MasukBisikan lembut Jonas yang menegaskan bahwa hanya ada nama Laura di hatinya seolah meluruhkan seluruh sisa jengkel yang membakar dada gadis itu.
Belum sempat Laura merespons atau menyusun kata-kata balasan, Jonas sudah memajukan tubuhnya lebih dalam.
Tangan tegapnya bergerak cepat menyambar tengkuk Laura, menariknya mendekat, dan langsung melumat bibir manis gadis itu dalam sebuah ciuman yang memabukkan.
Ciuman itu tidak lagi dingin atau menuntut penj
Gemericik air di kamar mandi perlahan meredam amarah yang sempat membakar dada Laura.Usai membilas tubuhnya dan mengeringkan rambut yang agak basah, Laura mengenakan kembali kaus putih polos kebesaran milik Jonas yang panjangnya jatuh menutupi separuh paha mulusnya.Rasa gantung yang menyebalkan itu memang belum sepenuhnya hilang dari perut bawahnya, namun rasa penasaran dan keinginan untuk membalas sikap dingin sang CEO membuat kakinya melangkah keluar dari kamar tidur utama.Suasana penthouse itu begitu sunyi dan privat.Di sudut ruang keluarga yang megah dengan dinding kaca tebal menembus pemandangan pencakar langit Jakarta, Jonas tampak duduk tegap di belakang meja kerja minimalisnya.Pria tegap itu benar-benar sedang memfokuskan pandangannya pada layar laptop, sesekali jemari mewahnya menari kencang di atas papan ketik seraya meneliti lembaran dokumen finansial.Tatapan matanya yang pekat terlihat begitu tajam, serius, dan tak tersentuh.Laura menyandarkan bahunya di ambang pint
Bisikan lembut Jonas yang menegaskan bahwa hanya ada nama Laura di hatinya seolah meluruhkan seluruh sisa jengkel yang membakar dada gadis itu.Belum sempat Laura merespons atau menyusun kata-kata balasan, Jonas sudah memajukan tubuhnya lebih dalam.Tangan tegapnya bergerak cepat menyambar tengkuk Laura, menariknya mendekat, dan langsung melumat bibir manis gadis itu dalam sebuah ciuman yang memabukkan.Ciuman itu tidak lagi dingin atau menuntut penjelasan, melainkan meledak penuh gairah yang teramat beringas dan memabukkan.Jonas melahap bibir atas dan bawah Laura secara bergantian dengan ritme yang dalam, memiringkan kepalanya demi mempererat tautan mereka.Lidahnya menyusup masuk tanpa hambatan, menginvasi rongga mulut Laura, melilit dan mengajak lidah gadis itu bertaut dalam alunan dominasi yang begitu panas."Ummh... Jonas..." desah Laura lirih di sela-sela pagutan mereka.
Laura meletakkan gelas porselen berisi susu hangat yang baru saja ia tandaskan ke atas nakas dengan denting pelan.Ia kemudian melirik Jonas yang masih berdiri tegap mengawasinya dengan kedua tangan terlipat di depan dada."Sarapannya sudah aku habiskan," ujar Laura dengan suara sedikit serak, berusaha terdengar acuh tak acuh."Aku mau pulang sekarang. Nanti kalau Ibu mencari bagaimana? Kamu mau bilang apa padanya?"Jonas tidak bergeming sedikit pun. Sudut bibirnya terangkat amat tipis sewaktu ia menjawab dengan nada santai namun penuh wibawa."Aku sudah memberitahu Kak Eleanor tadi pagi kalau kita ada dinas mendadak ke luar kota selama tiga hari. Kita baru pulang hari Selasa nanti."Deg.Laura menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya mengedip cepat, menyadari sesuatu. Ini adalah hari Sabtu.
Pagi harinya, Laura sudah tersadar dari mabuknya semalam.Begitu ia mencoba menggerakkan kepalanya, rasa pening luar biasa langsung menghantam tempurung kepalanya. Lengkap dengan sensasi melayang dan kleyengan yang membuat perutnya mual bukan main.Laura meringis pelan, memegang pelipisnya seraya berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya.Namun, saat matanya berhasil terbuka sempurna dan menyapu pandangan ke sekeliling, tubuhnya seketika membeku kaku.Nuansa kamar ini terasa teramat asing. Interior minimalis modern berkelas, dinding bernuansa abu-abu maskulin, serta kasur king size berseprai abu-abu gelap yang teramat luas."I-ini di mana?!" cicit Laura panik setengah mati.Matanya membola lebar, memutar pandangan ke kanan dan ke kiri dengan jantung yang berdegup liar bagaikan dihantam palu godam.Satu pikiran buruk seketika melintas di benaknya: Apakah semalam aku dibungkus oleh pria asing di club?!"Astaga... kalau Jonas sampai tahu, bagaimana?!" gumamnya panik dengan napas teren
Setibanya di dalam area VIP Dragonfly Club yang dipenuhi dentuman musik pekat dan pendar lampu neon remang, Hardy hanya bisa menggaruk rambutnya yang tidak gatal sama sekali.Pria itu menghela napas kasar berulang kali, menyapu pandangan pada dua wanita yang sudah lunglai di sofa dengan beberapa gelas alkohol kosong di meja.Hardy berkacak pinggang, langsung memarahi Novia dengan nada panik yang ditahan. "Novia! Kamu gila, ya?! Kenapa malah membawa Laura ke tempat seperti ini, sih?! Kamu tahu tidak ini sudah jam berapa?!"Novia yang kepalanya sudah terkulai hanya terkekeh pelan, memegang gelasnya yang tinggal sisa es batu.Sementara itu, Laura yang kesadarannya sudah setengah membayang akibat pengaruh alkohol perlahan menoleh.Di hadapannya, sosok Jonas berdiri tegap berbalut jas gelap dengan satu tangan tertancap kokoh di pinggang.Pria itu menatapnya lurus dengan raut wajah amat dingin, mata pekatnya memancarkan kemurkaan dan dominasi posesif yang pekat.Bukannya takut, Laura justru
Hardy berdiri tegak di dalam ruang kontrol CCTV gedung Gideon Corp yang remang, dikelilingi oleh puluhan layar monitor yang memantulkan pendar cahaya kebiruan.Di sampingnya, seorang staf operator yang sedang bertugas shift malam tampak mengetik dengan jemari yang menari cepat di atas papan ketik.Suasana di dalam ruangan itu begitu menegangkan, terasa semakin menghimpit seiring berjalannya waktu yang terus bergulir menembus dini hari."Coba perbesar bagian lobi utama pukul lima sore tadi," perintah Hardy seraya memajukan tubuhnya, menunjuk salah satu sudut layar monitor dengan raut wajah cemas.Staf operator itu mengklik beberapa kali, memperbesar rekaman video resolusi tinggi tersebut.Di sana, terlihat jelas sosok Laura yang mengenakan gaun kerjanya melangkah keluar lobi bersama Novia.Keduanya tampak mengobrol singkat di pinggir jalan sebelum akhirnya menyetop sebuah armada taksi berwarna biru yang melintas, lalu masuk bersama-sama ke dalamnya."Nah, itu dia!" seru Hardy seraya me







