Share

BAB 5

Author: VityGether
last update Last Updated: 2024-03-07 18:06:29

Midas menarik lengan Ardi dan menggelengkan kepala. Dia tidak mau mencari masalah dengan Brian.

"Hahaha. Baiklah, jika dia bisa mengalahkan Tomi, aku akan menjadi pelayan seumur hidupnya," balas Brian sambil tertawa dan berkacak pinggang.

"Ah, aku tidak sabar melihatnya." Ardi kembali menepuk pundak kanan kakaknya. Lalu mengajak Midas pergi dari sana.

Midas segera mengikuti Ardi dan masuk ke dalam mobil. Melihat perlakuan Brian, akhirnya Midas memantapkan hatinya untuk kembali.

Semalaman, Midas semakin tidak tenang. Waktu sangat dekat, dan dia harus mengungkap identitasnya. Apalagi dia akan bekerja dengan Mita. Wanita yang dia tinggalkan begitu saja.

"Mita, maafkan aku," gumamnya dan terlelap.

Pagi mendadak datang. Midas mendadak terbangun. Dia mendengar ketukan pintu. Dengan cepat dia membukanya.

"Bangun pemalas!" Tamparan kembali dia dapatkan dari Brian. "Apa kau lupa aku berulang tahun hari ini? Ah, kenapa aku berbicara dengan lelaki bodoh seperti dirimu. Cepat bantu semua pelayan karena siang nanti acara dimulai." Brian menepuk kepala Midas sebelum meninggalkannya.

Midas mengusap kedua matanya yang masih mengantuk. Mau tidak mau dia harus membantu persiapan itu.

Saat persiapan sudah seratus persen, seperti biasa Brian masih saja tidak melepaskan Midas. Dia hanya bersiap mendapatkan kemarahan lelaki arogan itu ketika mendekatinya.

"Nanti kau akan datang. Pakai jas yang sudah disiapkan. Jangan salah paham. Jas pelayan maksudnya. Haha," ucapnya sambil tertawa lalu meninggalkan Midas yang hanya menghela napas panjang.

Di dalam kamar, Midas duduk di tepi ranjang. Memikirkan semuanya. Berbagai pertanyaan terbelit di pikirannya. Hal pertama apa yang akan dia lakukan di rumah sakit itu?

Midas lebih baik bersiap dan akan memikirkan nanti. Dia tidak mau mendapatkan kemarahan Brian.

Perlahan dia keluar kamar saat siang. Bahkan dia belum makan sama sekali. Perutnya keroncongan. Midas bergegas menuju dapur untuk mengambil satu roti dan menghabiskannya.

PLAK!!

Seperti biasa Brian memukul kepalanya dari belakang. Midas sampai tersedak.

"Kau tidak pantas makan itu! Semua makanan itu untuk lelaki terhormat. Bukan gembel seperti dirimu. Makanan di sana yang cocok kau makan," ucap Brian sambil menunjuk sampah. "Semua temanku datang. Keluar dan layani mereka!" bentaknya keras.

Midas segera keluar. Dia harus menahan amarah dan berpura-pura tidak terjadi apa pun. Mulai mengambil nampan yang berisi minuman anggur mahal di dalam gelas kristal mewah. Berjalan menuju kerumunan.

"Oh, Midas? Kau pelayan?" Tomi yang datang bersama Mita, melotot melihat Midas. Tentu saja Tomi seketika tertawa keras. "Kau tidak akan pernah mengalahkan aku, Midas. Sekarang cium kakiku."

"Hentikan, Tomi. Sudahlah, aku tidak mau merusak mood ku," sela Mita kesal. Wanita itu akan meninggalkan Tomi, tapi ditahannya. "Tomi, jangan memaksaku." Mita melepaskan cengkeraman Tomi.

"Tomi, dia tidak mau bersamamu," ucap Midas tegas.

"Apa kau bilang?" Tomi menampik nampan Midas dan, 'pyar!' semua gelas itu tumpah. "Kau sudah kalah bangsat! Cium kakiku!" teriaknya keras.

"Ada apa ini?" Brian datang dengan amarah. Sementara, semua orang hanya memandang mereka.

"Midas, kau selalu membuat masalah saja. Dia ini anak wakil direktur di rumah sakit terbaik. Ayahnya dokter sangat hebat. Apa kau kurang ajar dengannya?"

