author-banner
Olivia
Olivia
Author

Novels by Olivia

Sentuhan Terlarang yang Menjadi Canduku

Sentuhan Terlarang yang Menjadi Canduku

Arunika dijual oleh suaminya sendiri demi menyelamatkan kehancuran finansial. Namun pria yang membelinya bukan orang asing melainkan Bisma, sosok masa lalu yang dulu ia tolak. Kini, Bisma bukan lagi pria yang memohon cinta, melainkan seseorang yang penuh kendali dan menyimpan luka lama. Terjebak dalam permainan yang kejam, Arunika harus memilih antara harga diri atau bertahan hidup. “Aku membayarmu, Arunika. Jadi jangan berpura-pura punya pilihan.” Dengan mata yang mulai berubah, Arunika berbisik, “Kalau itu maumu… pastikan kamu tidak menyesal telah membeliku.”
อ่าน
Chapter: Bab 12 : Tentang Masa Lalu
Udara di ruangan itu mendadak berubahnbukan lagi sekadar tegang, tapi menekan, seolah dinding-dinding villa ikut menyempit dan menyedot oksigen keluar. Arunika masih terpaku pada layar ponselnya. Jari-jarinya membeku, sementara sensasi dingin yang menyakitkan merambat dari telapak tangan, naik ke lengan, hingga menghujam bahunya.Pria dalam foto itu tidak bergerak, namun tatapannya menembus piksel layar, seolah ia hadir di sana, mengunci Arunika di tempatnya berdiri."Zoom," suara Bisma terdengar rendah dan mutlak.Arunika menuruti tanpa sadar. Jemarinya yang kaku gemetar hebat saat memperbesar gambar itu. Detail wajah pria itu kini terpampang jelas. Dia bukan perawat. Bukan dokter. Pakaiannya rapi, namun cara dia berdiri terlalu santai, terlalu 'berkuasa' untuk seseorang yang berada di ruang ICU yang steril.Dan yang paling membuat dada Arunika terasa diremas: tangan pria itu bertumpu di besi ranjang. Terlalu dekat dengan tubuh ayahnya yang tak berdaya."Mereka... mereka mengawasi,"
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-22
Chapter: Bab 11 : Secara Hukum
Ponsel di telapak tangan Arunika terasa sedingin es, kontras dengan kulitnya yang mulai membara oleh desiran adrenalin. Jari-jarinya gemetar, menciptakan getaran halus pada layar yang memantulkan bayangan wajahnya sendiri—pucat, dengan mata sembap yang masih menyimpan sisa badai emosi.Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Halo..."Tidak ada sapaan. Hanya suara napas yang berat dan kasar di ujung sana, seperti geraman binatang buas yang sedang merantai amarahnya agar tidak meledak."Aru."Satu kata itu cukup untuk membuat perut Arunika melilit hebat. Nada suara Reyhan berubah total; bukan lagi kepanikan yang ia dengar semalam, melainkan nada rendah yang dingin, tajam, dan berbahaya."Kamu di sana," lanjut Reyhan pelan, setiap suku katanya terasa seperti gesekan pisau di atas batu asah.Arunika menelan ludah, tenggorokannya terasa seperti padang pasir yang kering. "Apa maumu?"Di belakangnya, kehadiran Bisma terasa begitu masif. Pria itu tidak bersuara, namun aroma parfumnya yang m
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-22
Chapter: Bab 10 : Bukan Lagi Ancaman
Bisma tidak bergerak mundur meski Arunika baru saja mendorongnya. Ia hanya mengamati, matanya menyapu setiap perubahan kecil di wajah wanita itu cara napasnya masih belum stabil, cara bahunya naik turun, cara matanya berusaha tetap tegar meski ada sesuatu yang bergetar di dalamnya.“Kamu mulai terbiasa,” ucapnya pelan.Arunika tidak langsung menjawab. Ia memalingkan wajah sesaat, seolah memberi dirinya ruang untuk berpikir. Namun jarak di antara mereka yang masih terlalu dekat membuat usaha itu terasa sia-sia.“Aku hanya… menyesuaikan diri,” jawabnya akhirnya.“Dengan situasi?” tanya Bisma.“Dengan pilihan yang sudah aku ambil.”Jawaban itu membuat sudut bibir Bisma kembali terangkat tipis. Ia tidak membantah. Tidak juga menekan. Ia justru mengangguk kecil, seolah menghargai kejujuran yang baru saja ditunjukkan.Hening sejenak.Namun bukan hening yang canggung, Melainkan hening yang penuh kesadaran.Arunika menarik napas panjang, lalu perlahan mengangkat kembali tatapannya. Kali ini t
