ANMELDENLoria adalah ketua organisasi pembunuh bayaran. suatu hari ia menemukan salah satu anggota kepercayaannya mengkhiatinya. "Boss ... kau akan berakhir disini bersamaku," ucapnya sambil tersenyum. "Kau?!!" BOOOM. Ledakan terjadi begitu cepat. Loria terlempar keras menghantam bangunan dan terhimpit reruntuhan. "Bajingan..." Setelah mengucapkan kata itu, pandangannya perlahan menjadi gelap. saat terbangun Loria menemukan dirinya duduk dilantai yang dingin. "Hei ... gadis bodoh! minta maaf kepada Arriene." Anak laki - laki itu mengangkat tangannya hendak memukulnya. Refleks, Loria hendak menahan pukulan itu. Namun gerakannya terhenti saat melihat tangan kecil dengan jari - jari mungil miliknya sendiri. Mata Loria membelalak. Apa ini? Ia perlahan mengangkat kepalanya dan melihat dua anak kecil didepannya. Tatapannya terhenti saat melihat seorang gadis kecil dengan rambut blonde dan mata biru cerah yang terlihat sangat cantik. Tunggu... Arriene? Nama itu terdengar familiar. Rambut blonde. Mata biru. bukankah itu adalah protagonis utama dari novel yang baru saja ia baca sebelum mati?!!
Mehr anzeigenDarah masih menetes dari ujung jarinya.
Wanita itu berdiri ditengah kegelapan, nafasnya teratur meskipun tubuhnya penuh dengan luka. Dari alat komunikasi ditelinganya terdengar suara gaduh dari kejauhan. “Boss .. misi telah gagal.” “Argh!!” suara teriakan dan kekacuan terdengar samar disana. Sosok itu langsung melepas alat komunikasinya lalu melemparkannya ke lantai. “Hah … gagal?” “kata gagal tidak ada dalam kamusku.” Wanita itu tersenyum tipis saat melihat musuh yang berdiri didepannya. “Dia sudah tidak punya kekuatan lagi! bunuh dia sekarang!!” teriak seorang pria. Peluru melesat dengan cepat. Namun wanita itu mampu menghindarinya dengan mudah. Gerakannya cepat dan sulit ditebak, mustahil orang biasa memiliki kemampuan seperti ini. Ia melangkah maju perlahan sambil menghindari peluru yang ditembakkan kearahnya. Tangannnya meraih belati dari sabuk hitam dipinggangnnya, lalu mengunci target dengan tatapan tajam. “Kena kau,” Gumamnya pelan. Dalam sekejap, tubuhnya melesat maju. SRAK… SRAK … SRAK… Belati ditangannya bergerak dengan cepat menebas leher musuh tanpa ampun. “Ini yang dinamakan pertarungan jarak dekat,” ucapnya sambil menatap mereka dengan sombong. Setelah selesai, ia berjalan santai mengambil alat komunikasi yang tadi dilemparnya. “Roy … apa disana aman?” “B-boss? Syukurlah kau masih hidup.” Terdengar suara rengekan dibalik alat komunikasi itu. “Disini kami semua baik – baik saja, bantuan datang tepat waktu.” “Bagus kalau begitu.” Wanita itu menyalakan rokok lalu menghisapnya perlahan. “Kembali ke markas.” “Baik Boss.” “Ugh.” Terdengar suara rintihan lemah dari belakang. Ia berbalik dan melihat salah satu pria yang ditebasnya tadi ternyata masih bergerak. “L-loria … kau pasti a-kan ma-ti.” Setelah mengatakan itu, pria tersebut tidak sadarkan diri. Loria mengambil rokok dari mulutnya dengan kedua jari, lalu Berjalan mendekati pria itu dan berjongkok untuk memastikan ia benar – benar mati. Psssst. Rokok yang masih menyala itu, ia tempelkan ke kulit pria tersebut. “Mayor … kau telah kalah,” ucapnya dingin. Mayor adalah pemimpin dari grup Elang, mereka sudah menjadi musuh sejak lama. Kali ini mereka memperebutkan sebuah koper rahasia. Siapapun yang bisa mendapatkan koper