Home / Romansa / Sentuh Aku, Om Dokter! / 92. Gadis atau janda?

Share

92. Gadis atau janda?

Author: Rossy Dildara
last update Last Updated: 2026-01-11 15:41:25
“Nanti aku ceritakan pas sudah di rumah, Yah,” jawabku. Aku tidak ingin membicarakan semuanya di tempat terbuka, apalagi di hadapan banyak orang.

“Ya sudah, kalau begitu kita sekarang pulang ke rumah, ya?” tawar Ayah. Tangannya melepaskan pegangan Om Bagas dari lengannya, lalu berpindah merangkul bahuku dengan gerakan protektif—seolah ingin memastikan aku benar-benar aman di sisinya.

“Lho, Lan, kita ke kantor polisi saja dulu,” pinta Om Bagas. Nada suaranya terdengar mendesak, sorot matanya menunjukkan keinginan kuat agar semuanya berjalan sesuai kehendaknya.

“Untuk masalah ini kayaknya nggak perlu dibawa kantor polisi, Gas.”

“Kenapa nggak perlu? Kita ’kan nggak tau ke depannya bagaimana, gimana kalau Bilal berbuat nekat dan bukan hanya menculik, tapi sampai membawa kabur Qiara?” Om Bagas tampak begitu khawatir dan gelisah. Bahunya sedikit menegang, rahangnya mengeras—terlalu berlebihan untuk sekadar rasa cemas biasa.

“Papi, kenapa justru Papi yang cemas?” tanya Maira. Wajahn
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   93. Lebih baik mati

    "Pi, Papi sudah pulang?" Maira yang sejak tadi duduk di kursi teras dengan perasaan tak menentu langsung berdiri begitu melihat Bagas memasuki halaman rumah. Pria itu baru saja pulang sehabis nge-gym. Tubuhnya tampak segar, kaus hitam yang melekat di badannya mempertegas postur tegap yang masih terjaga. Rambutnya terlihat masih basah, beberapa helai jatuh ke kening, sementara ransel hitam digendong begitu saja di punggungnya. Namun alih-alih menoleh atau menyapa, Bagas justru melangkah lurus melewati Maira begitu saja masuk ke dalam rumah. Wajahnya datar, dingin—seolah anak perempuannya itu tidak ada di sana. Ada rasa perih yang langsung menyelinap di dada Maira, meskipun hal seperti ini sudah sering dia alami. Tanpa menunggu lebih lama, dia berlari kecil mengejar, lalu meraih lengan Bagas hingga langkah pria itu terhenti. “Pi, aku ingin kita ngobrol sebentar.” “Papi mau mandi.” Bagas menepis tangan Maira dengan cepat. Suaranya singkat dan tegas, seolah tidak ingin memberi ruang

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   92. Gadis atau janda?

    “Nanti aku ceritakan pas sudah di rumah, Yah,” jawabku. Aku tidak ingin membicarakan semuanya di tempat terbuka, apalagi di hadapan banyak orang. “Ya sudah, kalau begitu kita sekarang pulang ke rumah, ya?” tawar Ayah. Tangannya melepaskan pegangan Om Bagas dari lengannya, lalu berpindah merangkul bahuku dengan gerakan protektif—seolah ingin memastikan aku benar-benar aman di sisinya. “Lho, Lan, kita ke kantor polisi saja dulu,” pinta Om Bagas. Nada suaranya terdengar mendesak, sorot matanya menunjukkan keinginan kuat agar semuanya berjalan sesuai kehendaknya. “Untuk masalah ini kayaknya nggak perlu dibawa kantor polisi, Gas.” “Kenapa nggak perlu? Kita ’kan nggak tau ke depannya bagaimana, gimana kalau Bilal berbuat nekat dan bukan hanya menculik, tapi sampai membawa kabur Qiara?” Om Bagas tampak begitu khawatir dan gelisah. Bahunya sedikit menegang, rahangnya mengeras—terlalu berlebihan untuk sekadar rasa cemas biasa. “Papi, kenapa justru Papi yang cemas?” tanya Maira. Wajahn

