Share

BAB 2

Author: VityGether
last update Last Updated: 2024-03-07 18:05:30

Midas melirik si wanita yang biasa dia panggil Clara. Sangat tidak asing baginya. Sudah sangat lama dia meninggalkan masa lalunya dan lebih memilih menjadi lelaki rendahan untuk bertahan hidup.

"Untuk apa kau kembali? Pergi saja," balas Midas singkat dengan ekspresi dingin.

Wanita itu menatap Midas. Matanya sangat tidak tenang. Dia tahu apa yang dialami Midas. Namun, dia juga harus melakukan tugasnya.

"Dokter Midas. Saya tahu penderitaan Dokter. Justru saya ke sini ingin menyelamatkan Dokter--"

"Diam!!" teriak Midas keras. Clara pun spontan membungkam ucapannya.

Midas mendekatinya, kemudian memegang kedua pundak wanita itu. Dia menunjukkan tatapan yang dingin. Tersirat dendam di sana.

"Kalian sudah membuat aku menjadi manusia paling biadap di bumi ini. Sekarang, ingin aku kembali? Untuk apa?!" Midas melepaskan tangannya dengan kasar, lalu mengentakkan keras. "Pergilah, dan biarkan aku menjalani hidupku sendiri."

"Baiklah ...," balas Clara. Dia mendekati Midas, "aku tahu siapa yang membuatmu seperti ini. Jika Dokter berubah pikiran, hubungi aku." Dia menyodorkan satu kartu hitam kepada Midas, "gunakan ini untuk memenuhi kebutuhan hidupmu, Dokter. Lalu, ini ponsel baru untukmu. Hubungi aku kalau Anda berubah pikiran."

Sangat bodoh jika Midas tidak menerimanya. Dia menggertakkan giginya dan menatap wanita itu dengan dingin.

"Aku sudah bekerja sangat lama di keluarga Leonidas. Almarhum ayahmu meminta aku menjagamu." Clara berdiri tepat di hadapan Midas dan mendongak. Tingginya hanya sebatas pundak Midas. Dia berkata, "kondisi International Hospital sangat tidak baik. Jika Dokter kembali, itu bisa memperbaiki keadaan. Apalagi ... semua rahasia itu akan Dokter pecahkan di sana."

Clara menundukkan kepala, lalu pergi dari sana. Wanita itu asisten ayah Midas saat hidup. Dia menghilang saat Midas harus mengalami tuduhan luar biasa dan mendekam di penjara. Hingga saat ini Clara kembali muncul dengan sangat mengejutkan.

"Siapa yang membebaskanku?!" teriak Midas menghentikan langkah Clara. "Seharusnya aku mendapat hukuman seumur hidup, dengan tuduhan membunuh ayahku sendiri. Tapi, tiga tahun saja aku terbebas."

"Jika Dokter kembali, pasti Anda akan mengetahuinya." Clara kembali menundukkan kepala dan masuk ke dalam mobil, disusul beberapa pria di belakangnya. Midas hanya terdiam sambil mengamatinya berlalu.

Midas menggelengkan kepala dan kembali berjalan. Dia tidak mau Brian marah dan menunggunya terlalu lama. Dia bergegas masuk, tetapi tiba-tiba sepasang pria dan wanita berada di hadapannya.

Wanita itu menatap tak tenang. Bibirnya bergetar, ingin mengatakan sesuatu yang ditahan. Hingga pandangannya mendadak menoleh ke samping, berpura-pura tidak melihat Midas.

"Mita?"

Midas benar-benar terkejut. Mantan kekasihnya yang sudah dia tinggalkan begitu saja, kini ada di depan matanya?

Sementara itu, pria di sebelah Mita tidak senang melihat Midas. Dia adalah musuh Midas saat masih SMA. Pria populer yang bernama Tomi. Dia tidak menyukai Midas karena kalah pintar dari Midas.

"Hey, hentikan pandanganmu itu!" teriaknya sambil mendorong Midas. "Sangat mengejutkan sekali. Lelaki pembunuh yang sekarang menjadi gembel, berani melirik tunanganku? Dasar sampah!"

Wajah Mita memerah, sangat malu di hadapan Tomi, "kepalaku pusing. Aku mendadak tidak enak. Lebih baik kita pergi." Bagaimana tidak malu. Mita dulu selalu menolak Tomi dan lebih memilih Midas. Namun, setelah tahu Midas tiba-tiba menghilang selama bertahun-tahun, lalu kembali dan mendekam di penjara, Mita harus mengemis cinta Tomi demi keselamatan keluarganya yang terancam bangkrut. Tomi sangat kaya. Ayahnya wakil direktur rumah sakit International Hospital.