itu, maka akan mendapatkan bayaran yang fantastis. Loria sendiri adalah pemimpin grup Phoenix, dimana grup itu adalah grup pembunuh bayaran terkuat di dunia. Tidak ada grup yang bisa menandingi grup yang berada di bawah naungan Loria. “Saatnya Kembali ke markas.” Loria berdiri dan membersihkan tangannya. Hembusan angin malam sangat dingin. Melewati gang yang gelap, Loria yang berjalan dibantu dengan Cahaya bulan hingga akhirnya tiba di markas Phoenix. Diluar bangunan terlihat sunyi, tetapi suasananya berubah ramai saat ia masuk kedalam. “Boss kembali!!” teriak Roy. Roy adalah tangan kanan Loria. Begitu mendengar teriakan Roy, semua anggota yang berada didalam langsung berdiri dan memberi hormat kepada Loria. “Dimana barangnya?” tanya Loria. Roy menyerahkan sebuah koper berwarna perak. “Bagus … simpan ini ditempat rahasia kita.” “Baik.” Roy segera menyimpan koper itu. Loria berdiri dan melambaikan tangannya dengan malas. “Kalian berpestalah .. aku tidak akan menemani kalian.” Tanpa menunggu jawaban, ia pergi meninggalkan aula dan berjalan menuju ruang pribadinya untuk beristirahat. TOK … TOK … TOK … Terdengar suara ketukan pintu. “Boss …” Roy masuk kedalam dengan membawa obat – obatan. “Terimakasih.” Loria mengambil obat – obatan itu lalu mulai membersihkan lukanya sendiri. Roy menatap tubuh bossnya yang dipenuhi luka. pemandangan seperti ini sudah biasa bagi mereka. tetapi tetap saja sebagai anak buah, mereka tidak ingin Boss terluka sama sekali. “Apa yang kau lakukan? Kau boleh pergi.” Loria tidak suka memperlihatkan sisi lemahnya kepada siapapun. “Ehm … Boss.” “Hm?” “Aku menemukan cerita novel yang bagus.” “Nama Boss ada didalam cerita ini.” Roy menyerahkan Novel itu kepada Loria. Loria hanya meliriknya. “Tidak berguna.” “Kalau begitu aku permisi dulu Boss.” Roy segera pergi meninggalkan novel itu di atas meja. Loria melanjutkan membalut lukanya dan mengabaikan novel yang di bawa oleh Roy. Setelah luka di obati dan dibalut, Loria berbaring sebentar di sofa. “Ugh … aku tidak bisa tidur.” Loria duduk dan melihat novel yang ada diatas meja. “Tidak ada salahnya mencoba.” Mengambil novel itu dan membacanya dengan harapan bisa tertidur saat membaca novel. “Apa – apaan ini?!” namaku hanya digunakan sebagai tokoh antagonis yang sial itu?!! Loria berakhir membaca novel itu sampai pagi. Ia memiliki kemampuan untuk membaca cepat karena daya ingatnya yang kuat. “Siapa yang membuat novel ini? Apa dia musuhku?!!” Loria tidak bisa menerimanya dan melempar novel yang telah ia baca sampai pagi ke atas meja. “Aku harus menyuruh Roy untuk mengurangi membaca novel yang seperti ini.” BUK. Semua orang yang berada diluar terkejut mendengar hempasan pintu. Mereka melihat boss mereka keluar dengan kantung hitam dibawah matanya.Apa boss tidak bisa tidur? “Boss … silahkan sarapan.” Roy menyiapkan kursi untuk Loria. “Kurangi membaca novel yang seperti itu.” Loria menatap Roy dengan tajam. Roy sedikit bergidik. “Y-ya … aku akan menguranginya.” TIT … TIT … TIT … Terdengar suara yang tidak asing. Mereka semua saling tatap. Loria segera berdiri dan berteriak. “Keluar semua sekarang dari markas!!!” Para anggota segera berlari keluar. “Boss anda mau kemana?!!” mereka berhenti Ketika melihat Loria masuk kedalam. “Aku harus mencari sumbernya.” Selagi masih ada waktu, aku bisa menghentikan bom ini. “Kami tidak