LOGINSatu mangkuk soto daging yang masih mengepul sudah tersaji di depan Rose.Seperti keinginannya, Rose memang memesan soto daging sedangkan Arthur memilih menu ayam bakar. Di kantin kantor Bramasta grup ini memang banyak pilihan menu. Dan itu semua gratis untuk seluruh karyawan karena Bramasta grup memang menyediakan fasilitas makan gratis untuk seluruh karyawan.Fasilitas ini memang sudah ada sejak Bramasta grup masih di pimpin oleh orang tua Arthur."Wangi banget," ucap Rose."Selamat makan, Sayang. Nanti kalau kurang, kamu bisa pesan lagi ya."Rose langsung mengangguk. Ia memang sudah berencana bakalan nambah. "Enaaak. Rasanya tetap masih sama seperti terakhir aku makan," ucap Rose."Memangnya kapan terakhir kamu makan soto daging di sini, Sayang. Kayak lama banget?""Sebelum Papa larang aku masuk ke kantor lagi setelah tahu aku hamil," ucap Rose. Untuk kata terakhir ia sengaja memelankan suaranya.Kabar kehamilan Rose memang belum diumumkan di publik. Arthur hanya mengumumkan kaba
Tokk.... Tokk.... Tokk....Begitu tiba di depan ruang kerja Arthur, Rose mengetuk pintu terlebih dahulu. Padahal tadi Agam sudah memintanya untuk langsung masuk saja karena Arthur memang memintanya seperti itu."Masuk..."Terdengar suara Arthur dari dalam ruangan itu. Rose pun membuka pintu ruangan itu. Saat iya masuk, Arthur masih sibuk dengan dokumen-dokumen di depannya tanpa melihat dirinya yang masuk ke dalam. Mungkin pria itu pikir yang masuk bukan istrinya karena tadi ia pesan pada Agam agar Rose langsung masuk saja tanpa mengetuk pintu.Rose menatap Arthur dengan tatapan terpesona. Ia selalu suka melihat ekspresi serius Arthur saat pria itu sedang fokus dengan kerjaannya. Dulu saat ia masih menjadi sekretaris pribadi suaminya, Rose sering curi-curi pandang ke arah Arthur hanya karena ingin melihat ekspresi serius pria itu.Saat sadar orang yang mengetuk pintu belum juga berada di depannya, Arthur menghentikan kegiatannya lalu ia mendongak ke depan. Betapa terkejutnya saat meli
Alana terdiam saat melihat koleksi lingerie seksi di depannya.Ia sekarang paham baju dinas yang dimaksud oleh Rose. "Ini yang aku maksud, Al. Sebagai seorang istri, baju-baju seksi kurang bahan ini sangat dipelukan. Apalagi kamu kan pengantin baru yang pasti masih panas-panasnya. Tampil seksi di depan suami itu sangat perlu, Al. Demi menjaga hati dan mata suami agar tidak tergoda dengan para pelakor di luar sana. Meski aku percaya dengan Ken yang akan setia sama kamu. Menyenangkan suami itu sangat bagus kok.""Tapi Rose, pakai lingerie ini sama seperti nggak pakai apa-apa. Bahannya nerawang seperti saringan tahu ini." Alana masih terlihat malu-malu. Hal ini memang baru baginya. Baju tidur yang biasa ia pakai saja semuanya tertutup. Meski tinggal di kost khusus wanita, ia tetap menjaga pakaiannya agar tetap tertutup."Lingerie itu memang begini, Al. Kan pakai lingerienya di depan suami. Nggak papa lah kurang bahan. Kamu tahu, aku bahkan punya lingerie yang hanya menutupi satu titik b
"Hai catin," ucap Rose saat Alana masuk ke dalam mobil."Ihh kamu ini Rose. Aku kan jadi malu," ucap Alana sambil tersipu malu. Ia masih tidak menyangka sebentar lagi akan menikah dengan Ken."Lah kenapa kamu harus malu, Al. Pernikahan itu hal yang membahagiakan. Pokoknya menikah itu seru, Al. Aku sudah hubungi Tante Zara kalau kita sudah otw menuju butiknya. Tante Zara itu ramah banget."Mobil yang di kendarai oleh Jaka sudah meninggalkan kost Alana."Makasih ya Rose karena sudah menghubungi Tante Zara untuk aku. Nggak pernah terpiikir olehku sama sekali saat menikah memakai gaun pernikahan yang di rancang oleh Tante Zara, desainer yang namanya sudah besar di kota ini. Nggak hanya di kota ini sih, kayaknya nggak hanya di Indonesia saja lah tapi di luar negeri juga.""Sama, Al. Memangnya kamu pikir aku ada impian memakai gaun rancangan Tante Zara. Enggak, Al. Aku saja terkejut saat pertama kali Papa ajak aku ke butiknya Tante Zara. Awalnya aku nggak percaya, eh setelah melihat Tante Z
