LOGINJantung Rara berdebar kencang saat mulai merasakan hembusan napas Jefri mengenai wajahnya. Ia memejamkan mata lebih erat, pasrah dengan hal yang akan terjadi–
CUPAlis Rara mengernyit dalam. Bibir Jefri tidak ia rasakan di bibirnya, tapi di …. dahi?Pria itu mencium dahinya?Rara seketika membuka matanya. Ia sekarang bisa melihat dengan jelas kalau Jefri tengah mencium dahinya.Pria itu tak lama menjauhkan dirinya. Ia menyeringai lebar ke Rara yang“Oh, iya, tidak masalah,” balas Leo sebelum wajahnya berubah cemas. “Omong-omong nona Hani, mata anda–” “Aku tidak apa-apa,” sela Hani, “Ini bengkak karena aku menangis saat menonton film sedih kemarin,” Leo terlihat sangsi. Sebanyak apa film sedih yang Hani tonton hingga membuat matanya sebengkak ini? Tapi, Hani sepertinya tetap akan berkata hal yang sama jika bertanya lagi. Jadi, Leo akhirnya mengangguk. “Om kesana siang nanti?” tanya Hani. Leo mengangguk, “Sebenarnya, saya baru akan ke hotel lain setelah membantu nona Hani menyelesaikan dokumen–” “Kalau begitu, aku akan menyelesaikannya dengan cepat!” seru Hani kemudian segera fokus dengan berkas di depannya. Leo mengerjapkan mata. Merasa bingung dengan sikap Hani yang tiba-tiba. ‘Mungkin dia hanya ingin cepat kabur,’ batin Leo. Mengingat Hani selalu mengeluh tiap bekerja dengan dokumen, sepertin
Jantung Rara berdebar kencang saat mulai merasakan hembusan napas Jefri mengenai wajahnya. Ia memejamkan mata lebih erat, pasrah dengan hal yang akan terjadi–CUPAlis Rara mengernyit dalam. Bibir Jefri tidak ia rasakan di bibirnya, tapi di …. dahi?Pria itu mencium dahinya?Rara seketika membuka matanya. Ia sekarang bisa melihat dengan jelas kalau Jefri tengah mencium dahinya.Pria itu tak lama menjauhkan dirinya. Ia menyeringai lebar ke Rara yang masih terbengong-bengong.Melihat seringai Jefri, wajah Rara seketika memerah padam.Ternyata ia salah paham! Memalukan sekali!Rara rasanya ingin mengubur dirinya sekarang.“Kenapa? Kamu terlihat sangat terkejut?” tanya Jefri berpura-pura bingung. Ia lalu memasang wajah baru tersadar.“Oh, kamu mengira om ingin menciummu di bibir, ya?”“Nggak!” bantah Rara cepat, “Udah om pulang aja! Aku udah selesai ngomong sama om!”Jefri tertawa
Jefri segera mengatur wajahnya dengan tersenyum tipis, “Iya, saya akan pergi sejenak,”“Kemana?”Bukankah wanita ini terlalu ingin tahu?Jefri menimbang-nimbang sejenak perlu memberitahu secara jujur atau tidak. Tapi, mengingat kelakuan Sandra tadi pagi, mungkin wanita itu akan melakukan sesuatu lagi jika Jefri berkata akan bertemu Rara sekarang. “Bertemu kolega di hotel saya,” balas Jefri ringan, “Sebentar lagi ada acara kembang api saat malam tahun baru, kan? Saya harus mengatur hotel sebagai persiapan menyambut para tamu,”Sandra masih menatapnya curiga. Tapi, ia akhirnya mengangguk-angguk. “Baiklah. Kalau begitu, hati-hati, tuan,” Jefri hanya mengangguk sekilas. Ia akhirnya berjalan menuju mobil di bawah tatapan Sandra. Begitu masuk mobil, Jefri menatap Sandra dingin dari jendela depan. Ia mencengkram kemudi mobil dengan erat lalu mulai mengeluarkan mobilnya dari motel.Jefri melirik Sandra yang