"Apanya yang tidak jadi? Jangan gara-gara gembel ini kita pergi, Mita!" Tomi menoleh dan menunjuk Midas yang menahan amarah.

Mita menggelengkan kepala dan dengan cepat menyangkal, "Bagaimana mungkin gara-gara dia? Aku sudah melupakan gembel ini! Kepala ku sakit."

"Kau sakit?" tanya Midas cemas.

"Hahaha. Mungkin kau pusing saat melihatnya." Tomi menampar pipi kanan Midas, "pergi saja kau. Hmm, apa kau tidak lihat siapa kami? Sekarang kami dokter pilihan di rumah sakit terbaik. Sedangkan kau ... menghilang begitu saja. Ternyata, kembali dengan menjadi pembunuh. Parahnya, sekarang kau gembel."

"Mita, kau sangat pucat." Midas tak peduli dengan perkataan Tomi. Dia mendekati mantan kekasihnya itu, "Kau harus diperiksa, Mita."

Tomi tertegun sejenak, kemudian menendang kaki Midas, "Beraninya kau menatap tunanganku? Apa kau mau mati?"

"Tomi, jangan berkelahi." Mita menghentikannya.

"Kenapa? Apa kau kasihan kepadanya?"

"Bagaimana mungkin aku kasihan!" tunjuk Mita ke arah Midas. "Aku hanya mau kita pergi. Untuk apa kita membuang waktu meladeni lelaki busuk seperti dia? Sangat miskin dan rendahan." Mita buru-buru membayar di kasir kemudian pergi dengan cepat.

"Midas, aku peringatkan padamu. Jauhi Mita. Kalau kau melihat kami, jangan menampakkan dirimu. Pergilah seperti maling. Jika tidak, aku akan memukulmu setiap kita bertemu." Sebelum pergi, Tomi mengancam Midas dengan kata-kata kasar.

Setelah mengambil pesanan Brian, Midas segera kembali. Tentu saja dia terlambat dan mendapatkan kemarahan Brian.

PLAK!

"Dari mana saja kamu?" Brian merebut pesanannya dari tangan Midas. "Enyahlah dari hadapanku. Jika tidak, aku akan menghajarmu!"

Midas bergegas pergi dari sana. Dia masuk ke dalam kamarnya dan membuang apa pun yang berada di hadapannya.

Dia tidak memikirkan kemarahan Brian. Namun, kedatangan Clara benar-benar membuatnya terkejut.

"Apa yang mereka inginkan sebenarnya?" gumam Midas sambil memandang kartu hitam yang mungkin berisi ratusan milyar. Sebuah kartu yang dulu sering digunakan ayahnya.

Dia teringat tentang semua penderitaannya selama ini. Masa itu dilalui dengan penuh penghinaan dan kemiskinan. Apalagi dia dituduh membunuh ayahnya sendiri.

"Ayah, bagaimana bisa aku mengalami ini?" gumamnya lalu menutup wajah dengan bantal.

Tanpa sadar, pagi menjelang. Teriakan pelayan membuatnya terbangun. Midas bergegas keluar kamar.

"Ada apa, Ardi?"

"Ibuku mendadak pingsan. Brian sangat mabuk. Kita akan membawanya ke rumah sakit."

Midas segera membantu Ardi. Dia menggendong Lupes dan memasukkannya ke dalam mobil. Midas duduk di belakang dan diam-diam memeriksa denyut nadi wanita itu.

Sudah sangat lama Lupes menderita penyakit jantung dan memasang empat ring untuk mencegah penyakit itu kambuh. Midas khawatir Lupes memakan sesuatu yang membuatnya seperti itu.

Sampai di rumah sakit, Midas mendampingi Lupes bersama Ardi menuju ruang dokter. Namun, hari terlalu pagi. Hanya ada dokter jaga.

"Ini rumah sakit terbaik. Kenapa dokter spesialis tidak ada!" teriak Ardi penuh amarah.

"Tuan, tenanglah. Saya sudah menghubungi Dokter terbaik kami. Dia sedang dalam perjalanan." Balas dokter jaga dengan gemetar. Dia tahu Lupes adalah wanita terpandang.

"Argh, aku bisa gila!" teriak Ardi sambil menatap ibunya yang kini bernapas menggunakan alat bantuan.

"Saya sudah datang. Kita harus mengoperasinya segera."

Dokter lelaki memakai baju kebesaran dokter dan masker di wajahnya, lalu memakai penutup rambut lewat terburu-buru. Semua dokter jaga dan beberapa suster sempat terkejut. Namun, mereka mengikuti dokter itu untuk menjalankan operasi.

