Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan

Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan

last updateLast Updated : 2026-03-18
By:  Selfie HurtnessUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
9Chapters
19views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Gara-gara ikan seharga 3,5 miliar, Syifa harus menerima lamaran musuh bebuyutannya. Ia sudah siap hidup sengsara sepanjang hidupnya karena hal itu, tapi kenapa pria berengsek itu, Adhyaksa, makin lama justru makin terlihat manis di matanya?

View More

Chapter 1

Ch. 1 Kedatangan Ikan Sultan

“Dokter ini … kenapa terima pasien waktu klinik sudah mau tutup?”

Suara setengah menggerutu dari asistennya itu membuat Syifa menghela napas pelan. Meski begitu, tangannya sudah bergerak lincah mengambil sampel dari ikan arwana yang baru saja tiba di kliniknya.

Seharusnya, ia sudah berada dalam perjalanan ke kantor catatan sipil untuk menikah saat ini. Namun, di detik-detik terakhir, seorang pria paruh baya datang dengan wajah nyaris menangis dan memaksa Syifa memeriksa ikan yang ia bawa.

“Sudahlah, Fi,” ucap Syifa kemudian. “Pemiliknya memaksa. Katanya pasien udah ditolak beberapa klinik.”

“Tapi saya juga sebenarnya mau sarankan buat tolak aja, Dok,” balas Afi, si asisten. “Salah sedikit, kita dituntut miliaran nanti.”

“Kalau gitu, gerak yang cepat.” Syifa menanggapi singkat. Ia menyodorkan tabung berisi sampel lendir dan darah si ikan. “Jangan ngomel mulu.”

Sepeninggal Afi, fokus Syifa kembali ke pasien di hadapannya, seekor ikan arwana dengan sisik warna putih keperakan. Penggemar ikan dan dokter hewan seperti Syifa tahu ini bukan ikan arwana biasa. 

Ikan itu masuk ke dalam deretan ikan sultan yang harganya bisa mencapai miliaran rupiah, tergantung pada usia si ikan. Bahkan, bayi platinum arowana saja bisa mencapai puluhan juta sendiri.

Karenanya, ia tidak boleh salah langkah. Syifa memastikan betul kadar oksigen dalam air, suhu air dan segala macam pendukung untuk memastikan ikan itu tetap bertahan sampai hasil laboratorium keluar dan Syifa bisa mengambil tindakan apa yang akan dia lakukan. 

Namun, tak lama kemudian, Syifa menyadari bahwa gerakan insang si ikan makin lama makin pelan dan jarang. Lalu–

–tubuh ikan itu oleng ke samping dan diam.

“Astaga!” pekik Syifa tertahan. Ia buru-buru memastikan kondisi si ikan miliaran rupiah itu.

“Dok, ini hasil lab–loh, Dok, ikannya kok oleng…”

Syifa seperti tidak mendengar suara si asisten. Dirinya fokus mencoba memulihkan ikan mahal yang dipaksakan ke meja pasiennya ini. Tapi mau dicek berapa kali, hasilnya tetap sama.

Ikan itu sudah mati. Tidak bisa hidup lagi.

Seketika Syifa diliputi keringat dingin.

“D-Dok, ikannya mati?” gumam Afi dengan suara bergetar. “Kita gimana, Dok? Kalau pemiliknya nuntut kita–”

"Loh, Dok? Ikannya mati?" pekik suara lain memotong kalimat Afi. Bapak-bapak paruh baya yang membawa ikan mahal ke klinik Syifa itu tiba-tiba muncul dan meratap. “Aduh, Dok. Mati. Bos saya bisa ngamuk. Kita bisa dituntut!”

Pikiran Syifa langsung kosong. “Bapak bukan pemiliknya…?”

***

Setelah menenangkan pria paruh baya yang ternyata hanya sekadar supir tersebut, Syifa menunggu kehadiran si pemilik ikan dengan hati yang gelisah. Pikirannya sibuk menyusun penjelasan secara runut mengenai penyakit si Boy dan kronologi tewasnya mendiang ikan arwana tersebut.

Katanya pemilik asli si ikan itu dokter penyakit dalam. Itu bagus, berarti seharusnya, si pemilik paham kalau hidup dan mati pasien, sekalipun diusahakan, berada di tangan Tuhan.

Sebagai sesama petugas medis, Syifa mengharapkan pemiliknya mengerti.

Ting, tong!

Suara bel pintu depan klinik membuat Syifa sontak berdiri. Wanita itu tersenyum sopan dan siap menjelaskan dengan hati-hati disertai permohonan maaf untuk ikan yang mati itu.

Namun, rencana Syifa buyar seketika saat melihat siapa yang datang. Sepasang matanya yang jernih seketika membola tidak percaya.

"Ka-kamu ...." Syifa tergagap, matanya menatap sosok itu dengan saksama. 

“Selamat siang,” ucap pria tinggi tegap berkulit sawo matang tersebut. Manik hitamnya menatap Syifa tajam. “Saya pemilik ikan platinum arowana yang baru saja tewas.”

Syifa langsung lemas, sama sekali tidak menyangka bahwa pemilik ikan seharga miliaran itu adalah musuh bebuyutannya saat SMA.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status