เข้าสู่ระบบSarah hanyalah selir raja yang dianggap remeh oleh seisi istana, tetapi di balik kecantikannya ia menyimpan kecerdasan luar biasa dalam strategi perang, kebijakan, dan ekonomi kerajaan. Ketika ancaman perang dan pengkhianatan mulai mengguncang takhta, Raja Adrian justru semakin bergantung pada Sarah, menjadikannya bukan sekadar selir, melainkan penasihat paling berbahaya di istana. Namun semakin besar pengaruh Sarah, semakin besar pula bahaya yang mengintai dari orang-orang yang ingin menjatuhkannya, termasuk Ratu Elena yang merasa posisinya terancam. Di tengah intrik istana dan perang yang tak terelakkan, Sarah harus memilih antara tetap menjadi selir idaman raja atau merebut kekuasaan yang selama ini tak pernah ia inginkan.
ดูเพิ่มเติมMalam di Istana Arshaka selalu terasa sama bagi Sarah. Dingin, sunyi, dan penuh bisikan yang tidak pernah benar-benar peduli padanya.
Ia duduk di depan cermin perunggu di sudut kamarnya, menatap wajah yang disebut banyak orang cantik. Rambut hitamnya terurai panjang melewati bahu. Kulitnya bersih, matanya tajam.
Namun, semua itu tidak berarti apa-apa di dalam tembok istana yang luas ini. Sarah sudah tiga bulan menjadi selir Raja Adrian. Tiga bulan penuh ia menjalani hari-hari yang nyaris tidak berbeda: bangun, makan, berdiam diri, lalu tidur.
Ia tidak pernah dipanggil menghadap raja. Ia tidak pernah diundang ke jamuan istana. Bahkan namanya hampir tidak pernah disebut, kecuali oleh pelayan tua yang mengurus keperluannya.
Statusnya sebagai selir memang sah. Namun, di mata banyak orang, ia tak lebih dari perempuan simpanan yang terbuang.
Dulu, keluarga Sarah adalah salah satu keluarga bangsawan terpandang di perbatasan timur. Ayahnya, Lord Arman, adalah panglima yang dihormati. Namun, semua berubah ketika pengkhianatan besar mengguncang kerajaan, dan nama keluarga Arman ikut terseret.
Sarah dipaksa masuk ke istana sebagai bagian dari kesepakatan politik yang tidak pernah ia inginkan. Ia menjadi selir bukan karena cinta, bukan karena keinginan raja, tetapi karena dianggap sebagai alat untuk menjaga sisa-sisa kehormatan keluarganya.
“Nona Sarah, sebaiknya Anda beristirahat. Sudah larut malam,” suara Dayang Mira memecah lamunannya.
Sarah menoleh. Wanita paruh baya itu berdiri di dekat pintu, membawa nampan berisi teh hangat. Senyumnya tulus, satu-satunya yang membuat Sarah merasa masih dianggap sebagai manusia di tempat ini.
“Aku tidak mengantuk, Mira,” jawab Sarah pelan.
Dayang Mira meletakkan nampan di meja kecil, lalu mendekat. “Jika Nona ingin tetap di istana, Nona harus menjaga kesehatan. Di sini, penyakit bisa menjadi senjata bagi musuh.”
Sarah tersenyum tipis. Ia tahu itu benar. Istana adalah panggung pertarungan yang halus. Bukan pedang yang membunuh, melainkan racun, gosip, dan senyuman palsu.
“Apakah ada kabar dari perbatasan?” tanya Sarah tiba-tiba.
Mira terdiam sejenak. “Tidak ada kabar baik, Nona. Pasukan kerajaan terdesak di Lembah Esha. Para penasihat raja mulai cemas.”
Sarah menegakkan punggungnya. Matanya yang tadi tampak lesu berubah serius. “Terdesak? Bukankah seharusnya mereka bertahan di benteng utara?”
“Itulah masalahnya. Panglima Dasco memilih menyerang terbuka. Banyak prajurit tumbang.”
Sarah menahan napas. Nama Lembah Esha tidak asing baginya. Ayahnya dulu pernah bercerita panjang tentang wilayah itu. Tempat berbatu dengan kabut tebal di pagi hari, berbahaya untuk pasukan bergerak cepat.
Jika pasukan kerajaan masuk terlalu jauh, mereka akan dikepung dari atas bukit.
“Siapa yang memberi perintah menyerang?” tanya Sarah lebih tajam.
“Panglima Dasco sendiri, Nona.”
Sarah mengatupkan bibir. Ia tahu betul nama itu. Panglima Dasco adalah orang yang naik menggantikan posisi ayahnya setelah skandal pengkhianatan keluarganya mencuat.
