Beranda / Romansa / Sentuh Aku, Om Dokter! / 46. Bertepuk sebelah tangan

Share

46. Bertepuk sebelah tangan

Penulis: Rossy Dildara
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-13 13:00:30

Padahal Bu Karin bertanya dengan nada yang biasa, tapi aku hampir tersendak dibuatnya. Jus yang baru kusedot hampir keluar dari mulutku, tanganku terjepit erat di gagang gelas.

Pikiranku berputar kencang—bagaimana dia bisa melihat kami?

"Apartemen?" Maira mengulang kata itu, dahinya terlihat berkerut rapat dengan kebingungan. "Apartemen mana, Bu?"

"Di Kebayoran Baru, Mai," jawab Bu Karin. Dia menatapku langsung, matanya tajam seolah ingin membaca setiap gerakan mata dan ekspresi wajahku.

Tenang Qiara, tenang. Suara bisikan dalam diri itu berteriak keras.

Kamu hanya perlu menjawab dan memberikan alasan yang masuk akal supaya Bu Karin apalagi Maira tidak curiga. Aku menelan ludah dengan susah payah, mencoba membuat suaraku tetap tenang.

"Oh itu, aku memang lagi cari apartemen. Dan Om Bagas memberikan rekomendasi apartemen di sana. Jadi sekalian dia mengantarku."

"Bukannya tadi kamu bilang, kamu sempat dirawat, Qia? Jadi ya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   83. Hari pertama jadian

    "Ahhh ... Aahhh ... Aahhh."Suara itu pecah begitu saja dari bibirku, tak lagi bisa kutahan. Tubuhku terasa ringan sekaligus berat di saat bersamaan, terombang-ambing oleh sensasi yang sejak tadi kucoba kendalikan. Di atas kasur, tanpa sehelai benang pun yang tersisa, kami berdua benar-benar tenggelam dalam momen itu—beradu keringat, beradu napas, beradu kendali.Udara dingin dari pendingin ruangan tak mampu meredam panas yang menjalar di sekujur tubuhku. Suara desahan kami saling bersahutan, memenuhi ruangan yang tertutup rapat itu, memantul di dinding-dinding seolah menjadi saksi bisu atas kekalahanku sendiri."Uughh ... enak banget, Sayang! Kamu terlalu menjepit Om!!"Om Bagas terus memacu, tanpa memberi celah bagiku untuk bernapas dengan tenang. Setiap gerakannya membuat pikiranku semakin kabur, membuatku lupa pada niat awal, lupa pada batas yang sejak tadi ingin kupasang.Aku sudah berusaha sekuat tenaga menahan diri, menggigit bibir, memejamkan mata, memusatkan pikiran pada apa

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   82. Kita taruhan

    Karena rasa penasaran yang tak tertahankan, aku segera membukanya. Jai-jariku gemetar kaku saat mengangkat sampul map berkulit tebal, suara sedikit berdecit saat kuku menyentuh permukaannya. Lalu, ketika map terbuka, isinya sebuah sertifikat, terlipat rapi di tengah. Sertifikat unit apartemen. Aku mengusap jari di atas nama yang tercetak jelas. Itu namaku. Tapi kenapa namaku? "Om membeli unit apartemen ini untukmu, Sayang. Jadi tanda tangan lah." "Membeli untukku?? Tapi kenapa, Om?" tanyaku dengan suara terkejut, kedua alisku bertaut erat. "Waktu itu 'kan Om pernah tanya, apakah apartemen ini bagus dan kamu suka, terus kamu jawab iya. Jadi Om langsung membelinya untukmu. Ya anggap saja sebagai hadiah awal kita jadian." "Awal jadian??" Bicara apa dia ini? Jadian apa? Aku bingung total, pikiran terasa kosong sejenak, tak mampu mengartikan makna kata-katanya sama sekali. "Setelah Om pikir-pikir, sepertinya akan lebih baik sambil menunggu kamu resmi menjadi janda, kita paca

