Share

BAB 3

Author: VityGether
last update Last Updated: 2024-03-07 18:05:46

"Ada apa ini?" Dokter itu menatap sambil mengernyit. "Kenapa kalian?" tanyanya lagi sambil menunjuk dua suster yang masih tak bisa berkata-kata.

Ardi menggelengkan kepala untuk memusatkan pikirannya kembali. Dia sendiri juga kebingungan. Namun, yang terpenting ibunya selamat.

"Dokter. Ya, kamu dokter yang barusan dihubungi?" tanya Ardi. Dokter itu menganggukkan kepala dan masih tidak mengerti.

"Maafkan saya, Dokter," ucap salah satu suster. "Tadi Dokter datang dan kami melakukan operasi. Tapi, kenapa dokter mengatakan baru datang?"

"Hei, aku memang baru datang. Bagaimana mungkin aku bisa datang setelah kau menghubungiku? Rumahku lumayan jauh. Cepat katakan. Ada apa ini?"

"Ya, seperti yang dia katakan," sela Ardi. Dia mendekati dokter itu yang masih kebingungan. "Anda datang dan melakukan operasi."

Dokter itu terdiam kaku. Dia tidak bisa menerima ini.

"Dokter gadungan sudah menggantikan aku. Dia tak mungkin melarikan diri bukan?" Dokter itu meninggalkan Ardi bersama dua suster yang masih panik. "Cepat periksa cctv. Kenapa kalian ceroboh?!" teriaknya keras sambil berlalu.

Ardi mengusap wajahnya yang berkeringat. "Kenapa rumah sakit terbaik bisa kecolongan?" Perasaannya bercampur aduk. Di operasi dokter gadungan tentu saja membahayakan nyawa ibunya. Namun, jika dokter itu terlambat datang, nyawa ibunya juga terancam. Ardi memilih tidak memperbesar masalah ini. Yang penting nyawa ibunya selamat.

Dia membalikkan tubuhnya dan, "argh! Midas, kau menumpahkan kopi itu." Ardi menepuk-nepuk kemejanya yang kini berwarna hitam. 

"Maafkan. Aku tidak sengaja." Midas segera mengambil tisu di sebelah kursi penunggu kemudian mengusap kemeja Ardi.

"Ke mana saja kau?" Ardi heran melihat Midas yang tiba-tiba datang.

"Aku hanya membeli kopi."

"Membeli kopi saja sangat lama. Sudahlah, aku akan masuk ke dalam kamar dan memeriksa Ibu. Kau pulang dan ambilkan kemeja baru untukku."

Midas menatap Ardi yang segera masuk ke dalam kamar. Midas perlahan menatap Nyonya dari jendela. Dia tersenyum dan sedikit mengingat saat wanita itu menemukannya di jalanan. Tergeletak tak berdaya karena lapar setelah keluar dari penjara.

"Dasar tidak berguna!" Brian menarik Midas dan menamparnya keras.

PLAK!!

"Kenapa kau tidak membangunkanku? Kau sengaja membuatku terlihat bodoh di hadapan ibuku!" Tangannya menarik kerah kemeja Midas dan menatap tajam.

"Ibu harus dibawa segera. Kau mabuk. Bagaimana bisa, seseorang pecandu alkohol mengoperasi pasien?" balas Midas pelan dengan pandangan tajam.

"Oh, jadi kau sekarang berani?!"

"Hentikan!" Ardi menarik kemeja Brian. Dia segera keluar kamar setelah tahu Brian akan menghajar Midas. "Kau seharusnya malu. Sekarang masuk dan periksa Ibu. Biarkan Midas pulang dan mengambil bajuku."

Brian masih saja emosi. Dia sendiri tidak akan memaafkan dirinya jika terjadi sesuatu kepada ibunya. Kemarahan itu tentu saja akan dia lampiaskan kepada Midas.

"Ckk. Aku sangat kesal. Brian selalu saja membuatmu seperti itu. Sekarang pulang saja." Ardi menepuk pundak Midas dua kali, lalu pergi.

Midas mulai meninggalkan kamar. Dia menuju taman dan ingin duduk sejenak. Kakinya terus melangkah, menikmati pemandangan semua bunga di sana. Dia masih tak percaya sang ayah bisa membangun rumah sakit itu dengan indah. Lalu, kenapa Clara mengatakan kondisinya tidak baik?

