Kehidupan Kedua: Ku Pilih Sang Penguasa

Kehidupan Kedua: Ku Pilih Sang Penguasa

last updateDernière mise à jour : 2026-05-04
Par:  Cassian Story En cours
Langue: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 Note. 1 commentaire
4Chapitres
12Vues
Lire
Ajouter dans ma bibliothèque

Share:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

Livia Montesinos seharusnya hidup sebagai pewaris tunggal keluarga terkaya. Namun takdir merampas segalanya sejak ia masih bayi, membuangnya ke pulau terpencil dan dibesarkan dalam keterbatasan. Di sanalah ia menyelamatkan seorang pria asing yang nyaris mati, Alessandro De Luca, sosok berbahaya yang menguasai dunia gelap. Tanpa ia sadari, satu tindakan itu mengikat takdir mereka selamanya. Ketika akhirnya kembali ke keluarga kandungnya, Livia justru terjebak dalam kehidupan penuh kepalsuan. Ia direndahkan, diabaikan, dan dipermainkan oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya. Buta oleh cinta, ia memilih menikahi Santiago Torres, pria yang ternyata hanya menginginkan hartanya. Suaminya berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri. Mereka menertawakannya, lalu membunuhnya tanpa ampun. Namun kematian bukanlah akhir. Livia membuka mata pada masa sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia takkan menjadi gadis naif yang sama. Ia akan membalas setiap luka dan menghancurkan mereka satu per satu. Ia memilih pria yang dulu ia takuti Pria yang mencintainya dan rela menghancurkan dunia demi dirinya.

Voir plus

Chapitre 1

BAB 1 - Teganya Kalian

Livia Montesinos melangkah masuk ke dalam apartemen mewah yang selama tiga tahun ini ia sebut sebagai rumah.

Hatinya yang semula berdebar karena ingin menyampaikan kabar baik mengenai saham yang akan ia berikan pada suaminya, perlahan berubah menjadi dingin seketika saat suara tawa terdengar dari balik pintu kamar utama.

“Ah, Tiago. Hentikan, aku geli.” Suara itu milik Iris Montesinos, kakak tirinya yang selama ini ia anggap keluarga.

“Kemari kan bibirmu sayang, aku ingin menciumnya lagi.” Santiago Torres, pria yang akan ia cintai seumur hidup.

“Tiago, hentikan. Nanti aku semakin suka belaianmu, aah…” desah Iris dari balik pintu begitu mengganggu.

Jantung Livia semakin tidak karuan. “Ada apa di dalam? Apa aku tidak salah dengar?” gumamnya.

“Kapan kau akan mendapatkan saham Livia? Aku menginginkannya.” Iris berkata dengan cukup lantang dari dalam.

“Sabar, Sayang. Aku hampir berhasil membujuknya kemarin, entah siapa yang mempengaruhinya untuk membatalkan!” umpat Santiago.

“Ughhhh… Sampai kapan aku harus menunggu?” Rengek Iris.

Sementara Livia yang sudah tidak tahan mendengarnya mendorong pintu hingga terbuka lebar.

Pemandangan yang terlihat di hadapannya membuat seluruh darah dalam tubuhnya terasa berhenti mengalir.

Di atas ranjang yang menjadi saksi pernikahan mereka, Santiago dan Iris berpelukan tanpa sedikit pun rasa bersalah.

“Kalian… apa yang sedang kalian lakukan?” suara Livia terdengar parau, hampir tak mampu keluar dari tenggorokannya.

Santiago segera melepaskan pelukan mereka, wajahnya sempat menunjukkan ekspresi terkejut sebelum berubah menjadi cemas. Ia bergegas mendekati Livia dan berusaha meraih lengan istrinya.

“Livia, dengarkan aku. Ini tidak seperti yang kau bayangkan,” ucapnya cepat-cepat. “Kami hanya sedang mengobrol, tiba-tiba kau masuk begitu saja. Jangan membuat kesimpulan yang salah, ya?”

“Mengobrol?! Mengobrol sampai berpelukan dengan pakaian yang berantakan? Apakah menurutmu aku masih anak-anak yang mudah dibohongi?!” teriak Livia.