Pria itu ambisius dan tidak sabar. Jika ia memimpin pasukan di medan yang tidak ia kenal, maka kerugian bukan sekadar kemungkinan, melainkan kepastian.
“Aku butuh peta wilayah,” kata Sarah pelan.
Mira terkejut. “Nona, jika ada yang mendengar…”
“Aku hanya ingin melihat. Tidak lebih.”
Mira memandang Sarah sejenak. Ia tahu perempuan muda di hadapannya bukan selir biasa. Dulu, sebelum masuk istana, Sarah tumbuh di bawah didikan langsung Lord Arman.
Ia belajar membaca medan, mempelajari logistik perang, bahkan turut menyusun strategi kecil untuk pertahanan wilayah. Sekarang, semua itu harus disembunyikan.
“Baiklah,” kata Mira akhirnya. “Aku akan coba mencarikan peta tua dari perpustakaan bawah. Nona harus bersabar.”
Sarah mengangguk. “Hati-hati.”
Mira beringsut keluar, menutup pintu perlahan. Sarah menatap lilin di meja yang nyalanya bergetar tertiup angin dari jendela. Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia tahu ini berbahaya. Seorang selir yang dianggap tidak berguna seharusnya tidak memikirkan peta perang.
Namun, ia juga tidak bisa tinggal diam karena Lembah Esha adalah wilayah yang pernah menjadi benteng pertahanan ayahnya. Jika pasukan kerajaan kalah di sana, bukan hanya prajurit yang mati, tetapi nama baik ayahnya bisa kembali diinjak.
Malam itu Sarah tidak tidur.
Saat fajar hampir menyentuh langit, pintu kamarnya tiba-tiba diketuk tiga kali. Cepat. Kasar. Sarah langsung berdiri. Itu bukan ketukan Mira.
Pintu terbuka sebelum ia sempat menjawab.
Seorang perwira istana berdiri di ambang pintu, wajahnya tegang. Di belakangnya, dua penjaga membawa lentera.
“Selir Sarah?” tanya perwira itu dengan nada dingin.
“Ya,” jawab Sarah, tetap tenang.
“Raja Adrian memanggilmu. Sekarang.”
Jantung Sarah berhenti sejenak.
Raja memanggilnya? Setelah tiga bulan tidak pernah sekali pun menoleh?
“Aku harus segera bersiap,” kata Sarah.
“Tidak perlu. Ikutlah.”
Sarah merasakan hawa aneh dari kalimat itu. Panggilan mendadak di saat fajar, tanpa pemberitahuan, tanpa waktu berdandan, adalah hal yang tidak biasa. Itu bisa berarti raja mulai mengingatnya atau justru ingin menyingkirkannya.
Ia menarik napas panjang, lalu melangkah keluar.
Langkahnya di sepanjang koridor istana terasa dingin. Dinding-dinding batu tingg. Cahaya obor menyala redup, membuat bayangan mereka tampak menyeramkan.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu besar berukir naga emas. Ruang kerja pribadi Raja Adrian.
“Masuk,” perintah perwira itu.
Sarah menatap pintu itu sejenak. Di baliknya, ada seorang raja muda yang tidak pernah ia ajak bicara bahkan sekali pun. Seseorang yang kabarnya dingin, kejam, dan tidak mudah percaya pada siapa saja.
Ia mendorong pintu perlahan.
Di dalam, cahaya lampu minyak menyala terang. Ruang kerja itu dipenuhi tumpukan gulungan surat, peta, dan segel kerajaan. Di tengahnya, seorang pria duduk di kursi besar dari kayu hitam.
Raja Adrian. Matanya menatap Sarah dari ujung ruangan. Tajam. Dingin. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan.
“Kau,” suaranya terdengar rendah dan berat, “adalah putri Lord Arman.”
Itu bukan pertanyaan. Itu pernyataan.
Sarah merasakan hatinya berdesir. Setelah tiga bulan dilupakan, nama ayahnya tiba-tiba disebut oleh raja.
“Benar, Yang Mulia,” jawab Sarah pelan.
Raja Adrian berdiri, lalu berjalan mendekat. Tingginya menjulang, membuat ruangan ini tiba-tiba terasa lebih sempit.
“Aku kehilangan banyak prajurit di Lembah Esha,” katanya datar. “Dan ada yang mengatakan kepadaku bahwa kau tahu cara menyelamatkan sisanya.”
Sarah menahan napas. Seseorang telah membocorkan rahasianya.
Sekarang, di depan raja yang berbahaya, ia harus memilih: tetap berpura-pura bodoh, atau menunjukkan kecerdasan yang selama ini ia sembunyikan.