akan pergi.” “Kalian-“ “Boss … koper ini … koper ini berisi Bom!!” Roy memegang koper itu dan membawanya kedalam. Tadi malam Loria sama sekali tidak mendengar atau mencium bau bom dari dalam koper ini. “Sial kita tertipu!!” Ia segera membuka koper itu dan melihat rakitan rumit serta waktu yang terus berjalan dengan cepat. “Keluar dari sini!!” Loria mendorong semua anggota untuk keluar. Melihat waktu yang ada di bom itu, tidak memungkinkan untuk menghentikan ledakan. Saat Loria hendak berlari, tangannya ditahan oleh Roy. “Roy?” Roy tersenyum melihat Loria. “Boss … kau akan berakhir disini bersamaku,” ucapnya sambil memperlihatkan gelang yang ada ditangannya. Loria melebarkan matanya. “Kau?!!” TIT … TIT … TIIIT… BUUUUMM. Bom meledak dan Cahaya merah memenuhi ruangan. Loria dan Roy terlempar keras. Ia terhimpit bangunan yang roboh. Loria batuk dan darah keluar dari kepalanya.Untung saja tubuhku tidak hancur. Ia melihat Roy yang sudah tidak sadarkan diri. “Bajingan,” ucap Loria dengan lemah sambil menatap Roy dan perlahan pandangannya menjadi gelap. NGIIIIING. Loria terbangun, kepalanya terasa berdenging. Ia menemukan dirinya duduk dilantai yang dingin. Memegang kepalanya, ia merasakan darah mengalir. “Anak yang tumbuh di jalanan memang berbeda." "Hei.. apa kau medengarku?!!" teriak seseorang.Siapa itu? Loria masih sedikit linglung. Melihat sekeliling, ia merasa tempat ini asing baginya. Loria memegang tubuhnya.Mengapa badanku terasa sakit semua?“Ibu … aku sudah sangat dipermalukan,” keluh Edelis.“Tenanglah.”“Kirimkan surat untuk Marquess Ardelis sekarang juga,” ucap Duchess.“Sampaikan surat sebelum anak itu tiba dikediaman Marquess.”“Baik Nyonya.”Saat ini dikereta keluarga Marquess Ardelis.“Nona … apa anda sudah lebih baik?” tanya Popi khawatir.Loria mengangguk pelan. “Terimakasih Popi.”Ia menatap kedua tangannya. Sepertinya membutuhkan waktu lama untuk meningkatkan aura.Kereta berjalan dengan sangat lancar dan tiba dikediaman keluarga Ardelis.Popi membantu Loria turun.“Loria!!” Marquess berdiri didepan pintu gerbang dan menghampiri Loria.“Apa yang kau lakukan saat pesta minum teh?”“Tuan … Nona tidak salah.” Popi mencoba untuk membantu Loria.“Kau diam!!” Marquess menatap Popi dengan penuh amarah.“Mulai hari ini kau tidak melayani Loria lagi,” ucap Marquess.“Apa-“Loria memegang rok Popi dan menggelengkan kepala, memberi isyarat agar jangan membelanya.Aku tidak ingin orang disekitarku terluka karena aku.“Ayah
Cahaya Mentari pagi perlahan masuk melalui celah jendela.Loria mengernyit dan perlahan membuka matanya.“Sudah pagi?”Loria segera Bersiap untuk pergi ke pesta minum teh.Beberapa jam telah berlalu. Popi sangat ketat untuk urusan penampilan, jadi Loria membutuhkan banyak waktu untuk Bersiap – siap.“Nona … anda cantik sekali,” ucap Popi dengan haru.Siapa bilang Nona Arienne yang paling cantik?“Baiklah .. kau telah bekerja keras,” ucap Loria dengan senyum manis.Loria pergi menuju kereta kuda keluarga Ardelis.Dari balik jendela, Arienne melihat Loria menaiki kereta kuda dan tersenyum tipis.“Semoga hari ini adalah hari keberuntunganmu,” gumam Arienne.Kereta kuda berjalan dengan lancar. Loria melihat tangannya yang mengeluarkan aura hitam tipis, kemudian mengepalkan tangannya dengan erat.Aura ini masih sangat lemah.Setelah perjalanan yang cukup memakan waktu. Kereta kuda akhirnya berhenti.Loria turun dari kereta, dibantu oleh Popi.Saat hendak memasuki kediaman, semua tamu undang
Malam hari saat semua orang tidur. Loria mengendap – endap memasuki hutan dan menghindari penjagaan yang sangat ketat.“Hah … jangan remehkan ketua organisasi pembunuh bayaran.”Loria terus jalan memasuki Gedung yang tidak berpenghuni.“Anak laki – laki itu sudah tidak ada,” gumam Loria.Ia terus melanjutkan perjalanannya dan menyalakan lampu sihir kecil yang ia bawa.Melihat sekeliling, Loria tidak menemukan sesuatu yang istimewa.“Mengapa dijaga begitu ketat.”Didalam novel tidak menceritakan apapun tentang ini.Semakin dalam ia berjalan semakin sunyi gedung itu. Cahaya bulan tidak lagi menembus ruangan itu.“Seprtinya tidak ada apa – apa.”TAAAG. Saat Loria berbalik, ia tidak sengaja menginjak sesuatu.Sebuah ruangan bawah tanah muncul.“Waw.” Loria segera menuruni tangga menuju ruang bawah tanah.Ruangan itu terlihat bersih seperti ada yang tinggal disini setiap harinya. Terdapat banyak buku yang tersusun rapi.Loria melihat beberapa buku yang berada di rak buku. Pandangannya terpa
Bab 6.Suasana yang tadinya sedikit berisik kini menjadi hening.“Tuan muda… apa anda baik – baik saja?” seseorang tiba – tiba muncul entah darimana.“Ini adalah ujian dari ayah … jangan membantuku.” Anak laki – laki itu mengelap darah yang ada disudut mulutnya.“Ini kediaman keluarga Ardelis?” tanya anak laki – laki itu sambil melihat sekeliling.“Ya Tuan, Gedung ini sudah lama ditinggalkan oleh Marquess.”Anak laki – laki itu menatap batu yang diberikan oleh Loria.“Tuan muda … sebaiknya kita kembali sebelum gelap.”“Aku akan berada disini sebentar,” ucapnya.“Kalau begitu saya akan bersembunyi disekitar sini.” Orang itu segera pergi bersembunyi.Saat ini diluar hutan.Loria berlari menemui Popi.“Nona … apa anda baik – baik saja?” melihat gaun Loria yang sobek membuat Popi Khawatir.“Tenanglah.” Loria melihat ke kanan dan ke kiri.Ia menyuruh Popi untuk menunduk. “Aku menemukan seseorang yang terluka,” bisiknya.“Nona kau-“ Loria menutup mulut Popi.“Aku tidak berpikir kalau dia boc
Arienne melihat penampilan Loria dari atas sampai kebawah. Mengapa penampilannya berbeda? Bibir kecil merah, rambut yang rapi, mata yang indah. Meskipun Loria terlihat kurus tetapi dia terlihat sangat cantik.“S-siapa yang memberikanmu gaun?!!” jari Arienne yang kecil menunjuk Loria dengan gemetar.
“Loria?!!” Suasana yang sunyi itu dipecahkan oleh teriakan Marchioness.“Apa kau sudah gila?!!” Marchioness segera memeluk Putranya Elliot.“Loria … apa masalahmu?” tanya Julian dengan heran.Bukankah ini adalah hal biasa? Mengapa sekarang Loria sangat marah?“Sekali lagi … jika kau berani berteria
Cahaya matahari sore yang menyinari kamar membuat ruangan menjadi tampak lebih hangat, kicauan burung yang lembut seolah memberikan ketenangan yang sulit untuk dijelaskan.Loria duduk di kasur kecilnya dan memikirkan apa yang terjadi.Ia mencubit pipinya sendiri cukup keras. “Aaau .. sakit.”“Ini t
Suara pukulan terdengar sangat keras. Loria terus dipukuli oleh seseorang yang tak dikenalnya. Melindungi wajahnya dengan tangannya, Loria terbelalak saat melihat tangannya yang kecil.Ia terus terpaku dengan jari kecilnya.“Hei … lihat lah gadis bodoh ini.” PLAK. Wajah Loria ditampar dengan sanga












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rezensionen