Brian menarik kerah kemeja Midas sambil melotot dan berkata pelan, "Turuti apa yang dia inginkan. Bukankah kau sudah kalah?" Cengkeraman itu dilepaskannya dengan kasar. Lalu menekan pundak Midas hingga bersujud.

Mita hanya terdiam dan tidak bisa berkata apa pun. Dia meninggalkan mereka begitu saja. Bagaimanapun juga, dia tidak tega melihat Midas. Tomi membiarkannya dan lebih memilih menyiksa Midas.

"Ternyata dia pembantu di sini? Berani sekali dia menantangku?" Tomi memajukan salah satu kakinya tepat di hadapan Midas. "Kau sudah kalah. Sekarang tepati janjimu."

"Oh, jadi pembantu ini merendahkan Tomi? Ya, aku melihatnya berkeliaran di rumah sakit seperti maling," ucap teman Brian.

"Ya, dia memang pembantuku. Sangat kurang ajar sekali," balas Brian. "Kenapa diam saja? Bantu aku," lanjutnya sambil tertawa.

Beberapa teman Brian yang memang sangat kaya dan arogan, menekan kepala Midas hingga akhirnya mencium sepatu Tomi. Bahkan ada yang menyiramnya dengan minuman sambil tertawa.

"Pergilah dan jangan pernah muncul di hadapan kami. Kau sudah merusak acara. Pergi!" bentak Brian.

Midas berdiri, lalu membenarkan jasnya yang sangat basah dan kotor. Dalam diam dia pergi dari sana dan menuju halaman belakang. Memang ini salahnya. Dia yang memilih menutup rapat semua dan menjadi orang rendah. Midas tidak bisa menyalahkan semua orang itu.

"Apakah kau selalu akan menjadi orang rendah?"

Midas semakin terkejut. Mita tiba-tiba menarik lengannya.

"Kenapa denganmu, Midas? Kau dulu sangat genius. Lalu menghilang begitu saja. Sekarang kau sangat rendah seperti ini? Kau sangat memalukan!" bentak Mita sambil menangis.

"Mita, aku--"

Midas menghentikan ucapannya saat Tomi datang.

"Jadi kau akan mendekati calon istriku? Kau ternyata sama sekali tidak takut aku bunuh!"

"Mita, apa kau masih mencintaiku?" tanya Midas menatap tajam. Tomi semakin kesal dan akan menarik kerah kemeja Midas. Namun, dia terkejut Midas menahan dan malah mendorongnya hingga tersungkur.

"Keparat kau, Midas!" teriaknya.

Midas semakin mendekati Mita yang berjalan cepat akan meninggalkannya.

Bruk! Mita tidak sengaja menabrak seorang wanita yang membuatnya terkejut.

"Dokter, maafkan saya," ucap Mita menundukkan kepala.

"Mita, katakan kau tidak mencintaiku." Midas menarik lengan Mita dan kembali menatap tajam.

"Aku tidak mencintaimu. Pergilah ke neraka!" balas Mita sambil berteriak keras.

"Baiklah, kita akan membuktikannya."

Midas mendadak menarik wanita yang masih berada di sebelah Mita, dan menciumnya dengan mendadak!

PLAK!!

"Apa yang kau lakukan?!" teriak wanita itu sambil melotot tajam. Dia mengepalkan kedua tangannya, lalu lari terburu-buru menuju parkiran dan segera pergi dengan mobilnya.

"Midas, apa kau sudah gila?" Mita mendekati Midas dan, 'plak!' kembali menampar sangat keras. "Apa kau tidak tahu siapa dia?!" teriaknya sangat keras.

"Aku tidak tahu siapa dia. Dan aku tidak peduli. Mita, aku tahu kau masih mencintai aku. Ya, aku akan menjelaskan semuanya."

"Hentikan omong kosong ini!" Mita menarik napas panjang untuk mengatasi hatinya. "Kita sudah berakhir, Midas. Kita sudah putus dan aku akan menikahi Tomi."

Bug!Bug!

Tomi mendadak datang dari belakang. Memberi pukulan bertubi-tubi kepada Midas.

"Tomi, kita pergi," ucap Mita menarik Tomi dan mengajaknya pergi.

"Aku tidak akan melepaskanmu, lelaki keparat!" maki Tomi sebelum meninggalkan Midas yang masih tersungkur ke tanah.

