分享

Bab 85 : Bisma

作者: Olivia
last update publish date: 2026-05-27 23:49:10

Dor!

Tubuh Bisma langsung bergerak cepat membalik posisi, Peluru itu menghantam bahunya lagi.

“Akh—”

Napas Bisma tertahan kasar. Tubuhnya sedikit mundur karena benturan peluru, tetapi tangannya tetap memeluk Aru erat di dadanya.

“Bisma!”

Suara Aru pecah, Perempuan itu langsung memegang bahu Bisma yang kembali berdarah. Darah hangat mulai merembes cepat melewati kemeja hitamnya dan menetes ke lantai kayu.

Sedangkan Reyhan membeku sesaat melihat itu.

Tatapannya turun pada Aru yang sekarang menan
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Sentuhan Terlarang yang Menjadi Canduku   Bab 116 : Keputusan dan Awal yang Baru

    Pagi itu, sinar matahari menyelinap masuk lewat celah tirai jendela, memancarkan cahaya lembut yang menghangatkan seluruh ruangan. Suara hujan yang semalam terdengar mencekam kini sudah berganti dengan kicau burung yang kembali beraktivitas. Di atas tempat tidur, Aru masih terlelap dalam dekapan Bisma, tubuhnya terasa lebih ringan dan tenang setelah membebaskan diri dari beban keraguan semalam. Bisma terjaga lebih dulu. Ia menatap wajah perempuan di pelukannya dengan tatapan lembut, jarinya bergerak perlahan menyisir helaian rambut yang menutupi dahi Aru. Setiap lekuk wajah itu terasa semakin berharga baginya, bukan lagi sekadar rasa ingin melindungi, melainkan rasa memiliki yang utuh dan tulus. Ia tahu masa depan tidak akan mudah, tapi selama Aru ada di sisinya, ia merasa memiliki kekuatan lebih dari apa pun. Saat Aru perlahan membuka matanya, hal pertama yang dilihatnya adalah tatapan Bisma yang penuh kasih sayang. Senyum terukir di bibirnya secara alami, tanpa paksaan. “Kau suda

  • Sentuhan Terlarang yang Menjadi Canduku   Bab 115 : Potongan Teka teki mulai terangkai

    Hujan perlahan mereda, hanya menyisakan tetesan air yang masih menetes perlahan dari atap dan daun pohon di luar jendela. Di dalam kamar, ketegangan yang tadi meluap perlahan berganti menjadi keheningan yang lebih tenang, meski kebenaran yang baru terungkap masih terasa berat di hati masing-masing.Aru masih berdiri di hadapan Bisma, matanya menatap lurus ke dalam mata laki-laki itu. Selama beberapa menit ia hanya diam, memproses kenyataan bahwa mereka berdua terikat bukan hanya oleh rasa cinta, tapi juga oleh masa lalu yang sama rumitnya. Namun keraguan yang sempat muncul perlahan menghilang, digantikan oleh keyakinan yang semakin kuat.“Jadi kita sama-sama memiliki akar yang sama,” bisik Aru, suaranya lembut namun jelas. “Bukan kau yang asing, bukan pula aku yang terpisah sendirian.”Bisma mengangguk perlahan, tangannya yang masih menggenggam tangan Aru sedikit mengerat. “Aku takut kau akan memandangku berbeda, menganggapku hanya bagian dari percobaan yang mengerikan itu. Tapi bagik

  • Sentuhan Terlarang yang Menjadi Canduku   Bab 114 : Subjek

    Udara di dalam kamar terasa makin sesak, seolah setiap napas terasa berat dan sarat pertanyaan yang baru saja terungkap. Jari Arga masih teracung lurus, namun sebelum pandangan semua orang sempat menetap pada satu sosok, ia justru memutar arah perlahan, menatap tepat ke arah Bisma yang masih berdiri kokoh melindungi Aru di belakangnya.“Pengkhianat memang ada di antara kita,” ucap Arga tenang, namun suaranya terdengar menusuk hingga ke tulang sumsum. “Tapi sebelum mengungkap siapa dia, ada satu kebenaran yang jauh lebih besar yang harus kalian dengar sekarang. Selama ini kalian hanya tahu satu sisi cerita, padahal kenyataannya jauh lebih rumit dan berbahaya.”Bisma tetap tidak menurunkan senjatanya, namun rahangnya mengeras, matanya menatap Arga dengan tatapan yang mulai berubah, bukan lagi hanya kewaspadaan, melainkan seolah ia sudah menduga apa yang akan dikatakan selanjutnya.“Kau bilang Aru adalah subjek juga,” potong Bisma dengan suara rendah dan berat. “Lalu apa maksudnya semua

