Share

Bab 123

Author: Nabila Ara
last update Last Updated: 2025-12-16 23:24:38

Hari ini Rose dan Arthur kembali datang ke Pengadilan Agama di Jakarta Selatan untuk menghadiri sidang putusan perceraian Rose dan Zumi.

Arthur mengendarai mobilnya sendiri. Ia sengaja tidak menggunakan supir pribadinya karena ia hanya ingin mengendarai mobil.

Hari ini Arthur dan Rose juga tidak akan kembali ke kantor setelah selesai dari Pengadilan Agama karena Arthur ingin mengajak Rose ke sesuatu tempat dalam rangka Rose resmi bercerai dengan putra angkatnya.

Rose menoleh ke arah Arthur yang sedang fokus menyetir. Tampak dari samping Arthur begitu tampan dengan rahang tegasnya. Rose tidak akan bosan memuji ketampanan Arthur.

Hari ini pria itu akan resmi menjadi mantan Papa mertuanya. Ia tidak mengira akan tiba waktunya.

Jujur saja ia merasa deg-degan akan menyandang status baru dan akan memulai babak yang baru.

Mereka kembali memakai baju dengan warna yang sama dan hari ini sama-sama warna hitam. Entah kenapa ia ingin saja memakai warna hitam dan kebetulan Arthur juga memilih warna
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 153

    Arthur turun ke bawah untuk bertemu dengan Zumi dan Ririn.Ia hanya turun sendiri tanpa Rose karena gadis itu tidak ingin bertemu dengan Zumi.Rose tidak ingin bertemu dengan Zumi bukan karena masalah perasaannya terkait masa lalu tapi rasa takut karena kejadian penculikan itu masih sangat membekas di benaknya.Arthur juga tidak ingin membuat Rose ketakutan. Lagi pula ia yakin Zumi dan Ririn tidak akan mempermasalahkan Rose yang tidak ingin bertemu dengan mereka.Arthur langsung duduk di depan Zumi dan Ririn saat ia tiba di ruang tamu. Sejak tiba di ruang tamu, ia tidak nyaman dengan tatapan Ririn. Namun ia tetap tenang untuk menjaga perasaan Zumi."Maaf harus menunggu lama," ucap Arthur."Tidak masalah, Pa.""Rose tidak bisa turun ke bawah karena dia harus banyak istirahat," ucap Arthur karena Zumi memandang ke arah tangga."Semoga dia lekas sembuh.""Aamin. Terima kasih sudah mendoakan Rose."Ririn sejak tadi terus mencuri pandang ke arah Arthur. Ia tidak menyangka jika Papa angkat

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 152

    Seperti yang disampaikan oleh Agam terkait Zumi dan istinya akan berkunjung ke rumah Arthur memang benar. Saat ini Zumi dan Ririn sudah berada di rumah Arthur.Zumi memang mengajak Ririn untuk berkunjung ke rumah Papa-nya sore ini karena tadi pagi ia mendapatkan kabar jika Papa-nya dan Rose sudah pulang dari rumah sakit.Sejak masuk ke dalam rumah, Ririn terus saja memandanga ke sekeliling rumah. Ia sangat takjub dengan dekorasi yang ada di dalam rumah."Rumah Papa kamu sangat besar, Sayang. Kenapa kamu lebih memilih tinggal di luar jika rumah ini sangat besar," bisik Ririn pada Zumi."Ini kan rumah Papa bukan rumahku, Sayang.""Berarti selama ini Rose enak dong bisa tinggal di rumah semewah ini. Biarpun dulu kamu tinggalkan tapi dia bisa menikmati semua kemewahan di dalam rumah ini. Pantas saja dia betah di sini sampai membuat Papa kamu tertarik padanya. Pasti karena dia sudah kerasan tinggal di sini. Apalagi nanti dia bakal jadi Nyonya di rumah ini. Enak banget hidupnya," ucap Ririn