Midas segera beranjak dan masuk ke dalam kamarnya. Tanpa berpikir lagi, dia mengemasi semua barangnya. Menuliskan sebuah surat kepada Lupes dan Ardi sebagai ucapan terima kasih sudah menampungnya selama dua tahun setelah keluar dari penjara.

Midas mulai menyalakan ponsel yang diberikan Clara kepadanya.

"Nomor siapa ini?" Dia tidak percaya ada satu nomor yang mendadak menghubunginya ketika ponsel itu menyala beberapa menit.

"Dokter Midas, kami akan menjemputmu."

Midas paham. Dia adalah lelaki yang selalu mengawal Clara. Dan ini adalah bagian rencana Clara untuknya.

Sejenak Midas mengamati kamar itu, sebelum akhirnya dia pergi dari sana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Dahsyat Dokter Midas   BAB 64

    Alma masih berdiri membeku di tengah kerumunan. Bibirnya terkunci, pandangannya kosong, seolah semua suara telah menjauh. Hingga langkah sepatu kulit yang tegas memecah kebisuan.Akimoto muncul.Kehadirannya langsung mengubah atmosfer. Para wartawan terdiam sejenak, lalu gemuruh pertanyaan kembali membanjir lebih ganas. Namun Akimoto mengangkat tangan, satu gerakan sederhana yang memaksa semua orang menahan napas.Kerumunan wartawan kembali bergejolak saat Akimoto berhenti di depan pintu utama rumah sakit. Kilatan kamera menyambar tanpa ampun, mikrofon hampir menempel ke wajahnya.“Tuan Akimoto!”“Benarkah virus J Blood berasal dari negara J?”“Jika negara J aman dan bersih, kenapa virus mematikan ini justru menyebar ke luar negeri?”Akimoto berhenti melangkah. Tatapannya dingin, menusuk, membuat beberapa wartawan refleks menelan ludah.“Apakah Anda menyangkal keterlibatan pemerintah negara J dalam pengembangan virus ini?” salah satu wartawan berani bertanya.Belum sempat Akimoto menj

  • Sentuhan Dahsyat Dokter Midas   BAB 63

    Lupes melangkah mendekati wanita pemimpin perusahaan Dilraja dengan langkah tenang namun penuh wibawa. Untuk pertama kalinya, ekspresinya melunak. Ia menundukkan kepala sedikit, gestur yang jarang sekali ia lakukan.“Terima kasih,” ucap Lupes dalam, suaranya berat tapi tulus. “Tanpa bantuan Anda, Midas mungkin sudah hancur oleh permainan kotor mereka. Dan para pasien… tidak akan punya harapan.”Dilraja tersenyum tipis. “Saya hanya membalas hutang nyawa,” jawabnya tenang. “Anak saya hidup karena Midas. Apapun risikonya, saya akan berdiri di pihak yang benar.”Midas yang berdiri di samping mereka terdiam. Sebelum ia sempat bicara, seorang gadis melangkah maju, pasien J Blood pertama yang pernah ia selamatkan. Wajahnya kini jauh lebih sehat, tapi matanya masih menyimpan ingatan hari-hari antara hidup dan mati.Tanpa ragu, gadis itu memeluk Midas erat.“Dokter…” suaranya bergetar. “Kalau bukan karena Anda, saya sudah tidak ada di dunia ini. Jangan ragu. Jangan mundur. Kami semua percaya.”

  • Sentuhan Dahsyat Dokter Midas   BAB 62

    Berita itu menyebar seperti api. Nama Midas kembali memenuhi layar televisi, judul-judul sensasional berhamburan tanpa kendali. Pihak berwajib akhirnya mengirimkan panggilan resmi. Di kediaman Lupes, suasana memanas. Lupes membanting ponselnya ke meja dan langsung menghubungi deretan nama besar pengacara terbaik negeri itu dipanggil untuk satu tujuan, melindungi Midas.Namun di tempat lain, kemarahan Mita jauh lebih sunyi dan jauh lebih berbahaya.Tanpa memberi tahu siapa pun, Mita menerobos masuk ke rumah sakit. Langkahnya cepat, wajahnya dingin. Para perawat yang mengenalnya tak berani menghalangi. Pintu ruang kerja Alma terbuka dengan hentakan keras.Alma mendongak, terkejut, lalu tersenyum miring. “Kekasih legenda datang sendiri? Berani juga.”“Diam,” potong Mita tajam. “Kau sengaja menyeret Midas ke lumpur karena kau tak bisa memilikinya.”Alma tertawa kecil. “Jangan sok suci. Kau pikir dia memilihmu karena cinta? Kau hanya pelarian.”Mita melangkah mendekat, menatap Alma tanpa g