“Sudahlah, Santiago. Untuk apa kau bersusah payah menjelaskan?” sela Iris sambil bangkit dari tempat tidur, lalu merapikan rambutnya dengan senyum sinis yang terukir di sudut bibir. “Dia takkan pernah mengerti apa-apa. Selama ini kau terlalu baik padanya, padahal dia hanyalah gadis yang dibesarkan di pulau terpencil. Tidak tahu sopan santun dan cara bergaul, apalagi memahami perasaan orang lain.”

Livia terhenyak akan perkataan Iris, jika saja ia tidak diculik saat bayi dan dibesarkan di pulau terpencil, mungkin sekarang ia sudah menjadi nona pewaris tanpa gangguan dari Iris dan ibu tirinya.

“Kau tak berhak bicara seperti itu padaku!” bentak Livia. “Aku mungkin tumbuh di tempat yang terpencil, tapi aku tidak pernah mengkhianati orang yang aku percayai. Berbeda dengan kalian yang bersembunyi di balik kedok keluarga dan kesetiaan!”

“Mengkhianati?” Iris tertawa keras. “Apa yang kami lakukan hanyalah hal yang seharusnya terjadi sejak lama. Santiago membutuhkan pendamping yang sepadan, yang bisa mengerti keinginan dan membantunya mencapai cita-citanya. Sedangkan kau? Apa yang bisa kau berikan padanya selain kekayaan yang kau miliki secara kebetulan saja?!”

“Kata-katamu tidak berdasar sama sekali!” seru Livia. Ia menoleh ke arah suaminya, matanya penuh harapan yang mulai pudar. “Santiago, katakan padaku bahwa semua itu tidak benar. Katakan bahwa kau masih mencintaiku dan semua ini hanyalah kesalahpahaman.”

Santiago menunduk sejenak, lalu menatap Livia dengan tatapan yang tak lagi seperti biasanya. “Livia… aku sudah berusaha menyayangimu, sungguh. Tapi selama tiga tahun ini, aku merasa hidupku terasa kosong. Kau terlalu polos, dan kita tak pernah memiliki kesamaan apa pun. Bahkan sampai sekarang, aku tak pernah bisa menyentuhmu dengan perasaan cinta yang sesungguhnya.”

“Munafik sekali kau Tiago, teganya kau…” Air mata Livia jatuh berderai.

“Tidak perlu sok jadi korban Livia,” potong Iris lagi. “Kau hanyalah orang yang datang tiba-tiba dan merebut semua yang seharusnya menjadi milikku dan ibuku. Apa yang membuatmu merasa berhak memiliki segalanya, apa karena kau anak kandung ayah ?”

Kedua tangan Livia terkepal di sisi tubuhnya. Ia tak menyangka, sejak dibawa kembali oleh ayahnya ke kediaman Montesinos, ia pikir mereka baik dengan hati yang tulus, nyatanya busuk.

“Kalau begitu, kita akhiri saja semuanya!” ucap Livia dengan tegas. “Aku tak mau lagi hidup dengan orang yang hanya memandangku sebagai sumber kekayaan. Mulai hari ini, aku minta bercerai. Semua urusan akan ku selesaikan secepatnya.”

'Tidak akan ku biarkan kalian mengambil warisan mendiang ibuku…' batin Livia.

Mendengar keputusan sepihak, wajah Santiago yang semula tenang seketika berubah menjadi merah padam. “Kau pikir semudah itu untuk pergi begitu saja?! Dengan membawa semua yang menjadi milik kami bersamamu?”

“Milik kalian?” tanya Livia heran. “Semua ini adalah hak warisku yang sah. Tak ada satu pun yang menjadi milik kalian!”

“Kau benar-benar keras kepala, ya?” geram Santiago. “Kalau begitu, jangan salahkan aku jika harus bertindak dengan cara yang lebih tegas.”

Tanpa memberi kesempatan bagi Livia untuk bereaksi, ia mencengkeram pergelangan tangan wanita itu dengan kekuatan yang menyakitkan, lalu menyeretnya secara paksa menuju arah balkon kamar yang terletak di gedung pencakar langit.

“Lepaskan aku! Apa yang akan kau lakukan?!” teriak Livia sambil berusaha melepaskan diri.

“Lakukan saja, Santiago!” seru Iris dari belakang dengan nada mendukung. “Dia takkan mau menyerah dengan cara yang baik. Hajar saja dia sampai sadar diri bahwa dia tak berdaya tanpa kita!”

