Share

BAB 4

Author: VityGether
last update Last Updated: 2024-03-07 18:06:09

Mita semakin mengamati Midas. Lelaki itu terlihat sangat pucat saat Clara masuk dengan tubuh dipenuhi darah di atas brankar dorong.

'Clara, apa yang kau lakukan?'

Midas memegang kepalanya. Sangat panik. Dia mengikuti para dokter dan suster masuk ke dalam ruang operasi. Tentu saja dia tidak akan pernah masuk ke dalam, karena suster menahannya. Midas hanya bisa menunggu di luar dan bersembunyi.

"Kenapa kau?" tanya Mita mengejutkan Midas.

Mulut Midas masih tertutup rapat. Dia tidak akan pernah mengatakan apa pun. Walaupun Mita semakin menatap tajam dan mendekatinya.

"Apa kau mengenal Clara?" tanyanya kembali dengan kedua alis mengerut dalam. Midas masih saja bergeming kaku. "Sudah jelas kau menyebutkan namanya dengan keras."

"Aku harus pulang. Aku tidak mengenal Clara," balas Midas menunduk. Dia bergegas untuk pergi dari sana. Langkah itu terhenti karena Mita menahan lengannya.

"Ke mana kau selama ini, Midas? Kau meninggalkanku begitu saja hampir 10 tahun. Lalu, kau kembali sebagai narapidana? Midas! Katakan ada apa?" tanya Mita tegas. Dia meninju pundak kanan Midas. "Selama ini aku menunggumu. Tapi, kau seolah-olah menganggapku tidak ada. Apa kau pikir aku wanita murahan, kau tinggalkan aku begitu saja--"

"Mita hentikan!" bentak Midas sembari memegang kepalanya yang mendadak pusing.

"Bukan saatnya membicarakan masalah ini. Aku harus pergi."

"Midas!" teriak Mita sama sekali tidak dihiraukan Midas. Dia segera berlari keluar rumah sakit. Bersembunyi di balik pohon, dan memastikan tidak ada yang melihatnya. Midas ingin sekali bertemu Clara.

"Gadis bodoh! Kenapa dia mengorbankan nyawa demi aku kembali?" gumamnya masih sangat panik. Midas hanya bisa duduk di bawah pohon tepat di parkiran mobil sambil mengamati jam tangan pemberian Nyonya Lupes.

Waktu tepat menunjukkan satu jam. Midas segera beranjak. Mengamati sekitar, memastikan tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Dia ingin kembali ke dalam, mengetahui keadaan Clara.

"Aku akan pergi. Ya, aku harus menemui Clara," gumamnya lalu berjalan cepat kembali masuk ke dalam melalui jalan samping. Midas mengendap-ngendap masuk ke dalam ruang dokter dan kembali mengambil satu baju. Dia segera memakai dan mulai aksinya.

Kepalanya terus menunduk dan mulai berjalan. Namun, dia tidak menemukan kamar Clara. Hingga dia melihat Brian dan Tomi, serta beberapa dokter senior berjalan cepat.

"Mereka pasti menuju kamar Clara," gumamnya sembari mengikuti mereka. Dan memang benar. Kamar itu dijaga sangat ketat. "Bagaimana aku bisa masuk?" ucapnya cemas.

"Midas?"

Suara mengejutkan berada dari belakang. Ardi terkejut melihat Midas mengenakan pakaian dokter. Midas pun tak bisa berbicara dan hanya terdiam kaku.

"Kau ...," tunjuk Ardi sambil menatap Midas dari atas sampai bawah. "Kau mirip dokter yang mengoperasi ibuku. Apakah kau--"

Midas menarik lengan Ardi dan membawanya pergi dari sana. Midas segera melepaskan pakaian itu dan meletakkan di atas kursi penunggu begitu saja. Dia terus berjalan cepat sampai keluar rumah sakit.

Ardi menarik lengannya dan menghentikan langkah Midas. Dia bersedekap dan menatap Midas tajam.

"Katakan ada apa ini?" tanya Ardi tegas. Ardi semakin mendekati Midas yang masih bergeming kaku. Namun, ponselnya berdering. Ardi segera menerimanya.

"Midas? Ibu sadar dan ingin bertemu Midas?" Dengan kebingungan Ardi menutup ponselnya. Dia berkacak pinggang sambil memandang sosok di hadapannya. "Sebaiknya kau jelaskan di dalam kamar Ibu," ucapnya lalu menarik Midas.

Mereka berjalan cepat menuju kamar Lupes. Ardi sangat senang ibunya bisa tersenyum melihat kedatangannya. Ardi segera memeluk sang ibu. Sementara, Midas berdiri di depan ranjang dengan menundukkan kepala.