“Om Leo, orang yang kamu sukai itu, sudah memiliki tunangan,”“Bohong,” ucap Hani, suaranya sedikit bergetar. “Kamu pasti bohong,”Septa mengalihkan pandangannya dan menggelengkan kepala pelan. Hani menggeram. “Aku tidak pernah mendengar soal itu,” desis Hani, “Bagaimana mungkin kamu bisa tahu sedangkan aku, orang yang sudah mengenalnya sejak lama, tidak tahu apa-apa?!”“Om Leo memang sengaja menyembunyikannya,” balas Septa, “Walaupun aku tidak tahu apakah om Jefri mengetahui itu atau tidak,”“Menyembunyikan? Kenapa dia harus menyembunyikannya?” desak Hani, “Tidak, tunggu, kalau dia memang menyembunyikannya lalu kenapa kamu tahu?!”“Aku pernah melihatnya,”Napas Hani tercekat mendengar jawaban Septa. Dadanya sesak. “Melihatnya?” tanyanya dengan suara yang semakin bergetar. Septa mengangguk pelan. Ia merasa semakin tidak tega melihat Hani sekarang. Tapi, ia harus melakukannya. “Aku pernah me
“Apa benar tidak terjadi sesuatu antara kak Sandra dan om Jefri?” tanya Rara ke Sandra. Ia sudah berada di luar kantor sekarang, tapi masih belum beranjak pergi.Rara masih memikirkan interaksi Jefri dan Sandra tadi. Padahal, ini pertama kalinya Jefri menyetujui ajakan Sandra dengan cepat dan hal tersebutlah yang dinanti Rara selama ini.Apa Rara terlalu memikirkannya saja?Sandra menaikkan alisnya, “Kami baik-baik saja. Bahkan hubungan kami lebih dekat kan sekarang?“ Sandra menyeringai.“Buktinya tuan Jefri mau menerima ajakanku tanpa berpikir lama-lama,”Rara menelan ludah. Perkataan Sandra benar, tapi rasanya tidak benar juga. Entahlah, rasanya hubungan mereka tidak ‘baik’ yang seperti Rara bayangkan.Melihat wajah kesulitan Rara, Sandra menepuk pelan bahu perempuan itu hingga ia tersentak kaget.“Harusnya kamu senang karena tidak perlu susah payah lagi menyatukan kami sekarang, bukan malah berpikiran macam-macam,” de
[Acaramu berjalan lancar? Besok temui aku di kantorku]Hani mengernyitkan alisnya ketika membaca pesan Septa. Kenapa tiba-tiba sekali pria itu mengajaknya bertemu? Apa Septa ingin Hani segera memenuhi janjinya? Bukankah dia terlalu buru-buru?Hani menghela napas. Yasudahlah, Septa memang kadang suka tidak sabaran. Hani membalas pesan tersebut dengan ‘ya’ singkat. Ia lalu memasukkan kembali ponselnya ke tas. Hani kemudian menatap tangannya.Tangan yang masih terasa hangat karena genggaman Leo saat berdansa tadi. Hal itu membuat Hani teringat wangi musk pria itu dan betapa hangat tubuh sang pria ketika mereka berdekatan.Baiklah, sepertinya dia harus berhenti mengingat karena Hani merasa seperti orang mesum sekarang.Hani menarik napas lalu menghembuskannya perlahan. Ia menatap pantulan dirinya di cermin toilet, berusaha menguatkan dirinya untuk bertemu Leo lagi.Ya, tadi setelah berdansa, Hani buru-buru menuju
“Mana mungkin!’ Rara tertawa kaku, “Kalau pun bener karena aku, pasti karena–” ‘Karena dia sudah melampiaskan hasratnya padaku’ batin Rara yang tak ia suarakan. Wajahnya memerah, terlalu malu dengan isi pikirannya sendiri. Tapi, pasti benar begitu, kan?
“Apa?” Hani kembali mencerna ucapan Jefri di otaknya yang lambat, “Mengungkap … kenapa tiba-tiba ..?”Bukan berarti Hani tidak menyetujuinya. Ia sangat setuju jika ayahnya ingin mencari keadilan atas kasusnya itu. Tapi, ayahnya tadi bilang apa? Ia ingin mengungkap kasus itu agar semua or
Rachel bersenandung riang melihat artikel yang ia baca. Sudah kesekian kali Rachel membaca artikel yang menjelekkan Rara terkait gosip lalu, tapi ia rasanya tidak pernah bosan untuk membacanya. Hal ini juga semakin bagus untuknya karena artikel dengan topik sama tak berhenti muncul. “Semoga hal
“Jadi, kau mau bicara apa?”Septa menatap tajam Rachel yang memerhatikan jam tangannya dengan tak acuh, seolah tak sabaran untuk pergi. Pemandangan itu membuat alis Septa mengernyit. Padahal, mereka baru bisa bertemu setelah beberapa hari berlalu dari kejadian artikel itu. Rach







