MasukBegitu tiba di basement hotel, Arthur langsung mematikan mesin mobilnya.Buru-buru ia naik ke lantai lima puluh dimana kamar pribadinya berada.Ting!Pintu lift terbuka, Arthur berjalan buru-buru menuju kamar. Di depan kamar masih ada Restu yang berjaga di sana."Tuan..""Terima kasih Restu. Kamu boleh istirahat sekarang," ucap Arthur sambil menepuk bahu Restu.Arthur juga sudah menyewakan satu kamar untuk Restu menginap di hotel malam ini. Pria itu pun masuk ke dalam kamar. Ia melihat posisi tidur Rose masih sama dengan tadi sebelum ia meninggalkan istrinya.Arthur masuk ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan kaki. Setelah itu ia keluar lalu buru-buru melepaskan pakaiannya dan hanya menyisakan celana boxernya saja.Ia naik ke atas ranjang, bergabung dengan istrinya.Di tariknya tubuh Rose masuk dalam pelukannya. Rose sama sekali tidak terbangun meski ia sudah menggerakkan tubuh wanita itu."Ngantuk banget ya Sayang," bisik Arthur.Sebenarnya sejak tadi Arthur sudah menahan rasa kan
Arthur menatap istrinya yang sudah terlelap di pelukannya.Mereka beru saja menyelesaikan pergulatan panas di atas ranjang beberapa menit yang lalu.Awalnya hanya ingin satu ronde saja mengingat ini kali pertama penyatuan mereka setelah Rose melahirkan tetapi justru sampai empat ronde tanpa jeda sedikit pun.Jika Rose tidak merengek pada Arthur untuk berhenti, mungkin mereka saat ini masih melanjutkan ronde selanjutnya.Arthur mengusap pipi Rose dengan lembut. Rambut wanita itu sangat berantakan. Kulit putihnya di penuhi oleh jejak-jejak cinta mahakarya Arthur."Kamu memang selalu membuatku menggila Sayang," bisik Arthur.Ia menarik selimut agar menutupi tubuh polos mereka.Drett... drett... drett...Arthur menoleh ke arah nakas dimana ponselnya berada.Di layar ponselnya ada nama Ken di sana.Arthur pun menarik lengannya yang dijadikan bantal oleh Rose. Saking lelahnya Rose sama sekali tidak terganggu dengan pergerakan Arthur.Masih dengan tubuh polosnya, Arthur mengambil ponselnya l
"Pa, pelan-pelan ya," bisik Rose."Kamu takut ya Sayang?"Rose mengangguk. Bagaimanapun ini adalah pertama kali mereka melakukan penyatuan setelah ia melahirkan.Arthur mencium kening Rose dengan lembut."Aku akan melakukannya dengan pelan Sayang. Aku tidak ingin menyakitimu," bisik Arthur."Huufft.. Aku gugup," lirih Rose.Arthur menoel ujung hidung mancung Rose sambil terkekeh."Kamu terlihat seperti gadis yang ingin diperawanin oleh suaminya, Sayang. Rileks Sayang.""Sudah aku coba sejak tadi kita masih di rumah," jawab Rose."Pantesan di mobil sampai kita masuk kamar ini kamu banyak diam," ucap Arthur.Posisi mereka saat ini sudah sama-sama polos. Arthur mengungkung tubuh Rose. Pria itu menahan tubuhnya dengan menggunakan lengannya agar tidak begitu menindih sang istri."Sayang kita mulai ya," ucap Arthur yang gemas dengan istrinya.Rose mengangguk lirih. Ia juga sama seperti suaminya yang sudah merindukan aktivitas ini. Hanya saja ia tidak bisa menghilangkan rasa gugupnya.Arthu
Ting!Pintu lift terbuka.Arthur mengandeng Rose berjalan keluar dari dalam lift menuju kamar pribadi Arthur di hotel ini.Kamar yang memang biasa mereka lakukan jika ingin mencari suasana baru saat memadu kasih.Sepanjang mereka melewati lorong hotel, baik Rose dan Arthur sama-sama diam.Di lorong itu sangat sepi tidak ada satu pun orang ada di sana kecuali mereka berdua.Semakin dekat dengan kamar mereka, jantung Rose semakin berdetak cepat. Ia semakin gugup padahal ini bukan pertama kali untuknya."Kok aku makin deg-degan," batin Rose.Arthur membuka pintu kamar lalu mereka pun masuk ke dalam.Begitu di dalam kamar, Rose terkejut melihat apa yang ia lihat di depannya."Papa yang menyiapkan semua ini?" tanya Rose.Di atas ranjang ada sebuket bunga mawar yang sangat besar. Bahkan lebih besar dari yang pernah ia dapat dari suaminya selama ini.Di samping bucket bunga mawar ada satu kotak beludru bewarna merah senada dengan bunga mawah.Rose menutup mulutnya tidak menyangka suaminya me
"Sayang..."Rose menoleh ke arah suaminya yang datang ke kamarnya baby triplets. Rose sedang menyusui baby Belle. Sementara dua saudara kembarnya yang lain sudah tertidur karena sudah kenyang mimik susu."Cantiknya Papa haus banget ya sampai nyedotnya kayak gitu," ucap Arthur sambil mengusap pipi baby Belle."Kayaknya mereka tahu deh Pa kalau mau kita tinggal malam ini. Tadi waktu Papa ke ruang kerja, baby triplets agak rewel tapi untungnya mereka sudah mulai anteng setelah mimik susu," ucap Rose."Kok nggak bilang sama aku, Sayang. Jadi tadi kamu kerepotan dong."Rose menggeleng. "Aman Pa. Tadi ada Bi Arum dan Salimah yang bantu nenangkan mereka. Tadi Salimah sebenarnya udah ke ruangan Papa tapi katanya Papa lagi nerima telepon. Makanya Salimah nggak jadi manggil Papa. Matanya baby Belle aja masih basah karena dia yang paling kencang nangisnya."Arthur baru sadar ada jejak air mata di dekat mata putrinya. Tangang baby Belle memegang erat bajunya Rose seolah tidak membiarkan sang Mam
"Jangan!"Kening Arthur mengernyit bingung. "Loh kenapa jangan? Biar Ririn tidak menganggu hidup kita lagi Sayang. Aku lelah harus mengurus masalah yang sama seperti Jessica. Aku ingin kita hidup tenang, Sayang. Aku ingin fokus pada kebahagian kamu dan baby triplets," ucap Arthur."Maksudku, jangan Papa langsung yang mengurus Ririn. Aku nggak mau kalau Papa bertemu dengan Ririn secara langsung. Papa minta orang kepercayaan saja yang mengurus Ririn. Aku nggak mau Papa berada dalam satu ruangan dengan wanita pelakor itu," ucap Rose sambil tersenyum.Melihat ekspresi cemberut sang istri justru membuat pria itu tersenyum."Mamanya baby triplets lagi cemburu ya," goda Arthur."Hmmm.... Siapa juga yang nggak cemburu kalau ada wanita dengan terang-terangan mau merebut suaminya. Papa tuh hanya miliku saja. Aku nggak akan biarkan siapapun yang mengambilnya kecuali Papa sendiri yang menginginkan wanita lain. Saat itu juga aku akan pergi jauh membawa baby triplets. Aku tidak akan membiarkan Papa