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-21
Chapter: Bab 9 : Jarak yang Menipis
Pulpen itu berhenti sesaat di atas kertas, seolah memberi Arunika satu kesempatan terakhir untuk mundur. Namun ia tidak menarik tangannya. Tinta hitam itu akhirnya mengalir, membentuk namanya dengan jelas sebuah keputusan yang tidak lagi bisa ditarik kembali.Saat garis terakhir selesai, suasana di ruangan itu berubah. Bukan lagi sekadar ketegangan atau permainan tarik ulur. Ada sesuatu yang lebih dalam, lebih sunyi sebuah kesepakatan yang tak hanya tertulis di atas kertas, tetapi juga mulai merambat ke dalam relung kesadaran mereka.Bisma tidak langsung bergerak.Ia hanya menatap tanda tangan itu beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, seolah memastikan bahwa ini nyata. Lalu perlahan, sudut bibirnya terangkat tipis. Bukan senyum kemenangan yang mencolok, melainkan sesuatu yang lebih halus kepuasan yang terkendali.“Kamu tidak ragu,” ucapnya pelan.Arunika mengangkat dagunya sedikit. “Aku sudah memilih kan.”Meski begitu, napasnya masih belum sepenuhnya stabil. Ada getaran yan
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-21
Chapter: Bab 8 : Sebuah Jaminan
Bisma tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menjawab dengan tindakan yang jauh lebih berbahaya.Dalam satu gerakan cepat namun terkendali, tangannya menyambar pinggang Arunika, merenggut tubuh wanita itu hingga menabrak dadanya yang keras. Tak ada lagi sela udara di antara mereka. Sebelum Arunika sempat memprotes, bibir Bisma sudah menutup semua kemungkinan penolakan. Ciuman itu langsung menghujam dalam tidak ada keraguan, tidak ada basa-basi, hanya dominasi murni yang menuntut kepatuhan.Arunika membeku. Napasnya tercekat di tenggorokan, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat karena syok. Namun, pertahanan yang ia bangun selama berbulan-bulan runtuh hanya dalam hitungan detik. Refleks yang mengkhianati logikanya membuat tangannya mencengkeram dada Bisma, meremas kain kemeja mahal pria itu seolah sedang mencari pegangan di tengah arus badai yang terlalu kuat.Bisma tidak memberi ampun. Ia memperdalam ciumannya, menekan tengkuk Arunika dengan intensitas yang membuat waktu seolah mel
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-20
Chapter: Bab 7 : Aku Tidak Ingin Dikasihani
"Bisma... jangan..." Bisikan itu keluar dari celah bibir Arunika yang gemetar. Bisma terdiam. Jarak satu milimeter itu terasa seperti jurang yang luas. Alih-alih memaksakan kehendak, Bisma justru menarik diri perlahan. Ia tidak tampak marah atau kecewa, sebaliknya, sebuah senyum tipis yang sulit diartikan muncul di wajahnya. Arunika terpaku. Pria ini sangat berbeda dengan sosok kejam yang membanting ponselnya tadi malam. Pagi ini, Bisma tampak lebih... manusiawi. Kelembutan yang ia tunjukkan justru jauh lebih berbahaya daripada intimidasi mana pun, karena kelembutan itu mulai mengikis kebencian Arunika. "Aku tidak akan mengambil apa pun yang tidak diberikan dengan sukarela, Aru," ucap Bisma rendah sembari merapikan helaian rambut Arunika yang berantakan. Arunika menelan ludah. Pikirannya berputar hebat. Pengkhianatan Reyhan adalah luka bernanah, tapi Bisma adalah obat yang mungkin beracun. Namun, jika ia harus hancur, ia ingin memastikan Reyhan hancur lebih dulu. "Tadi kamu
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-14
บางทีคุณอาจจะชอบ
Batas Waktu
Batas Waktu
Romansa · rafikai
2.2K views
KURENSIA
KURENSIA
Romansa · RahmaKomar
2.2K views
Akad Yang Dijanjikan
Akad Yang Dijanjikan
Romansa · Siti Umuy
2.2K views
Unperfect Marriage Revenge
Unperfect Marriage Revenge
Romansa · Si Nicegirl
2.2K views
BUKTI CINTA
BUKTI CINTA
Romansa · Yunitaindrynt
2.2K views
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status