FAZER LOGINTeror rumah Eyang di Siliwangi terus menghantui siapa saja yang menginjakkan kaki di rumah itu. Cerita bermula saat salah satu cucu Eyang yang bernama Imel datang mengisi waktu senggangnya selama cuti. Selama enam tahun ia menguak tragedi memilukan melalui teror mengerikan dan mimpi beruntun dari hantu bermukenah putih. Apa yang sebenarnya terjadi? Mampukah Imelda memecahkan misteri di rumah Eyang?
Ver maisDi usia kehamilannya yang ke 28 minggu, Liliana Santoso melakukan pemeriksaan prenatalnya di dokter kandungan pribadi keluarga suaminya, Gerald Ford.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan dan menerima laporan prenatalnya, Liliana bergegas ke luar ruangan. Namun, ia tidak menyangka ketika melihat siluet tubuh yang tak asing sedang berpelukan dengan seorang gadis cantik dengan tubuh mungil di ruang tunggu yang sepi.
Pria itu adalah suaminya, yang selalu bersikap dingin dan kejam terhadapnya, tapi kini tampak begitu lembut dan penyayang kepada gadis itu.
‘Gadis itu…’ Liliana bergumam dalam hati.
Liliana memberanikan diri untuk menghampiri mereka.
“Ge-”
Di saat yang bersamaan, Gerald dan gadis itu menatap ke arahnya. Ah, itu Grace. Tentu saja Gerald sedang bersama Grace.
Sorot mata Gerald yang tadinya hangat langsung berubah dingin saat melihat Liliana ada di sana.
"Kak Gege, siapa tante-tante itu? Kenapa dia melihatku seperti itu? Aku jadi takut…” kata Gracie, masih dalam pelukan Gerald. Tentu saja Liliana dapat mendengarnya meski suaranya pelan.
"Tidak penting. Tidak usah dipikirkan. Ayo kita pergi."
Gerald merangkul bahu gadis itu dengan lembut. Ia pergi begitu saja tanpa melihat Liliana sedikitpun.
Liliana terpaku, kata-kata gadis itu langsung terngiang di telinganya.
Tante-tante…?
Liliana memandangi bayangan tubuhnya dari pintu kaca. Dirinya baru berusia 23 tahun, tapi karena efek kehamilan, tubuhnya yang dulu langsing kini melebar, wajahnya juga kusam, lingkar hitam di bawah matanya menambah efek penuaan dini yang Ia alami.
Pantas saja Grace memanggilnya ‘tante’.
Liliana memang merasa dirinya tampak jauh lebih tua, tapi ia tidak menyesalinya. Jelas saja, semuanya terjadi karena ia tengah mengandung buah hatinya, satu-satunya keluarga yang akan dimilikinya nanti.
Liliana adalah seorang yatim piatu yang tinggal di pinggiran kota dan di besarkan oleh tantenya, Rosita Santoso.
Ia bisa menikah dengan seorang Gerald Ford karena 5 tahun lalu Gerald diserang dan mengalami kecelakaan parah hingga mobilnya masuk ke jurang. Tempat kejadiannya letaknya tidak jauh dari perkampungan tempat Liliana tinggal.
Saat itu, Liliana tengah membantu Rosita mencari tanaman liar untuk membuat obat herbal. Melihat Gerald yang terkapar tak sadarkan diri, Liliana pun menyelamatkannya dengan meminta tolong.
Dibantu oleh warga sekitar, Gerald berhasil dibawa ke rumah sakit dan akhirnya bisa selamat.
Setelah bertemu dengan penyelamat cucunya, nenek Gerald yang sakit keras sangat menyukai Liliana. Nenek Gerald pun membujuk Gerald dan seluruh keluarga Ford untuk menjodohkan mereka berdua.
Padahal, saat itu Gerald sedang mengejar cinta masa kecilnya, Grace Natalie.
Nenek Gerald tidak menyukai Grace sama sekali, jadi ia memaksa Gerald untuk menikahi Liliana, sampai mengancam tidak ingin hidup lagi. Akhirnya, Gerald menyetujuinya dengan terpaksa karena ia sangat menyayangi neneknya itu.
Itu sebabnya Gerald membenci Liliana sejak awal. Bahkan selama menikah, mereka tidur di kamar yang berbeda.
Alasan kenapa Liliana bisa hamil adalah karena Gerald mabuk berat dan tanpa sengaja menidurinya. Bukan di kamar, bukan diatas kasur yang empuk, melainkan lantai dapur yang dingin.
Meski itu bukan kesalahannya, tapi Gerald maupun keluarganya selalu menuduh bahwa Liliana sengaja melakukan itu agar bisa hamil. Meskipun Liliana telah membela diri dan menjelaskan berkali-kali, tidak ada seorangpun yang percaya padanya.
Ting!
Liliana tersadar dari lamunannya saat mendengar notifikasi pesan masuk di ponselnya. Gerald mengirim pesan.
