MasukAlma masih berdiri membeku di tengah kerumunan. Bibirnya terkunci, pandangannya kosong, seolah semua suara telah menjauh. Hingga langkah sepatu kulit yang tegas memecah kebisuan.Akimoto muncul.Kehadirannya langsung mengubah atmosfer. Para wartawan terdiam sejenak, lalu gemuruh pertanyaan kembali membanjir lebih ganas. Namun Akimoto mengangkat tangan, satu gerakan sederhana yang memaksa semua orang menahan napas.Kerumunan wartawan kembali bergejolak saat Akimoto berhenti di depan pintu utama rumah sakit. Kilatan kamera menyambar tanpa ampun, mikrofon hampir menempel ke wajahnya.“Tuan Akimoto!”“Benarkah virus J Blood berasal dari negara J?”“Jika negara J aman dan bersih, kenapa virus mematikan ini justru menyebar ke luar negeri?”Akimoto berhenti melangkah. Tatapannya dingin, menusuk, membuat beberapa wartawan refleks menelan ludah.“Apakah Anda menyangkal keterlibatan pemerintah negara J dalam pengembangan virus ini?” salah satu wartawan berani bertanya.Belum sempat Akimoto menj
Lupes melangkah mendekati wanita pemimpin perusahaan Dilraja dengan langkah tenang namun penuh wibawa. Untuk pertama kalinya, ekspresinya melunak. Ia menundukkan kepala sedikit, gestur yang jarang sekali ia lakukan.“Terima kasih,” ucap Lupes dalam, suaranya berat tapi tulus. “Tanpa bantuan Anda, Midas mungkin sudah hancur oleh permainan kotor mereka. Dan para pasien… tidak akan punya harapan.”Dilraja tersenyum tipis. “Saya hanya membalas hutang nyawa,” jawabnya tenang. “Anak saya hidup karena Midas. Apapun risikonya, saya akan berdiri di pihak yang benar.”Midas yang berdiri di samping mereka terdiam. Sebelum ia sempat bicara, seorang gadis melangkah maju, pasien J Blood pertama yang pernah ia selamatkan. Wajahnya kini jauh lebih sehat, tapi matanya masih menyimpan ingatan hari-hari antara hidup dan mati.Tanpa ragu, gadis itu memeluk Midas erat.“Dokter…” suaranya bergetar. “Kalau bukan karena Anda, saya sudah tidak ada di dunia ini. Jangan ragu. Jangan mundur. Kami semua percaya.”
Berita itu menyebar seperti api. Nama Midas kembali memenuhi layar televisi, judul-judul sensasional berhamburan tanpa kendali. Pihak berwajib akhirnya mengirimkan panggilan resmi. Di kediaman Lupes, suasana memanas. Lupes membanting ponselnya ke meja dan langsung menghubungi deretan nama besar pengacara terbaik negeri itu dipanggil untuk satu tujuan, melindungi Midas.Namun di tempat lain, kemarahan Mita jauh lebih sunyi dan jauh lebih berbahaya.Tanpa memberi tahu siapa pun, Mita menerobos masuk ke rumah sakit. Langkahnya cepat, wajahnya dingin. Para perawat yang mengenalnya tak berani menghalangi. Pintu ruang kerja Alma terbuka dengan hentakan keras.Alma mendongak, terkejut, lalu tersenyum miring. “Kekasih legenda datang sendiri? Berani juga.”“Diam,” potong Mita tajam. “Kau sengaja menyeret Midas ke lumpur karena kau tak bisa memilikinya.”Alma tertawa kecil. “Jangan sok suci. Kau pikir dia memilihmu karena cinta? Kau hanya pelarian.”Mita melangkah mendekat, menatap Alma tanpa g
Di dalam ruangannya, Alma berdiri membelakangi meja kerja. Tirai setengah terbuka, membiarkan cahaya lampu kota menyelinap masuk dan memantul di wajahnya yang tegang. Kedua tangannya mencengkeram tepi meja begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Nafasnya berat, naik turun tak beraturan, seolah amarah dan ketakutan bertabrakan di dadanya.“Kau tidak boleh runtuh… belum sekarang,” gumamnya lirih, nyaris seperti mantra untuk dirinya sendiri.Di meja, botol ramuan bening itu tergeletak. Alma menatapnya lama, lalu mendadak menyapunya hingga jatuh dan berguling di lantai. Prang! Suara itu menggema, membuat dadanya semakin sesak. Ia menutup mata, menahan teriakan yang ingin meledak keluar. Wajah Midas kembali terlintas di benaknya. Tatapan dingin, senyum mengejek di kamera, membuat rahangnya mengeras.Pintu ruangannya diketuk tergesa.“Masuk!” bentaknya.Seorang dokter masuk dengan wajah pucat dan keringat dingin di dahi. “Profesor Alma… pasien J Blood di ruang isolasi dua kembali krit
Ardi yang berdiri beberapa langkah di belakang Midas tak bisa menahan senyum kecilnya saat melihat Midas sengaja menatap kamera CCTV dan tersenyum dingin. Itu bukan senyum biasa, tapiitu provokasi. Ejekan yang rapi, tepat sasaran. Ardi tahu betul, Alma akan mengamuk begitu melihat rekaman itu.“Dia pasti gila malam ini,” gumam Ardi pelan, nyaris tertawa.Midas hendak melangkah lagi, namun Ardi tiba-tiba menghentikannya. “Midas,” katanya lirih, serius, “apa kau… pernah benar-benar mencintai Alma?”Langkah Midas terhenti. Lorong terasa semakin sunyi. Ia tidak menoleh, hanya menarik napas singkat. “Dulu,” jawabnya singkat. “Hati itu pernah ada.” Lalu ia menambahkan tanpa ragu, “Sekarang, hatiku milik Mita.”Ardi menghembuskan napas lega, seolah beban lama ikut terangkat. Senyum tulus muncul di wajahnya. “Syukurlah.”Midas melirik sekilas, lalu kembali memasang ekspresi dingin. “Ayo. Kita tidak punya banyak waktu.”Keduanya pun kembali bergerak menyusuri lorong gelap, bayangan mereka meny
Langit sore itu teduh ketika Midas berdiri di hadapan ayah Mita, ditemani Ardi dan Clara. Ruang tamu sederhana itu terasa sempit oleh ketegangan yang tak diucapkan. Lelaki paruh baya di hadapannya duduk kaku, rahangnya mengeras, tatapannya menyimpan luka lama. Sebuah luka dari tahun-tahun yang penuh ancaman dan kegagalan.“Aku tak bisa menyerahkan anakku begitu saja,” ucap ayah Mita akhirnya. Suaranya datar, tapi gemetar. “Hidupnya sudah cukup sulit. Aku tak mau dia kembali jadi sasaran.”Midas mengangguk. Tidak membantah. Tidak membela diri. Ia hanya berdiri tegak, tangan terkatup, sikapnya tenang. “Saya mengerti,” katanya pelan. “Saya datang bukan untuk memaksa. Saya datang untuk bertanggung jawab.”Clara mendadak berdiri dan memandang lelaki itu. Satu kalimatnya mengubah segalanya.“Kakek Midas adalah Toshiro.”Ayah Mita terperanjat. Wajahnya yang semula tegang mendadak memucat, lalu perlahan mengendur. Nama itu bukan sekadar legenda, tapi itu adalah perisai. Perlindungan yang nyat







