Share

Bab 4

Author: Liam
Ucapannya seperti sebuah bom yang meledak hebat di dalam kepalaku.

Menuntun?

Ternyata bagi suamiku, diriku ini hanyalah sebidang tanah gersang yang sedang menunggu untuk digarap?

Dan Steve adalah petani yang diutus untuk membajak tanah itu?

Rasa terhina yang luar biasa hebatnya menusuk ulu hatiku. Aku menyentakkan tangan, mencoba mendorongnya menjauh.

“Jangan sentuh aku!”

Namun, baru saja tanganku menyentuh lengannya, dia langsung membalikkan tangan dan mencengkeram tanganku.

Telapak tangannya seperti tang jepit besi, kekuatannya begitu besar hingga aku tak bisa melepaskan diri sama sekali.

“Nyonya, jangan melawan.” Nada bicaranya memberat, terselip peringatan di dalamnya, “Membuatku kesal nggak akan menguntungkanmu.”

Sambil berkata begitu, tangannya yang lain langsung bergerak naik ke atas dan menyingkap ujung rokku dalam sekali sentakan!

“Ah!” Aku spontan menjerit.

Udara dingin yang tiba-tiba menerpa kulit yang terpampang membuatku merinding.

Ujung rokku sudah dinaikkan olehnya hingga ke pinggang, membuat segala sesuatu di pangkal pahaku terpampang jelas.

Celana dalam thong berwarna merah muda yang kupakai saat ini terlihat sangat menggoda.

Terutama bagian tengah kain yang sudah basah kuyup itu, menempel ketat pada kulit dan memperlihatkan lekuk area intimku dengan sangat jelas.

“Ternyata benar-benar sudah basah.”

Tatapan Steve bagaikan lampu sorot, memindai tubuhku dengan begitu bebas tanpa memedulikan apapun. Dengan nada bicara yang dipenuhi gairah yang tak ditutup-tutupi.

“Nyonya, bibirmu menolak, tapi tubuhmu malah sangat jujur.”

Rasa malu membuatku ingin mati saat itu juga. Aku terus menggerakkan tubuhku demi bisa menarik rokku kembali ke bawah.

“Lepaskan aku! Steve, ini tindakan kriminal!”

“Kriminal?” Dia seolah baru saja mendengar lelucon paling konyol di dunia dan melanjutkan, “Nyonya, jangan lupa, ini adalah perintah dari Pak Freddy. Aku hanya sedang… menjalankan tugas.”

Dia memberi penekanan pada kata ‘tugas’ dan cengkeraman pada pergelangan tanganku pun semakin kuat.

Dia mengangkat kedua tanganku ke atas kepala, lalu menguncinya dengan kuat hanya dengan satu tangan.

Setelah itu, dia mencondongkan badannya ke depan dan menindih seluruh tubuhnya.

Aroma hormon pria yang pekat langsung mengepungku dari segala arah. Wajahnya berada sangat dekat denganku, sangking dekatnya hingga aku bisa melihat bulu-bulu halus di wajahnya, serta kilatan serakah yang terpancar jelas dari matanya.

“Nyonya, kamu wangi sekali.”

Ujung hidungnya mengusap pipiku dengan lembut, hingga akhirnya berhenti di samping telingaku.

Napasnya yang hangat berhembus di daun telingaku, membuatku merinding.

“Kumohon… lepaskan aku….” Suaraku mulai terdengar menahan tangis, ini adalah bentuk perlawanan terakhirku.

“Melepaskanmu?” Dia terkekeh pelan, lalu ujung lidahnya menjilat cuping telingaku.

“Setelah tugas ini selesai, aku tentu saja akan melepaskanmu.”

Usai bicara, tangannya yang lain akhirnya bergerak menyusup menuju area terlarang itu.

Jarinya tak langsung menyentuhnya, melainkan dengan terhalang renda tipis, dia mulai membuat gerakan melingkar dengan lembut di bagian tepinya.

Sensasi itu terasa jauh lebih menyiksa daripada sentuhan langsung.

