Se connecterHari ini Kahfi berangkat lebih dulu seperti biasanya. Sebelum pergi, dia berhenti di depan pintu, menatap Keina yang masih sibuk memasukkan dokumen ke dalam map dengan tangan yang sedikit gemetar. Ya, ini adalah hari dimana Keina akan melakukan interview di kantor Kahfi.“Na.”“Iya, Mas?” Keina mendongak.“Interview jam sepuluh, ya. Jangan sampai telat, datang lima belas menit sebelumnya.” Kahfi berkata dengan nada yang sama seperti biasa, tapi ada sesuatu di matanya yang tidak bisa Keina namai. “Dan satu lagi.”“Apa?”“Kalau sudah di dalam ruangan, jangan terlalu banyak bilang aku rasa atau mungkin. Bicara yang pasti.” Kahfi mengetuk kusen pintu dua kali sebelum berbalik. “Kamu bisa, Na. Semangat, ya.” Kata-kata terakhir itu dia ucapkan ringan saja — seperti fakta yang tidak perlu diperdebatkan.Keina menatap punggungnya sampai menghilang di balik pintu.Lalu menarik napas dalam.“Oke. Aku bisa.”***Gedung Prominent Corp terlihat lebih besar dari yang Keina bayangkan.Atau mungkin
Keina tidak langsung tidur malam itu.Dia berbaring di sisi kanannya, menatap dinding, mendengar napas Kahfi yang sudah teratur di sebelahnya. Pikirannya masih berputar mempertimbangkan, menimbang, mundur selangkah lalu maju dua langkah.Kerja di kantor Kahfi.Bukan ide yang tidak menarik. Justru sebaliknya, terlalu menarik sampai Keina tidak yakin dirinya layak untuk itu. Divisi kreatif, sekretaris, apapun itu, semua terdengar seperti dunia yang pernah dia bayangkan tapi tidak pernah benar-benar dia masuki.Lulus kuliah, rencana Keina berantakan berbarengan dengan hubungannya bersama Dirga yang juga berantakan. Tidak ada waktu untuk memikirkan karir ketika hidupnya sendiri sedang berjalan ke arah yang salah. Dan sebelum dia sempat meluruskan semuanya dia sudah berdiri di sini. Surabaya. Tapi mungkin sekarang waktunya. Besok. Dia akan jawab besok.***Pagi harinya, Kahfi baru selesai merapikan kerah kemejanya ketika Keina muncul dari arah dapur dengan dua cangkir teh di tangannya.“M
Hari itu langit Surabaya cerah tanpa awan. Jenis cuaca yang harusnya bikin semangat tapi Keina sudah duduk di sofa sejak jam sembilan pagi, memeluk bantal, menatap layar TV yang menyala tanpa benar-benar menonton apapun yang tayang di sana.Sudah selesai masak. Sudah beres-beres. Sudah lipat cucian.Dan sekarang baru jam sepuluh lewat dua puluh menit.Keina menggeser posisi duduknya, telentang, menatap langit-langit kamar. Pikirannya kosong dengan cara yang tidak menyenangkan bukan ketenangan, tapi kejenuhan yang mengendap pelan-pelan seperti air yang mengisi bak mandi terlalu lambat. Tidak terasa sampai tiba-tiba sudah penuh.Dia mengambil ponselnya. Membuka aplikasi ini, menutup aplikasi itu. Scroll tanpa tujuan. Meletakkan ponsel. Mengambilnya lagi.Dering telepon memecah kejenuhan itu tepat sebelum jam sebelas.Keina menatap layar ponselnya. Nama Miska berkedip-kedip dengan semangat yang bahkan bisa Keina rasakan hanya dari notifikasinya.Dia mengangkat telepon sebelum dering keti
Subuh masih gelap ketika Kahfi membuka matanya. Alarm belum berbunyi, tapi tubuhnya sudah terbiasa bangun di jam yang sama setiap harinya, seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang tidak mau melewatkan waktu ini barang sehari pun. Dia melirik ke sisi kanan ranjang. Keina masih tidur, rambutnya tergerai berantakan di atas bantal, napasnya naik turun dengan teratur.Kahfi mengalihkan pandangan cepat-cepat.Dia bangkit dari ranjang dengan hati-hati, memastikan gerakannya tidak membangunkan istrinya, lalu mengambil wudhu di wastafel luar. Beberapa menit kemudian dia sudah berdiri di atas sajadah menghadap kiblat, melepaskan semua yang menggantung di dadanya sejak semalam ke dalam doa yang hanya bisa didengar oleh Yang Maha Mendengar.Karena ada banyak hal yang tidak bisa Kahfi katakan dengan suara.Tentang Keina yang kemarin pergi tanpa memberitahunya. Tentang nama Dirga yang disebut dengan nada yang berbeda dari nada biasa. Tentang perasaan yang tumbuh di dadanya sendiri, perasaan yang se