Selama ini Midas tidak mengerti kenapa sang ayah menyembunyikan identitas sebagai pemilik dua rumah sakit terbaik di kota. Selalu menekankan kepadanya untuk diam dan merahasiakan. Semua kekayaan itu, dipercayakan kepada Clara, asisten yang juga diangkatnya menjadi anak. Gadis jenius yang di sekolahkan ayah Midas.

"Aku tahu Anda pasti akan kembali."

Midas langsung menolehkan pandangan ke belakang. "Clara?" Dia berdiri dan menarik wanita itu menuju tempat sepi. Midas mengedarkan pandangan ke semua arah, memastikan tidak ada yang melihatnya.

"Clara. Aku tidak mau identitasku terbongkar. Apa kau mengerti."

"Aku yang menyelamatkan kamu hari ini, Dokter gadungan," ucap Clara dengan serius. "Diam-diam mengambil baju dokter dan menipu semua orang. Untung saja cctv segera aku hapus. Kau berhutang budi kepadaku." 

"Apa maumu?" Midas semakin menatap tajam Clara.

"Periksalah ini." Clara menyodorkan satu amplop cokelat. "Di sana, Dokter akan melihat sesuatu. Mengingatkanmu kepada seseorang."

Midas segera menerima amplop itu dan mengambil isinya. Seketika dia meremas foto itu.

"Aku melihat dia melakukannya. Ya, dia orang yang sudah membuatku menderita!" teriak Midas keras.

"Masuk ke rumah sakit ini dan jadilah dokter hebat. Dokter akan menemukan dia." Perkataan Clara membuat Midas terkejut. "Apa kau tahu, ayahmu memiliki kekayaan lain selain ini? Peninggalan kakekmu. Dokter Midas, kekayaanmu tidak habis tujuh turunan. Kau ... sangat kaya dan itu semua milikmu. Hanya saja ...."

Midas mengernyit. Mendekati Clara dan bertanya, "Kenapa? Hei, lanjutkan Clara."

"Sebuah rahasia yang dipegang ayahmu, hanya kau yang mengetahuinya bukan? Rahasia itu incaran semua orang dan alasan kenapa kau di penjara."

Clara mendekati Midas dan memeluknya erat.

"Aku merindukanmu, Kak. Bagaimana pun kita ini saudara." Clara melepaskan pelukannya. Dia memandang Midas dengan tersenyum. "Kembalilah dua hari lagi. Aku akan mengatur semuanya."

"Siapa kepala direktur rumah sakit ini?" Midas berkacak pinggang melihat Clara tertawa.

"Tentu saja aku. Siapa lagi." Clara semakin mendekati Midas. Menatap sangat serius. "Kepala sebelumnya pengkhianat," lanjutnya lalu menarik napas panjang. Midas segera menjauh. Dia tidak mau tahu apa pun masa lalu rahasia itu. Tuduhan mengerikan itu cukup membuat dia menderita. Kali ini dia ingin hidup tenang.

"Aku tidak akan datang," balas Midas lalu pergi dan berjalan dengan terburu-buru.

"Kau akan datang," gumam Clara lalu menghubungi seseorang. "Lakukan di depan rumah sakit."

**

"Lihatlah. Siapa yang datang?"

Langkah Midas mendadak berhenti. Dia sangat sial bertemu Tomi dan Mita di depan rumah sakit.

"Apa yang dilakukan gembel di sini?" Tomi mendekati Midas dan memukulnya. "Apa kau lupa perkataanku? Jangan pernah muncul di hadapanku."

"Hentikan Tomi," cegah Mita.

"Jadi kau membelanya?" Tomi semakin menghajar Midas.

Mita menahan tangan Tomi yang terus memukul wajah Midas hingga lebam. Apalagi ada satpam yang mendekati mereka.

"Baguslah, kalian datang. Dia penjahat dan usir saja," pinta Tomi sambil meremas jemari kanannya yang terasa nyilu akibat pukulannya.

"Kau ... yang memalukan." Midas semakin mengejutkan Tomi. Dia mengusap ujung bibirnya yang berdarah dengan tertawa.

"Beraninya kau mengatakan itu!"

Tangan Tomi kembali terulur untuk melayangkan pukulannya kembali. Dengan sigap Midas menahannya.

