LOGINBagi Nika, Ardi Bramantyo hanyalah mahasiswa jenius di Teknik Informatika. Namun di balik wajah tenangnya, Ardi menyimpan identitas sebagai hacker yang dipaksa mencuri data rahasia demi melunasi hutang masa lalu ayahnya. Kedekatan mereka berubah menjadi mimpi buruk yang menyeret Nika ke dalam lubang hitam. Di mulai saat ia memergoki Ardi bersama perempuan lain, di susul kabar kehamilannya yang membuat Nika menjadi target organisasi berbahaya yang memburu Ardi. Sementara satu-satunya orang yang bisa menyelamatkannya hanyalah Ardi, pria yang telah menghancurkan hidupnya. Di tengah pengkhianatan dan konspirasi, masih adakah tempat bagi cinta, atau semuanya sudah terlambat?
View MoreMalam itu, rintik hujan turun dengan lebat, membasahi jalanan ibu kota yang mulai lengang. Di dalam apartemen, jarum jam dinding telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Nika duduk di sofa ruang tengah, matanya menatap tajam ke arah layar ponsel yang menampilkan titik lokasi GPS perangkat Ardi. Titik itu baru saja bergerak meninggalkan kawasan perkantoran SCBD. Pintu utama terbuka perlahan. Ardi melangkah masuk dengan payung terlipat di tangan dan raut wajah yang menyiratkan kelelahan luar biasa. "Maaf aku terlambat lagi, Nik," ucap Ardi parau, melepas sepatunya lalu berjalan mendekati Nika untuk mengecup kening istrinya seperti biasa. "Rapat evaluasi dengan tim audit tadi benar-benar memakan waktu lama. Modul kodenya sempat error di detik-detik terakhir." Nika tidak langsung menjawab. Ia menatap lekat-lekat mata suaminya, mencari sisa-sisa kejujuran di balik sorot lelah itu. Aroma parfum wanita asing yang samar-samar tertinggal di kerah kemeja Ardi mendadak menusuk penciumanny
Matahari perlahan tenggelam di balik gedung-gedung pencakar langit ibu kota, menyisakan bias jingga kemerahan yang menembus dinding kaca ruang rapat lantai dua belas gedung perkantoran di kawasan SCBD. Suasana di dalam ruangan tersebut sudah sepi, menyisakan Ardi dan Kirana yang masih duduk berhadapan di depan meja kaca besar yang dipenuhi oleh tumpukan berkas cetak biru arsitektur dan deretan baris kode pemrograman. Ardi mengusap wajahnya yang terasa lelah, lalu meregangkan otot-otot lehernya yang kaku setelah berjam-jam menatap layar monitor. "Kita sudah memeriksa modul enkripsi ini selama tiga hari berturut-turut, Kir. Sejauh ini, struktur jaringan yang kubangun bersama tim sudah sesuai dengan standar protokol keamanan nasional. Tidak ada celah aneh di sini." Kirana tersenyum manis, menutup laptopnya perlahan sambil merapikan beberapa lembar kertas di hadapannya. Gerakannya begitu anggun, memancarkan pesona profesional yang sangat sulit untuk diabaikan oleh siapa pun yang bek
Siang hari di sudut ruangan kerjanya yang tenang, Nika memusatkan seluruh perhatian pada layar laptop di hadapannya. Suasana rumah terasa begitu lengang, hanya ditemani oleh dengung pelan kipas pendingin perangkat yang menyala konstan. Jari-jarinya bergerak teratur di atas papan ketik, menjalankan barisan kode skrip pemindai jaringan secara independen. Ia sengaja tidak menggunakan server utama rumah agar aktivitas analisis digitalnya tidak meninggalkan jejak atau memicu notifikasi peringatan pada perangkat pribadi Ardi. Di atas layar monitor, grafik aktivitas data yang masuk dan keluar dari ponsel Ardi mulai terpetakan ke dalam bentuk visual garis waktu yang mendetail. Nika mengerutkan keningnya dalam-dalam, mengamati setiap lonjakan paket data yang terjadi pada jam-jam tertentu di malam hari—waktu di mana Ardi mengaku sedang sibuk bekerja lembur bersama tim audit di kantor SCBD. "Pola ini..." gumam Nika pelan, suaranya hampir tak terdengar di tengah keheningan ruang kerjanya.
Pagi hari di apartemen mereka dimulai dengan rutinitas harian yang biasa berjalan tergesa-gesa. Sinar matahari pagi menyusup lembut melalui celah tirai jendela ruang keluarga, sementara suara gemerincing sendok beradu dengan cangkir keramik mewarnai sudut dapur tempat Nika menyiapkan sarapan sederhana. Di kursi ruang makan, Ardi tampak sibuk mengenakan kemeja kerjanya sambil merapikan manset lengan bajunya dengan sebelah tangan. "Nanti malam sepertinya aku akan sedikit terlambat lagi, Sayang," ucap Ardi setengah bersuara, melangkah mendekati Nika untuk mengecup pipinya sekilas sebelum berpamitan. "Ada rapat evaluasi lanjutan bersama tim audit internal dan Kirana mengenai modul keamanan server yang baru. Jadi, tolong jangan menunggu makan malam bersamaku, ya." Nika yang sedang menuangkan susu ke dalam cangkir putranya terdiam sejenak. Tangannya bergerak pelan meletakkan teko keramik di atas meja. Ia mendongak, menatap suaminya dengan senyuman yang dipaksa setenang dan sewajar






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews