MENIKAHI DUKE TIRAN

MENIKAHI DUKE TIRAN

last updateÚltima atualização : 2026-05-28
Por:  EllaniAtualizado agora
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Classificações insuficientes
5Capítulos
7visualizações
Ler
Adicionar à biblioteca

Compartilhar:  

Denunciar
Visão geral
Catálogo
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP

Loria adalah ketua organisasi pembunuh bayaran. suatu hari ia menemukan salah satu anggota kepercayaannya mengkhiatinya. "Boss ... kau akan berakhir disini bersamaku," ucapnya sambil tersenyum. "Kau?!!" BOOOM. Ledakan terjadi begitu cepat. Loria terlempar keras menghantam bangunan dan terhimpit reruntuhan. "Bajingan..." Setelah mengucapkan kata itu, pandangannya perlahan menjadi gelap. saat terbangun Loria menemukan dirinya duduk dilantai yang dingin. "Hei ... gadis bodoh! minta maaf kepada Arriene." Anak laki - laki itu mengangkat tangannya hendak memukulnya. Refleks, Loria hendak menahan pukulan itu. Namun gerakannya terhenti saat melihat tangan kecil dengan jari - jari mungil miliknya sendiri. Mata Loria membelalak. Apa ini? Ia perlahan mengangkat kepalanya dan melihat dua anak kecil didepannya. Tatapannya terhenti saat melihat seorang gadis kecil dengan rambut blonde dan mata biru cerah yang terlihat sangat cantik. Tunggu... Arriene? Nama itu terdengar familiar. Rambut blonde. Mata biru. bukankah itu adalah protagonis utama dari novel yang baru saja ia baca sebelum mati?!!

Ver mais

Capítulo 1

Bab 1. Pengkhianatan

Darah masih menetes dari ujung jarinya.

Wanita itu berdiri ditengah kegelapan, nafasnya teratur meskipun tubuhnya penuh dengan luka. Dari alat komunikasi ditelinganya terdengar suara gaduh dari kejauhan.

“Boss .. misi telah gagal.”

“Argh!!”

suara teriakan dan kekacuan terdengar samar disana.

Sosok itu langsung melepas alat komunikasinya lalu melemparkannya ke lantai.

“Hah … gagal?”

“kata gagal tidak ada dalam kamusku.” Wanita itu tersenyum tipis saat melihat musuh yang berdiri didepannya.

“Dia sudah tidak punya kekuatan lagi! bunuh dia sekarang!!” teriak seorang pria.

Peluru melesat dengan cepat.

Namun wanita itu mampu menghindarinya dengan mudah. Gerakannya cepat dan sulit ditebak, mustahil orang biasa memiliki kemampuan seperti ini.

Ia melangkah maju perlahan sambil menghindari peluru yang ditembakkan kearahnya.

Tangannnya meraih belati dari sabuk hitam dipinggangnnya, lalu mengunci target dengan tatapan tajam.

“Kena kau,” Gumamnya pelan.

Dalam sekejap, tubuhnya melesat maju.

SRAK… SRAK … SRAK…

Belati ditangannya bergerak dengan cepat menebas leher musuh tanpa ampun.

“Ini yang dinamakan pertarungan jarak dekat,” ucapnya sambil menatap mereka dengan sombong.

Setelah selesai, ia berjalan santai mengambil alat komunikasi yang tadi dilemparnya.

“Roy … apa disana aman?”

“B-boss? Syukurlah kau masih hidup.” Terdengar suara rengekan dibalik alat komunikasi itu.

“Disini kami semua baik – baik saja, bantuan datang tepat waktu.”

“Bagus kalau begitu.” Wanita itu menyalakan rokok lalu menghisapnya perlahan.

“Kembali ke markas.”

“Baik Boss.”

“Ugh.” Terdengar suara rintihan lemah dari belakang.

Ia berbalik dan melihat salah satu pria yang ditebasnya tadi ternyata masih bergerak.

“L-loria … kau pasti a-kan ma-ti.” Setelah mengatakan itu, pria tersebut tidak sadarkan diri.

Loria mengambil rokok dari mulutnya dengan kedua jari, lalu Berjalan mendekati pria itu dan berjongkok untuk memastikan ia benar – benar mati.

Psssst. Rokok yang masih menyala itu, ia tempelkan ke kulit pria tersebut.

“Mayor … kau telah kalah,” ucapnya dingin.

Mayor adalah pemimpin dari grup Elang, mereka sudah menjadi musuh sejak lama. Kali ini mereka memperebutkan sebuah koper rahasia. Siapapun yang bisa mendapatkan koper itu, maka akan mendapatkan bayaran yang fantastis.

Loria sendiri adalah pemimpin grup Phoenix, dimana grup itu adalah grup pembunuh bayaran terkuat di dunia. Tidak ada grup yang bisa menandingi grup yang berada di bawah naungan Loria.

“Saatnya Kembali ke markas.” Loria berdiri dan membersihkan tangannya.

Hembusan angin malam sangat dingin. Melewati gang yang gelap, Loria yang berjalan dibantu dengan Cahaya bulan hingga akhirnya tiba di markas Phoenix.

Diluar bangunan terlihat sunyi, tetapi suasananya berubah ramai saat ia masuk kedalam.

“Boss kembali!!” teriak Roy.

Roy adalah tangan kanan Loria.

Begitu mendengar teriakan Roy, semua anggota yang berada didalam langsung berdiri dan memberi hormat kepada Loria.

