MasukPagi yang sejuk, dengan cuaca berawan.
Selenia duduk di taman belakang kastil seorang diri. Rambut putih panjangnya tergerai bebas, tak lagi tertata dengan rapi. Tangannya masih sibuk merajut syal."Aku tidak bisa menentukan panjang syal yang pas kalau Lucas tidak ada disini... Bagaimana caranya aku mengukurnya?" Gumam Selenia pada dirinya sendiri.Sebuah daun kering gugur, bergerak lembut dan tersangkut di rambut putih Selenia. Namun wanita itu tak menyadarinya.Selenia menghela napas, menatap rajutannya dengan ekspresi tak puas. Ia merasa sudah menghabiskan banyak waktu untuk ini, tapi tanpa Lucas, semuanya terasa setengah hati.Sambil terus menggerakkan hakpen di jemarinya, ia melirik ke langit yang mendung. Musim dingin sebentar lagi datang. Syal ini harus selesai sebelum saat itu tiba, agar Lucas bisa memakainya.Tiba-tiba, hembusan angin mengusik ketenangannya. Ia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh kepalaKehilangan. Ia mengangkat bayi itu, menempelkan dahi ke kening mungilnya. Bau darah masih tercium, bercampur dengan aroma khas Selenia. Selenia. Wanita yang mengubah segalanya. Wanita yang membawa cahaya ke dalam hidupnya. Wanita yang kini tergeletak tanpa nyawa di hadapannya. "Tidak." Suara itu nyaris seperti bisikan, namun penuh kepastian. Raven mengangkat wajahnya, menatap Librae dengan mata merah menyala. Dalam irisnya, ada sesuatu yang membuat sang Dewi membeku. Kegilaan. Kegelapan. Kekuasaan seorang raja yang kehilangan ratunya. "Aku akan mengambilnya kembali," ujar Raven pelan, namun menggema seperti sebuah takdir baru yang tertulis di langit."Aku akan mengambil Selenia kembali." Angin berputar liar di dalam ruangan. Pookie meringkuk ketakutan, bulu-bulunya berdiri. Bayi dalam dekapan Raven tertawa lagi. Bukan tangisan bayi biasa, tapi suara yang bergema di antara bayang-bayang. Dan untuk pertama kalinya, Librae merasa… waspada."Kau takkan bisa melakukan apapu
"Raven… cepatlah pulang…" Dalam hati, ia memanggil nama itu. Tapi tak ada jawaban. Tak ada siapa-siapa. Hanya ia dan rasa sakit yang semakin menjadi. Rasa sakit itu tak seperti yang Selenia bayangkan. Lebih menyiksa. Lebih mengerikan. Selenia terhuyung, punggungnya menempel di dinding, napasnya memburu. Kontraksi datang lebih sering, lebih kuat. Seolah menguatkan fakta bahwa bukan manusia yang sedang dikandungnya, melainkan sesuatu yang haus akan kehidupan bahkan sebelum dilahirkan. Pookie menggonggong panik, tapi suara itu terdengar samar di telinganya. Semua di tubuhnya terasa salah. Perutnya berdenyut tak wajar. Seakan sesuatu di dalam sana berusaha merobek jalannya keluar. Selenia menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha menahan erangan. Ia harus ke tempat yang lebih aman. Dengan susah payah, ia berjalan, menyangga tubuh di sepanjang dinding. Rasa sakit bergelombang datang. Matanya berkunang-kunang. Saat akhirnya sampai ke kamarnya, ia hampir terjatuh. Dengan tenaga terak
Dirinya. Selenia. Dan anak mereka. Sesuatu dalam dirinya mencubit kesadarannya. Selama ini, dunia Raven hanyalah darah dan kekuasaan. Hidupnya diwarnai oleh pertempuran, pembunuhan, dan dominasi. Tapi sekarang, ada seorang wanita yang menyulam gambarnya di sehelai kain. Bukan dengan darah, bukan dengan kengerian, tapi dengan tangan lembut yang penuh kasih sayang. Selenia tertawa kecil, masih mengusap perutnya. "Apa dia akan mirip denganku atau denganmu, ya?" tanyanya tiba-tiba, mengalihkan pandangan ke Raven. Raven mendengus. "Semoga tidak terlalu mirip denganku." Selenia menyipitkan mata. "Kenapa? Takut kalau dia mewarisi kesangaranmu?" Raven terdiam sejenak, lalu menghela napas. "Takut kalau dia mewarisi kegelapanku." Selenia tertegun. Ia menatap pria itu lekat-lekat, lalu tersenyum lembut. "Tidak, Raven.""Dia akan mewarisi perlindunganmu, bukan kegelapanmu." Sejenak, markas besar Drachov yang megah dan mencekam terasa lebih hangat. Raven tidak langsung menjawab. Ucap
