LOGINBeberapa hari berlalu sejak dua garis itu muncul di tangannya, dua garis yang mengubah hidupnya. Dan selama itu pula Kayla menyimpan semuanya rapat-rapat seorang diri. Ia tetap sekolah, tetap pulang seperti biasa, tetap makan bersama keluarga… tapi hatinya terasa seperti diikat erat dan ditarik dari berbagai arah.Setiap pagi ia muntah, tapi ia selalu berbohong, bilang masuk angin, bilang kurang tidur, bilang kecapekan.Malam itu, mereka bertiga sedang duduk di ruang makan. Lampu gantung menerangi wajah Marsha yang selalu lembut, dan Miko yang ceria seperti biasanya. Kayla duduk di antara mereka, diam, tangan bergetar di bawah meja. Marsha memperhatikan anaknya sejak tadi. Ada sesuatu yang berubah.Tatapan Kayla kosong, makannya tidak habis, dan senyumnya selalu dipaksakan.Akhirnya Marsha meletakkan sendoknya, menatap Kayla dengan kekhawatiran yang tak bisa ia sembunyikan.“Sayang, kamu kenapa? Akhir-akhir ini Mama lihat kamu murung?” tanya Marsha pelan namun penuh ketegasan seora
Sepulang sekolah, Kayla tidak menoleh ke mana pun. Tidak ke ruang keluarga, tidak ke dapur, bahkan tidak ke arah Miko yang duduk sambil memainkan ponselnya. Ia hanya melewati laki-laki itu dengan langkah cepat, wajah tertunduk, dan tanpa sepatah kata pun.“Kay, makan siang dulu. Kamu belum makan,” panggil Miko dari ruang tengah, nada suaranya khawatir.Tidak ada jawaban. Hanya suara pintu kamar yang tertutup dan langsung terkunci dari dalam.Miko menghela napas, menatap pintu yang kini membatasi dirinya dan gadis yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri itu. Ada sesuatu yang berbeda dari Kayla sejak pagi tadi. Wajahnya pucat, pandangannya kosong, dan ia bahkan tidak menyentuh sarapan.Di dalam kamar, Kayla berdiri terpaku beberapa detik, seolah mencoba menahan dunia yang terasa berguncang. Tangannya gemetar saat melepaskan tas dan meletakkannya begitu saja di lantai. Sepatunya pun ia tendang keluar tanpa peduli apakah terlempar jauh atau tidak.Langkahnya gontai menuju kamar ma
Hoekkkk! Hoeekkk! Suara muntah itu memecah sunyi pagi. Udara kamar mandi masih dingin, sementara cahaya matahari baru saja menyelinap melalui celah jendela. Kayla berdiri terpaku di depan wastafel, kedua tangannya mencengkeram tepinya erat-erat seolah tubuhnya bisa roboh kapan saja. Perutnya bergejolak hebat, rasanya mual tak tertahankan. Kepalanya pening, pandangannya berkunang-kunang. Wajahnya pucat pasi, hampir tak ada darah yang tersisa di sana. “Aku kenapa…” gumamnya lirih, suaranya nyaris tak terdengar, sebelum rasa mual itu kembali menyerang. Hoekk! Tubuh Kayla gemetar. Setelah muntah untuk kesekian kalinya, tenaganya benar-benar terkuras. Kakinya melemah, membuatnya terpaksa terduduk di lantai kamar mandi yang dingin. Nafasnya memburu, dadanya naik turun tidak beraturan. Tok tok tok. Dari luar kamar terdengar suara ketukan, disusul teriakan khas Miko yang selalu c
Pagi itu, halaman rumah masih basah oleh embun ketika mobil Miko melaju perlahan meninggalkan gerbang. Tidak seperti biasanya, motor sport kesayangannya terparkir rapi di garasi. Hari ini ia memilih mobil, bukan karena gengsi, melainkan karena satu alasan sederhana namun penting: kondisi Kayla belum sepenuhnya pulih. Kayla duduk di kursi penumpang, mengenakan seragam sekolah dengan rapi. Rambutnya tergerai sederhana, wajahnya masih terlihat pucat, tapi jauh lebih tenang dibanding kemarin pagi. Sesekali ia menatap keluar jendela, menyaksikan pepohonan yang berlalu, seolah masih berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua ini nyata rumah besar, keluarga, dan kini… kakak yang mengantarnya ke sekolah. “Kamu yakin gak apa-apa?” tanya Miko sambil meliriknya sekilas. Kayla mengangguk pelan. “Iya. Cuma agak pusing dikit.’’ Miko tidak menjawab, hanya memperlambat laju mobilnya. Tangannya menggenggam setir dengan
“Tetep aja, Kay,” balasnya ngotot. “Aku kakak kamu!” Kayla menghela napas berat, menyerah sambil tersenyum. “Oke… Kak Miko.” “Good job,” sahut Miko puas. Keduanya tertawa kecil. Tawa yang ringan, tulus, dan hangat, tanpa beban, tanpa luka. Untuk pertama kalinya, mereka tidak hanya merasa aman…mereka merasa utuh. ** Pagi harinya, Kayla terbangun setelah tidur yang begitu nyenyak. Matanya perlahan terbuka, menatap langit-langit kamar dengan cat lembut dan hiasan yang masih terasa asing baginya. Aroma kamar ini berbeda bersih, hangat, dan menenangkan. Tirai putih bergoyang pelan tertiup angin pagi yang masuk melalui jendela besar. Sinar matahari menyelinap, jatuh tepat di wajahnya. Kayla mengedip beberapa kali. Tidak mimpi. Semua ini nyata. Rumah besar. Kamar indah. Orang tua kandung. Keluarga yang selama ini hanya ada di lubuk hatinya sebagai angan-angan.
Beberapa hari berlalu sejak Kayla siuman. Kondisinya berangsur membaik, meski tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih. Luka-luka itu perlahan sembuh, namun bekasnya tetap ada, bukan hanya di kulit, tapi juga di hati.Hari itu dokter akhirnya memperbolehkannya pulang.Namun, Kayla tidak kembali ke kontrakan sempit yang selama ini ia sebut rumah. Tidak ada lagi kunci berkarat, dinding lembap, atau kasur tipis yang setiap malam menemaninya menangis diam-diam. Mobil yang ia tumpangi justru melaju ke arah yang sama sekali berbeda menuju sebuah kawasan elit yang bahkan dulu hanya bisa ia lihat dari kejauhan.Mobil berhenti perlahan di depan sebuah rumah besar.Kayla turun dengan langkah ragu. Kakinya sedikit gemetar, entah karena lemah atau karena perasaannya yang terlalu penuh. Ia mendongak.Rumah itu berdiri megah di hadapannya. Bangunan dua lantai dengan pilar kokoh, jendela-jendela besar berbingkai putih, dan halaman luas yang dipenuhi bunga berwarna-warni. Mawar, melati, dan anggrek







