LOGINSatta Elena—gadis cantik yang bekerja sebagai salah satu pelayan di sebuah istana Alderaan, menemukan sosok pria misterius di dalam sebuah ruang bawah tanah yang terletak di gudang tua. Matanya membulat ketika tahu jika pria yang ditemuinya sangat mengerikan. Konon, pria bernama Allard itu dikutuk oleh Beastmen jahat penguasa hutan larangan yang berada tak jauh dari istana. “Jangan mendekat! Aroma tubuhmu bisa membuatku sulit untuk mengendalikan diri, Nona!” “Tapi aku ingin menjadi temanmu ….” “Kau yang telah memancingku untuk melakukan lebih pada tubuhmu, jadi … jangan pernah salahkan aku!”
View More“Satta, sebaiknya kau cepat buang makanan ini ke belakang gudang, sebelum Permaisuri tahu.“
Satta, seorang putri dari salah satu pelayan di istana Alderaan mengerutkan dahi. “Bagaimana Kalau besok pagi saja, Bu. Ini sudah larut malam, aku takut kalau harus ke belakang sendirian. Apalagi gudang yang di sudut itu sudah ditumbuhi rumput. Takut jika ada binatang buas.” Maria, ibu kandung Satta itu menggeleng. “Tidak ada tawar menawar, sebaiknya kau segera buang sekarang, Satta. Kalau sampai Permaisuri sampai tahu kau yang telah membuat makanannya ini hangus, kau bisa dihukum!” Dengan napas berat, akhirnya Satta berjalan menuju belakang gudang yang memang sudah begitu lama tidak terjamah. “Ya Tuhan, semoga tidak ada binatang buas di sana,” ucapnya sambil mengaitkan kedua telapak tangannya di depan wajah sebelum melangkah pergi. Langkah kaki Satta terasa berat menapaki rerumputan tinggi yang bercokol di antara celah-celah batu lantai belakang istana. Udara malam yang dingin menusuk kulit, membuatnya menggigil sambil menyelipkan tangan ke dalam apron tempat menyembunyikan makanan yang hendak Satta buang. Ketika sampai di depan gudang tua, Satta sedikit terkejut—rantai besi yang biasanya mengunci erat pintu kayu itu sedikit terbuka—celahnya agak lebar untuk melihat kegelapan pekat di dalam. Tanpa sadar, rasa ingin tahu muncul, dan dengan keberanian sedikit, dia mulai membuka rantai itu. Tiba-tiba langkahnya berhenti ketika melihat sebuah pintu besi, dari sana dia mendengar jelas asal dengkuran tersebut. Satta kembali melangkah dengan pelan, memegang pintu besi lalu, sedikit membukanya. “Ruang apa ini?” gerutunya sambil terus berjalan, menuruni undakan tangga dengan keadaan begitu gelap. Tiba-tiba langkahnya terhenti, saat cahaya lampu temaram dari kejauhan menyinari sedikit ruangan tersebut. Siluet manusia terlihat tepat di hadapan Satta. Sosok seorang pria yang duduk bersandar pada tembok lembab dengan ubin yang sudah bercampur dengan tanah . Kedua kakinya terikat rantai yang mengait pada cincin besi di lantai. Di depannya, sebuah piring dan gelas kosong berlumuran debu dan embun malam. "A-air ….” Suara lirih terdengar dari arah sosok itu, lemah tapi jelas terdengar di dalam ruangan sunyi. Satta ingin berteriak, tapi lidahnya seperti terkunci. Penerangan sama sekali tidak ada di dalam ruangan itu, ia hanya bisa melihat bentuk kabur tubuh sosok tersebut, tidak tahu siapa atau seperti apa wajah orang itu. Namun, rasa iba yang muncul jauh lebih kuat daripada rasa takut. "T-tunggu," ujar Satta dengan suara gemetar. "Aku akan kembali dengan air dan makanan. Jangan ke mana-mana!" Tanpa menunggu jawaban, Satta berlari ke luar dari gudang. Langkahnya tergesa kembali menuju dapur untuk mengambil beberapa makanan yang masih tersisa, sejurus kemudian, gadis itu langsung ke arah kamarnya untuk mengambil air serta korek api yang disimpan di bawah kasur. Dalam hati, Satta berharap ibunya tidak menyadari jika dia tidak benar-benar membuang semua makanan. Beberapa saat kemudian, Satta kembali ke gudang, tangan kanannya memegang ember kecil berisi air dan kain yang membungkus makanan. Cress!! Sontak, api kecil itu menerangi ruangan dengan cahaya kemerahan yang tipis, dan saat cahayanya menyinari wajah pria itu, mata Satta melebar karena terkejut. Di