LOGINKarena rasa penasaran yang tak tertahankan, aku segera membukanya.Jai-jariku gemetar kaku saat mengangkat sampul map berkulit tebal, suara sedikit berdecit saat kuku menyentuh permukaannya.Lalu, ketika map terbuka, isinya sebuah sertifikat, terlipat rapi di tengah. Sertifikat unit apartemen. Aku mengusap jari di atas nama yang tercetak jelas. Itu namaku. Tapi kenapa namaku?"Om membeli unit apartemen ini untukmu, Sayang. Jadi tanda tangan lah.""Membeli untukku?? Tapi kenapa, Om?" tanyaku dengan suara terkejut, kedua alisku bertaut erat."Waktu itu 'kan Om pernah tanya, apakah apartemen ini bagus dan kamu suka, terus kamu jawab iya. Jadi Om langsung membelinya untukmu. Ya anggap saja sebagai hadiah awal kita jadian.""Awal jadian??" Bicara apa dia ini? Jadian apa?Aku bingung total, pikiran terasa kosong sejenak, tak mampu mengartikan makna kata-katanya sama sekali."Setelah Om pikir-pikir, sepertinya akan lebih baik sambil menunggu kamu resmi menjadi janda, kita pacaran saja dulu s
Driingggg!!!Ponselku tiba-tiba berdering, suaranya tajam memecah ketenangan di dalam apartemen. Penasaran campur khawatir, aku segera meraihnya dari dalam tas—jari-jariku sedikit gemetar saat membuka resleting.Di layar terpampang panggilan masuk dari nomor tidak dikenal. Tak berani menolak karena khawatir ada urusan penting, aku langsung mengangkatnya."Halo Qia sayang, ini Mas Bilal." Suara Mas Bilal terdengar dari seberang, lembut dan sedikit mendayu-dayu.Tapi pakai nomor siapa dia? Apa nomor selingkuhannya?"Sayang, tolong buka blokiran nomor Mas, ya? Mas susah buat hubungin kamu."Mas?Tumben sekali dia menyebut dirinya dengan "mas"—biasanya selalu menggunakan "aku"."Mau ngapain Mas telepon?" tanyaku sinis."Kamu ada di mana? Mas ingin bertemu denganmu. Mas akan jelaskan kesalahpahaman ini.""Kesalahpahaman apa? Apa tentang Mas selingkuh?" Suaraku terdengar lebih tinggi, emosi tiba-tiba meluap dalam dada."Mas nggak selingkuh, Sayang, Mas cuma dijebak. Kamu harus percaya sama
"A-ku minta maaf, Om," jawabku yang tiba-tiba menjadi gugup, suara bergetar dan tangan menggenggam ujung kursi dengan kencang. Jangan sampai karena dia ingat hal itu, membuatnya menjadi benar-benar marah padaku. "Bukan maksud nggak sopan, tapi aku melakukan itu karena dipaksa Maira, dia memintaku untuk menemaninya masuk ke kamar Om. Padahal aslinya aku nggak mau dan aku sudah berusaha menolak, Om.""Memangnya apa yang sebenarnya kalian cari?" Tatapan mata Om Bagas tiba-tiba tajam, seolah menusuk langsung ke jantung, membuatku berdebar tak karuan."Ke-kenapa Om nggak tanya langsung saja ke Miara?" Nanti jika ku jelaskan, takutnya akan jadi masalah. Aku tak mau gara-gara aku, membuat hubungan Om Bagas dan Maira menjadi tambah tidak baik-baik saja. Suaraku pelan, penuh keraguan."Om sekarang tanya padamu.""Tapi aku sendiri nggak tau, Om.""Masa kamu nggak tau?""Beneran." Aku mengangguk cepat, meski tubuhku mulai gemetar—kaki sedikit bergetar di bawah kursi. Semoga saja dia percaya pada
"Aku nggak kepengen apa-apa, Om." Aku menggeleng cepat. "Aku cuma penasaran aja, kepengen tanya sesuatu yang lain."Ckiiittt!!Suara rem mobil yang tiba-tiba menusuk ketenangan, ban menyisir aspal dengan suara kasar membuat tubuhku terasa kaku. Om Bagas menghentikan mobil di pinggir jalan, matanya langsung menuju arahku."Tanya apa, Sayang?" Dia menatapku dengan tatapan yang tak sabar, alisnya sedikit terangkat."Padahal nggak perlu sampai menghentikan mobil segala lho, Om." Aku menggeleng lagi, suara pelan dengan nada sedikit mengkritik tapi lembut. "Aku cuma mau tanya kayaknya Om lagi bahagia hari ini, ya? Kalau boleh tau, itu karena apa, Om?"Hatiku berharap dia mau berbagi cerita bahagia—semoga itu bisa membuat kesedihan yang melilit dadaku hilang sejenak."Tentu saja karena kamu." Dia tiba-tiba menoel hidungku dengan jari telunjuknya yang hangat, gerakan cepat tapi penuh kasih."Kok karena aku?" Dahiku berkerut dalam, rasa bingung tercermin jelas di wajahku."Iya. Kebahagiaan Om
"Apa kamu sengaja merekam saat kita bercinta lalu memberitahukan Ayah mertuaku?!" Kalimat itu keluar tajam dari mulutku begitu pintu apartemen tertutup. Tanganku mengepal kuat, sementara pandanganku menyambar langsung ke arah Inara—dia sedang duduk di tepi sofa, mengenakan lingerie renda baru yang warnanya menyala di bawah cahaya lampu. Kulitnya terlihat mengilap dan tubuhnya terpampang dengan seksi. Tapi aku sama sekali tak peduli dengan penampilannya. Dadaku penuh dengan amarah yang membara. "Merekam? Merekam bagaimana, Sayang?" Wajah Inara tampak bingung, dia berdiri perlahan dari duduknya lalu melangkah kecil mendekat ke arahku, tangannya terulur perlahan seolah ingin menyentuhku. Ketika jarinya hampir menyentuh kulit wajahku, dia tiba-tiba berhenti dan matanya menatap wajahku dengan tatapan khawatir. "Ngomong-ngomong wajah Kakak kenapa? Kok babak belur begini?" "Itu nggak penting." Aku cepat menepis tangannya
Ya... aku sudah tahu tentang kehamilan Qiara. Tapi bukan dari dirinya sendiri, melainkan dari Nenek. Itu terjadi di rumah sakit, saat aku baru saja bersiap-siap, sudah diizinkan oleh dokter untuk pulang."Kok Qiara dan orang tuanya nggak ke sini, kenapa ya, Lal?" tanya Nenek yang tampak sibuk mengemasi barang-barangku ke dalam koper, tangannya yang keriput bergerak cepat namun tetap hati-hati. "Seharusnya 'kan mereka ke sini untuk mengantarkanmu pulang.""Aku nggak tau, Nek." Aku menggeleng dengan wajah bingung, sambil terus memerhatikan layar ponselku yang tidak menunjukkan satu pun pesan atau panggilan masuk dari Qiara. "Nomor Qiara susah dihubungi sejak kemarin malam. Aku sudah beberapa kali menelpon dan mengirim pesan, tapi tidak ada balasan. Aku juga sudah menghubungi Bundanya, tapi sama saja, nggak ada jawaban.""Coba hubungi Ayahnya saja, Nak. Dylan pasti tau keadaan Qiara." Nenek memberikan saran."Nomor Ayah dia aku blokir, Nek. Sudah lam