Rasanya seperti ada ribuan semut yang merayap, begitu geli dan menggelitik. Membuatku tanpa sadar ingin menggerakkan pinggangku demi menyambut sentuhannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Terlarang Bawahan Suamiku   Bab 13

    Jelas sekali, Steve juga tak menduga akan ada perubahan rencana ini.“Iya, pergilah,” ucap Steve dingin ke arah luar pintu.Suara langkah kaki di luar pun bergegas menjauh.Ruangan itu kembali terlempar ke dalam keheningan yang mencekam.Sisa-sisa aroma intim di udara yang menggoda dan wangi dari tubuhku masih tercium dengan jelas.Aku memeluk lututku, meringkuk di sudut sofa sambil menahan tubuh yang masih gemetar pelan.Tadi benar-benar sedikit lagi….Jika Bibi Siti terlambat satu menit saja….Aku bahkan tak berani membayangkan apa konsekuensinya.Steve berdiri mematung di tempatnya selama beberapa saat, tampaknya sedang mencoba meredakan gairah yang belum sepenuhnya surut dari dalam tubuhnya.Aku bisa melihat tonjolan yang luar biasa di bagian depan celananya. Bahkan dalam pencahayaan yang remang-remang pun, itu terlihat begitu mencolok dan mengintimidasi.Setelah beberapa saat, dia baru membalikkan badannya perlahan dan menatap ke arahku.Sorot matanya terasa sangat rumit, ada gair

  • Sentuhan Terlarang Bawahan Suamiku   Bab 12

    Salah satu tangannya menangkup buah dadaku yang lain, meremasnya sesuka hati hingga mengubah bentuknya.Sementara tangannya yang lain bergerak menyusuri perut rataku, terus meluncur ke bawah, menyusup ke dalam area segitiga yang misterius itu.Di sana, semuanya sudah basah kuyup.“Nyonya, kamu bergairah sekali.”Dia berbisik di telingaku, sementara jarinya mulai bergerak nakal di sela-sela bagian yang basah itu.Sentuhannya membuat seluruh tubuhku lemas tak berdaya, hingga kedua kakiku reflek melingkari pinggangnya.Terhalang oleh bahan celana yang tipis, aku bisa merasakan sesuatu yang keras dan panas sedang menekan kuat tepat di pangkal pahaku.Ukuran dan hawa panas yang luar biasa itu membuatku merasa takut, sekaligus menantikannya.“Steve… aku….” Aku terengah-engah, ingin mengatakan sesuatu, tapi tak tahu harus berkata apa.“Nyonya, panggil namaku.” Dia menghentikan gerakannya, mendongak dan memaksa mataku untuk menatapnya.“Panggil aku.”Tatapannya membawa kekuatan sihir yang tak

  • Sentuhan Terlarang Bawahan Suamiku   Bab 11

    “Kalau begitu… mau yang lebih nyaman lagi?” Suaranya membawa godaan yang mematikan.Hatiku tersentak dan aku langsung membuka mata lebar-lebar.Ternyata entah sejak kapan, dia sudah berlutut dengan satu kaki di depan sofa. Tubuh bagian atasnya agak mencondong ke depan, membuat wajah tampannya kini berjarak kurang dari satu jengkal dariku.Tatapannya bagaikan kobaran api yang siap melahap seluruh tubuhku.“Ka… kamu mau apain?” ucapku tegang sambil berusaha memundurkan tubuh.“Mau apain?” Dia terkekeh pelan, lalu mengulurkan tangan dan mengusap pipiku dengan lembut, “Tentu saja… melakukan apa yang diperintahkan oleh Pak Freddy.”Tangannya bergerak turun dari pipi, melewati leher, hingga sampai ke tali gaunku yang sudah melorot.Menggunakan ujung jarinya, dia mengaitnya dengan pelan.‘Sret’, tali di sisi lain gaun tidurku pun ikut dilepaskan olehnya.Gaun tidur berbahan sutra yang mulus itu langsung merosot dari tubuhku dan menumpuk di pinggang.Tubuh bagian atasku kini benar-benar tereks