"Midas, kemarilah," ucap Lupes. Ardi hanya mengernyit, melihat sang ibu sepertinya sangat mengenal Midas.

"Nyonya, bagaimana napasmu?" tanya Midas lalu memeriksa denyut nadi sambil memejam. Lalu merasakan denyut itu. Ardi semakin tak mengerti. Kenapa Midas bisa melakukannya?

"Anda akan sembuh. Tapi, jangan memakan kacang dulu. Aku tahu Anda melanggarnya bukan?" lanjut Midas tersenyum.

"Siapa kau Midas?" tanya Ardi kembali. "Kau pasti dokter--"

"Ardi, aku harus bicara dengannya. Tapi, kau bisa di sini. Karena ibu tahu, kau bisa membantu Midas," ucap Lupes malah membuat keduanya terpaku. Ternyata memang Lupes mengetahui sesuatu.

"Tidak ada yang mau menolong seseorang di jalanan begitu saja bukan? Aku sahabat ayahmu Leonidas." Tentu saja Midas sedikit terperanjat. Dia mendekati Lupes dan menatap tajam.

"Saat dia akan membawamu ke negara J setelah lulus SMA, dia menghubungiku. Jika terjadi sesuatu kepadamu, aku harus menolongmu. Dan aku tidak percaya kau malah kembali ke Indonesia atas tuduhan membunuh ayahmu."

Lupes melambai, membuat Midas kini memegang telapak tangannya. "Leonidas tidak mungkin mati di tangan anaknya. Dia memberimu sebuah rahasia yang luar biasa. Aku tidak mengerti itu. Tapi, kau harus menjaganya."

"Kenapa Nyonya tidak mengatakan kepadaku?" Midas melepaskan telapak tangan itu. Dia sedikit kecewa dengan rahasia itu. Tapi, Lupes selama dua tahun ini sangat baik dengannya. Midas tidak akan pernah marah dan berusaha mengerti.

"Clara menghubungiku, dan mengatakan saatnya kau datang. Kembalilah ke rumah sakit ini. Carilah kebenaran itu. Raih kembali julukan ayahmu dulu. Sang Legenda."

"Tapi aku tidak bisa, Nyonya." Midas berdiri. Dia sangat frustasi. Dia memejam, mengingat kebersamaan dia dan ayahnya di negara sakura, yang berakhir dengan tragis. Kedua tangannya mengepal keras. "Aku sudah melakukan sesuatu yang luar biasa dan mereka bertepuk tangan saat aku menyembuhkan anak itu. Tapi, mereka malah menjebakku. Membuat aku menjadi lelaki biadab!"

"Justru jika kau tidak membalas semua, ayahmu akan bersedih. Jadilah Dokter Midas yang sangat luar biasa. Sentuhan dahsyat tanganmu itu, akan membuatmu kembali meraih apa yang diinginkan ayahmu."

Midas tak tahu harus bagaimana. Dia duduk dengan lemas.

"Kalau aku jadi kau, aku akan menghajar siapapun yang melakukan itu. Aku percaya kepadamu, Midas. Hei, kau lelaki. Jangan cengeng." Ardi kini terkekeh pelan. "Ah, ternyata kau dokter gadungan itu? Aku mengetahui ayahmu. Tidak aku sangka kau anaknya."

Midas tertawa kecil. Menerima tos yang diberikan Ardi. Leonidas adalah dokter sangat terkenal di Indonesia. Bisa melakukan operasi sulit yang jarang dilakukan seorang dokter. Namun, dia hidup sangat sederhana dan menutup rapat identitasnya. Hingga dia mendadak menuju ke negara J karena ayahnya memanggilnya. Kakek Midas berasal dari negara J dan menikahi orang Indonesia. Pengusaha kaya raya di sana.

"Aku tidak menyangka ayahku sangat kaya di negara itu. Ayah memilih ke rumah lama Nenek karena tidak mau melanjutkan usaha Kakek. Tentu saja Kakek marah. Saat datang ke negara itu bersamaku, dia menampar ayahku."

"Lalu, apa yang kalian lakukan di sana sampai kau dituduh membunuh ayahmu dan dibawa ke Indonesia?" tanya Ardi penasaran.

"Aku ... tidak bisa mengatakannya," balas Midas. "Nyonya benar. Aku akan mencari kebenaran itu."

Midas semakin tak percaya, saat melihat Lupes dengan lemas melambai ke arah Ardi dan menunjuk ponselnya di atas nakas. Ardi bergegas memberikan ponsel itu kepada ibunya. Dengan bergetar wanita itu menekan nomor seseorang.