Pagi di markas besar.Selenia mengusap perutnya yang kian membesar, menatap pantulan dirinya di cermin kamar. Kehamilannya sudah semakin jelas. Ia mendesah, lalu mengelus kepala Pookie yang menggeliat di sampingnya. Wanita itu lalu menoleh ke tempat tidur besar di belakangnya. Kosong. Lagi-lagi, Raven tidak ada saat ia bangun. Entah kemana pria itu pergi pagi-pagi begini. ---Saat akhirnya Selenia keluar dari kamar, ia melihat beberapa bawahan Raven tengah berbisik-bisik di koridor. Mereka langsung terdiam saat melihatnya. Selenia mendengus. Ia tahu, di belakangnya, mereka pasti kembali berbisik tentang dirinya. "Kenapa Bos bawa dia ke sini?" "Wanita itu hamil… Anak Drachov? Serius?" "Dunia benar-benar gila…" Selenia sudah terbiasa dengan reaksi itu. Ia melewati mereka tanpa menghiraukan, berjalan ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Tapi belum sempat ia membuka kulkas-BRAK! Pintu dapur dibuka dengan kasar. Selenia menoleh, hampir tersedak air putih yang baru s
Tapi pertarungan ini belum selesai. Tidak selama Alaric masih bernafas."Tidak, Carmilla..." Gumamnya lirih, tidak percaya bahwa adiknya telah tewas.Raven menyuruh Selenia menjauh. Ia muncul tepat di belakang Alaric setelahnya."Kau akan runtuh." Dan untuk terakhir kalinya di kastil Damonise, darah kembali tertumpah."Kau pikir aku akan runtuh?" Alaric terbahak, matanya yang berwarna ungu kini berkilat dengan aura haus darah. "Raven, Aku tahu kau membenciku, tapi kau tak bisa menyingkirkanku semudah itu." "Oh, aku bisa." BOOM!!! Tanpa peringatan, Raven menebas udara dengan cakarnya, dan sebuah ledakan gelap menghantam Alaric, melemparkannya ke reruntuhan mansion. "URKHH—!" Ia mendarat dengan keras, tubuhnya menghancurkan dinding-dinding yang tersisa. Darah hitam mengalir dari mulutnya, tapi ia malah tertawa. "Sialan... Kau benar-benar kuat, ya?" Alaric mendongak, dan untuk pertama kalinya, ia melihatnya. Mata merah delima itu...Mata seorang Raja. Mata Raven Drachov. Aur
Alaric. Ia menangkap Selenia dengan mudah, mengangkatnya ke udara. "Sudah cukup main-main." Suaranya tenang, tapi mematikan."Aku datang untuknya, dan aku akan membawanya." Raven yang melihat itu, seketika mengamuk. "LEPASKAN DIA!!" Alaric tersenyum tipis."Coba ambil kalau bisa." BOOM!! Raven menghilang dari tempatnya. Dan dalam sepersekian detik... Benturan antara dua kekuatan maha dahsyat itu meledak, menghancurkan sebagian mansion. Darah, taring, dan kehancuran mengisi malam ini.BRUAKK!! Benturan kekuatan di antara mereka menggetarkan tanah. Dinding mansion mulai runtuh, debu dan puing beterbangan di udara, menciptakan kabut tebal di tengah pertempuran brutal antara Raven Drachov dan Alaric Damonise. WHUSH! Raven menukik, menerjang Alaric dengan kecepatan mengerikan. Tangannya mencengkeram wajah pria itu, mendorongnya ke belakang hingga menghantam dinding marmer yang langsung retak. Namun Alaric hanya tertawa. "Heh… Itukah amarahmu, Drachov?" DUAGH! Dalam satu gera


![The Wedding Dress [INDONESIA]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)




