LOGINhari ini update bab 157, 158 dan 159, harap sabar setiap bab punya jeda 10 menit yaa 🥰
Vienna, beberapa hari setelahnya …. Ini bukan yang pertama kali bagi Brianna datang ke RN Empire, tapi setiap kali ia lakukan, ia tak pernah bisa melepaskan pandangan dari lobinya yang megah. Ia tak menyangka Leon benar menepati janjinya untuk senantiasa berada di dekatnya. RN Empire yang berdiri di Vienna ini lah bukti bahwa ucapannya bisa dipercaya. Untuknya dan anak-anak, ia memindah sebagian besar pusat kerja dari Halden—Jerman—ke Austria. Pria itu pulang-pergi dari tempat kerjanya ke rumah sekitar setengah jam untuk dapat kembali ke mansion mereka yang tenang di tepi danau Stillensee. Bertahun-tahun ia lakukan tanpa mengeluh. “Mommy …,” panggil Evangeline dari samping kanannya yang membuat Brianna segera terjaga. “Iya, Sayang?” “Apakah kita akan menunggu Daddy di sini?” Brianna mengangguk, meminta anak-anaknya untuk menunggu di sofa lobi. Ia menoleh pada Lionel yang mendorong stroller si kembar Leiden dan Cassandra agar lebih dekat pada anak gadisnya yang mengusap lembut
Brianna tergemap, matanya bergetar karena jujur saja ... ia lupa. Ia lupa ini adalah hari anniversary mereka. “Kenapa?” tanya Leon sebab Brianna hanya bergeming. Hening yang diberikannya membuat embusan angin dari danau terasa lebih bising. “Kamu tidak ingat kalau ini adalah anniversary kita?” “Iya,” aku Brianna. “Memang lucu, Brie ... aku sering tidak ingat jadwal penting yang berulang kali dikatakan oleh Ricky. Tapi untukmu, hal sekecil apapun aku rasa tidak akan melupakannya.” “Maaf ....” “Untuk apa minta maaf?” Brianna menghela dalam napasnya, “Karena tidak ingat hari penting seperti ini, Leon.” Leon berdecak, ia menyentuh pucuk hidung Brianna sebelum mengambil liontin dari dalam kotak beludru merah yang ada di tangannya. “Melupakan pun juga tidak apa-apa, itu tidak akan membuatku kesal. Lebih banyak luka yang disebabkan olehku yang tertinggal di hatimu. Jangan merasa bersalah untuk hal seperti ini.” Leon bangun dari duduknya, ia berjalan mendekat pada Brianna
Jantung Brianna seperti akan lepas. Resah memikirkan bagaimana jika Evangeline tiba-tiba membuka pintu dan menemukan ia dan Leon sedang melakukan …. “T-tidak, Sayang. Coba kamu cari Daddy di ruang olahraga,” kata Brianna sekenanya. Dalam hati meminta maaf karena terpaksa harus membohongi anak gadisnya itu. “Hm … baiklah, Mommy.” Setelah itu, tak terdengar lagi suara Evangeline. Sepertinya ia benar-benar pergi untuk melihat Leon di ruang olahraga. “Pintar sekali mencari alasan,” bisik Leon dari belakangnya. Kedua tangan besar pria itu liar menjelajah dan tiba di puncak kelembutan di dada Eveline. Menarik dan memainkannya seolah sengaja membuat Eveline semakin tak bisa membendung hasrat. “A-apa yang harus aku katakan memangnya? Kamu seperti ini, bagaimana kalau Eva masuk?” “Aku sudah mengunci pintunya tadi, Eva tidak mungkin masuk.” Sepasang manik hazel Brianna membeliak. Benar juga … Leon sudah mengunci pintunya tadi. Ia lupa. Tapi sensasi dari terpacunya adrenalin itulah ya
Entah sudah melakukannya berapa kali semalam sebab rasanya Brianna hampir pingsan. Dirinya berulang kali kalah tetapi Leon belum. Leon sebenarnya selesai beberapa kali juga, tetapi setiap Brianna melihatnya, bagian bawah milik prianya itu selalu saja masih segar bugar. Energinya tak kunjung habis bahkan saat Brianna sudah nyaris kehilangan daya. Pagi ini, ia membasuh tubuhnya di bawah guyuran shower hangat setelah bangun dan tak menjumpai Leon di dalam kamar. Lim—kepala pelayan di mansion—yang tadi masuk mengantar minuman untuknya mengatakan bahwa Leon sedang berjalan-jalan mendorong stroller Leiden dan Cassandra. Dan tentu saja dengan si kembar yang sudah pasti membuntuti ayahnya setiap pagi, Lionel dan Evangeline. Saat Lim masuk tadi, Brianna sangat malu. Ia masih duduk di atas ranjang, mengumpulkan nyawa yang belum sepenuhnya kembali dan Lim membereskan pakaian milik Leon yang berserakan di lantai. Brianna ingat tadi Lim mengatakan sesuatu seperti, ‘Pertarungannya sepertinya s