"Dia akan kembali. Dua hari lagi, atur semua. Posisinya sebagai kepala dokter utama. Bukankah itu permintaan Clara?"

Midas semakin terkejut. Ternyata Lupes memang ada hubungannya dengan ini.

"Pulanglah, dan persiapkan dirimu, Midas. Ah, aku juga ingin perawatan di rumah saja. Besok bawa aku pergi dari sini."

"Ada apa ini?" Brian mendadak masuk. Mengejutkan semua orang.

"Hmm, dokter terbaik rumah sakit ini akhirnya muncul," sela Ardi. "Ibu ingin perawatan di rumah. Tentu saja kau harus melakukannya," lanjutnya tersenyum sambil menepuk pundak kakaknya.

"Aku tidak percaya dokter gadungan mengoperasi Ibu. Kami masih mencari buronan itu," gumam Brian kesal sambil memeriksa ibunya.

"Baiklah, kita akan pulang." Ardi menarik Midas keluar kamar. Dia tidak mau terjadi pertengkaran di sana. Namun ...

"Tunggu!" teriak Brian. Dia mendekati Midas, "aku mendengar kau melakukan perjanjian dengan Tomi. Berani sekali kau melakukan itu? Emangnya siapa kau bisa mengalahkan dia?"

"Bagaimana jika dia bisa?" ucap Ardi mengejutkan Brian.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Dahsyat Dokter Midas   BAB 69

    Midas tidak berhenti. Setelah keajaiban pertama terjadi, ia kembali bergerak dari satu ranjang ke ranjang lain dengan ketenangan yang hampir menakutkan. Tangannya dingin namun pasti, jemarinya menekan titik nadi, menyesuaikan infus, memeriksa pupil mata, mendengarkan paru-paru. Tidak ada satu kata pun keluar dari bibirnya. Semua tindakannya berbicara sendiri.Setiap pasien yang disentuhnya menunjukkan perubahan nyata. Napas menjadi dalam dan teratur. Denyut jantung stabil. Warna kebiruan yang tadi membuat semua orang putus asa perlahan menghilang, digantikan rona segar yang mustahil disangkal. Beberapa pasien bahkan sudah mampu menggerakkan jari, menoleh, dan bertanya dengan suara lemah.Alma berdiri kaku di sudut ruangan. Wajahnya pucat, matanya kosong. Semua teori, semua ramuan, semua ambisi yang ia banggakan runtuh di depan matanya sendiri. Ia ingin bicara, ingin membantah, namun tenggorokannya terkunci. Tidak ada satupun alasan yang bisa ia ucapkan saat kenyataan menamparnya begit

  • Sentuhan Dahsyat Dokter Midas   BAB 68

    Alma berdiri terpaku di depan deretan ranjang pasien. Monitor jantung berbunyi ritmis, namun baginya suara itu terdengar seperti hitungan mundur yang kejam. Wajah-wajah pucat terbaring tak berdaya, napas mereka bergantung pada alat dan keputusan yang pernah ia buat dengan penuh ambisi. Untuk pertama kalinya, Alma tidak merasa sebagai legenda, hanya seorang dokter yang kehabisan jawaban.Pintu terbuka pelan.Seorang suster masuk dengan langkah ragu. “Dokter Alma…,” suaranya bergetar. “Midas sudah datang. Bersama dokter Mita, Brian, Tomi, Jian, dan Ardi. Mereka berada di depan gerbang, tapi masih dihadang pengawal Tuan Akimoto.”Alma memejamkan mata. Dadanya naik turun, menahan sesak yang menekan tenggorokan. Nama itu… Midas yang kembali mengoyak harga dirinya, namun juga membawa harapan terakhir yang tidak ingin ia akui.Ia membuka mata perlahan.“Izinkan mereka masuk,” ucapnya dengan suara berat, seolah setiap kata ditarik dari dasar jiwanya. “Sekarang.”Suster itu terkejut. “Tapi… pe