  • Sentuhan Dahsyat Dokter Midas   BAB 61

    Di dalam ruangannya, Alma berdiri membelakangi meja kerja. Tirai setengah terbuka, membiarkan cahaya lampu kota menyelinap masuk dan memantul di wajahnya yang tegang. Kedua tangannya mencengkeram tepi meja begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Nafasnya berat, naik turun tak beraturan, seolah amarah dan ketakutan bertabrakan di dadanya.“Kau tidak boleh runtuh… belum sekarang,” gumamnya lirih, nyaris seperti mantra untuk dirinya sendiri.Di meja, botol ramuan bening itu tergeletak. Alma menatapnya lama, lalu mendadak menyapunya hingga jatuh dan berguling di lantai. Prang! Suara itu menggema, membuat dadanya semakin sesak. Ia menutup mata, menahan teriakan yang ingin meledak keluar. Wajah Midas kembali terlintas di benaknya. Tatapan dingin, senyum mengejek di kamera, membuat rahangnya mengeras.Pintu ruangannya diketuk tergesa.“Masuk!” bentaknya.Seorang dokter masuk dengan wajah pucat dan keringat dingin di dahi. “Profesor Alma… pasien J Blood di ruang isolasi dua kembali krit

  • Sentuhan Dahsyat Dokter Midas   BAB 60

    Ardi yang berdiri beberapa langkah di belakang Midas tak bisa menahan senyum kecilnya saat melihat Midas sengaja menatap kamera CCTV dan tersenyum dingin. Itu bukan senyum biasa, tapiitu provokasi. Ejekan yang rapi, tepat sasaran. Ardi tahu betul, Alma akan mengamuk begitu melihat rekaman itu.“Dia pasti gila malam ini,” gumam Ardi pelan, nyaris tertawa.Midas hendak melangkah lagi, namun Ardi tiba-tiba menghentikannya. “Midas,” katanya lirih, serius, “apa kau… pernah benar-benar mencintai Alma?”Langkah Midas terhenti. Lorong terasa semakin sunyi. Ia tidak menoleh, hanya menarik napas singkat. “Dulu,” jawabnya singkat. “Hati itu pernah ada.” Lalu ia menambahkan tanpa ragu, “Sekarang, hatiku milik Mita.”Ardi menghembuskan napas lega, seolah beban lama ikut terangkat. Senyum tulus muncul di wajahnya. “Syukurlah.”Midas melirik sekilas, lalu kembali memasang ekspresi dingin. “Ayo. Kita tidak punya banyak waktu.”Keduanya pun kembali bergerak menyusuri lorong gelap, bayangan mereka meny

  • Sentuhan Dahsyat Dokter Midas   BAB 59

    Langit sore itu teduh ketika Midas berdiri di hadapan ayah Mita, ditemani Ardi dan Clara. Ruang tamu sederhana itu terasa sempit oleh ketegangan yang tak diucapkan. Lelaki paruh baya di hadapannya duduk kaku, rahangnya mengeras, tatapannya menyimpan luka lama. Sebuah luka dari tahun-tahun yang penuh ancaman dan kegagalan.“Aku tak bisa menyerahkan anakku begitu saja,” ucap ayah Mita akhirnya. Suaranya datar, tapi gemetar. “Hidupnya sudah cukup sulit. Aku tak mau dia kembali jadi sasaran.”Midas mengangguk. Tidak membantah. Tidak membela diri. Ia hanya berdiri tegak, tangan terkatup, sikapnya tenang. “Saya mengerti,” katanya pelan. “Saya datang bukan untuk memaksa. Saya datang untuk bertanggung jawab.”Clara mendadak berdiri dan memandang lelaki itu. Satu kalimatnya mengubah segalanya.“Kakek Midas adalah Toshiro.”Ayah Mita terperanjat. Wajahnya yang semula tegang mendadak memucat, lalu perlahan mengendur. Nama itu bukan sekadar legenda, tapi itu adalah perisai. Perlindungan yang nyat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status