[Keluar. Nenek mengundang kita ke rumah untuk makan bersama.]
Liliana menarik nafas dalam-dalam, ia pun membalas dengan cepat.
[Baik].
Setelah mengirim pesan, Liliana lalu melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit itu.
Tepat saat itu, Liliana melihat mobil Bentley warna hitam dengan plat yang ia kenal terparkir di depan. Ia tahu itu mobil Gerald dan menebak bahwa Gerald ada di dalam. Tapi, bukankah suaminya itu tengah bersama dengan Grace tadi? Atau jangan-jangan Grace juga ada di dalam mobil?
Diam-diam, Liliana merasa gugup, jika benar Grace juga ada di sana, apa yang harus dia lakukan?
Tiba-tiba, kaca jendela mobil terbuka.
"Cepat!" sentak Gerald dari dalam mobil. Hal itu membuat Liliana terperanjat kaget.
Liliana pun segera masuk ke dalam mobil, ia tahu suaminya bukan orang yang sabar, terutama terhadap dirinya.
Setelah duduk di dalam mobil, Liliana tidak mengatakan sepatah katapun, tapi perasaannya sedikit lega karena tidak melihat Grace ada di sana. Hanya ada seorang sopir yang duduk di kemudi.
Gerald melirik Liliana sepintas dengan sinis. Aura kejam dan mengintimidasi membuat Liliana tidak nyaman.
Tanpa Liliana duga, Gerald tiba-tiba berkata.
"Setelah anak itu lahir, kita akan bercerai,” ucap Gerald tegas.
Liliana merasa jantungnya berhenti berdetak beberapa detik. Keringat dingin tiba-tiba membasahi telapak tangannya.
"Kenapa? Apa karena wanita itu?" Liliana memberanikan diri untuk bertanya.
"Wanita itu?” Gerald terdengar tersinggung. “Kamu pikir kamu pantas menyebutnya seperti itu?"
Gerald menjawab dengan galak. Liliana terdiam, ia sudah tahu jawabannya. Jadi Liliana berkata dengan tenang. "Baik, tapi kamu yang bilang ke nenek."
"Kamu nggak perlu mengaturku, aku akan memberitahunya dengan caraku," balas Gerald.
Liliana hanya bisa mengangguk, ia dapat merasakan wajahnya memanas karena perasaan yang bercampur. Liliana juga dapat merasakan lirikan Gerald sejenak, namun pria itu segera memalingkan wajahnya.
Meski Gerald berhutang nyawa pada Liliana, tapi Liliana pun tahu Gerald tidak pernah mencintainya. Apalagi, Liliana tahu Gerald menduga dirinya memanfaatkan kesempatan itu untuk menikah dengannya karena hutang budi.
Gerald sangat membencinya, Liliana paham soal itu. Meski begitu, Gerald sudah menyiapkan kompensasi yang lebih dari cukup untuk Liliana hidup sejahtera sampai hari tuanya.
Kedua pasangan itu sama-sama tidak saling bicara sampai tiba di rumah lama keluarga Ford. Gerald turun terlebih dahulu dan meninggalkan Liliana di belakangnya.
Saat memasuki rumah, Ibu dari Gerald, Susan Ford, menyambut kedatangan putranya dengan penuh kasih sayang. Tapi, Gerald menanggapinya dengan cuek karena dia memang tidak terlalu akrab dengan Ibunya.
Saat mata Liliana bertemu dengan Susan, raut wajah wanita paruh baya itu seketika berubah. Ketika Liliana ingin memberi salam, Susan menolaknya dan berkata dengan sinis. "Tidak perlu memberi salam, langsung ke dapur dan bantu-bantu di sana!"
Liliana mengangguk, kemudian berjalan ke arah dapur tanpa banyak bicara. Sikap Liliana yang tunduk seperti itu semakin menjadi bahan ejekan anggota keluarga Ford yang lain, terutama Cecilia Ford, adik semata wayang Gerald.
"Lihatlah, wanita jelek tak tahu diri itu selalu berusaha menjilat keluarga kita, benar-benar nggak punya malu dan harga diri, menjijikan!" ejek Cecilia. Liliana yang mendengarnya hanya bisa menghela napas berat.
Kemudian, Cecilia kembali berujar. "Kakak, sebaiknya kamu segera ceraikan dia dan menikahi Kak Grace! Kak Grace 1000 kali lebih baik dari pada wanita jelek itu!"
Liliana tahu Cecilia sengaja berbicara dengan begitu keras agar ia mendengarnya. Tapi, semua ejekan itu tidak lagi membuatnya sakit hati. Apalagi Gerald sudah memutuskan untuk menceraikannya.
Liliana hanya mampu menatap suaminya dengan getir, ketika suaminya itu menjawab, "Jangan khawatir. Aku memang sudah mengaturnya."