  • Sentuhan Terlarang Bawahan Suamiku   Bab 10

    Dia akan menyuruhku duduk di sofa, sementara dia sendiri duduk di atas karpet, menaikkan kedua kakiku ke atas pahanya, lalu memulai ‘pijat refleksi kaki’ yang dimaksud.Tekniknya kali ini jauh lebih berani dan lebih menggoda ketimbang saat di dalam mobil dulu.Dia tak hanya memijat telapak kakiku, tapi juga menggunakan jarinya untuk berulang kali menggelitik bagian tengah telapak kaki dan sela-sela jariku yang sensitif.Sensasi geli dan menggelitik itu berhasil membuatku selalu menekuk jari kaki tanpa bisa ditahan, membuat tubuhku menggeliat seperti seekor ular air di hadapannya.Sementara itu, gaun tidurku selalu merosot naik ke atas akibat gerakan tubuhku yang tanpa sadar, memperlihatkan hamparan kulit pangkal paha yang putih bersih.Dia akan menghentikan gerakan tangannya, mendongak, lalu menggunakan sepasang matanya yang dalam itu untuk menikmati momen hilangnya kendali diriku dalam diam.“Nyonya, tubuhmu… benar-benar semakin jujur.”Menggunakan suaranya yang serak, dia akan menguc

  • Sentuhan Terlarang Bawahan Suamiku   Bab 9

    Di hadapan semua pelayan, Freddy mengumumkan identitas baru Steve.“Mulai hari ini, Pak Steve akan menjadi konsultan kesehatan nyonya. Dia bertugas memelihara kondisi tubuh nyonya agar… bisa menjalani program kehamilan dengan lebih baik.”Dia mengucapkannya dengan begitu berwibawa. Para pelayan semuanya menunduk dan tak ada yang berani mendongak, tapi di tengah suasana yang mencekam itu, aku bisa merasakan prasangka dan penghinaan di dalam hati mereka masing-masing.Seketika, wajahku memucat dan memerah bergantian, rasanya ingin sekali menghilang.“Steve, mulai sekarang aku percayakan Anita padamu.” Freddy menepuk pundak Steve dengan nada bicara yang penuh kepercayaan dan harapan.“Tenang saja, Pak Freddy. Aku pasti akan berusaha semaksimal mungkin.” Steve mengangguk, tapi tatapannya melewati Freddy dan langsung tertuju padaku.Sorot mata itu masih dipenuhi keagresifan yang sama, kini bahkan ditambah dengan seulas senyuman penuh kemenangan.Seolah-olah sedang berkata, nyonya, kita bert

  • Sentuhan Terlarang Bawahan Suamiku   Bab 8

    Tangannya terasa berkerut dan dingin, sangat kontras dengan tangan besar Steve yang panas dan bertenaga.“Anita, aku tahu kamu merasa dirugikan.” Suaranya agak melunak, “Tapi, demi masa depan keluarga, ini satu-satunya jalan.”“Lihat ini, ini pesan yang baru saja kuterima.”Dia menyodorkan ponselnya ke depan wajahku.Di layarnya, tertera sebuah pesan yang dikirimkan Steve.Hanya ada beberapa kata singkat.[Pak Freddy, tugas berjalan lancar. Nyonya sangat sensitif dan juga… sangat kooperatif.]Seketika, wajahku langsung memerah sampai ke belakang telinga.Dasar bajingan!Bisa-bisanya dia melaporkan hal ini pada suamiku!Bahkan bilang aku… kooperatif?!“Bagus sekali.” Freddy tampaknya sangat puas. Dia menarik kembali ponselnya, lalu tangannya yang berada di pundakku mulai memijat dengan tekanan yang pas.“Anita, kamu melakukannya dengan sangat baik, pertahankan.”“Asalkan kamu bisa mengandung anak Steve, semua milik keluarga ini kelak akan menjadi milikmu dan anak itu.”Ucapannya bagaika

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status