  • Sentuhan Dahsyat Dokter Midas   BAB 67

    Alma masih duduk membeku di kamarnya, lampu redup menyorot wajahnya yang pucat dan tegang. Kedua tangannya terkatup kuat, kuku-kukunya menekan telapak hingga memerah, seolah rasa sakit fisik itu satu-satunya cara menahan pikirannya yang berantakan. Napasnya memburu, dadanya naik turun tak beraturan.“TIDAAAK…!” teriaknya tiba-tiba, memecah keheningan. “MIDAS!”Namanya meluncur dari bibir Alma seperti sumpah serapah. Ia berdiri mendadak, meraih vas di meja dan membantingnya ke lantai. Kaca pecah berserakan, namun amarahnya belum surut. Buku, dokumen, bingkai foto—semuanya dilempar tanpa arah. Kamarnya berubah menjadi medan perang kecil, cermin dari pikirannya yang hancur.“Aku ingin jadi yang paling hebat,” gumamnya parau. “Dokter paling hebat… bukan bayangan siapa pun.”Namun kalimat itu berakhir pahit. Ia tertawa singkat, getir. Semua usahanya runtuh. Ramuan gagal. Pasien mati. Dunia mulai meragukannya. Dan Midas—lelaki yang selalu menjadi bayang-bayang—kini berdiri jauh di atasnya.

  • Sentuhan Dahsyat Dokter Midas   BAB 66

    Midas akhirnya menegakkan tubuhnya dari meja laboratorium. Wajahnya pucat, sorot matanya lelah, namun tetap tenang. Ia menatap kamera terakhir yang masih menyala dan berkata dengan suara datar namun tegas, “Ramuan hampir selesai. Aku membutuhkan waktu untuk beristirahat. Siaran ini dihentikan sampai tahap akhir.”Lampu indikator padam satu per satu. Live resmi ditutup, menyisakan keheningan yang terasa berat di ruangan itu.Begitu kamera mati, bahu Midas sedikit merosot, seolah seluruh beban dunia baru saja menekannya sekaligus. Saat itulah Mita melangkah cepat menghampirinya. Tanpa ragu, ia memeluk Midas erat, menempelkan wajahnya di dada lelaki itu.“Kamu tidak sendirian,” bisik Mita lirih, suaranya bergetar menahan cemas. “Apa pun yang terjadi… aku di sini. Selalu.”Midas terdiam beberapa detik, lalu perlahan mengangkat tangannya dan membalas pelukan itu. Hangat. Nyata. Sesuatu yang selama ini jarang ia rasakan.“Aku tahu tekanannya besar,” lanjut Mita sambil menatapnya, matanya be

  • Sentuhan Dahsyat Dokter Midas   BAB 65

    Midas berdiri mematung di tengah laboratorium. Lampu putih memantul di permukaan baja, menciptakan kilau dingin yang menegaskan keheningan. Di balik dinding kaca, kamera siaran langsung menyorot setiap sudut ruangan. Jutaan mata menatapnya, menunggu, menuntut, menghakimi.Perkataan Toshiro bergaung di kepalanya seperti gema tak berujung. Jangan tunjukkan semua rahasia itu ke publik.Tak seorang pun berani berbicara. Tomi menahan napas. Jian menggenggam tepi meja hingga buku jarinya memucat. Brian dan Ardi berdiri kaku, seolah satu gerakan saja bisa memicu bencana. Mita menatap punggung Midas, jantungnya berdetak terlalu cepat untuk ditenangkan.Beberapa menit berlalu, terasa seperti jam. Lalu, Midas tersenyum.Senyum kecil, tenang, yang membuat bulu kuduk siapa pun berdiri. Ia melangkah maju, menatap deretan bahan yang telah ia pesan, yaitu cairan bening berlabel kode, serbuk mineral mikroskopis, larutan penetral, dan ampul-ampul steril yang tersusun simetris. Tangannya bergerak cekat

  • Sentuhan Dahsyat Dokter Midas   BAB 64

    Alma masih berdiri membeku di tengah kerumunan. Bibirnya terkunci, pandangannya kosong, seolah semua suara telah menjauh. Hingga langkah sepatu kulit yang tegas memecah kebisuan.Akimoto muncul.Kehadirannya langsung mengubah atmosfer. Para wartawan terdiam sejenak, lalu gemuruh pertanyaan kembali membanjir lebih ganas. Namun Akimoto mengangkat tangan, satu gerakan sederhana yang memaksa semua orang menahan napas.Kerumunan wartawan kembali bergejolak saat Akimoto berhenti di depan pintu utama rumah sakit. Kilatan kamera menyambar tanpa ampun, mikrofon hampir menempel ke wajahnya.“Tuan Akimoto!”“Benarkah virus J Blood berasal dari negara J?”“Jika negara J aman dan bersih, kenapa virus mematikan ini justru menyebar ke luar negeri?”Akimoto berhenti melangkah. Tatapannya dingin, menusuk, membuat beberapa wartawan refleks menelan ludah.“Apakah Anda menyangkal keterlibatan pemerintah negara J dalam pengembangan virus ini?” salah satu wartawan berani bertanya.Belum sempat Akimoto menj

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status