"Kau tidak akan pernah mengalahkanku, Tomi," ucap Midas pelan dengan terkekeh pelan. Dia masih menahan tangan Tomi.

"Keparat. Kau miskin dan gembel. Dengan mudah aku bisa mengalahkanmu."

"Bagaimana jika tidak?"

Tomi tertawa semakin keras. Midas pun melepaskan cengkeramannya.

"Aku akan mencium kakimu," balas Tomi semakin tertawa keras.

"Semoga kau ingat perkataanmu itu."

BRAK!!

"Kepala Direktur kecelakaan!" Tiba-tiba, beberapa suster berlari sambil berteriak panik.

"Clara?" ucap Midas dengan sangat panik.

Mita bergeming kaku. Kenapa Midas mengenal Kepala Direktur?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Dahsyat Dokter Midas   BAB 69

    Midas tidak berhenti. Setelah keajaiban pertama terjadi, ia kembali bergerak dari satu ranjang ke ranjang lain dengan ketenangan yang hampir menakutkan. Tangannya dingin namun pasti, jemarinya menekan titik nadi, menyesuaikan infus, memeriksa pupil mata, mendengarkan paru-paru. Tidak ada satu kata pun keluar dari bibirnya. Semua tindakannya berbicara sendiri.Setiap pasien yang disentuhnya menunjukkan perubahan nyata. Napas menjadi dalam dan teratur. Denyut jantung stabil. Warna kebiruan yang tadi membuat semua orang putus asa perlahan menghilang, digantikan rona segar yang mustahil disangkal. Beberapa pasien bahkan sudah mampu menggerakkan jari, menoleh, dan bertanya dengan suara lemah.Alma berdiri kaku di sudut ruangan. Wajahnya pucat, matanya kosong. Semua teori, semua ramuan, semua ambisi yang ia banggakan runtuh di depan matanya sendiri. Ia ingin bicara, ingin membantah, namun tenggorokannya terkunci. Tidak ada satupun alasan yang bisa ia ucapkan saat kenyataan menamparnya begit

  • Sentuhan Dahsyat Dokter Midas   BAB 68

    Alma berdiri terpaku di depan deretan ranjang pasien. Monitor jantung berbunyi ritmis, namun baginya suara itu terdengar seperti hitungan mundur yang kejam. Wajah-wajah pucat terbaring tak berdaya, napas mereka bergantung pada alat dan keputusan yang pernah ia buat dengan penuh ambisi. Untuk pertama kalinya, Alma tidak merasa sebagai legenda, hanya seorang dokter yang kehabisan jawaban.Pintu terbuka pelan.Seorang suster masuk dengan langkah ragu. “Dokter Alma…,” suaranya bergetar. “Midas sudah datang. Bersama dokter Mita, Brian, Tomi, Jian, dan Ardi. Mereka berada di depan gerbang, tapi masih dihadang pengawal Tuan Akimoto.”Alma memejamkan mata. Dadanya naik turun, menahan sesak yang menekan tenggorokan. Nama itu… Midas yang kembali mengoyak harga dirinya, namun juga membawa harapan terakhir yang tidak ingin ia akui.Ia membuka mata perlahan.“Izinkan mereka masuk,” ucapnya dengan suara berat, seolah setiap kata ditarik dari dasar jiwanya. “Sekarang.”Suster itu terkejut. “Tapi… pe

  • Sentuhan Dahsyat Dokter Midas   BAB 67

    Alma masih duduk membeku di kamarnya, lampu redup menyorot wajahnya yang pucat dan tegang. Kedua tangannya terkatup kuat, kuku-kukunya menekan telapak hingga memerah, seolah rasa sakit fisik itu satu-satunya cara menahan pikirannya yang berantakan. Napasnya memburu, dadanya naik turun tak beraturan.“TIDAAAK…!” teriaknya tiba-tiba, memecah keheningan. “MIDAS!”Namanya meluncur dari bibir Alma seperti sumpah serapah. Ia berdiri mendadak, meraih vas di meja dan membantingnya ke lantai. Kaca pecah berserakan, namun amarahnya belum surut. Buku, dokumen, bingkai foto—semuanya dilempar tanpa arah. Kamarnya berubah menjadi medan perang kecil, cermin dari pikirannya yang hancur.“Aku ingin jadi yang paling hebat,” gumamnya parau. “Dokter paling hebat… bukan bayangan siapa pun.”Namun kalimat itu berakhir pahit. Ia tertawa singkat, getir. Semua usahanya runtuh. Ramuan gagal. Pasien mati. Dunia mulai meragukannya. Dan Midas—lelaki yang selalu menjadi bayang-bayang—kini berdiri jauh di atasnya.

