ログインGara-gara ikan seharga 3,5 miliar, Syifa harus menerima lamaran musuh bebuyutannya. Ia sudah siap hidup sengsara sepanjang hidupnya karena hal itu, tapi kenapa pria berengsek itu, Adhyaksa, makin lama justru makin terlihat manis di matanya?
もっと見る“Dokter ini … kenapa terima pasien waktu klinik sudah mau tutup?”
Suara setengah menggerutu dari asistennya itu membuat Syifa menghela napas pelan. Meski begitu, tangannya sudah bergerak lincah mengambil sampel dari ikan arwana yang baru saja tiba di kliniknya.
Seharusnya, ia sudah berada dalam perjalanan ke kantor catatan sipil untuk menikah saat ini. Namun, di detik-detik terakhir, seorang pria paruh baya datang dengan wajah nyaris menangis dan memaksa Syifa memeriksa ikan yang ia bawa.
“Sudahlah, Fi,” ucap Syifa kemudian. “Pemiliknya memaksa. Katanya pasien udah ditolak beberapa klinik.”
“Tapi saya juga sebenarnya mau sarankan buat tolak aja, Dok,” balas Afi, si asisten. “Salah sedikit, kita dituntut miliaran nanti.”
“Kalau gitu, gerak yang cepat.” Syifa menanggapi singkat. Ia menyodorkan tabung berisi sampel lendir dan darah si ikan. “Jangan ngomel mulu.”
Sepeninggal Afi, fokus Syifa kembali ke pasien di hadapannya, seekor ikan arwana dengan sisik warna putih keperakan. Penggemar ikan dan dokter hewan seperti Syifa tahu ini bukan ikan arwana biasa.
Ikan itu masuk ke dalam deretan ikan sultan yang harganya bisa mencapai miliaran rupiah, tergantung pada usia si ikan. Bahkan, bayi platinum arowana saja bisa mencapai puluhan juta sendiri.
Karenanya, ia tidak boleh salah langkah. Syifa memastikan betul kadar oksigen dalam air, suhu air dan segala macam pendukung untuk memastikan ikan itu tetap bertahan sampai hasil laboratorium keluar dan Syifa bisa mengambil tindakan apa yang akan dia lakukan.
Namun, tak lama kemudian, Syifa menyadari bahwa gerakan insang si ikan makin lama makin pelan dan jarang. Lalu–
–tubuh ikan itu oleng ke samping dan diam.
“Astaga!” pekik Syifa tertahan. Ia buru-buru memastikan kondisi si ikan miliaran rupiah itu.
“Dok, ini hasil lab–loh, Dok, ikannya kok oleng…”
Syifa seperti tidak mendengar suara si asisten. Dirinya fokus mencoba memulihkan ikan mahal yang dipaksakan ke meja pasiennya ini. Tapi mau dicek berapa kali, hasilnya tetap sama.
Ikan itu sudah mati. Tidak bisa hidup lagi.
Seketika Syifa diliputi keringat dingin.
“D-Dok, ikannya mati?” gumam Afi dengan suara bergetar. “Kita gimana, Dok? Kalau pemiliknya nuntut kita–”
"Loh, Dok? Ikannya mati?" pekik suara lain memotong kalimat Afi. Bapak-bapak paruh baya yang membawa ikan mahal ke klinik Syifa itu tiba-tiba muncul dan meratap. “Aduh, Dok. Mati. Bos saya bisa ngamuk. Kita bisa dituntut!”
Pikiran Syifa langsung kosong. “Bapak bukan pemiliknya…?”
***
Setelah menenangkan pria paruh baya yang ternyata hanya sekadar supir tersebut, Syifa menunggu kehadiran si pemilik ikan dengan hati yang gelisah. Pikirannya sibuk menyusun penjelasan secara runut mengenai penyakit si Boy dan kronologi tewasnya mendiang ikan arwana tersebut.
Katanya pemilik asli si ikan itu dokter penyakit dalam. Itu bagus, berarti seharusnya, si pemilik paham kalau hidup dan mati pasien, sekalipun diusahakan, berada di tangan Tuhan.
Sebagai sesama petugas medis, Syifa mengharapkan pemiliknya mengerti.
Ting, tong!
Suara bel pintu depan klinik membuat Syifa sontak berdiri. Wanita itu tersenyum sopan dan siap menjelaskan dengan hati-hati disertai permohonan maaf untuk ikan yang mati itu.
Namun, rencana Syifa buyar seketika saat melihat siapa yang datang. Sepasang matanya yang jernih seketika membola tidak percaya.
"Ka-kamu ...." Syifa tergagap, matanya menatap sosok itu dengan saksama.
“Selamat siang,” ucap pria tinggi tegap berkulit sawo matang tersebut. Manik hitamnya menatap Syifa tajam. “Saya pemilik ikan platinum arowana yang baru saja tewas.”
