Masuk"Mengapa nasibku begini? Mengapa aku bisa ada di sini? Apa salahku?"
Selenia duduk bersandar di dinding batu yang dingin. Sudah berhari-hari ia disekap di tempat ini, dan tubuhnya mulai menyesuaikan diri dengan kegelapan serta hawa dingin yang merasuk hingga ke tulang. Namun, bukan berarti ia menyerah. Tidak. Dalam diam, ia mengamati, menganalisis. Jika Raven ingin mengujinya, maka ia akan melakukan hal yang sama. Ia memperhatikan setiap kebiasaan pria itu, bagaimana Raven tidak pernah benar-benar meninggalkannya tanpa pengawasan, bagaimana setiap pintu yang ia lewati dikunci dengan sistem yang lebih kompleks dari yang terlihat. Tapi ada satu kelemahan, tangguhnya Raven sering kali disertai dengan kepercayaan dirinya yang berlebihan. Ia menganggap dirinya tak terkalahkan, dan itu bisa menjadi celah bagi Selenia. Ketika Raven kembali malam itu dengan segelas anggur yang sama, Selenia sudah siap. “Kau tahu? Aku hampir bosan melihatmu di sini” ujar Raven santai, mendekatkan gelas anggur ke bibir Selenia. Mata merahnya berkilat dalam cahaya redup. "Tolong lepaskan aku sebentar saja. Tangan dan kakiku kebas, rasanya aku bisa mati karena peredaran darahku tak lancar" "Mana mungkin kau mati hanya karena itu" "Hey Tuan vampir, aku ini manusia biasa. Beda denganmu. Kami bisa mati dengan mudah, dan aku tahu karena aku ini Mahasiswi kedokteran" Raven memutar bola mata malas, melepaskan Selenia dari belenggu dalam sekejap. Selenia cerewet, dan itu membuat telinganya gatal. Ia yakin gadis itu takkan bisa melarikan diri. "Puas?" Selenia hanya menatapnya, menyembunyikan niatnya di balik wajah datar. Ia mendekatkan wajah ke gelas anggur itu, pura-pura enggan, lalu menyesap sedikit. “Begitu menurutmu?” tanyanya pelan, lidahnya menyapu sisa cairan di bibirnya. Ia bisa merasakan racun yang mulai meresap dalam aliran darahnya. Namun Selenia tahu racun itu takkan membunuhnya sekarang juga. Kali ini, ia yang akan mengendalikan permainan. Beberapa menit berlalu, dan seperti yang ia harapkan, tubuhnya mulai melemah, atau setidaknya itulah yang ia tunjukkan. Napasnya tersengal, tangannya gemetar. Ia menutup matanya seolah racun itu akhirnya bekerja. Raven tersenyum tipis, berpikir bahwa eksperimennya akhirnya berhasil. Namun, saat Raven mendekat untuk memeriksa, itulah saat Selenia bertindak. Dengan gerakan cepat, ia menusukkan pecahan kaca dari gelas anggur yang telah ia pecahkan secara diam-diam ke lengan Raven. "MATI KAU!" Raven meringis. Luka itu tidak akan bertahan lama bagi vampir, tetapi cukup untuk memberi Selenia waktu. Gadis itu bertindak cepat. Selenia segera mengambil kunci dari saku Raven dengan kasar. Gadis bersurai putih itu berlari ke pintu, mengabaikan rasa mual akibat racun yang masih mengendap di tubuhnya. Dengan tangan gemetar, ia mencoba memasukkan kunci ke dalam lubangnya. Hanya ada hitungan detik sebelum Raven pulih sepenuhnya. Saat kunci berputar dan pintu terbuka, ia melesat keluar tanpa menoleh ke belakang. "Selenia" --- Udara malam menggigit kulitnya ketika Selenia akhirnya mencapai hutan di luar kastil. Napasnya terengah, tubuhnya lelah, tetapi semangatnya tak luntur. Ia tahu Raven tidak akan tinggal diam. Dan benar saja. Suara langkah kaki berat di belakangnya membuatnya panik. Ia menoleh dan melihatnya—Raven, dengan wajah gelap dan ekspresi penuh amarah. Mata merahnya menyala di antara bayangan pohon-pohon besar. “Selenia...” Suara pria itu rendah, mengandung bahaya yang tak