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 151

    Ponsel Arthur di atas nakas berdering. Rose yang sudah bangun dari tidurnya langsung menoleh ke arah Arthur yang sama sekali tidak terganggu dengan bunyi ponselnya.Arthur terlihat sangat nyenyak, Rose tidak tega untuk membangunkan pria itu.Akhirnya ia duduk dari posisi baring lalu mengambil ponsel Arthur untuk melihat siapa yang menghubungi Arthur.Ternyata ada nama Agam yang tertera di layar ponsel Arthur."Papa.." Rose membangunkan Arthur karena ia khawatir Agam akan menyampaikan informasi penting pada sang kekasih.Dua kali Rose membangunkan Arthur namun pria itu tetap tidak bergeming."Sepertinya Papa benar-benar lelah hingga aku gerakkan lengannya saja tetap tidak bangun. Biasanya sedikit saja ada gerakan Papa pasti terbangun. Aku angkat saja kali ya telponnya, siapa tahu penting."Akhirnya Rose menerima panggilan telepon dari Agam."Hallo," ucap Rose begitu sambungan telepon terhubung."Nona, Tuan Arthur Ada? Saya ada perlu menyampaikan sesuatu dengan Tuan." Terdengar suara Ag

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 150

    Kepulangan Rose dari rumah sakit di sambut hangat oleh semua asisten rumah tangga di rumah Arthur. Tampak sekali wajah-wajah lega dan bahagia saat Rose sudah tiba di rumah. Kejadian yang menimpa Rose membuat mereka semua merasakan khawatir yang begitu besar.Senyum bahagia terukir dari wajah Rose, tentu saja hal itu membawa kebahagian untuk Arthur.Membuat Rose tersenyum bahagia adalah hal yang harus ia lakukan.Setelah penyambutan kepulangan Rose selesai dan para asisten rumah tangga kembali menyelesaikan tugas mereka. Arthur langsung mengajak Rose untuk ke kamar mereka karena ia ingin Rose segera istirahat."Bi, aku dan Papa naik dulu ya. Itu Papa dari tadi terus saja minta aku untuk istirahat. Padahal selama di rumah sakit juga aku sudah banyak istirahat," ucap Rose."Tuan benar kok Non. Nona Rose memang perlu istirahat yang banyak agar lekas sembuh. Tuan lakukan itu kan juga untuk kebaikan Nona Rose. Untuk semua barang Nona yang di kamar lama sudah dipindahkan ke kamar Tuan ya," u

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 149

    Sudah lima hari Rose di rawat di rumah sakit.Luka di wajahnya sudah mengering bahkan lebam yang ada di beberapa titik sudah mulai membaik.Sejak kemarin Rose sudah merengek pada Arthur agar diizinkan pulang ke rumah karena ia sudah tidak betah berada di rumah sakit.Selama Rose di rawat, Arthur belum ada datang ke kantor. Berkas penting harus mendapatkan tanda tangan Arthur, Ken langsung antar ke rumah sakit. Bahkan kadang pria itu melakukan rapat dari ruang perawatan Rose, tentu saja melalui rapat virtual.Sebenarnya Rose bisa saja ditinggalkan oleh Arthur untuk datang ke kantor dan Bi Arum yang menemaninya. Tapi pria itu sama sekali tidak ingin meninggalkan Rose."Papa, kapan aku bisa pulang ke rumah. Aku bosan lama-lama di sini," rengek Rose.Hari ini entah sudah berapa kali ia meminta pulang pada Arthur, namun pria itu seolah sengaja tidak mendengarkan permintaannya."Jangan minta itu terus Sayang. Kamu belum sembuh total. Masih harus di rawat di sini," ucap Arthur sambil menyuap

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 148

    Arthur langsung kembali ke rumah sakit setelah ia selesai bertemu dengan Zumi di restoran.Ada kelegaan yang ia rasakan setelah bertemu dengan putra angkatnya itu. Permintaannya untuk Zumi melakukan terapi di Singapura, ia serius tentang itu. Pria itu bahkan sudah menghubungi temannya yang memang seorang dokter hebat dan sudah terbukti sukses mengobati pasien yang mengalami kendala yang sama seperti Zumi."Terima kasih, Jaka."Sebelum keluar dari dalam mobil, Arthur memang mengatakan hal itu pada Jaka."Sudah menjadi tugas saya, Tuan."Akhirnya Arthur langsung keluar dari dalam mobil. Di tangannya ada satu bucket bunga mawar merah untuk Rose.Tadi ia meminta Jaka untuk singgah ke toko bunga saat menuju ke rumah sakit.Ia melangkah cepat karena sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Rose walaupun baru beberapa jam meninggalkan gadis itu.Begitu tiba di depan pintu ruang perawatan Rose, Arthur langsung membukanya.Senyum di wajahnya langsung terukir saat melihat Rose terlihat ceria. Ga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status