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   91. Kita coba saja

    "Itu namanya insting.” Dia menunjuk dahinya dengan jari telunjuk, tersenyum bangga pada dirinya sendiri. “Insting seorang pacar. Wajarlah aku tau, kan kita juga sehati. Iya, kan?”Aku mendengus pelan dalam hati. Sehati apanya sih?Aku bertanya dengan serius, tapi jawabannya justru dibungkus oleh candaan.“Pas kamu diculik sama Bilal, Bilal ngapain aja sama kamu, selain ngobrol dan nggak bercinta?” tanyanya lagi, kali ini sambil menatapku penuh rasa ingin tahu—terlalu ingin tahu.Aku menghela napas panjang. Pertanyaan itu membuat kepalaku terasa makin berat. Obrolan kami rasanya semakin berputar-putar, tidak ke mana-mana, justru menusuk hal-hal yang ingin kulupakan. Perjalanan pulang pun terasa jauh lebih lambat dari seharusnya.Dan entah sejak kapan, rasa lelah di dadaku berubah menjadi muak.“Cuma ngobrol kok, itu pun nggak selesai.” Aku menjawab sekenanya, suaraku terdengar datar.“Apa yang diobrolkan?”“Tentang yang dia omongin ditelepon, dia mau menjelaskan kesalahpahaman. Dia men

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   90. Jangan sentuh!

    "Emmm mungkin, setelah aku benar-benar resmi jadi janda,” jawabku ragu-ragu.“Baiklah, aku akan tunggu dengan sabar.” Dia langsung tersenyum lebar. “Prosesnya berapa lama sih kira-kira? Bisa nggak, ya, dipercepat seminggu?”Aku menatapnya sekilas, heran sekaligus geli. Katanya menunggu dengan sabar, tapi keinginannya justru bertolak belakang. Dari sorot matanya saja terlihat jelas—dia sama sekali tidak sabar.“Aku kurang tau kalau soal itu sih.” Aku menggeleng bingung, benar-benar tak punya gambaran.“Nanti aku coba tanya pengacara yang menangani perceraianmu deh, Sayang.” ucapnya mengelus pipiku. “Oh ya, kira-kira nanti kamu mau minta mahar apa? Rumah, mobil, emas, apa pesawat terbang? Aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan.”Aku tersenyum canggung. Pembicaraan ini terasa melaju terlalu jauh, terlalu cepat.“Soal itu terlalu jauh deh kayaknya.”“Enggaklah, masa jauh. Kan kita menikah setelah kamu resmi jadi janda dan selesai masa iddah.”Ucapan Om Bagas terdengar seperti keyak

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   89. ABG tua

    Perlahan, Om Bagas akhirnya mengendurkan cengkeramannya. Tangannya terlepas, dadanya naik turun menahan emosi yang masih bergejolak. Mas Bilal terkapar, langsung membungkuk sambil terbatuk keras. “Uhuk! Uhuk!!” Dia terengah-engah, berusaha menarik napas dalam-dalam, menyerap oksigen yang sempat tersendat, sementara wajahnya masih memerah dan tubuhnya bergetar lemah. “Kita pulang sekarang!” Om Bagas meraih lenganku tanpa memberi ruang untuk menolak. Genggamannya kuat, nyaris menyeretku keluar. Langkah kakiku sempat terseret sebelum akhirnya mengikuti langkah cepatnya menuju pintu keluar. Saat itulah aku baru benar-benar menyadari—tempat ini ternyata sebuah unit apartemen. Namun sebelum kami benar-benar menjauh, Om Bagas menghentikan langkahnya sejenak. Tubuhnya menegang. Dia menoleh ke belakang, menatap Mas Bilal dengan sorot mata tajam dan penuh ancaman. Mas Bilal masih tergeletak di lantai, dadanya naik turun tak beraturan, wajahnya pucat dengan sisa merah di lehernya. “Jangan be

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   88. Hanya orang asing

    “Siapa, Mas?” tanyaku, rasa penasaran bercampur waswas. Ada getaran aneh di dadaku, seperti rasa senang yang menyeruak yang tiba-tiba menyelinap tanpa izin.Mas Bilal tersentak dan menoleh ke arahku, seolah baru menyadari kehadiranku. Matanya sedikit membesar, napasnya tampak tertahan sesaat, lalu raut wajahnya berubah tegang.“Om Bagas, Qia. Sial banget kenapa dia bisa ke sini?!” gerutunya dengan raut wajah kesal dan penuh ketegangan. Rahangnya mengeras, tangannya terkepal samar, seolah sedang menahan amarah yang siap meledak.“Ya sudah tinggal dibuka saja, Mas, ngapain repot,” balasku dengan santai. Namun, tiba-tiba tangan Mas Bilal menarikku dengan kasar. Tubuhku terhuyung saat dia membawaku masuk ke dalam kamar.“Kamu tunggu di sini dan kunci pintu. Pokoknya jangan keluar sebelum aku yang memintanya,” perintahnya dengan nada tegas, nyaris memaksa. Sebelum aku sempat membantah, pintu sudah ditutup dengan cepat, menyisakanku sendirian di dalam kamar yang mendadak terasa sempit dan p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status