tersamarkan. Selenia selalu merinding kala mendengar suara Raven menyebut namanya. “Kau benar-benar ingin membuatku marah, ya?” Selenia menggertakkan giginya dan terus berlari. Ia mencoba memanfaatkan pengetahuannya tentang anatomi dan tubuhnya sendiri, mencoba mengendalikan adrenalinnya agar tetap bertahan. Namun, lawannya bukan manusia biasa. Dalam sekejap, Raven sudah ada di hadapannya, menghalangi jalannya dengan postur dominan dan berbahaya. Selenia mencoba berbelok ke arah lain, tetapi tangannya telah dicengkeram dengan kasar. “Kau pikir bisa kabur?” bisik Raven di telinganya, napasnya dingin seperti kematian. Selenia meronta, memukuli pria itu. Menendang, meninju, bahkan menggigit tangannya. Akan tetapi, genggaman pria itu tak tergoyahkan. Dengan mudahnya, ia diseret kembali ke dalam pelukannya, tangannya ditarik ke belakang hingga ia meringis kesakitan. "Kau akan kembali ke kastilku" “A-aku lebih baik mati daripada kembali ke sana!” desisnya, masih berusaha melawan. Raven tertawa sinis. “Oh, sayangku, kau tak akan mati. Tidak di tanganku.” Tanpa peringatan, ia mendorong Selenia ke batang pohon dengan kekuatan yang cukup untuk membuat gadis itu kehilangan keseimbangan. Selenia mengerang, tubuhnya terasa nyeri akibat benturan. Sebelum ia bisa bergerak, tangan dingin Raven telah mencengkeram dagunya, memaksanya menatap wajah pria itu. “Kau telah membuatku kesal,” ujar Raven, ekspresinya gelap dan dingin. “Tapi... aku suka melihat ekspresi itu di wajahmu.” Selenia menggigit bibirnya, matanya berkilat dengan kemarahan dan ketakutan. Ia tahu Raven menikmati ini, perubahan ekspresinya, rasa sakitnya, ketidakberdayaannya. Raven menekan kedua tangan Selenia ke batang pohon dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menyusup masuk ke dalam pakaian gadis itu. Membubuhkan cakaran kasar yang membekas di kulit halus dan putih sang hawa. Mata merah itu mempelajari setiap gerakan kecilnya, setiap tarikan napasnya. “Takut, marah, putus asa... semuanya sangat cantik di wajahmu.” Jarinya menelusuri pipi Selenia, sentuhan yang seharusnya lembut tetapi terasa seperti belenggu dingin yang tak bisa ia lepaskan. Air mata menggenang di mata Selenia, tetapi ia menolaknya. Ia tidak akan memberinya kepuasan itu. Namun, Raven mempererat cengkeramannya pada rahang gadis itu, cukup kuat untuk membuatnya meringis. “Menangislah, Selenia.” Selenia menggeleng dengan keras, matanya menantang. Raven menyeringai. “Ah, tapi aku ingin melihat air mata itu.” Dengan satu gerakan cepat, ia menarik rambut Selenia ke belakang dengan kasar, memaksanya mendongak dan akhirnya, setetes air mata jatuh dari sudut mata gadis itu. "Kau jahat" cicit Selenia. Raven tersenyum puas. “Cantik.” Selenia ingin berteriak, ingin melawan, tetapi tidak ada gunanya. Raven lebih kuat. Ia tahu ia telah kalah dalam pertarungan ini. Raven menatapnya lama sebelum akhirnya berbisik di telinganya, “Aku akan memastikan kau tidak pernah bisa kabur. Selamanya” Kemudian, tanpa kata lain, ia menggigit leher pucat gadis itu dengan brutal, menghisap darahnya dengan penuh kenikmatan. Setelah puas, ia menyeret Selenia di sepanjang jalan penuh kerikil. Untuk kembali ke kastil, ke dalam kegelapan yang tidak bisa ia hindari. Dan kali ini, ia tak ragu untuk membiarkan gadis itu lepas lagi. Karena ia tahu, sejauh apapun Selenia berlari dan mencoba lepas, pada akhirnya akan tertangkap olehnya. Bak kelinci kecil dalam perburuan, Raven sangat menikmatinya. "Entah