Mag-log inGara-gara ikan seharga 3,5 miliar, Syifa harus menerima lamaran musuh bebuyutannya. Ia sudah siap hidup sengsara sepanjang hidupnya karena hal itu, tapi kenapa pria berengsek itu, Adhyaksa, makin lama justru makin terlihat manis di matanya?
view moreBurhan terburu melangkah turun dari mobil. Langkahnya tergesa-gesa dengan snelli di tangan. Ia bahkan belum memakai jas putih kebanggaan, untuk sekarang sampai di poli adalah yang nomor satu. Untung dia tidak harus visite pasien pagi ini, masih sekitar pukul 10 nanti. Tidak ada cito, jadi ia bisa segera menemui anak gadisnya yang tiba-tiba menelepon dan mengatakan sudah menunggunya di rumah sakit. Ah! Itu mereka. Burhan makin mempercepat langkahnya, Yaksa lebih dulu menyadari kehadiran sang ayah mertua, bangkit dan menyapa Burhan dengan sangat sopan. "Syifa kenapa, Yak?" tanya Burhan dengan nada panik. Mendengar itu Syifa hanya nyengir lebar, ia merogoh tas, memamerkan 5 buah testpack yang hasilnya positif itu. Sejenak Burhan tercengang, sama responnya seperti Yaksa tadi. Namun ia segera bertindak cepat, melukiskan senyum bersamaan dengan matanya yang langsung memerah. Ia merebut testpack itu, mengamatinya satu persatu lalu menepuk bahu Yaksa dengan sorot mata bangga. "Sudah t
Dua minggu kemudian .... Syifa tersentak, ia terengah sembari menoleh dan mendapati Yaksa masih begitu pulas dalam tidurnya. Sudut mata Syifa menangkap kalender meja yang ada di nakas. Sebuah lingkaran besar yang dia buat dengan spidol merah, tertuju pada hari ini. Sembari mengawasi sang suami, Syifa melangkah turun dari kasur, menghampiri pintu walk in closet mereka lalu merangsak masuk ke dalam. Sejenak, Syifa berdiri mematung di depan sebuah kabinet dekat gantungan baju. Ia terdiam cukup lama di sana, sampai kemudian dengan hati-hati, Syifa menarik salah satu laci, menatap nanar barang yang tersimpan rapi di dalamnya. Sebuah cup plastik, beberapa alat tes kehamilan dari berbagai merek, terjajar rapi di dalam sana. Dengan tangan bergetar, Syifa mengulurkan tangan, meraih satu cup dan satu alat tes kehamilan dengan bungkus kertas berwarna putih. Sembari terus bergumam dalam hati, Syifa melangkah masuk ke kamar mandi, duduk di atas kloset dengan wajah dan hati ragu luar biasa. Sy
"Aku pamit, ya?"Syifa mengangguk, kembali menjatuhkan diri ke dalam pelukan Yaksa, mengabaikan Kenny yang seketika menundukkan wajah, tidak berani memperhatikan interaksi manis apa yang tersaji di depan matanya. Yaksa menunduk, menciumi puncak kepala Syifa lalu menarik sang istri dari pelukan. "Istirahat. Nanti jalan-jalan, mau?"Mata Syifa membulat, ia segera mengangguk cepat, dengan binar mata cerah dan sorot bahagia. Yaksa terkekeh, mencubit gemas hidung Syifa lalu menoleh ke arah Kenny. "Ayo." titahnya lalu melangkah keluar dari rumah. Kenny segera mengangkat wajah, berpamitan dengan sopan pada Syifa lalu memburu langkah Yaksa yang sudah hampir mencapai gerbang. "Ada tambahan agenda hari ini?" tanya Yaksa yang terpaksa menarik kembali tangannya, ketika Kenny sudah dengan sigap membuka pintu mobil untuknya. "Belum ada, Pak. Semua masih seperti jadwal yang saya kirim semalam."Kenny segera menutup pintu mobil, beringsut menghampiri sisi lain mobil dan masuk ke dalam. "Saya n
"Jangan kamu suruh Syifa ngurus kucing-kucingmu, Yak. Mama nggak izinin." ucap Juliana pagi-pagi sekali sudah mengomel. Yaksa yang sudah rapi dengan setelan kemeja itu hanya menarik napas panjang, berdoa dalam hati supaya nanti malam mamanya sudah tidak lagi menginap di sini. "Tentu tidak, Ma. Sudah Yaksa pikir soal itu.""Mama tahu selama mereka sehat dan bersih, aman ibu hamil berinteraksi sama mereka, cuma ini ... kucing kamu selusin lebih."Yaksa melirik sang istri. Syifa hanya mengangkat bahunya sembari tersenyum simpul. "Heran ya ... nggak bapak, nggak anak ... suka banget rumahnya macam kebun binatang." kembali Juliana mengomel, kali ini sukses membuat Suhud terbatuk-batuk. Dengan wajah pasrah, Suhud meletakkan cangkir kopi di meja, mengusap bekas kopi di bibir sembari menarik napas panjang. "Namanya juga bapak sama anak." sahutnya santai. Juliana nampak ingin kembali mengomel, namun ia urungkan Agaknya Juliana lebih memilih fokus pada sepiring nasi gorengnya ketimbang t
"Aku rasa tidak sekarang."Tawa Syifa pecah, sama sekali tidak merasa tersinggung ditolak oleh Yaksa. Ia tahu, saat ini memang bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal itu. Syifa terkekeh, bangkit dan menatap sekeliling ruangan. "Tidak marah?" tanya Yaksa sedikit terkejut. "Mau aku marah?" Syif
"Anton!"Langkah kaki Anton terhenti, menoleh ke belakang dan mendapati Gunawan tengah melangkah menghampirinya. Melihat wajah ayahnya, Anton seketika mendengus, kepalanya mendadak sakit. Ada suatu hal penting kalau dilihat sorot mata dan raut wajah itu, dan Anton ... ia cuma bisa pasrah. "Ada ja
Beberapa hari kemudian ... "Ini harus banget aku ikut hadir, Mas?"Syifa berbisik, begitu mereka melangkah masuk ke sebuah gedung perkantoran yang tinggi menjulang. Beberapa orang langsung berdiri menyambut mereka, ada pula yang lantas mengekor di belakang langkah Syifa dan Yaksa. Yaksa tidak men
"Welcome home."Yaksa tersenyum, merangkul Syifa yang sedari turun dari mobil sama sekali tidak melepaskan lengannya. Akhirnya, setelah kondisi Yaksa pulih sempurna, ia sudah diperbolehkan pulang, dan di sinilah mereka sekarang. Istana yang menjadi saksi bagaimana perasaan mereka berubah seiring b






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Mga Ratings
RebyuMore