Ardi semakin tidak mengerti. Beberapa menit lalu dokter itu baru saja dihubungi. Tapi kenapa langsung datang? Dia mengabaikan perasaannya dan menunggu cemas. Hingga satu jam lamanya, dokter itu keluar dan menundukkan kepala kepadanya.

"Operasi berhasil. Ibu Anda akan selamat," ucapnya lalu pergi begitu saja.

"Dokter, aku--"

Ardi menghela nafas pelan. Pandangannya teralihkan saat suster mendekatinya. "Tuan, syukurlah dokter datang tepat waktu. Nyonya sangat baik. Dokter dengan hebat melakukan operasi. Dokter kami memang yang terbaik. Anda tidak perlu khawatir."

Ardi menarik napas lega. Dia sangat bersyukur sekali, walaupun memang terlihat sangat aneh.

"Siapkan operasi. Maaf aku terlambat. Tadi jalanan macet."

Beberapa suster melotot tajam, dengan mulut terbuka lebar. Seorang dokter baru saja datang, berdiri di hadapan mereka. Mereka tidak menyangka hal ini akan terjadi. Ardi menunjuk kaku wajah dokter itu. Tangannya gemetar. Siapa yang tadi baru saja mengoperasi Ibunya, kalau dokter ini hendak mengoperasi Ibunya sekarang?

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
sari123yuliana
bagus ceritanya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sentuhan Dahsyat Dokter Midas   BAB 69

    Midas tidak berhenti. Setelah keajaiban pertama terjadi, ia kembali bergerak dari satu ranjang ke ranjang lain dengan ketenangan yang hampir menakutkan. Tangannya dingin namun pasti, jemarinya menekan titik nadi, menyesuaikan infus, memeriksa pupil mata, mendengarkan paru-paru. Tidak ada satu kata pun keluar dari bibirnya. Semua tindakannya berbicara sendiri.Setiap pasien yang disentuhnya menunjukkan perubahan nyata. Napas menjadi dalam dan teratur. Denyut jantung stabil. Warna kebiruan yang tadi membuat semua orang putus asa perlahan menghilang, digantikan rona segar yang mustahil disangkal. Beberapa pasien bahkan sudah mampu menggerakkan jari, menoleh, dan bertanya dengan suara lemah.Alma berdiri kaku di sudut ruangan. Wajahnya pucat, matanya kosong. Semua teori, semua ramuan, semua ambisi yang ia banggakan runtuh di depan matanya sendiri. Ia ingin bicara, ingin membantah, namun tenggorokannya terkunci. Tidak ada satupun alasan yang bisa ia ucapkan saat kenyataan menamparnya begit

  • Sentuhan Dahsyat Dokter Midas   BAB 68

    Alma berdiri terpaku di depan deretan ranjang pasien. Monitor jantung berbunyi ritmis, namun baginya suara itu terdengar seperti hitungan mundur yang kejam. Wajah-wajah pucat terbaring tak berdaya, napas mereka bergantung pada alat dan keputusan yang pernah ia buat dengan penuh ambisi. Untuk pertama kalinya, Alma tidak merasa sebagai legenda, hanya seorang dokter yang kehabisan jawaban.Pintu terbuka pelan.Seorang suster masuk dengan langkah ragu. “Dokter Alma…,” suaranya bergetar. “Midas sudah datang. Bersama dokter Mita, Brian, Tomi, Jian, dan Ardi. Mereka berada di depan gerbang, tapi masih dihadang pengawal Tuan Akimoto.”Alma memejamkan mata. Dadanya naik turun, menahan sesak yang menekan tenggorokan. Nama itu… Midas yang kembali mengoyak harga dirinya, namun juga membawa harapan terakhir yang tidak ingin ia akui.Ia membuka mata perlahan.“Izinkan mereka masuk,” ucapnya dengan suara berat, seolah setiap kata ditarik dari dasar jiwanya. “Sekarang.”Suster itu terkejut. “Tapi… pe