Syifa langsung lemas, sama sekali tidak menyangka bahwa pemilik ikan seharga miliaran itu adalah musuh bebuyutannya saat SMA.
Lamunan Yaksa buyar, ia tersentak oleh dering ponselnya. Ditatapnya layar itu sekilas, nama yang di sana membuat Yaksa menarik napas panjang dan memilih untuk menghidupkan mesin mobil daripada mengangkat panggilan itu.Juliana benar, sekeras apapun dia menolak, keputusan itu sudah bulat dan tidak bisa dibantah lagi. Kepala Yaksa seketika penuh, masih sepagi ini dan ia sudah harus dibuat tidak mood oleh rentetan teror yang tak henti masuk ke dalam ponselnya. Mendadak Yaksa sedikit risau, ia benarkan kekhawatiran Syifa tadi. Di ruang meeting nanti, Yaksa akan duduk bersama Anton dengan sejawat lain. Yang mana mereka sudah tahu masalah apa yang terjadi di antara mereka. Ada dua kubu di rumah sakit, kubu pencari muka dan posisi aman, ada di pihak Anton dan selalu menatap sinis Yaksa yang digelari predikat lelaki perebut calon istri orang. Sedangkan sebagian lagi, sebagian kecil lebih tepatnya, ada di posisi Yaksa. Tidak menghakimi Yaksa atas pernikahan yang terjadi antara dia dan Syifa.
Anton menatap wajah Amel yang nampak pulas di balik selimut. Bahunya terekspos sempurna, lengkap dengan leher dan sebagian dada yang tidak tertutup selimut. Kantuk dan lelah Anton lenyap, otaknya sibuk berpikir bagaimana caranya mengamankan Amel sehingga kemudian Anton bisa hidup dengan tenang dan damai bersama Syifa. Perlukah dia mencarikan Amel jodoh? Tapi yang seperti apa? Anton bahkan tidak tahu laki-laki yang seperti apa yang Amel inginkan, selama ini yang dia tahu hanyalah Amel tidak ingin posisinya di atas kasur Anton tergeser oleh siapapun! Bisa saja Anton mengusulkan agar papa atau mama Amel mencarikan gadis itu jodoh, tapi ia takut kalau Amel lantas malah buka mulut dan membongkar rahasia kotor mereka ini! 'Sialan!' umpat Anton dalam hati. Kenapa makin lama Anton makin sadar bahwa sebenarnya ia sedang menggali kuburannya sendiri? Semua bermula dari rayuannya pada Amel! Andaikan malam itu tidak pernah terjadi dan hubungan terlarang ini tidak pernah mereka awali, apakah h
Suara penyatuan itu makin terdengar menggila. Berpadu dengan desahan yang bersahut-sahutan dari keduanya. Amel mencengkeram kuat lengan Anton, hingga kemudian mereka meledak bersamaan, ditandai pekikan keras dan penuhnya rahim Amel dengan cairan hangat yang menyembur dari diri Anton. Anton terengah, segera mencabut miliknya yang membuat cairan putih itu turut meleleh keluar. Wajah mereka memerah dengan keringat yang membanjiri tubuh. Rasanya semua beban Anton seperti ikut menguap, tubuhnya terasa ringan, rileks dan lengket. Sementara Amel, jika biasanya ia langsung bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih selemas apapun kakinya, maka kali ini Amel memutuskan untuk tetap berbaring di atas ranjang. Matanya terpejam, seolah tengah menikmati surga dunia yang baru saja Anton beri padanya."Mel, jangan tidur dulu dong. Bersih-bersih dulu." ucap Anton sembari menatapnya dengan gemas. "Abang dulu sana." sahutnya santai, Amel membuka mata sekilas, melirik Anton-ah bukan Anton,
Mata Syifa membulat disusul senyum yang merekah, untung Yaksa segera memberi gestur agar dia naik ke atas mobil kalau tidak .... Syifa duduk di jok setelah memindahkan buket bunga dan barang lain ke pangkuan, ia tak henti-henti menatap buket mawar itu dengan senyum lebar. Hingga tidak sadar, Yaksa sudah duduk di joknya dan mulai menyalakan mesin mobil. "Kita makan dulu." ucapnya singkat. "Kemana?" Syifa mulai meneguk kopinya, ah ... ini favoritenya! "Steak? Atau ingin sesuatu?"Syifa nampak berpikir keras, kotak cokelat ia pindahkan dari pangkuan ke dashboard. Dalam bayangannya, fine dining berdua bersama Yaksa terlihat cukup romantis. Namun bayangan itu buyar ketika sadar mereka masih dengan setelan scrub masing-masing. Kontan Syifa mencebik, untuk pertama kalinya ia tidak suka dengan seragam kebanggaannya ini. "Drive thru aja gimana?"Sangat tidak etis sekali pakai setelan scrub begini sampai kemana-mana. Pakaian ini bukan untuk nongkrong! "Yakin?" Yaksa menoleh sekilas, pand






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビューもっと