“Tidak…” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar. Namun ruangan itu terlalu sunyi. Bahkan bisikan sekecil itu sampai ke telinga Bisma. Pria itu tersenyum tipis. Bukan senyum hangat, melainkan senyum getir yang penuh kendali, seolah ia sudah tahu akhir dari perlawanan ini jauh sebelum dimulai. Di mata Bisma, Arunika bukan sekadar wanita dari masa lalu, dia adalah luka yang gagal mengering, dan malam ini, luka itu harus dipaksa melihat kenyataan. “Kamu menyuruhku menggunakan itu? Tidak... kamu sudah gila, Bisma!” “Kamu masih belum paham situasimu, ya, Aru?” Bisma melangkah mendekat. Satu langkah, dua langkah, hingga Arunika terpojok di sudut ruangan yang remang. Punggung wanita itu menyentuh dinding yang dingin, namun tatapan Bisma jauh lebih membekukan. Bisma mengurung tubuh mungil itu dengan kedua lengannya yang tertumpu pada dinding, menciptakan sangkar tak kasat mata yang menyesakkan. “Kalau kamu tidak setuju…” suara Bisma merendah, berat oleh emosi yang tertahan, “Lantas, ken
Last Updated : 2026-04-13 Read more