LOGINJelas sekali, Steve juga tak menduga akan ada perubahan rencana ini.“Iya, pergilah,” ucap Steve dingin ke arah luar pintu.Suara langkah kaki di luar pun bergegas menjauh.Ruangan itu kembali terlempar ke dalam keheningan yang mencekam.Sisa-sisa aroma intim di udara yang menggoda dan wangi dari tubuhku masih tercium dengan jelas.Aku memeluk lututku, meringkuk di sudut sofa sambil menahan tubuh yang masih gemetar pelan.Tadi benar-benar sedikit lagi….Jika Bibi Siti terlambat satu menit saja….Aku bahkan tak berani membayangkan apa konsekuensinya.Steve berdiri mematung di tempatnya selama beberapa saat, tampaknya sedang mencoba meredakan gairah yang belum sepenuhnya surut dari dalam tubuhnya.Aku bisa melihat tonjolan yang luar biasa di bagian depan celananya. Bahkan dalam pencahayaan yang remang-remang pun, itu terlihat begitu mencolok dan mengintimidasi.Setelah beberapa saat, dia baru membalikkan badannya perlahan dan menatap ke arahku.Sorot matanya terasa sangat rumit, ada gair
Salah satu tangannya menangkup buah dadaku yang lain, meremasnya sesuka hati hingga mengubah bentuknya.Sementara tangannya yang lain bergerak menyusuri perut rataku, terus meluncur ke bawah, menyusup ke dalam area segitiga yang misterius itu.Di sana, semuanya sudah basah kuyup.“Nyonya, kamu bergairah sekali.”Dia berbisik di telingaku, sementara jarinya mulai bergerak nakal di sela-sela bagian yang basah itu.Sentuhannya membuat seluruh tubuhku lemas tak berdaya, hingga kedua kakiku reflek melingkari pinggangnya.Terhalang oleh bahan celana yang tipis, aku bisa merasakan sesuatu yang keras dan panas sedang menekan kuat tepat di pangkal pahaku.Ukuran dan hawa panas yang luar biasa itu membuatku merasa takut, sekaligus menantikannya.“Steve… aku….” Aku terengah-engah, ingin mengatakan sesuatu, tapi tak tahu harus berkata apa.“Nyonya, panggil namaku.” Dia menghentikan gerakannya, mendongak dan memaksa mataku untuk menatapnya.“Panggil aku.”Tatapannya membawa kekuatan sihir yang tak
“Kalau begitu… mau yang lebih nyaman lagi?” Suaranya membawa godaan yang mematikan.Hatiku tersentak dan aku langsung membuka mata lebar-lebar.Ternyata entah sejak kapan, dia sudah berlutut dengan satu kaki di depan sofa. Tubuh bagian atasnya agak mencondong ke depan, membuat wajah tampannya kini berjarak kurang dari satu jengkal dariku.Tatapannya bagaikan kobaran api yang siap melahap seluruh tubuhku.“Ka… kamu mau apain?” ucapku tegang sambil berusaha memundurkan tubuh.“Mau apain?” Dia terkekeh pelan, lalu mengulurkan tangan dan mengusap pipiku dengan lembut, “Tentu saja… melakukan apa yang diperintahkan oleh Pak Freddy.”Tangannya bergerak turun dari pipi, melewati leher, hingga sampai ke tali gaunku yang sudah melorot.Menggunakan ujung jarinya, dia mengaitnya dengan pelan.‘Sret’, tali di sisi lain gaun tidurku pun ikut dilepaskan olehnya.Gaun tidur berbahan sutra yang mulus itu langsung merosot dari tubuhku dan menumpuk di pinggang.Tubuh bagian atasku kini benar-benar tereks
Dia akan menyuruhku duduk di sofa, sementara dia sendiri duduk di atas karpet, menaikkan kedua kakiku ke atas pahanya, lalu memulai ‘pijat refleksi kaki’ yang dimaksud.Tekniknya kali ini jauh lebih berani dan lebih menggoda ketimbang saat di dalam mobil dulu.Dia tak hanya memijat telapak kakiku, tapi juga menggunakan jarinya untuk berulang kali menggelitik bagian tengah telapak kaki dan sela-sela jariku yang sensitif.Sensasi geli dan menggelitik itu berhasil membuatku selalu menekuk jari kaki tanpa bisa ditahan, membuat tubuhku menggeliat seperti seekor ular air di hadapannya.Sementara itu, gaun tidurku selalu merosot naik ke atas akibat gerakan tubuhku yang tanpa sadar, memperlihatkan hamparan kulit pangkal paha yang putih bersih.Dia akan menghentikan gerakan tangannya, mendongak, lalu menggunakan sepasang matanya yang dalam itu untuk menikmati momen hilangnya kendali diriku dalam diam.“Nyonya, tubuhmu… benar-benar semakin jujur.”Menggunakan suaranya yang serak, dia akan menguc
Di hadapan semua pelayan, Freddy mengumumkan identitas baru Steve.“Mulai hari ini, Pak Steve akan menjadi konsultan kesehatan nyonya. Dia bertugas memelihara kondisi tubuh nyonya agar… bisa menjalani program kehamilan dengan lebih baik.”Dia mengucapkannya dengan begitu berwibawa. Para pelayan semuanya menunduk dan tak ada yang berani mendongak, tapi di tengah suasana yang mencekam itu, aku bisa merasakan prasangka dan penghinaan di dalam hati mereka masing-masing.Seketika, wajahku memucat dan memerah bergantian, rasanya ingin sekali menghilang.“Steve, mulai sekarang aku percayakan Anita padamu.” Freddy menepuk pundak Steve dengan nada bicara yang penuh kepercayaan dan harapan.“Tenang saja, Pak Freddy. Aku pasti akan berusaha semaksimal mungkin.” Steve mengangguk, tapi tatapannya melewati Freddy dan langsung tertuju padaku.Sorot mata itu masih dipenuhi keagresifan yang sama, kini bahkan ditambah dengan seulas senyuman penuh kemenangan.Seolah-olah sedang berkata, nyonya, kita bert
Tangannya terasa berkerut dan dingin, sangat kontras dengan tangan besar Steve yang panas dan bertenaga.“Anita, aku tahu kamu merasa dirugikan.” Suaranya agak melunak, “Tapi, demi masa depan keluarga, ini satu-satunya jalan.”“Lihat ini, ini pesan yang baru saja kuterima.”Dia menyodorkan ponselnya ke depan wajahku.Di layarnya, tertera sebuah pesan yang dikirimkan Steve.Hanya ada beberapa kata singkat.[Pak Freddy, tugas berjalan lancar. Nyonya sangat sensitif dan juga… sangat kooperatif.]Seketika, wajahku langsung memerah sampai ke belakang telinga.Dasar bajingan!Bisa-bisanya dia melaporkan hal ini pada suamiku!Bahkan bilang aku… kooperatif?!“Bagus sekali.” Freddy tampaknya sangat puas. Dia menarik kembali ponselnya, lalu tangannya yang berada di pundakku mulai memijat dengan tekanan yang pas.“Anita, kamu melakukannya dengan sangat baik, pertahankan.”“Asalkan kamu bisa mengandung anak Steve, semua milik keluarga ini kelak akan menjadi milikmu dan anak itu.”Ucapannya bagaika