  • Sentuhan Dahsyat Dokter Midas   BAB 66

    Midas akhirnya menegakkan tubuhnya dari meja laboratorium. Wajahnya pucat, sorot matanya lelah, namun tetap tenang. Ia menatap kamera terakhir yang masih menyala dan berkata dengan suara datar namun tegas, “Ramuan hampir selesai. Aku membutuhkan waktu untuk beristirahat. Siaran ini dihentikan sampai tahap akhir.”Lampu indikator padam satu per satu. Live resmi ditutup, menyisakan keheningan yang terasa berat di ruangan itu.Begitu kamera mati, bahu Midas sedikit merosot, seolah seluruh beban dunia baru saja menekannya sekaligus. Saat itulah Mita melangkah cepat menghampirinya. Tanpa ragu, ia memeluk Midas erat, menempelkan wajahnya di dada lelaki itu.“Kamu tidak sendirian,” bisik Mita lirih, suaranya bergetar menahan cemas. “Apa pun yang terjadi… aku di sini. Selalu.”Midas terdiam beberapa detik, lalu perlahan mengangkat tangannya dan membalas pelukan itu. Hangat. Nyata. Sesuatu yang selama ini jarang ia rasakan.“Aku tahu tekanannya besar,” lanjut Mita sambil menatapnya, matanya be

  • Sentuhan Dahsyat Dokter Midas   BAB 65

    Midas berdiri mematung di tengah laboratorium. Lampu putih memantul di permukaan baja, menciptakan kilau dingin yang menegaskan keheningan. Di balik dinding kaca, kamera siaran langsung menyorot setiap sudut ruangan. Jutaan mata menatapnya, menunggu, menuntut, menghakimi.Perkataan Toshiro bergaung di kepalanya seperti gema tak berujung. Jangan tunjukkan semua rahasia itu ke publik.Tak seorang pun berani berbicara. Tomi menahan napas. Jian menggenggam tepi meja hingga buku jarinya memucat. Brian dan Ardi berdiri kaku, seolah satu gerakan saja bisa memicu bencana. Mita menatap punggung Midas, jantungnya berdetak terlalu cepat untuk ditenangkan.Beberapa menit berlalu, terasa seperti jam. Lalu, Midas tersenyum.Senyum kecil, tenang, yang membuat bulu kuduk siapa pun berdiri. Ia melangkah maju, menatap deretan bahan yang telah ia pesan, yaitu cairan bening berlabel kode, serbuk mineral mikroskopis, larutan penetral, dan ampul-ampul steril yang tersusun simetris. Tangannya bergerak cekat

  • Sentuhan Dahsyat Dokter Midas   BAB 64

    Alma masih berdiri membeku di tengah kerumunan. Bibirnya terkunci, pandangannya kosong, seolah semua suara telah menjauh. Hingga langkah sepatu kulit yang tegas memecah kebisuan.Akimoto muncul.Kehadirannya langsung mengubah atmosfer. Para wartawan terdiam sejenak, lalu gemuruh pertanyaan kembali membanjir lebih ganas. Namun Akimoto mengangkat tangan, satu gerakan sederhana yang memaksa semua orang menahan napas.Kerumunan wartawan kembali bergejolak saat Akimoto berhenti di depan pintu utama rumah sakit. Kilatan kamera menyambar tanpa ampun, mikrofon hampir menempel ke wajahnya.“Tuan Akimoto!”“Benarkah virus J Blood berasal dari negara J?”“Jika negara J aman dan bersih, kenapa virus mematikan ini justru menyebar ke luar negeri?”Akimoto berhenti melangkah. Tatapannya dingin, menusuk, membuat beberapa wartawan refleks menelan ludah.“Apakah Anda menyangkal keterlibatan pemerintah negara J dalam pengembangan virus ini?” salah satu wartawan berani bertanya.Belum sempat Akimoto menj

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status