“Dimana barangnya?” tanya Loria.

Roy menyerahkan sebuah koper berwarna perak.

“Bagus … simpan ini ditempat rahasia kita.”

“Baik.” Roy segera menyimpan koper itu.

Loria berdiri dan melambaikan tangannya dengan malas. “Kalian berpestalah .. aku tidak akan menemani kalian.”

Tanpa menunggu jawaban, ia pergi meninggalkan aula dan berjalan menuju ruang pribadinya untuk beristirahat.

TOK … TOK … TOK …

Terdengar suara ketukan pintu.

“Boss …” Roy masuk kedalam dengan membawa obat – obatan.

“Terimakasih.” Loria mengambil obat – obatan itu lalu mulai membersihkan lukanya sendiri.

Roy menatap tubuh bossnya yang dipenuhi luka. pemandangan seperti ini sudah biasa bagi mereka. tetapi tetap saja sebagai anak buah, mereka tidak ingin Boss terluka sama sekali.

“Apa yang kau lakukan? Kau boleh pergi.” Loria tidak suka memperlihatkan sisi lemahnya kepada siapapun.

“Ehm … Boss.”

“Hm?”

“Aku menemukan cerita novel yang bagus.”

“Nama Boss ada didalam cerita ini.” Roy menyerahkan Novel itu kepada Loria.

Loria hanya meliriknya. “Tidak berguna.”

“Kalau begitu aku permisi dulu Boss.”

Roy segera pergi meninggalkan novel itu di atas meja.

Loria melanjutkan membalut lukanya dan mengabaikan novel yang di bawa oleh Roy.

Setelah luka di obati dan dibalut, Loria berbaring sebentar di sofa.

“Ugh … aku tidak bisa tidur.”

Loria duduk dan melihat novel yang ada diatas meja.

“Tidak ada salahnya mencoba.”

Mengambil novel itu dan membacanya dengan harapan bisa tertidur saat membaca novel.

“Apa – apaan ini?!” namaku hanya digunakan sebagai tokoh antagonis yang sial itu?!!

Loria berakhir membaca novel itu sampai pagi. Ia memiliki kemampuan untuk membaca cepat karena daya ingatnya yang kuat.

“Siapa yang membuat novel ini? Apa dia musuhku?!!”

Loria tidak bisa menerimanya dan melempar novel yang telah ia baca sampai pagi ke atas meja.

“Aku harus menyuruh Roy untuk mengurangi membaca novel yang seperti ini.”

BUK. Semua orang yang berada diluar terkejut mendengar hempasan pintu.

Mereka melihat boss mereka keluar dengan kantung hitam dibawah matanya.

Apa boss tidak bisa tidur?

“Boss … silahkan sarapan.” Roy menyiapkan kursi untuk Loria.

“Kurangi membaca novel yang seperti itu.” Loria menatap Roy dengan tajam.

Roy sedikit bergidik.

“Y-ya … aku akan menguranginya.”

TIT … TIT … TIT …

Terdengar suara yang tidak asing.

Mereka semua saling tatap.

Loria segera berdiri dan berteriak. “Keluar semua sekarang dari markas!!!”

Para anggota segera berlari keluar.

“Boss anda mau kemana?!!” mereka berhenti Ketika melihat Loria masuk kedalam.

“Aku harus mencari sumbernya.” Selagi masih ada waktu, aku bisa menghentikan bom ini.

“Kami tidak akan pergi.”

“Kalian-“

“Boss … koper ini … koper ini berisi Bom!!” Roy memegang koper itu dan membawanya kedalam.

Tadi malam Loria sama sekali tidak mendengar atau mencium bau bom dari dalam koper ini.

“Sial kita tertipu!!”

Ia segera membuka koper itu dan melihat rakitan rumit serta waktu yang terus berjalan dengan cepat.

“Keluar dari sini!!”

Loria mendorong semua anggota untuk keluar. Melihat waktu yang ada di bom itu, tidak memungkinkan untuk menghentikan ledakan.

Saat Loria hendak berlari, tangannya ditahan oleh Roy.

“Roy?”

Roy tersenyum melihat Loria.

“Boss … kau akan berakhir disini bersamaku,” ucapnya sambil memperlihatkan gelang yang ada ditangannya.

Loria melebarkan matanya.

“Kau?!!”

TIT … TIT … TIIIT…

BUUUUMM.

Bom meledak dan Cahaya merah memenuhi ruangan.

Loria dan Roy terlempar keras. Ia terhimpit bangunan yang roboh.

Loria batuk dan darah keluar dari kepalanya.

Untung saja tubuhku tidak hancur.

Ia melihat Roy yang sudah tidak sadarkan diri.

“Bajingan,” ucap Loria dengan lemah sambil menatap Roy dan perlahan pandangannya menjadi gelap.

NGIIIIING. Loria terbangun, kepalanya terasa berdenging.

Ia menemukan dirinya duduk dilantai yang dingin.

Memegang kepalanya, ia merasakan darah mengalir.

“Anak yang tumbuh di jalanan memang berbeda."

"Hei.. apa kau medengarku?!!" teriak seseorang.

Siapa itu?

Loria masih sedikit linglung.

Melihat sekeliling, ia merasa tempat ini asing baginya.

Loria memegang tubuhnya.

Mengapa badanku terasa sakit semua?

Expandir
Próximo capítulo
Baixar

Último capítulo

Mais capítulos

Para os leitores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sem comentários
5 Capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status