Brianna tak dapat menahan erangan kala mereka telah berpindah ke ranjang. Hampir dua bulan dalam pekan-pekan yang penuh dengan penantian berlalu hingga tiba pada hari ini. Rasa manis yang diberikan Leon tidak pernah berubah. Selalu membuat Brianna kosong setiap sentuhan itu menjelajah setiap inci tubuhnya. Meremang tubuhnya hingga kebas, memantik gairah dan hasrat setelah hari demi hari hanya dihabiskan dalam pelukan tanpa melewati batas. "Leon ...." Gumaman itu membumbung di udara saat Brianna meremas rambut hitam Leon yang kini sedang sibuk di puncak merah muda pada dadanya. Terpapar dirinya tanpa satu helai kain yang melindunginya. "Ahh ...." Pinggang Brianna menggeliat, sedetik kemudian tangan besar Leon merenggut dagunya dan mendaratkan kecupan panas. Pagutan kecilnya berubah menjadi candu kala lidah mereka saling berkelindan. Tanpa menarik dirinya dari Brianna, Leon melucuti pakaiannya sendiri. Dijatuhkannya ke lantai, bertumpuk dengan gaun tidur Brianna yang tela
Dari hisapan atau ciuman yang panas. Dari remasan tangan dan lumatannya yang manis, entah berapa kali Brianna harus mengingatkan Leon bahwa mereka tak bisa melakukan sesuatu yang berlebihan untuk sementara waktu. Meski kadang sedikit di luar kendali, tapi Leon masih dapat menahannya. Brianna kerap membisikkan, 'Bersabarlah sebentar ... nanti kita bisa melakukannya kapanpun kamu mau.' Dari hari ke Minggu, waktu beranjak ke waktu yang tak disangka telah menumbuhkan si kembar kecil Leiden dan Cassandra yang sudah mulai teratur pola tidurnya. Leon pun juga sudah rutin pergi ke kantor, dan hari-hari Brianna akan diisi oleh kegiatannya yang menyenangkan. Mengantar Lionel dan Evangeline ke sekolah, pergi ke studio miliknya, atau sekadar menikmati udara sejuk di belakang mansion. Aah, seperti inikah hidup dalam damai yang didamba itu? Ia banyak-banyak mensyukurinya. Malam ini, Lionel dan Evangeline sudah tidur lebih cepat. Mereka sepertinya kelelahan setelah berlarian saling me
“Itu berisi Brianna semua? Dua terabyte?” Mata Leon terbuka lebar, ia bahkan tak percaya menyebutkan itu dengan bibirnya karena memori itu berkapasitas sangat besar. Jika benar berisikan Brianna seluruhnya, maka Andrew bukan hanya mengawasi, melainkan mendokumentasikan Brianna. “Tidak, Pak Leon,”
[Ada banyak cara yang bisa dilakukan, tapi kamu memintaku pergi sejauh ini. Jika tidak karena aku takut kehilanganmu lagi, aku tidak akan mau melakukannya.] Tertulis di halaman yang dibuka oleh Leon, lembar terakhir dari buku agenda Brianna yang diserahkan oleh polisi setelah kamar itu diselidiki s
Tengkuk Leon meremang mendengar ucapan Katie. Ia menahan napas saat Ricky yang duduk di sampingnya sedikit membungkukkan badan dan memperjelasnya. “Nona Brianna bilang di RNE?” Katie mengangguk, membenarkannya. “Iya, Pak Rick. Seingat saya Brianna menyebut pomelo dan semacam … akar tumbuhan. Kam
Tapi Leon tidak peduli dengan Robert. Baginya, akan lebih bagus jika mantan istri Brianna itu mati saja. Harga yang cukup pantas diterimanya.“Lalu di mana Brianna?” tanya Leon kemudian mengalihkan pandangan dari tablet petugas polisi pada pria berkumis yang memegangnya.“Nona Brianna dipindah dari







