LOGINKeina sudah di rumah sejak jam dua belas siang. Setelah dari kantor Prominent, dia mampir ke minimarket dekat kompleks, membeli beberapa bahan masakan dan satu cup puding coklat yang tidak ada di list belanjaan tapi terlalu sayang untuk dilewatkan. Semacam hadiah kecil untuk dirinya sendiri atas interview yang tadi tidak seburuk yang dia bayangkan.Sampai di rumah, dia berganti baju, meletakkan blazer hitamnya dengan rapi di gantungan, lalu berdiri di dapur dengan celemek terikat di pinggang, membuka kulkas, dan menatap isinya dengan ekspresi orang yang baru menyadari bahwa semangat memasak dan kemampuan memasak adalah dua hal yang berbeda.Ayam. Tahu. Telur. Bumbu.Oke. Ayam kecap. Aku pernah liat tutorialnya dua kali.Keina menghidupkan kompor.***Kahfi pulang pukul setengah tujuh kurang lima menit.Begitu pintu dibuka, hal pertama yang menyambutnya adalah aroma masakan yang menguar dari dapur, bukan bau gosong, bukan bau minyak yang terlalu dominan, tapi aroma yang cukup membuat p
Hari ini Kahfi berangkat lebih dulu seperti biasanya. Sebelum pergi, dia berhenti di depan pintu, menatap Keina yang masih sibuk memasukkan dokumen ke dalam map dengan tangan yang sedikit gemetar. Ya, ini adalah hari dimana Keina akan melakukan interview di kantor Kahfi.“Na.”“Iya, Mas?” Keina mendongak.“Interview jam sepuluh, ya. Jangan sampai telat, datang lima belas menit sebelumnya.” Kahfi berkata dengan nada yang sama seperti biasa, tapi ada sesuatu di matanya yang tidak bisa Keina namai. “Dan satu lagi.”“Apa?”“Kalau sudah di dalam ruangan, jangan terlalu banyak bilang aku rasa atau mungkin. Bicara yang pasti.” Kahfi mengetuk kusen pintu dua kali sebelum berbalik. “Kamu bisa, Na. Semangat, ya.” Kata-kata terakhir itu dia ucapkan ringan saja — seperti fakta yang tidak perlu diperdebatkan.Keina menatap punggungnya sampai menghilang di balik pintu.Lalu menarik napas dalam.“Oke. Aku bisa.”***Gedung Prominent Corp terlihat lebih besar dari yang Keina bayangkan.Atau mungkin
Keina tidak langsung tidur malam itu.Dia berbaring di sisi kanannya, menatap dinding, mendengar napas Kahfi yang sudah teratur di sebelahnya. Pikirannya masih berputar mempertimbangkan, menimbang, mundur selangkah lalu maju dua langkah.Kerja di kantor Kahfi.Bukan ide yang tidak menarik. Justru sebaliknya, terlalu menarik sampai Keina tidak yakin dirinya layak untuk itu. Divisi kreatif, sekretaris, apapun itu, semua terdengar seperti dunia yang pernah dia bayangkan tapi tidak pernah benar-benar dia masuki.Lulus kuliah, rencana Keina berantakan berbarengan dengan hubungannya bersama Dirga yang juga berantakan. Tidak ada waktu untuk memikirkan karir ketika hidupnya sendiri sedang berjalan ke arah yang salah. Dan sebelum dia sempat meluruskan semuanya dia sudah berdiri di sini. Surabaya. Tapi mungkin sekarang waktunya. Besok. Dia akan jawab besok.***Pagi harinya, Kahfi baru selesai merapikan kerah kemejanya ketika Keina muncul dari arah dapur dengan dua cangkir teh di tangannya.“M
Hari itu langit Surabaya cerah tanpa awan. Jenis cuaca yang harusnya bikin semangat tapi Keina sudah duduk di sofa sejak jam sembilan pagi, memeluk bantal, menatap layar TV yang menyala tanpa benar-benar menonton apapun yang tayang di sana.Sudah selesai masak. Sudah beres-beres. Sudah lipat cucian.Dan sekarang baru jam sepuluh lewat dua puluh menit.Keina menggeser posisi duduknya, telentang, menatap langit-langit kamar. Pikirannya kosong dengan cara yang tidak menyenangkan bukan ketenangan, tapi kejenuhan yang mengendap pelan-pelan seperti air yang mengisi bak mandi terlalu lambat. Tidak terasa sampai tiba-tiba sudah penuh.Dia mengambil ponselnya. Membuka aplikasi ini, menutup aplikasi itu. Scroll tanpa tujuan. Meletakkan ponsel. Mengambilnya lagi.Dering telepon memecah kejenuhan itu tepat sebelum jam sebelas.Keina menatap layar ponselnya. Nama Miska berkedip-kedip dengan semangat yang bahkan bisa Keina rasakan hanya dari notifikasinya.Dia mengangkat telepon sebelum dering keti