kapan terakhir kali, hidup rasanya semenyenangkan ini" Melihat tubuh Selenia yang ia seret sepanjang jalan, Raven mengernyit. Berdarah, terluka. Tak langsung sembuh. Kemana hilangnya kekuatan titisan dewi itu? mengapa lukanya tak beregenerasi? Raven suka bermain-main dengan bahaya. Dan Selenia berbahaya, karena diramalkan sebagai pembunuhnya kelak, bukan? Dan Raven takut mainan kecilnya rusak. Karena itulah, Vampir tersebut mengangkat tubuh mungil Selenia yang seringan bulu baginya. Sepanjang jalan, ia menggigiti setiap bagian tubuh Selenia yang bisa dijangkau oleh mulutnya, bak camilan. Padahal vampir sepertinya bisa tiba di kastil dalam sekejap, namun ia memilih berjalan santai dengan kecepatan manusia. Ia ingin menikmati Selenia sepenjang jalan. Menatap miris wajah letih Selenia di gendongannya, Raven berdecih dengan maksud menghina. Kasihan, tubuh sekecil itu harus melawan vampir dengan tubuh kekar berkekuatan setara lima puluh orang dewasa.Kehilangan. Ia mengangkat bayi itu, menempelkan dahi ke kening mungilnya. Bau darah masih tercium, bercampur dengan aroma khas Selenia. Selenia. Wanita yang mengubah segalanya. Wanita yang membawa cahaya ke dalam hidupnya. Wanita yang kini tergeletak tanpa nyawa di hadapannya. "Tidak." Suara itu nyaris seperti bisikan, namun penuh kepastian. Raven mengangkat wajahnya, menatap Librae dengan mata merah menyala. Dalam irisnya, ada sesuatu yang membuat sang Dewi membeku. Kegilaan. Kegelapan. Kekuasaan seorang raja yang kehilangan ratunya. "Aku akan mengambilnya kembali," ujar Raven pelan, namun menggema seperti sebuah takdir baru yang tertulis di langit."Aku akan mengambil Selenia kembali." Angin berputar liar di dalam ruangan. Pookie meringkuk ketakutan, bulu-bulunya berdiri. Bayi dalam dekapan Raven tertawa lagi. Bukan tangisan bayi biasa, tapi suara yang bergema di antara bayang-bayang. Dan untuk pertama kalinya, Librae merasa… waspada."Kau takkan bisa melakukan apapu
"Raven… cepatlah pulang…" Dalam hati, ia memanggil nama itu. Tapi tak ada jawaban. Tak ada siapa-siapa. Hanya ia dan rasa sakit yang semakin menjadi. Rasa sakit itu tak seperti yang Selenia bayangkan. Lebih menyiksa. Lebih mengerikan. Selenia terhuyung, punggungnya menempel di dinding, napasnya memburu. Kontraksi datang lebih sering, lebih kuat. Seolah menguatkan fakta bahwa bukan manusia yang sedang dikandungnya, melainkan sesuatu yang haus akan kehidupan bahkan sebelum dilahirkan. Pookie menggonggong panik, tapi suara itu terdengar samar di telinganya. Semua di tubuhnya terasa salah. Perutnya berdenyut tak wajar. Seakan sesuatu di dalam sana berusaha merobek jalannya keluar. Selenia menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha menahan erangan. Ia harus ke tempat yang lebih aman. Dengan susah payah, ia berjalan, menyangga tubuh di sepanjang dinding. Rasa sakit bergelombang datang. Matanya berkunang-kunang. Saat akhirnya sampai ke kamarnya, ia hampir terjatuh. Dengan tenaga terak
Dirinya. Selenia. Dan anak mereka. Sesuatu dalam dirinya mencubit kesadarannya. Selama ini, dunia Raven hanyalah darah dan kekuasaan. Hidupnya diwarnai oleh pertempuran, pembunuhan, dan dominasi. Tapi sekarang, ada seorang wanita yang menyulam gambarnya di sehelai kain. Bukan dengan darah, bukan dengan kengerian, tapi dengan tangan lembut yang penuh kasih sayang. Selenia tertawa kecil, masih mengusap perutnya. "Apa dia akan mirip denganku atau denganmu, ya?" tanyanya tiba-tiba, mengalihkan pandangan ke Raven. Raven mendengus. "Semoga tidak terlalu mirip denganku." Selenia menyipitkan mata. "Kenapa? Takut kalau dia mewarisi kesangaranmu?" Raven terdiam sejenak, lalu menghela napas. "Takut kalau dia mewarisi kegelapanku." Selenia tertegun. Ia menatap pria itu lekat-lekat, lalu tersenyum lembut. "Tidak, Raven.""Dia akan mewarisi perlindunganmu, bukan kegelapanmu." Sejenak, markas besar Drachov yang megah dan mencekam terasa lebih hangat. Raven tidak langsung menjawab. Ucap