Gelap. Ruangan itu mendadak seperti terkunci dari dunia luar. Suara langkah kaki semakin mendekat, bercampur dengan teriakan yang masih menggema di telinga Sarah.“Tangkap selir itu!”Sarah tidak panik. Ia justru menahan napas, memaksa dirinya untuk berpikir jernih. Di depannya, Sari merintih pelan. Suara kursi terdorong. Kemungkinan besar pelayan itu berusaha merangkak mundur ke dinding.“Kau tidak akan selamat…” bisik Sari sekali lagi, kali ini hampir seperti ramalan.Sarah tidak menjawab. Ia meraba tepi meja, mencari sesuatu yang bisa melindungi dirinya. Sebelum sempat berbuat banyak, pintu ruangan terbuka lebar. Cahaya obor dari luar masuk menyilaukan. Beberapa penjaga berdiri di ambang pintu dengan wajah tegang.“Ada apa ini?!” suara Raja Adrian tiba-tiba memotong.Sarah menoleh. Adrian muncul dari balik pintu samping—dari ruang pengawasan tempat ia mendengarkan percakapan tadi. Wajahnya
Sarah tidak bisa terus menunggu. Pesan terakhir yang diletakkan di meja riasnya membuat satu hal menjadi jelas: musuh sudah terlalu dekat.Mereka bisa masuk ke kamarnya kapan saja, mengambil barang miliknya, bahkan meninggalkan ancaman tanpa takut ketahuan. Jika ia tidak segera bergerak, jerat ini akan mengikat lehernya sendiri.Pagi itu, setelah memastikan tidak ada yang mengawasi, Sarah memanggil Dayang Mira dan menyampaikan rencana sederhana."Aku ingin melihat sendiri siapa pelayan linen yang datang kemarin. Bawa aku ke tempat biasa para pelayan gudang bekerja."Mira tampak ragu. "Nona, itu daerah pelayan. Seorang selir jarang sekali turun ke sana. Bisa menimbulkan kecurigaan.""Justru karena jarang, tidak akan ada yang menduga," jawab Sarah. "Kita tidak perlu lama. Aku hanya ingin melihat wajahnya."Mira mengangguk pelan.Mereka berangkat lewat jalur belakang yang biasa dipakai para pelayan. Koridornya lebih sempit, langit-langitnya rendah, dan udaranya lembap. Sarah tidak peduli.
Sarah tidak langsung menjawab. Ia menatap sapu tangan itu, lalu menatap wajah Raja Adrian. Di bawah cahaya obor, mata Raja tampak dingin, tidak sedang menuduh, tidak seperti hakim yang siap menjatuhkan hukuman.“Itu memang milikku,” kata Sarah akhirnya.Adrian tidak bereaksi.“Aku tidak pernah ke hutan barat,” lanjutnya. “Aku tidak tahu kurirmu bernama siapa, apalagi di mana dia dibunuh.”Adrian memandang sapu tangan itu sekali lagi, lalu mengepalkannya.“Aku tahu,” katanya.Sarah terkejut. “Kau tahu?”“Jika kau yang membunuhnya, kau tidak akan sebodoh itu meninggalkan barang pribadimu di dekat jasad,” jawab Adrian. “Lagi pula, kau tidak mungkin berada di dua tempat dalam satu malam. Tadi malam kau ada di kamarmu, dan aku bisa memastikan itu.”Sarah merasa dadanya sedikit lapang.“Masalahnya,” lanjut Adrian, “Bukti ini tidak akan dilihat oleh banyak orang dengan cara yang sama. Jika urusan ini sampai ke pengadilan istana, sapu tangan ini cukup untuk menjeratmu.”“Dari mana mereka menda
Ruang di puncak Menara Utara terasa mencekam. Angin yang masuk dari celah jendela tidak mampu menghapus ketegangan di antara mereka.Sarah masih berdiri di tempatnya, menatap Raja Adrian yang sejak tadi tidak mengeluarkan satu patah kata pun.“Apa yang akan kau lakukan, Yang Mulia?” tanya Sarah akhirnya.Adrian menoleh perlahan. Wajahnya keras seperti batu.“Aku akan mencari siapa yang membocorkan rencana itu,” jawabnya dingin.“Jika begitu, mulailah dari orang yang tahu kau mengirim kurir malam ini,” usul Sarah.Adrian menggeleng pelan. “Terlalu banyak. Pelayan, penjaga menara, petugas arsip, bahkan para penasihat militer yang mendengar perintahku secara samar. Mereka tidak tahu isi lengkapnya, bisa saja membaca gerak-gerikku.”Sarah menatap lantai. Ia sadar, di istana seperti ini, rahasia bisa bocor lewat hal-hal kecil. Sekali Raja mengirim kurir diam-diam, pasti ada yang menangkap gelagat itu.“Aku bisa membantu,” kata Sarah.Adrian menoleh. “Membantu bagaimana?”“Biarkan aku yang m






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.