Ketinggian yang ekstrem menyambut mereka begitu balkon dibuka, membuat siapa saja yang melihat ke bawah merasa pusing dan takut.

Sandiago mendorong tubuh Livia hingga bersandar pada pagar besi pembatas, lalu melancarkan serangan demi serangan yang tak berperikemanusiaan.

“Kau pikir kau bisa membuangku begitu saja setelah aku bersabar selama bertahun-tahun?!” teriak Santiago sambil melancarkan pukulan. “Semua yang kau miliki akan menjadi milikku, dan tak ada yang bisa menghentikanku!”

“Akh! Hentikan…” rintih Livia.

“Ya, hajar dia lebih keras lagi!” tambah Iris dengan nada yang penuh dendam. “Biarkan dia merasakan penderitaan yang selama ini aku rasakan karena kehadirannya!”

Tak lama kemudian, tubuh Livia yang semula berusaha melawan menjadi lemas tak berdaya.

Rasa sakit yang menyelimuti seluruh anggota tubuhnya membuat kesadarannya mulai menghilang, dan pandangan matanya menjadi kabur.

“Egh…” Livia berusaha kuat dengan menggapai pembatas balkon.

Saat ia hampir jatuh pingsan, Iris mendekatinya dengan senyum kemenangan yang menjijikkan. Di tangannya tergenggam selembar dokumen penting.

“Ini dia, adikku,” bisik Iris. “Surat pemindahan hak milik dan kekuasaan atas seluruh saham serta aset keluarga Montesinos. Berkat ketidakpedulianmu terhadap urusan bisnis, kami bisa mengurus semuanya dengan mudah selama ini. Dan sekarang, semuanya sudah sah menjadi milik kami.”

“Kalian… penipu…” gumam Livia dengan sisa tenaga yang ada.

“Anggap saja begitu, wanita bodoh,” sahut Santiago sambil tertawa sinis. “Dan kau… takkan bisa menceritakan hal ini kepada siapa pun lagi.”

Setelah memastikan dokumen itu telah resmi menjadi milik mereka dengan membubuhkan cap jempol Livia, keduanya saling berpandangan sejenak, lalu mendorong tubuh Livia yang tak berdaya melewati pagar pembatas.

“Selamat jalan, gadis dari pulau terpencil,” bisik Iris. “Hidupmu berakhir di sini.”

“Aaaaaa!” Tubuh Livia jatuh bebas dari ketinggian yang mematikan.

Suara angin berhembus kencang seolah menelan segala suara, sebelum akhirnya tubuh Livia menghantam permukaan jalan dengan benturan yang memekakkan telinga.

Darah segar segera membanjiri halaman gedung, membuat orang-orang berhenti bergerak seketika. Mereka tertegun melihat pemandangan mengerikan yang terjadi di depan mata.

“Ya Tuhan… apa yang terjadi?!”

“Lihatlah darahnya… dia pasti sudah tak bernyawa!”

“Jangan mendekat!”

“Tangannya masih bergerak.”

“Cepat panggil bantuan! Panggil ambulan dan polisi sekarang juga!”

Suara teriakan dan bisikan histeris tedengar dari berbagai arah. Tak ada yang berani mendekat karena ketakutan dan rasa ngeri yang menyelimuti hati mereka.

Namun di tengah kekacauan itu, seorang pria berjalan menerobos kerumunan dengan langkah penuh ketegasan.

Wajahnya yang biasanya dingin dan penuh wibawa kini berubah pucat pasi, matanya yang tajam terlihat berkaca-kaca, dan seluruh tubuhnya gemetar seolah tak mampu menahan beban yang menimpanya.

Ia adalah Alessandro De Luca. Pimpinan mafia dan bos besar yang menguasai dunia bisnis dan paling ditakuti.

Tanpa mempedulikan darah yang berserakan ataupun pandangan orang-orang di sekitarnya, Alessandro segera berlutut di samping tubuh Livia, lalu memeluknya dengan hati-hati.

“Livia… kau dengar aku? Jangan pergi, kumohon…” bisik Alessandro dengan suara yang terputus-putus. Tangannya yang besar dan terbiasa memegang senjata kini bergetar hebat saat menyentuh wajah pucat wanita yang dicintainya. “Bangunlah… katakan sesuatu padaku… apa saja…”

Livia yang kesadarannya sudah nyaris hilang, hanya bisa merasakan kehangatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya dan berasal dari pria yang selama ini ia hindari dan takuti.