"Sayang, nanti kamu jadi nemankan Alana untuk fitting gaun pengantinnya?" tanya Arthur saat Rose membantu memasangkan dasi untuknya."Iya jadi. Kasihan kalau Alana fitting bajunya sendirian. Ken kan lagi nggak bisa hari ini karena Papa minta dia untuk ke Bogor. Bukannya waktu itu Papa bilang sudah memberi Ken cuti tapi kenapa dia masih harus ke Bogor? Nggak bisa digantikan oleh orang lain?""Nggal bisa, Sayang karena ini yang membuat Ken belum bisa cuti. Dia harus menyelesaikan pekerjaannya itu hari ini agar nanti saat dia dan Alana pergi honey moon tidak terganggu. Meski belum selesai juga, aku tetap tidak akan menganggu waktu honey moon mereka. Ken itu orangnya perfeksionis dalam pekerjaan dan sangat bertanggung jawab makanya ia kekeh mau selesaikan dulu. Tapi besok dia udah benar-benar cuti kok."Rose sudah menyelesaikan memasang dasi untuk Arthur. "Terus yang menggantikan Ken selama dia cuti siapa?""Agam."Mendengar helaan napas lega Rose mencuri perhatian Arthur."Kenapa? Kamu p
"Ice creamnya enak banget. Selalu enak sejak pertama buka," ucap Rose sembari menikmati rasa manis dan dingin ice cream yang ada di dalam mulutnya.Setelah dari butik C&G, Arthur dan Rose langsung ke Mall karena Rose ingin makan ice cream kesukaannya yang memang hanya buka di Mall itu saja. Ice cream homemade dan sekarang sudah sangat terkenal meski hanya membuka satu cabang saja karena ownernya ingin fokus di satu oulite saja demi memastikan citarasanya tetap terjaga."Bumil bahagia banget bisa makan ice cream," ucap Arthur yang melihat wajah bahagia Rose."Iya dong. Mumpung bisa makan ice cream meski tidak bisa banyak. Papa benarang nggak mau coba. Ini enak loh. Coba deh, Pa." Rose menyuapi Arthur dengan ice cream rasa alpukat miliknya. Rose memang memilih rasa alpukat, cokelat dan cempedak. Untuk rasa cempedak tidak selalu ready setiap hari karena tergantung musim buah itu.Ice ini memang menggunakan buah asli jadi rasanya buahnya lebih kuat."Gimana, Pa? Enak kan?" tanya Rose.A
Rose masih berdiri di tangga cukup lama setelah Arthur berjalan pergi.Suara langkahnya yang menjauh terdengar samar, lalu menghilang di balik tangga menuju lantai dua.Ia mengembuskan napas panjang, dadanya terasa sesak.Setiap kali pria itu menatapnya dengan tatapan lembut dan penuh perhatian, pe
Arthur langsung menerima panggilan telepon dari Zack. "Hallo Zack."“Tuan, ada kabar terbaru tentang Zumi” ucap Zack di seberang sana. “Zumi masih di Bandung. Tapi ada sesuatu yang harus Tuan tahu.”Arthur menegakkan tubuhnya. “Apa itu, Zack?”“Dia bersama seorang wanita. Mereka tinggal satu aparte
Arthur melihat jam tangannya ternyata sudah tiga puluh menit Rose keluar setelah ia izin menerima panggilan dari Zumi, sebenarnya tadi ia ingin menyusul Rose tapi Arthur ingin memberikan waktu untuk Rose dan Zumi."Kenapa dia belum kembali juga?" gumamnya sambil memandang ke arah meja Rose.Tokk...
Rose dan Arthur sedang duduk berhadapan di ruang makan.Setelah Rose sedikit tenang tadi, Rose dan Arthur pergi ke ruang makan karena sudah waktunya sarapan.Roti panggang mereka masih utuh, belum tersentuh sama sekali.Mata Rose masih sembab karena menangis.Akhir-akhir ini Rose lebih sering menang