Subuh masih gelap ketika Kahfi membuka matanya. Alarm belum berbunyi, tapi tubuhnya sudah terbiasa bangun di jam yang sama setiap harinya, seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang tidak mau melewatkan waktu ini barang sehari pun. Dia melirik ke sisi kanan ranjang. Keina masih tidur, rambutnya tergerai berantakan di atas bantal, napasnya naik turun dengan teratur.Kahfi mengalihkan pandangan cepat-cepat.Dia bangkit dari ranjang dengan hati-hati, memastikan gerakannya tidak membangunkan istrinya, lalu mengambil wudhu di wastafel luar. Beberapa menit kemudian dia sudah berdiri di atas sajadah menghadap kiblat, melepaskan semua yang menggantung di dadanya sejak semalam ke dalam doa yang hanya bisa didengar oleh Yang Maha Mendengar.Karena ada banyak hal yang tidak bisa Kahfi katakan dengan suara.Tentang Keina yang kemarin pergi tanpa memberitahunya. Tentang nama Dirga yang disebut dengan nada yang berbeda dari nada biasa. Tentang perasaan yang tumbuh di dadanya sendiri, perasaan yang se
Pesan itu masuk pukul setengah sepuluh pagi.Keina sedang menyiram tanaman kecil di jendela dapur ketika ponselnya bergetar di atas meja. Satu notifikasi. Nama yang sudah lama tidak muncul di layarnya.Dirga Ananta.Jari Keina berhenti bergerak.Dia meletakkan botol semprot pelan-pelan, mengambil ponsel, dan membaca pesan itu dengan nafas yang tiba-tiba terasa lebih berat dari biasanya.“Kei, aku tau ini gak tepat. Tapi aku perlu ketemu kamu sekali lagi. Tolong.”Keina meletakkan ponsel menghadap bawah di atas meja.Satu menit.Dua menit.Lalu dia membaliknya lagi dan membaca pesan itu untuk kedua kalinya, seolah maknanya akan berubah jika dibaca ulang. Tapi tidak. Kata-katanya tetap sama. Dan perasaan yang muncul di dadanya pun terasa campur aduk dengan cara yang tidak dia sukai.Bukan rindu. Bukan juga benci sepenuhnya.Tapi ada sesuatu, mungkin rasa penasaran, mungkin sisa luka lama yang belum benar-benar sembuh, yang membuat jarinya bergerak sebelum pikirannya sempat melarang.“Ak
Waktu berlalu dengan begitu cepat, tak terasa sudah satu bulan lamanya Savian berbagi flat dengan Carla. Sesuai perjanjian yang mereka sepakati, Savian akan pergi hari ini. Tapi, setelah semua yang terjadi antara dirinya dengan Carla, apakah Carla akan tetap membiarkannya pergi? Savian men
Tiga jam berlalu sejak ciuman singkat itu terjadi, tetapi Carla masih gelisah dan tidak bisa berhenti memikirkannya. Gadis itu berdiri di tepi jendela kamar, memegangi bibirnya yang habis lepas kesucian. Luar biasaaaa, Carla tidak tahu apakah ini sebuah keberuntungan atau kesalahan untu
"Apa... pelukan?!" Suara Misel naik satu oktaf, keterkejutannya tidak bisa ia sembunyikan saat mendengar apa yang Carla katakan. "Kok bisa?" Misel tidak percaya. Berhubung pagi ini Carla tidak ada kelas, dan akan seharian di dalam flat tanpa kegiatan apapun selain menge
"Aku sudah bosen ketemu bapak di flat, masa di kampus harus ketemu terus juga sih, pak!" keluh Carla bersamaan dengan ia mendaratkan bokongnya di kursi sebrang meja kerja Savian. Meskipun terbilang dosen baru, tapi hebatnya Savian memiliki ruang kerja sendiri. Bahkan dosen yang lebih la