Pagi di markas besar.Selenia mengusap perutnya yang kian membesar, menatap pantulan dirinya di cermin kamar. Kehamilannya sudah semakin jelas. Ia mendesah, lalu mengelus kepala Pookie yang menggeliat di sampingnya. Wanita itu lalu menoleh ke tempat tidur besar di belakangnya. Kosong. Lagi-lagi, Raven tidak ada saat ia bangun. Entah kemana pria itu pergi pagi-pagi begini. ---Saat akhirnya Selenia keluar dari kamar, ia melihat beberapa bawahan Raven tengah berbisik-bisik di koridor. Mereka langsung terdiam saat melihatnya. Selenia mendengus. Ia tahu, di belakangnya, mereka pasti kembali berbisik tentang dirinya. "Kenapa Bos bawa dia ke sini?" "Wanita itu hamil… Anak Drachov? Serius?" "Dunia benar-benar gila…" Selenia sudah terbiasa dengan reaksi itu. Ia melewati mereka tanpa menghiraukan, berjalan ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Tapi belum sempat ia membuka kulkas-BRAK! Pintu dapur dibuka dengan kasar. Selenia menoleh, hampir tersedak air putih yang baru s
Tapi pertarungan ini belum selesai. Tidak selama Alaric masih bernafas."Tidak, Carmilla..." Gumamnya lirih, tidak percaya bahwa adiknya telah tewas.Raven menyuruh Selenia menjauh. Ia muncul tepat di belakang Alaric setelahnya."Kau akan runtuh." Dan untuk terakhir kalinya di kastil Damonise, darah kembali tertumpah."Kau pikir aku akan runtuh?" Alaric terbahak, matanya yang berwarna ungu kini berkilat dengan aura haus darah. "Raven, Aku tahu kau membenciku, tapi kau tak bisa menyingkirkanku semudah itu." "Oh, aku bisa." BOOM!!! Tanpa peringatan, Raven menebas udara dengan cakarnya, dan sebuah ledakan gelap menghantam Alaric, melemparkannya ke reruntuhan mansion. "URKHH—!" Ia mendarat dengan keras, tubuhnya menghancurkan dinding-dinding yang tersisa. Darah hitam mengalir dari mulutnya, tapi ia malah tertawa. "Sialan... Kau benar-benar kuat, ya?" Alaric mendongak, dan untuk pertama kalinya, ia melihatnya. Mata merah delima itu...Mata seorang Raja. Mata Raven Drachov. Aur
Alaric. Ia menangkap Selenia dengan mudah, mengangkatnya ke udara. "Sudah cukup main-main." Suaranya tenang, tapi mematikan."Aku datang untuknya, dan aku akan membawanya." Raven yang melihat itu, seketika mengamuk. "LEPASKAN DIA!!" Alaric tersenyum tipis."Coba ambil kalau bisa." BOOM!! Raven menghilang dari tempatnya. Dan dalam sepersekian detik... Benturan antara dua kekuatan maha dahsyat itu meledak, menghancurkan sebagian mansion. Darah, taring, dan kehancuran mengisi malam ini.BRUAKK!! Benturan kekuatan di antara mereka menggetarkan tanah. Dinding mansion mulai runtuh, debu dan puing beterbangan di udara, menciptakan kabut tebal di tengah pertempuran brutal antara Raven Drachov dan Alaric Damonise. WHUSH! Raven menukik, menerjang Alaric dengan kecepatan mengerikan. Tangannya mencengkeram wajah pria itu, mendorongnya ke belakang hingga menghantam dinding marmer yang langsung retak. Namun Alaric hanya tertawa. "Heh… Itukah amarahmu, Drachov?" DUAGH! Dalam satu gera







