LOGINArdi yang berdiri beberapa langkah di belakang Midas tak bisa menahan senyum kecilnya saat melihat Midas sengaja menatap kamera CCTV dan tersenyum dingin. Itu bukan senyum biasa, tapiitu provokasi. Ejekan yang rapi, tepat sasaran. Ardi tahu betul, Alma akan mengamuk begitu melihat rekaman itu.“Dia pasti gila malam ini,” gumam Ardi pelan, nyaris tertawa.Midas hendak melangkah lagi, namun Ardi tiba-tiba menghentikannya. “Midas,” katanya lirih, serius, “apa kau… pernah benar-benar mencintai Alma?”Langkah Midas terhenti. Lorong terasa semakin sunyi. Ia tidak menoleh, hanya menarik napas singkat. “Dulu,” jawabnya singkat. “Hati itu pernah ada.” Lalu ia menambahkan tanpa ragu, “Sekarang, hatiku milik Mita.”Ardi menghembuskan napas lega, seolah beban lama ikut terangkat. Senyum tulus muncul di wajahnya. “Syukurlah.”Midas melirik sekilas, lalu kembali memasang ekspresi dingin. “Ayo. Kita tidak punya banyak waktu.”Keduanya pun kembali bergerak menyusuri lorong gelap, bayangan mereka meny
Langit sore itu teduh ketika Midas berdiri di hadapan ayah Mita, ditemani Ardi dan Clara. Ruang tamu sederhana itu terasa sempit oleh ketegangan yang tak diucapkan. Lelaki paruh baya di hadapannya duduk kaku, rahangnya mengeras, tatapannya menyimpan luka lama. Sebuah luka dari tahun-tahun yang penuh ancaman dan kegagalan.“Aku tak bisa menyerahkan anakku begitu saja,” ucap ayah Mita akhirnya. Suaranya datar, tapi gemetar. “Hidupnya sudah cukup sulit. Aku tak mau dia kembali jadi sasaran.”Midas mengangguk. Tidak membantah. Tidak membela diri. Ia hanya berdiri tegak, tangan terkatup, sikapnya tenang. “Saya mengerti,” katanya pelan. “Saya datang bukan untuk memaksa. Saya datang untuk bertanggung jawab.”Clara mendadak berdiri dan memandang lelaki itu. Satu kalimatnya mengubah segalanya.“Kakek Midas adalah Toshiro.”Ayah Mita terperanjat. Wajahnya yang semula tegang mendadak memucat, lalu perlahan mengendur. Nama itu bukan sekadar legenda, tapi itu adalah perisai. Perlindungan yang nyat
Mita masih menatap lelaki di hadapannya, seolah takut sosok itu menghilang jika ia berkedip terlalu lama. Lelaki di hadapannya adalah Midas yang sama, namun juga berbeda. Tatapannya kini dingin, sikapnya tegas, bahunya memikul terlalu banyak rahasia. Menjadi istri lelaki seperti itu… jantung Mita berdegup tak menentu. Ia mencintainya, itu pasti. Tapi cinta saja tak selalu cukup.“Midas,” suaranya bergetar, menahan ragu yang mengendap. “Apa… kau benar-benar mencintaiku?”Midas menoleh. Tak ada senyum berlebihan, tak ada kata puitis yang dipaksakan. Hanya kejujuran yang telanjang. Ia melangkah mendekat, meraih kedua tangan Mita, menautkannya di dadanya. “Dengar detaknya,” ucapnya pelan. “Setiap detik yang masih ada, nyawaku sekarang milikmu. Aku… mencintaimu, dan aku sadar itu.”Mita tercekat.“Aku sudah kehilangan terlalu banyak,” lanjut Midas, nadanya rendah namun pasti. “Dan aku tak akan kehilanganmu. Aku akan menemui ayahmu. Bukan untuk formalitas. Tapi untuk meminta izin, dengan ca
Midas berdiri membelakangi taman belakang rumah Lupes. Cahaya lampu taman jatuh samar di punggungnya, memantulkan bayangan yang tampak lebih letih dari biasanya. Angin malam berhembus pelan, namun dadanya tak ikut tenang. Terlalu banyak kejadian, terlalu banyak nyawa dipertaruhkan.Langkah kaki pelan terdengar di belakangnya.“Aku akan membantu,” suara Mita lembut, namun tegas. “Sampai semuanya selesai.”Midas tidak langsung menoleh. Tatapannya tetap pada pepohonan gelap di kejauhan. “Kau tahu apa yang kau lakukan?” tanyanya rendah. “Menularkan virus itu ke Tamrin… satu kesalahan kecil saja, dan kau bisa menghilang selamanya. Dunia tidak akan memberimu kesempatan kedua.”Mita terdiam. Namun Midas melanjutkan, suaranya semakin dingin. “Dan satu hal lagi. Kenapa kau ke negara J?” Ia akhirnya berbalik, menatap Mita lurus. Tatapan itu tajam, jauh berbeda dari Midas yang biasa ia kenal. “Kenapa kau mempertaruhkan nyawamu untuk menyelamatkanku, padahal kau tahu itu sangat berbahaya? Seharus
Tomi menghampiri Alma dengan wajah merah padam, amarahnya nyaris tak terbendung. Tangannya mengepal, napasnya memburu. “Kau bilang ayahku akan membaik,” katanya tajam, nyaris bergetar. “Kau bersumpah ramuan itu menyembuhkan. Tapi lihat sekarang!”Alma menoleh dingin, namun Tomi tak peduli. “Setiap kali ramuan itu diberikan, kondisinya justru semakin parah. Bukan hanya ayahku, tapi pasien lain juga. Mereka kejang lebih sering, nafasnya memburuk. Kau tahu apa akibatnya?” Tomi tertawa pahit. “Pasien mulai kabur. Keluarga mereka menarik paksa. Mereka takut tertular. Rumah sakit ini kosong perlahan.”Ia menunjuk layar monitor di dinding yang menampilkan berita. “Masyarakat mulai bertanya. Media menekan. Mereka menuntut jawaban soal J Blood. Reputasi rumah sakit hancur, Alma. Dan saat itu terjadi, kau akan jatuh. Rumah sakit ini akan bangkrut.”Kata-kata itu menghantam Alma seperti pisau. Wajahnya menegang, rahangnya mengeras. “Diam,” desisnya.Namun Tomi melangkah lebih dekat. “Kau bukan l
Alma berdiri di tengah kerumunan dengan dagu terangkat tinggi, senyumnya penuh kemenangan. Di hadapan wartawan, dewan rumah sakit, dan para investor, ia berbicara lantang tentang kejeniusannya, tentang ramuan yang mampu menaklukkan penyakit langka yang selama ini dianggap kutukan. Setiap kata keluar dengan keyakinan mutlak, seolah tak ada lagi celah untuk diragukan. Tepuk tangan menggema, kepercayaan publik mengalir deras padanya.Beberapa pengacara maju, berbisik singkat sambil menyerahkan dokumen. Tanda tangan demi tanda tangan hampir selesai. Kekuasaan rumah sakit itu, yang dulu begitu sulit digenggam, kini nyaris sepenuhnya berada di tangannya. Alma tertawa kecil, tawa puas seorang pemenang yang merasa tak tersentuh.Ia melangkah masuk ke kantor Clara. Ruangan terbesar di sana yang selalu dia inginkan dan bayangkan.Ruangan itu masih sama, dingin dan rapi, namun kini terasa seperti takhta. Alma duduk di kursi besar di balik meja, menyandarkan tubuhnya dengan santai. Jemarinya meng
![The Wedding Dress [INDONESIA]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)