  • Sentuhan Dahsyat Dokter Midas   BAB 67

    Alma masih duduk membeku di kamarnya, lampu redup menyorot wajahnya yang pucat dan tegang. Kedua tangannya terkatup kuat, kuku-kukunya menekan telapak hingga memerah, seolah rasa sakit fisik itu satu-satunya cara menahan pikirannya yang berantakan. Napasnya memburu, dadanya naik turun tak beraturan.“TIDAAAK…!” teriaknya tiba-tiba, memecah keheningan. “MIDAS!”Namanya meluncur dari bibir Alma seperti sumpah serapah. Ia berdiri mendadak, meraih vas di meja dan membantingnya ke lantai. Kaca pecah berserakan, namun amarahnya belum surut. Buku, dokumen, bingkai foto—semuanya dilempar tanpa arah. Kamarnya berubah menjadi medan perang kecil, cermin dari pikirannya yang hancur.“Aku ingin jadi yang paling hebat,” gumamnya parau. “Dokter paling hebat… bukan bayangan siapa pun.”Namun kalimat itu berakhir pahit. Ia tertawa singkat, getir. Semua usahanya runtuh. Ramuan gagal. Pasien mati. Dunia mulai meragukannya. Dan Midas—lelaki yang selalu menjadi bayang-bayang—kini berdiri jauh di atasnya.

  • Sentuhan Dahsyat Dokter Midas   BAB 66

    Midas akhirnya menegakkan tubuhnya dari meja laboratorium. Wajahnya pucat, sorot matanya lelah, namun tetap tenang. Ia menatap kamera terakhir yang masih menyala dan berkata dengan suara datar namun tegas, “Ramuan hampir selesai. Aku membutuhkan waktu untuk beristirahat. Siaran ini dihentikan sampai tahap akhir.”Lampu indikator padam satu per satu. Live resmi ditutup, menyisakan keheningan yang terasa berat di ruangan itu.Begitu kamera mati, bahu Midas sedikit merosot, seolah seluruh beban dunia baru saja menekannya sekaligus. Saat itulah Mita melangkah cepat menghampirinya. Tanpa ragu, ia memeluk Midas erat, menempelkan wajahnya di dada lelaki itu.“Kamu tidak sendirian,” bisik Mita lirih, suaranya bergetar menahan cemas. “Apa pun yang terjadi… aku di sini. Selalu.”Midas terdiam beberapa detik, lalu perlahan mengangkat tangannya dan membalas pelukan itu. Hangat. Nyata. Sesuatu yang selama ini jarang ia rasakan.“Aku tahu tekanannya besar,” lanjut Mita sambil menatapnya, matanya be

  • Sentuhan Dahsyat Dokter Midas   BAB 65

    Midas berdiri mematung di tengah laboratorium. Lampu putih memantul di permukaan baja, menciptakan kilau dingin yang menegaskan keheningan. Di balik dinding kaca, kamera siaran langsung menyorot setiap sudut ruangan. Jutaan mata menatapnya, menunggu, menuntut, menghakimi.Perkataan Toshiro bergaung di kepalanya seperti gema tak berujung. Jangan tunjukkan semua rahasia itu ke publik.Tak seorang pun berani berbicara. Tomi menahan napas. Jian menggenggam tepi meja hingga buku jarinya memucat. Brian dan Ardi berdiri kaku, seolah satu gerakan saja bisa memicu bencana. Mita menatap punggung Midas, jantungnya berdetak terlalu cepat untuk ditenangkan.Beberapa menit berlalu, terasa seperti jam. Lalu, Midas tersenyum.Senyum kecil, tenang, yang membuat bulu kuduk siapa pun berdiri. Ia melangkah maju, menatap deretan bahan yang telah ia pesan, yaitu cairan bening berlabel kode, serbuk mineral mikroskopis, larutan penetral, dan ampul-ampul steril yang tersusun simetris. Tangannya bergerak cekat

  • Sentuhan Dahsyat Dokter Midas   BAB 64

    Alma masih berdiri membeku di tengah kerumunan. Bibirnya terkunci, pandangannya kosong, seolah semua suara telah menjauh. Hingga langkah sepatu kulit yang tegas memecah kebisuan.Akimoto muncul.Kehadirannya langsung mengubah atmosfer. Para wartawan terdiam sejenak, lalu gemuruh pertanyaan kembali membanjir lebih ganas. Namun Akimoto mengangkat tangan, satu gerakan sederhana yang memaksa semua orang menahan napas.Kerumunan wartawan kembali bergejolak saat Akimoto berhenti di depan pintu utama rumah sakit. Kilatan kamera menyambar tanpa ampun, mikrofon hampir menempel ke wajahnya.“Tuan Akimoto!”“Benarkah virus J Blood berasal dari negara J?”“Jika negara J aman dan bersih, kenapa virus mematikan ini justru menyebar ke luar negeri?”Akimoto berhenti melangkah. Tatapannya dingin, menusuk, membuat beberapa wartawan refleks menelan ludah.“Apakah Anda menyangkal keterlibatan pemerintah negara J dalam pengembangan virus ini?” salah satu wartawan berani bertanya.Belum sempat Akimoto menj

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status