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   81. Mencintai sendirian

    Driingggg!!!Ponselku tiba-tiba berdering, suaranya tajam memecah ketenangan di dalam apartemen. Penasaran campur khawatir, aku segera meraihnya dari dalam tas—jari-jariku sedikit gemetar saat membuka resleting.Di layar terpampang panggilan masuk dari nomor tidak dikenal. Tak berani menolak karena khawatir ada urusan penting, aku langsung mengangkatnya."Halo Qia sayang, ini Mas Bilal." Suara Mas Bilal terdengar dari seberang, lembut dan sedikit mendayu-dayu.Tapi pakai nomor siapa dia? Apa nomor selingkuhannya?"Sayang, tolong buka blokiran nomor Mas, ya? Mas susah buat hubungin kamu."Mas?Tumben sekali dia menyebut dirinya dengan "mas"—biasanya selalu menggunakan "aku"."Mau ngapain Mas telepon?" tanyaku sinis."Kamu ada di mana? Mas ingin bertemu denganmu. Mas akan jelaskan kesalahpahaman ini.""Kesalahpahaman apa? Apa tentang Mas selingkuh?" Suaraku terdengar lebih tinggi, emosi tiba-tiba meluap dalam dada."Mas nggak selingkuh, Sayang, Mas cuma dijebak. Kamu harus percaya sama

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   80. Dia pikir aku polos

    "A-ku minta maaf, Om," jawabku yang tiba-tiba menjadi gugup, suara bergetar dan tangan menggenggam ujung kursi dengan kencang. Jangan sampai karena dia ingat hal itu, membuatnya menjadi benar-benar marah padaku. "Bukan maksud nggak sopan, tapi aku melakukan itu karena dipaksa Maira, dia memintaku untuk menemaninya masuk ke kamar Om. Padahal aslinya aku nggak mau dan aku sudah berusaha menolak, Om.""Memangnya apa yang sebenarnya kalian cari?" Tatapan mata Om Bagas tiba-tiba tajam, seolah menusuk langsung ke jantung, membuatku berdebar tak karuan."Ke-kenapa Om nggak tanya langsung saja ke Miara?" Nanti jika ku jelaskan, takutnya akan jadi masalah. Aku tak mau gara-gara aku, membuat hubungan Om Bagas dan Maira menjadi tambah tidak baik-baik saja. Suaraku pelan, penuh keraguan."Om sekarang tanya padamu.""Tapi aku sendiri nggak tau, Om.""Masa kamu nggak tau?""Beneran." Aku mengangguk cepat, meski tubuhku mulai gemetar—kaki sedikit bergetar di bawah kursi. Semoga saja dia percaya pada

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   79. Terlalu beresiko

    "Aku nggak kepengen apa-apa, Om." Aku menggeleng cepat. "Aku cuma penasaran aja, kepengen tanya sesuatu yang lain."Ckiiittt!!Suara rem mobil yang tiba-tiba menusuk ketenangan, ban menyisir aspal dengan suara kasar membuat tubuhku terasa kaku. Om Bagas menghentikan mobil di pinggir jalan, matanya langsung menuju arahku."Tanya apa, Sayang?" Dia menatapku dengan tatapan yang tak sabar, alisnya sedikit terangkat."Padahal nggak perlu sampai menghentikan mobil segala lho, Om." Aku menggeleng lagi, suara pelan dengan nada sedikit mengkritik tapi lembut. "Aku cuma mau tanya kayaknya Om lagi bahagia hari ini, ya? Kalau boleh tau, itu karena apa, Om?"Hatiku berharap dia mau berbagi cerita bahagia—semoga itu bisa membuat kesedihan yang melilit dadaku hilang sejenak."Tentu saja karena kamu." Dia tiba-tiba menoel hidungku dengan jari telunjuknya yang hangat, gerakan cepat tapi penuh kasih."Kok karena aku?" Dahiku berkerut dalam, rasa bingung tercermin jelas di wajahku."Iya. Kebahagiaan Om

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   78. Aku muak

    "Apa kamu sengaja merekam saat kita bercinta lalu memberitahukan Ayah mertuaku?!" Kalimat itu keluar tajam dari mulutku begitu pintu apartemen tertutup. Tanganku mengepal kuat, sementara pandanganku menyambar langsung ke arah Inara—dia sedang duduk di tepi sofa, mengenakan lingerie renda baru yang warnanya menyala di bawah cahaya lampu. Kulitnya terlihat mengilap dan tubuhnya terpampang dengan seksi. Tapi aku sama sekali tak peduli dengan penampilannya. Dadaku penuh dengan amarah yang membara. "Merekam? Merekam bagaimana, Sayang?" Wajah Inara tampak bingung, dia berdiri perlahan dari duduknya lalu melangkah kecil mendekat ke arahku, tangannya terulur perlahan seolah ingin menyentuhku. Ketika jarinya hampir menyentuh kulit wajahku, dia tiba-tiba berhenti dan matanya menatap wajahku dengan tatapan khawatir. "Ngomong-ngomong wajah Kakak kenapa? Kok babak belur begini?" "Itu nggak penting." Aku cepat menepis tangannya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status