Pesan itu masuk pukul setengah sepuluh pagi.Keina sedang menyiram tanaman kecil di jendela dapur ketika ponselnya bergetar di atas meja. Satu notifikasi. Nama yang sudah lama tidak muncul di layarnya.Dirga Ananta.Jari Keina berhenti bergerak.Dia meletakkan botol semprot pelan-pelan, mengambil ponsel, dan membaca pesan itu dengan nafas yang tiba-tiba terasa lebih berat dari biasanya.“Kei, aku tau ini gak tepat. Tapi aku perlu ketemu kamu sekali lagi. Tolong.”Keina meletakkan ponsel menghadap bawah di atas meja.Satu menit.Dua menit.Lalu dia membaliknya lagi dan membaca pesan itu untuk kedua kalinya, seolah maknanya akan berubah jika dibaca ulang. Tapi tidak. Kata-katanya tetap sama. Dan perasaan yang muncul di dadanya pun terasa campur aduk dengan cara yang tidak dia sukai.Bukan rindu. Bukan juga benci sepenuhnya.Tapi ada sesuatu, mungkin rasa penasaran, mungkin sisa luka lama yang belum benar-benar sembuh, yang membuat jarinya bergerak sebelum pikirannya sempat melarang.“Ak
Pagi itu Keina terbangun lebih awal dari biasanya.Bukan karena alarm, bukan pula karena suara adzan yang mengalun dari masjid dekat kompleks. Melainkan karena satu hal sederhana yang belakangan ini tanpa sadar selalu membuatnya terjaga, perasaan yang tumbuh perlahan seperti tanaman yang tidak pernah dia sengaja siram, tapi toh tetap hidup dan menghijau. Kahfi.Gadis itu memandang langit-langit kamar dengan mata setengah terbuka. Tangannya menekan dada kiri pelan, merasakan degup yang tidak seperti biasa. Aneh. Dulu, nama Dirga lah yang selalu jadi alasan jantungnya berdenyut lebih cepat. Tapi sekarang, hanya dengan membayangkan senyum lembut suaminya itu, Keina bisa merasakan sesuatu yang hangat menjalar dari ujung dada sampai ke pipinya.Ini kenapa, sih?Keina menepuk pipinya sendiri pelan. Mencoba mengusir pikiran itu. Tapi sia-sia — wajah Kahfi sudah terlanjur betah bersarang di kepalanya.Pintu kamar terbuka pelan. Seperti biasa, tanpa suara, tanpa drama.“Udah bangun?” Suara Kah
"Aku takut di keluarin dari kampus, pak." Senin telah tiba. Hari ini Carla dan Savian akan bertemu Dekan untuk membicarakan perihal skandal mereka yang sedang hangat dibicarakan. Jelas berbohong jika Carla menyakinkan dirinya baik-baik sa
Carla akui, ia memang menyukai Savian. Tapi tetap saja gadis itu tidak bisa menjalin hubungan dengan pria yang mengatakan cinta padanya saja tidak pernah, namun tiba-tiba Savian mengajaknya pacaran dan menikah?! Jadi jangan salahkan Carla jik
Carla terdiam menatap Savian yang fokus menyetir di sebelahnya. Carla bahkan masih ingat wajah babak belur Genta, tapi Savian malah tidak terluka seujung kuku pun. Jadi, selain pandai menggombal, Savian juga pandai berkelahi. Dua keahlian yang sangat melengkapi jiwa kejantanan Savian."Gent
"Bang Chaka?" Alvero membeku. Kepalanya seakan di timpa batu yang sangat besar melihat Chaka berjalan menuju ke arah meja mereka.Tangan Alvero terkepal kuat, giginya menggeletuk, matanya merah berlinang. Alvero tidak dapat menahan emosinya saat melihat Chaka