Alessandro? Batin Livia.

Kelopak matanya yang berat berusaha terbuka, meski pandangannya masih kabur dan hanya mampu menangkap bayangan wajah orang yang sedang memeluknya.

“Kau… kenapa ada di sini…” gumam Livia, suaranya nyaris tak terdengar di tengah kebisingan di sekitar mereka.

Alessandro segera menempelkan telinganya ke mulut Livia, berusaha mendengar setiap kata yang keluar dari bibirnya.

Air mata yang selama ini tak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun akhirnya jatuh juga, mengalir deras di pipinya yang gagah.

“Bagaimana mungkin aku tidak ada di sini? Aku selalu mengawasimu, Livia… dari jauh maupun dekat… aku takkan pernah membiarkan sesuatu yang buruk menimpamu… tapi aku terlambat… aku sangat terlambat…” sesal Alessandro.

“A…pakah itu air…matamu?” tanya Livia lagi, matanya yang mulai redup berusaha menatap wajah pria di depannya dengan sisa kekuatan yang ada. “Kau… menangis… untukku?”

“Ya, aku menangis untukmu…” ucap Alessandro sambil mencium kening Livia berulang kali. “Mengapa kau tak pernah mau mendengarkanku? Mengapa kau selalu membuang semua perhatian yang kuberikan? Bukankah sudah ku katakan berkali-kali… orang-orang di sekitarmu takkan pernah berbuat baik. Mengapa kau tetap memilih mempercayai mereka dan mengabaikanku?”

“Maafkan aku…” bisik Livia, rasa bersalah mulai memenuhi hatinya yang sudah penuh luka.

“Tetaplah bersamaku, ya? Setelah ini, aku akan membawamu pergi ke mana saja yang kau inginkan. Aku akan memberikan segala sesuatu yang kau butuhkan. Tak ada lagi yang akan berani menyakitimu. Hanya aku dan kau… selamanya…”

Livia mencoba tersenyum, meski seluruh nyawanya mulai terlepas dari tubuh, dan ia tahu bahwa waktunya sudah habis.

“Terima kasih… Alessandro…” katanya membutuhkan usaha yang luar biasa besar.

“Jangan berkata begitu… cintaku padamu takkan pernah berubah, apapun yang terjadi…” jawab Alessandro sambil menahan tangisannya yang makin menjadi-jadi. “Dengarkan aku, Livia… ini adalah hal yang paling penting yang ingin kukatakan padamu, hal yang selalu aku simpan di dalam hatiku dan tak pernah sempat aku sampaikan dengan sepenuhnya…”

Ia menatap mata Livia yang mulai menutup, lalu berbicara dengan suara penuh kasih sayang.

“Aku mencintaimu, Livia Montesinos. Aku mencintaimu sejak pertama kali aku melihatmu, saat kau masih berusia muda dan hidup di pulau itu. Tak ada wanita lain di dunia ini yang mampu mengisi hatiku selain dirimu. Cintaku ini abadi, takkan pernah mati meski nyawamu telah tiada, meski waktu terus berjalan, dan dunia ini hancur berkeping-keping. Kamu adalah satu-satunya cinta dalam hidupku, sekarang dan selamanya…”

Mendengar kata-kata itu, air mata pun mengalir di sudut mata Livia. Bibirnya bergerak-gerak seolah ingin menjawab, namun tak ada suara yang keluar.

Seandainya… aku bisa kembali… Aku akan memilih mu, Alessandro.

Matanya semakin menutup sepenuhnya, tangannya yang semula menyentuh lengan Alessandro terkulai lemas, dan napasnya yang terakhir terhembus di udara.

“Livia…?! Livia, bangunlah! Jangan tinggalkan aku sendiri!” teriak Alessandro.

Ia mengguncang tubuh Livia terus-menerus, berharap semuanya hanyalah mimpi buruk yang akan segera berakhir. “Katakan sesuatu padaku! Katakan bahwa kau juga mencintaiku! Katakan bahwa kau akan tetap bersamaku selamanya! LIVIA!”

Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Latest chapter

Plus de chapitres

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

commentaires

Cassian Story
Cassian Story
selamat datang di buku baru auhtor...
2026-05-21 15:06:49
0
0
4
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status