Se connecterLangit tidak pernah benar–benar sunyi. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk berbicara.Dan ketika ia berbicara, bahkan para dewa pun berlutut.Sang Pencipta murka.Suara-Nya tidak sekadar menggema, tetapi menghantam keberadaan Librae hingga retakan cahaya menjalar di tubuh dewinya yang selama ini berdiri anggun dengan timbangan emas.“Kau ikut campur terlalu jauh dalam kehidupan hamba-hambaku. Kau menimbang bukan demi keseimbangan, melainkan demi dendammu sendiri. Satu penghakiman yang kau paksa telah merenggut banyak kehidupan yang tak kau hitung.”Langit bergetar. Timbangan di tangan Librae retak halus.Untuk pertama kalinya sejak ia diciptakan, Librae merasakan sesuatu yang asing.Takut.Ia berlutut. Gaunnya yang selalu tampak sempurna kini kusut oleh cahaya yang menghakimi.“Kau bukan lagi Dewi Penghakiman,” lanjut suara itu, lebih sunyi namun jauh lebih tajam. “Kebijaksanaanmu masih dangkal. Kau belum mengerti bahwa keadilan tanpa belas kasih hanyalah kesombongan.”“Tidak… San
Lucas menatap ibunya dengan keyakinan penuh."Jadi, aku hanya perlu menghindari konfrontasi dengan ayah, kan?" Tanyanya pelan.Selenia tersenyum."Iya. Kamu harus bersembunyi. Pastikan kamu aman"Anak itu mengangguk patuh. Rencana ibunya jelas: Jangan berkonfrontasi dengan Raven. Selenia akan memancing ayahnya untuk melakukan tugas dari Librae. Kemudian penghakiman dilakukan. Setelah kematian Raven tertunai, sebelum jiwanya pergi Selenia akan menyegel tubuh dan jiwa itu agar kembali pulih.---Selenia menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang, tapi napasnya ia atur setenang mungkin.“Raven,” sapanya pelan, menatap pria itu tanpa mundur sedikit pun. “Tuan Raven.”Senyum Raven nyaris lembut, namun tak menutupi tatapan lapar di matanya, tatapan yang bisa membuat siapa pun merasa seperti sedang dilucuti tanpa sentuhan.“Dan kau, Selen,” jawabnya. “Masih menyembunyikan diri di balik nama palsu. Selen? Terdengar lebih cocok jika itu Selenia Drachov.”“Apa maksudmu? Aku lahir dan dibesarkan
"TIDAK!"Teriakan Aileen menggema sampai lorong rumah sakit yang lengang itu. Beberapa perawat menoleh sekilas, lalu kembali pada kesibukan masing-masing. Lucas meringis pelan, tapi tidak benar-benar tersinggung. Ia justru melirik ayahnya dengan senyum tipis yang menahan geli.Raven tidak membalas senyum itu. Ia duduk dengan kedua tangan terlipat, punggungnya bersandar pada kursi besi yang terasa terlalu sempit untuk tubuhnya. Tatapannya lurus ke depan, namun pikirannya jauh berkelana. Bau antiseptik, suara alat medis yang berdetak stabil, dan langkah-langkah ringan para perawat terasa begitu kontras dengan dunia yang biasa ia kuasai. Dunia yang gelap, bising, dan dipenuhi darah. Tempat seperti ini membuatnya canggung dengan cara yang tidak ia akui.Lucas mendekat dan berdiri di depannya. “Ayah tidak terlihat santai,” ujarnya pelan.“Aku selalu terlihat santai,” jawab Raven tanpa mengalihkan pandangan.Lucas terkekeh kecil. “Tidak kali ini.”Ada jeda di antara mereka. Hening yang tida
Hari itu matahari bersinar lembut, tidak terlalu terik, tidak pula mendung. Angin berembus ringan, membuat dedaunan taman berdesir pelan. Selen berjalan berdampingan dengan Aileen, mendengarkan celotehan rekan kerjanya yang tak pernah kehabisan topik.Mereka benar benar tampak seperti dua wanita biasa yang menikmati akhir pekan. Tidak ada aura tragedi. Tidak ada bayangan masa lalu.Ketika mereka melewati taman yang berdiri di atas bekas tanah keluarga Vanderbilt, langkah Selen sempat melambat. Matanya menyapu bangku bangku kayu baru, jalur jogging yang rapi, anak anak kecil yang berlari sambil tertawa.“Iya, Bu Aileen,” gumamnya pelan, “tidak seram sama sekali.”Aileen tertawa kecil. “Kan sudah kubilang. Orang orang itu cuma suka membesar besarkan cerita lama.”Selen tersenyum tipis, tetapi dadanya terasa berat. Ada gema jauh di dalam dirinya, seperti suara yang berusaha menembus dinding tebal.Ia mengabaikannya.Mereka duduk di kursi luar sebuah kafe mungil. Meja kayu kecil, dua cang
Membujuk pria tua itu ternyata jauh lebih sulit daripada menyelinap masuk ke kantor posnya.Lucas harus membantu menyusun ulang beberapa paket, membersihkan meja, bahkan pura pura tertarik pada koleksi perangko kuno sebelum akhirnya diizinkan menggunakan komputer tua di sudut ruangan. Mesin itu besar dan tebal, monitornya menggembung di belakang, kipasnya berdengung keras setiap kali dinyalakan.“Jangan macam macam,” peringat pria tua itu, meski nadanya tidak lagi sekeras tadi. “Internetnya lambat. Dan jangan unduh apa apa.”Lucas mengangguk patuh, lalu duduk. Ezra berdiri di sampingnya, dagunya bertumpu di bahu Lucas.“Ini jadi makin serius ya,” bisik Ezra.Lucas tidak menjawab. Jarinya mulai mengetik.Ia mencoba satu per satu kata kunci. Vanderbilt Medical Student. Selenia Vanderbilt Faculty Archive. Eugene Vanderbilt daughter university. Tahun demi tahun ia geser ke belakang. Situs berita lama. Forum usang. Arsip digital yang nyaris tak terindeks.Waktu terasa berjalan lebih cepat
Hari minggu pagi.Lucas izin keluar pada Raven, berkata ia ingin main sekaligus belajar bersama dengan Ezra. Karena suasana hatinya yang belakangan lebih baik, Raven mengizinkan tanpa banyak bertanya. "Ayahku jadi lebih kooperatif belakangan ini. Lihat, dia mengizinkanku main keluar hari ini" Celoteh Lucas."Itu karena ayahmu mungkin mau bawa pacarnya ke rumah. Ingat, dia terlalu tampan untuk ukuran ayah anak satu, tahu" Jawab Ezra.Lucas mengangkat kedua bahunya. Dia tak peduli. Apapun itu, yang penting ia bisa pergi mencari tahu hari ini.Datang langsung ke tempat di mana keluarga Vanderbilt terbakar hangus tujuh tahun yang lalu...Tapi sekarang, hanya taman dengan warna-warni cerah yang menyambut mereka. Ezra kegirangan, langsung melompat ke ayunan kosong sambil berteriak "punyaku, punyaku!"Rumputnya hijau rapi, jalur jogging dicat merah bata, bangku besi berwarna kuning dan biru berdiri manis di bawah pohon muda yang belum terlalu rindang. Ayunan berderit pelan ketika Ezra langs