INICIAR SESIÓNProtes tajam yang meluncur dari bibir Laura, menyatakan bahwa ia menolak dipermainkan lagi, alih-alih membuat Jonas marah, justru memicu nyala api di dalam pendar mata pekat sang CEO.Kurva senyum miring di bibir pria itu melebar, menyadari bahwa ia telah mendorong batasan kesabaran gadisnya hingga ke titik paling maksimal."Tidak mau dipermainkan lagi, hm?" bisik Jonas serak, suaranya terdengar begitu rendah dan menantang."Kalau begitu, mari kita lihat seberapa lama kamu bisa bertahan dengan ucapanku, Laura."Tanpa memberikan jeda bagi Laura untuk menarik napas atau melayangkan protes susulan, Jonas langsung merangsek maju.Pria tegap itu menengadah dan merengkuh tengkuk Laura, menarik gadis itu kembali dalam ciuman yang jauh lebih menuntut dan beringas dari sebelumnya.Tidak ada lagi permainan lidah yang lambat; ciuman itu kini berubah menjadi pelarutan kesadaran yang menuntut kepatuhan mutlak.Jonas melahap bibir bawah Laura dengan gigitan kecil yang memicu desah tertahan di rongg
Tatapan mata Jonas yang menembus hingga ke dasar sukmanya membuat seluruh keberanian Laura menguap tanpa sisa. Hawa dingin dari pendingin udara apartemen terasa kalah jauh dibandingkan intensitas aura dominan yang melingkupi pria tegap di hadapannya.Laura bisa merasakan dengan jelas ketegangan otot lengan Jonas yang mencengkeram rahangnya, sebuah peringatan halus bahwa kesabaran sang CEO telah berada di batas paling tipis.Laura menelan ludahnya dengan susah payah. Bibirnya yang tadi lancar memaki kini mendadak kelu."J-Jonas... lepas," cicit Laura lirih, mencoba memalingkan wajah meski cengkeraman halus namun mengunci di rahangnya menahan setiap pergerakan."Aku... aku tidak bermaksud seperti itu.""Lalu bermaksud seperti apa, Sayang?" bisik Jonas rendah, tepat di depan permukaan bibir Laura.Hembusan napas hangat pria itu menyapu kulit wajah Laura, memancing desiran halus yang teramat familiar di dasar perutnya."Kamu ingin membuktikan sejauh mana aku bisa murka? Atau kamu sengaja
Gemericik air di kamar mandi perlahan meredam amarah yang sempat membakar dada Laura.Usai membilas tubuhnya dan mengeringkan rambut yang agak basah, Laura mengenakan kembali kaus putih polos kebesaran milik Jonas yang panjangnya jatuh menutupi separuh paha mulusnya.Rasa gantung yang menyebalkan itu memang belum sepenuhnya hilang dari perut bawahnya, namun rasa penasaran dan keinginan untuk membalas sikap dingin sang CEO membuat kakinya melangkah keluar dari kamar tidur utama.Suasana penthouse itu begitu sunyi dan privat.Di sudut ruang keluarga yang megah dengan dinding kaca tebal menembus pemandangan pencakar langit Jakarta, Jonas tampak duduk tegap di belakang meja kerja minimalisnya.Pria tegap itu benar-benar sedang memfokuskan pandangannya pada layar laptop, sesekali jemari mewahnya menari kencang di atas papan ketik seraya meneliti lembaran dokumen finansial.Tatapan matanya yang pekat terlihat begitu tajam, serius, dan tak tersentuh.Laura menyandarkan bahunya di ambang pint
Bisikan lembut Jonas yang menegaskan bahwa hanya ada nama Laura di hatinya seolah meluruhkan seluruh sisa jengkel yang membakar dada gadis itu.Belum sempat Laura merespons atau menyusun kata-kata balasan, Jonas sudah memajukan tubuhnya lebih dalam.Tangan tegapnya bergerak cepat menyambar tengkuk Laura, menariknya mendekat, dan langsung melumat bibir manis gadis itu dalam sebuah ciuman yang memabukkan.Ciuman itu tidak lagi dingin atau menuntut penjelasan, melainkan meledak penuh gairah yang teramat beringas dan memabukkan.Jonas melahap bibir atas dan bawah Laura secara bergantian dengan ritme yang dalam, memiringkan kepalanya demi mempererat tautan mereka.Lidahnya menyusup masuk tanpa hambatan, menginvasi rongga mulut Laura, melilit dan mengajak lidah gadis itu bertaut dalam alunan dominasi yang begitu panas."Ummh... Jonas..." desah Laura lirih di sela-sela pagutan mereka.
Laura meletakkan gelas porselen berisi susu hangat yang baru saja ia tandaskan ke atas nakas dengan denting pelan.Ia kemudian melirik Jonas yang masih berdiri tegap mengawasinya dengan kedua tangan terlipat di depan dada."Sarapannya sudah aku habiskan," ujar Laura dengan suara sedikit serak, berusaha terdengar acuh tak acuh."Aku mau pulang sekarang. Nanti kalau Ibu mencari bagaimana? Kamu mau bilang apa padanya?"Jonas tidak bergeming sedikit pun. Sudut bibirnya terangkat amat tipis sewaktu ia menjawab dengan nada santai namun penuh wibawa."Aku sudah memberitahu Kak Eleanor tadi pagi kalau kita ada dinas mendadak ke luar kota selama tiga hari. Kita baru pulang hari Selasa nanti."Deg.Laura menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya mengedip cepat, menyadari sesuatu. Ini adalah hari Sabtu.
Pagi harinya, Laura sudah tersadar dari mabuknya semalam.Begitu ia mencoba menggerakkan kepalanya, rasa pening luar biasa langsung menghantam tempurung kepalanya. Lengkap dengan sensasi melayang dan kleyengan yang membuat perutnya mual bukan main.Laura meringis pelan, memegang pelipisnya seraya berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya.Namun, saat matanya berhasil terbuka sempurna dan menyapu pandangan ke sekeliling, tubuhnya seketika membeku kaku.Nuansa kamar ini terasa teramat asing. Interior minimalis modern berkelas, dinding bernuansa abu-abu maskulin, serta kasur king size berseprai abu-abu gelap yang teramat luas."I-ini di mana?!" cicit Laura panik setengah mati.Matanya membola lebar, memutar pandangan ke kanan dan ke kiri dengan jantung yang berdegup liar bagaikan dihantam palu godam.Satu pikiran buruk seketika melintas di benaknya: Apakah semalam aku dibungkus oleh pria asing di club?!"Astaga... kalau Jonas sampai tahu, bagaimana?!" gumamnya panik dengan napas teren







