Mag-log in"Tadi ngapain saja kamu dan Alana di rooptop, Sayang. Lama banget kalian di sana," tanya Arthur saat mereka masuk ke dalam mobil Arthur.Hari ini Arthur memang mengendarai mobilnya sendiri. Tadi Arthur sudah meminta Jaka untuk pulang karena Rose ikut bersamanya."Cerita-cerita saja.""Hanya cerita tapi kok selama itu," ucap Arthur.Pasalnya Rose baru kembali ke ruangan Arthur saat alarm waktu istirahat makan siang berbunyi. "Alana curhat sama aku tentang kegalauan hubungannya dengan Ken."Arthur menoleh sekilas ke arah Rose, lalu ia pun mengendarai mobilnya dan mulai meninggalkan gedung Bramasta grup."Mereka sedang ada masalah?" tanya Arthur."Iya. Masalah sederhana menurutku. Solusinya mereka sama-sama menyatakan perasaan mereka masing-masing saja.""Mereka belum saling jujur tentang perasaan mereka, Sayang?""Iya. Alana butuh kepastian status mereka. Dan menurut Ken dengan memperlihatkan tindakannya pada Alana itu sudah cukup. Sebenarnya masalah mereka itu hampir mirip dengan kita
"Pa, aku boleh bertemu dengan Alana sebelum aku pulang ke rumah?" tanya Rose.Waktu istirahat makan siang memang masih ada. Ia kangen dengan sahabatnya karena terakhir bertemu dengan Alana hanya di rumah sakit saat Alana datang menjenguknya."Boleh. Tapi pulangnya nanti sama-sama aku saja ya Sayang. Aku ingin hari ini kerja ditemani oleh kamu. Kalau kamu lelah nanti istirahat saja di ruang pribadi," ucap Arthur."Boleh deh. Tapi kasih tahu Jaka ya Pa kalau aku ikut Papa pulangnya. Nanti biar dia nggak lama menungguku.""Iya Sayang."Rose mengambil ponselnya di dalam tas lalu menghubungi Alana."Halo Al," ucap Rose begitu sambungan telepon terhubung."Halo Nyonya Bramasta," jawab Alana di seberang telepon hingga membuat Rose merona."Kamu lagi dimana?" tanya Rose."Tentu saja aku lagi di kantor. Sekarang kan masih waktu kerja Sayangku. Ada apa Rose?" tanya Alana."Aku juga tahu kalau sekarang memang masih waktu kerja. Tapi kamu dimananya. Di kantin atau dimana? Aku lagi di kantor ini.
"Perfect"Rose tersenyum sambil berdiri di depan cermin yang ada di kamar. Ia memakai dress bewarna cream, rambut panjangnya di gerai saja. Ia hanya memakai make up tipis untuk menyembunyikan sisa-sisa lebam yang masih terlihat di wajahnya.Setelah memastikan penampilannya sudah siap, Rose langsung keluar dari kamar."Nona sudah mau berangkat ke kantor Tuan?" tanya Salimah begitu melihat Rose tiba di lantai bawah.Rose mengangguk sambil tersenyum. "Iya Salimah. Sudah mau waktu makan siang."Bi Arum mendekati mereka sambil membawa tas bekal yang sudah disiapkan oleh Rose tadi. Menu makan siang sama seperti yang sudah ia siapkan tadi pagi. "Terima kasih Bi Arum," ucap Rose saat Bi Arum menyerahkan tas bekal pada Rose."Sama-sama Non. Di antar sama Jaka kan Non?" tanya Bi Arum.Rose mengangguk. Setelah itu ia pamitan dengan Bi Arum dan Salimah. Bagi Rose, Bi Arum dan Salimah adalah keluarganya. Rose tidak menganggap mereka hanya sekedar asisten rumah tangga di rumah Arthur. Apalagi Ros
"Bi, tolong bantu aku untuk menata semua ini di meja makan ya. Aku mau ke atas dulu untuk mandi. Bajuku sudah bau masakan. Hehee."Bi Arum mengangguk. "Iya Nona. Tenang saja, semuanya Bibi tata di meja makan. Nona langsung naik saja ke atas."Rose kembali ke kamar karena ingin mandi setelah selesai menyiapkan sarapan pagi dan bekal untuk Arthur.Saat ia masuk ke dalam kamar, terdengar gemiricik air dari kamar mandi.Rose langsung menuju walk in closet untuk menyiapkan baju yang akan Arthur gunakan ke kantor hari ini. Ia yakin Arthur pasti belum memilih baju yang akan ia gunakan. Rose mengambil kemeja putih, celana bahan bewarna abu-abu dengan warna jas yang sama dengan celana bahannya.Lalu ia membawa baju pilihannya keluar dari walk in closet lalu meletakkan kemeja hingga celana bahan dan jas di atas ranjang.Sejak tidur bersama di kamar ini, sudah menjadi rutinitas Rose menyiapkan baju kerja untuk Arthur kecuali saat Rose sakit saja yang tidak melakukan itu.Kreekkk...Rose langsun
Rose membuka matanya saat mendengar alarm dari ponselnya.Saat penculikan itu, tasnya memang aman karena diamankan oleh Zumi dan satu hari setelah ia di rawat di rumah sakit, Agam memberikan pada Arthur karena Zumi menitipkan tasnya pada Agam.Ia mengambil ponselnya yang ada di atas nakas lalu mematikan alarm.Rose memang sengaja mengatur alarm pada pukul setengah enam pagi karena ia ingin membuatkan sarapan dan bekal untuk Arthur.Ia bosan di kamar terus dan memutuskan untuk beraktivitas seperti biasa. Rose juga sudah ingin kembali masak di dapur.Setelah mematikan alarm, Rose meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Lalu ia menoleh ke arah Arthur yang masih terlelap. Pria itu tidak terusik sama sekali dengan bunyi alarm."Gantengnya," gumam Rose sambil tersenyum.Ia perlahan menyingkirkan lengan Arthur yang melingkar di pinggangnya, berusaha agar pria itu tidak terbangun.Sebelum bangun, Rose mengecup bibir Arthur. Setelah itu ia turun dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk cu
"Sayang.." Rose mengabaikan panggilan dari Arthur. Bahkan ia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk segera bersih-bersih.Ia sedang kesal karena tatapan Ririn yang terang-terangan menunjukkan terpesona pada Arthur.Arthur memang tidak salah, toh pria itu juga mengabaikan Ririn. Bahkan dengan sengaja Arthur menunjukkan perhatian padanya.Tapi hatinya tetap saja masih kesal."Di sampingnya ada suaminya saja masih bisa-bisanya terpesona dengan pria lain. Zumi juga diam-diam saja. Apa dia nggak sadar tingkah istrinya seperti itu. Rasanya ingin aku olesin sambal saja matanya itu," gerutu Rose.Lalu Rose mulai bersih-bersih.Beberapa menit kemudian setelah selesai bersih-bersih, Rose langsung keluar dari kamar mandi.Saat mendengar pintu kamar mandi terbuka, Arthur langsung menoleh ke arah kamar mandi. Ia langsung menyimpan ponselnya di atas meja.Arthur menghampiri Rose.Begitu keluar dari kamar mandi, Rose langsung masuk ke walk in closet untuk mengganti bajunya dengan baju tidur."S