  • Sentuhan Terlarang yang Menjadi Canduku   Bab 113 : Aru Diincar

    Udara di dalam kamar terasa semakin sesak, seolah oksigen perlahan tersedot habis begitu sosok lelaki itu melangkah masuk. Bisma tetap berdiri kokoh di depan Aru, tubuhnya menjadi perisai utama, sementara pistol di tangannya tetap terarah tepat ke dada lelaki bernama Arga itu. Jemarinya mencengkeram gagang senjata dengan kuat, napasnya teratur namun penuh kewaspadaan, meski rasa perih di bahu yang baru dioperasi itu mulai menjalar hingga ke lengan.“Paman… timmu?” tanya Aru lagi, suaranya lebih tenang kali ini, meski matanya tidak lepas menatap sosok asing yang kini berdiri di ambang pintu.Paman Dion yang masih berdiri di sisi lain mengangguk pelan, berusaha menenangkan dirinya sendiri sekaligus memberikan jawaban yang meyakinkan. “Ahh… iya. Mereka sudah berhasil mendapatkan ayahmu, dan Reyhan. Keduanya sudah diamankan dan dibawa ke tempat persembunyian yang paling aman, tempat yang tidak tercatat dalam dokumen apa pun dan hanya diketahui oleh segelintir orang.”Aru menoleh sebentar

  • Sentuhan Terlarang yang Menjadi Canduku   Bab 112 : Aku sudah Didalam

    Hujan belum juga reda. Suara rintiknya yang membasahi atap dan kaca jendela masih terdengar samar, seperti irama yang menyelimuti keheningan kamar. Di dalam sana, sisa kehangatan dan keintiman tadi masih terasa melekat di kulit dan di hati Aru dan Bisma. Mereka masih berbaring berdekatan, saling memeluk seolah takut ada kekuatan yang akan memisahkan mereka kembali.Aru mengusap pelan dada Bisma, jemarinya bergerak dengan sangat hati-hati menghindari bagian bahu yang terbalut perban. Matanya masih terpejam, namun pikirannya perlahan mulai kembali sadar, meski hatinya masih enggan meninggalkan rasa damai yang jarang ia rasakan.“Dia sudah masuk,” bisik Aru tiba-tiba, suaranya lembut namun sarat makna. Matanya perlahan terbuka, menatap ke arah bayangan dinding kamar yang diterangi cahaya redup. “Orang yang ada di rekaman CCTV itu… dia tidak hanya menunggu. Dia sudah bergerak.”Bisma mengeratkan pelukannya, napasnya menyentuh puncak kepala Aru. “Kau tahu siapa dia?”“Belum pasti,” jawab A

  • Sentuhan Terlarang yang Menjadi Canduku   Bab 111 : Malam ini milik Kita

    Rasa perih samar di bahu Bisma tidak membuatnya mundur sedikit pun. Ia justru mempererat pelukan, seolah ingin meleburkan jarak yang selama ini memisahkan mereka. Ciuman itu kembali terjalin—tidak tergesa, namun penuh hasrat yang terpendam lama, seperti air yang akhirnya menemukan jalan keluar setelah bertahun-tahun tertahan.Aru merasakan ketegangan di tubuhnya perlahan luruh, digantikan oleh rasa aman yang hanya bisa ia temukan di dekat laki-laki ini. Jemarinya yang tadinya ragu kini bergerak lembut, menyusuri tengkuk dan bahu Bisma dengan penuh perhatian, berusaha menghindari bagian yang terbalut perban, seolah takut lukanya terasa sakit.“Pelan-pelan saja,” bisiknya di sela-sela hembusan napas, suaranya terdengar lembut namun bergetar. “Aku tidak ingin lukamu terbuka kembali.”Bisma menggeleng pelan, lalu mencium dahi, pelipis, hingga turun ke leher Aru dengan sentuhan yang sangat hati-hati. “Rasa sakit ini tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa rindu yang menyiksa hatiku selama i

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status