Seorang cucu bernama Imelda pulang setelah mendapat sebuah surat dari Eyangnya yang berisi permintaan cuti jelang ramadhan.Kepulangannya menjadi bumerang baru dalam hidup Imel dimana harus melewati malam-malam mengerikan dari teror hantu bermukenah putih. Teror itu berkesinambungan dengan mimpi-mimpi aneh yang seperti scene film selama ia berkiprah di rumah itu. Kian hari ia terus saja mencurigai orang-orang terdekat Eyangnya, termasuk seorang pengasuh rumah Eyangnya, Bibi Lija, yang kerap kali bertingkah aneh juga tiba-tiba meminta cuti. Kematian anak tiri Bibi Lija membuat kecurigaan Imel terhenti, berpindah pada keluarganya yang lain. Kematian itu terus terjadi pada orang-orang disekeliling Imel, sampai ia bertemu dengan seorang montir yang memiliki kemampuan khusus dan berpesan pada Imel agar pelaku teror itu adalah seorang penganut ilmu sesat. Imel kemudian menggali masa lalu buyut dan rumah yang didirikan Eyangnya itu, melalui seorang saksi mata dari tragedi pondok pesantren y
Ombak di sepanjang pesisir Moana mengejar langkah kami yang sedang asyik bermain gobak sodor. Penat karena tenunan bakulku tak jadi-jadi sementara perut sudah keroncongan menunggu Jintang yang masih bergelantungan di atas pohon kelapa. Moana hari itu telah menemani fajar menyingsing ke ufuk barat, angin laut Sumatera tak terdengar riuh karena ada kami yang menggantikannya. Setiap Sabtu sore, memang tempat Jintang ramai dikunjungi siswi-siswi hanya untuk sekadar melepas penat atau ikut menyulam bakul. Termasuk Cici, Cici salah satu siswa yang gemar ikut menenun di bawah pengarahan Nenek Jintang. Perjalanan kota ke kampung Jintang memakan waktu yang tak sedikit. Oleh karena itu, neneknya menyuruh kami menginap karena Jintang masih belum pulih dan belum bisa ikut bekerja di awal pekan nanti. “Cepet, Uda!” teriak Cici berulang kali. “Woi, ini cara turunnya gimana?!” teriak Jintang. Bukan menolong, kami malah tepuk jidat. Kok bisa, bisa manjat tidak bisa turun? Kami terpaksa berpencar
Bang Oar terus mengikis jarak dengan langkahnya yang santai. Mata elangnya begitu tajam, membuat sekujur tubuhku seketika menciut di sudut meja. Keheningan sesaat itu meredupkan keberanianku, padahal aku bisa saja berteriak memanggil Oma atau Pakde.“Siapa laki-laki pirang tadi?” tanyanya berlanjut. Aku mencelos saat kedua lengan kokohnya mengunciku di antara meja dan tubuhnya.“Itu … Kawan Mbak Mayang. Bukan siapa-siapa, kami memang ketemu di atas kereta api tapi Imel enggak pernah bilang suka,” balasku tanpa pikir panjang. Karena ia tak bergeming, dengan gesit kudorong dada bidangnya agar segera menjauh. Rupanya dia menahan marah sedari siang hanya gara-gara Bang Burhan. Bang Oar lalu menarik kursi solo setelah berganti baju, ia menyuruhku segera menghabiskan makanan karena adzan Isya sudah berkumandang.Aku menghirup napas lega karena lelaki itu tak menyulitkanku lagi dengan tingkahnya yang menakutkan. Meski rasanya terganggu karena sedari tadi masih saja duduk di ranjang sembari
"Yang tinggi itu loh, keker badannya. Jenenge, Oar."Bukan senang, aku malah seperti tersambar petir di siang bolong. "Ganteng dari mananya? Brewok begitu kok dibilang ganteng. Imel kan sukanya dibantu saja, dibantu belum bentu cinta Oma."Oma terlihat kesal, "Wes, wes! Tahu opo iki soal cinta? Pokoknya Oma mau kamu duluan nikah dari pada si Hasim biar Mukti iku ngiri hati."Enggak, Imel enggak mau. Oma, Imel mau sekolah aja dibanding nikah sama orang asing.""Orang asing gimana toh kamu sama dia udah jalan bareng ke Talaga Ciung? Sudahlah, Neng, manut kata Oma. Dia itu kata Hasim orang kaya di kampung, disini juga dia punya bengkel gede. Oma yakin dia bisa ngidupin kamu.""Tapi dia sudah tua Oma," tegasku tak mau kalah. Oma malah menoyor jidatku ke belakang."Kamu juga dewasa, Neng. Umurmu dua puluh lebih. Umur bukan masalah, sing penting sama-sama serasi. Kamu cantek, dia tampan."“Eyang dulu enggak pernah noyor Imel!” Napasku memburu begitu liar begitu Oma minggat dari hadapanku ta






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Classificações
avaliaçõesMais