penuh semangat dan berbinar. Matanya yang tadinya lesu kini terlihat hidup kembali. Tanpa menunggu jawaban pasti, kakinya sudah melangkah cepat mendekati pintu jeruji besi itu. "Betul, Pak." Petugas itu mengangguk mantap, lalu segera membuka gembok besar yang mengunci ruangan itu. Namun, baru saja Bagas hendak melangkah keluar dengan antusias, kedua pergelangan tangannya tiba-tiba dikunci dengan borgol besi yang dingin dan keras. "Lho, k

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   197. Tekanan mental

    "Tapi kenapa harus aku?? Aku 'kan nggak kenapa-kenapa, Mai.""Lho, bukannya katanya kamu terkena ilmu hitam?" Ustad Yunus bertanya dengan raut wajah yang tampak heran."Ilmu hitam??" Qiara semakin bingung dan kali ini dia terlihat sangat terkejut serta tak percaya. "Ustad kata siapa?? Aku nggak terkena ilmu hitam sama sekali kok.""Kata Maira.""Aku akhir-akhir ini sering mimpi buruk tentang Mami," sahut Maira cepat. Sebenarnya dia tak berani jujur jika ini semua ada kaitannya dengan Bagas, karena dia tahu itu sama saja dia mencari masalah besar. Bisa-bisa berbahaya nantinya bagi dirinya. "Jadi ya karena aku khawatir... Nggak ada salahnya dong kalau aku bawa Mami ke sini. Lagian diruqyah itu 'kan bagus dan membawa berkah, Mi.""Mimpi buruk gimana?""Banyak lah, Mi. Dari mulai mimpi Mami sakit, Mami jatuh. Intinya mimpi buruk."Qiara diam sejenak, tampak sedang berpikir, lalu akhirnya dia mengangguk setuju. "Ya sudah kalau begitu. Tapi prosesnya kira-kira berapa lama Ustad??""Sebentar

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   64. Menantu kurang ajar

    Pandanganku langsung ke dalam kamar, tepatnya di ranjang Mas Bilal. Ayah berdiri kokoh di sisi kanan Mas Bilal, tubuhnya sedikit membungkuk, kedua tangannya yang besar dan berotot mencengkram leher Mas Bilal dengan erat. Wajah Ayah tampak memerah dengan emosi yang membara. Sementara Mas Bilal, d

    last updateÚltima actualización : 2026-03-24
  • Sentuh Aku, Om Dokter!   62. Berbaik hatilah padaku

    Setelah selesai sarapan, aku dan Bunda keluar dari kamar Mas Bilal dengan langkah pelan.Di luar, tepat di bangku tunggu yang menghadap pintu kamar, Ayah sedang duduk dengan badan membungkuk sedikit, fokus pada layar ponselnya yang menyala terang. Jari jarinya sedang menggesek layar dengan cepat se

    last updateÚltima actualización : 2026-03-24
  • Sentuh Aku, Om Dokter!   59. Rencana selanjutnya

    "Itu juga sebenarnya Ayah nggak mau kasih tau kamu dulu, Sayang. Karena Ayah yakin kamu pasti nggak akan percaya meskipun Ayah jelaskan secara detail, apalagi Ayah belum punya bukti." Ayah menjelaskan dengan suara pelan, menatapku dengan penuh perhatian. "Tadinya Ayah dan Om Bagas sudah sepakat, ak

    last updateÚltima actualización : 2026-03-24
  • Sentuh Aku, Om Dokter!   55. Kecelakaan tunggal

    Untuk membuktikan ucapan polisi benar, aku pun segera pergi ke rumah sakit.Tibanya di rumah sakit Lee Family, kakiku melangkah tergesa-gesa melewati pintu masuk utama. Di depan ruang IGD yang pintunya terbuka lebar, lampu merah darurat menyala terang di atas pintu, aku bertemu dua orang polisi men

    last updateÚltima actualización : 2026-03-23
Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status