hadapannya, sosok itu memiliki mata berwarna crimson yang menyala seperti bara api, dan di samping kepalanya, dua telinga panjang yang mirip telinga rubah bergerak perlahan mengikuti setiap gerakan Satta, yang lebih mengejutkan lagi, di lehernya terpasang sebuah kalung dengan liontin bentuk bintang yang sama persis dengan yang dipakai oleh Kaisar Raja Alderaan. “K-kau siapa? Apa … kau manusia?” tanyanya dengan polos. Sosok yang masih dirantai mengerjapkan kedua mata crimsonnya, cahaya api yang terpancar sedikit membuat dirinya terusik. Sebab, sebelumnya sosok itu belum pernah terkena cahaya apa pun. “A-air …” katanya lirih.Musim gugur mulai mewarnai lembah Valeria dengan rona jingga dan cokelat kemerahan. Lima bulan telah berlalu sejak derap kaki kuda Raja Allard menghilang di balik kabut fajar. Kehidupan di pondok tepi kebun anggur itu kembali tenang, setidaknya di permukaan. Anak laki-laki Satta, yang ia beri nama Abraham tumbuh menjadi bayi yang sehat dan penuh tawa—satu-satunya pelita yang mengusir sisa-sisa trauma dalam jiwa ibunya.Jhonatan masih menjadi sosok yang tak tergantikan. Setiap pagi, ia tetap pergi ke hutan atau pasar, namun kini kepulangannya selalu disambut oleh aroma masakan sederhana dan tawa bayi yang menggema. Bagi penduduk Valeria, mereka adalah pasangan harmonis yang sedang membangun hidup dari puing-puing kemalangan. Namun, di dalam dinding kayu pondok itu, ada garis yang tak kasat mata namun sangat tegas.Saat sore merangkak naik, Jhonatan duduk di teras sambil memperbaiki sebuah mainan kayu kecil untuk Abraham. Dari dalam rumah, ia bisa mendengar Satta sedang menyanyikan sena
Suara tangisan bayi itu masih bergema halus di dalam pondok, bersahutan dengan rintik hujan yang memukul atap rumbia. Satta memeluk bungkusan kecil di lengannya dengan perasaan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Bayi itu—putranya—memiliki sejumput rambut gelap dan kulit yang kemerahan. Saat jemari kecil sang bayi mencengkeram kain linen kasar yang membungkusnya, Satta merasa seolah seluruh luka di masa lalunya mulai menutup, meski bekasnya akan selalu ada.Jhonatan berdiri di dekat jendela, menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. Matanya melembut menatap pemandangan di atas ranjang. "Dia memiliki matamu, Satta," bisik Jhonatan. "Teduh, namun menyimpan kekuatan badai."Satta tersenyum lemah, namun senyum itu membeku ketika telinga Jhonatan menangkap sesuatu yang asing. Di luar, suara rintik hujan mendadak tenggelam oleh derap kaki kuda yang berat dan teratur. Bukan satu atau dua, melainkan puluhan. Suara logam yang beradu dan perintah-perintah pendek yang tajam mulai me
Tiga hari setelah pelarian itu, Satta dan Jhonatan tiba di sebuah desa terpencil bernama Valeria. Desa itu terletak di lembah yang dalam, tersembunyi oleh kabut abadi dan tebing-tebing curam. Penduduknya adalah orang-orang sederhana—petani anggur dan penenun yang tidak terlalu peduli dengan politik di ibu kota Alderaan.Jhonatan menyewa sebuah pondok kecil di tepi kebun anggur. Di sana, ia memperkenalkan Satta sebagai adiknya, Elena, yang baru saja kehilangan suaminya dalam perang. Penduduk desa menerima mereka dengan tangan terbuka, terenyuh melihat kondisi Satta yang tengah hamil tua.Waktu seakan melambat di Valeria. Satta mulai terbiasa dengan ritme kehidupan desa. Ia belajar memeras susu kambing, mengeringkan bumbu dapur, dan yang paling penting, ia belajar untuk tersenyum kembali tanpa rasa takut.Jhonatan tetap menjadi pelindungnya yang paling setia. Setiap pagi, ia pergi ke hutan untuk mencari tanaman obat yang bisa ia jual atau tukar dengan gandum dan daging di pasar desa. So
Kegelapan hutan di lereng bukit itu terasa seperti pelukan dingin yang melindungi sekaligus mengancam. Jhonatan melangkah dengan pasti, meskipun beban tas obat-obatan di punggungnya dan langkah Satta yang kian melambat karena perutnya yang membesar mulai menguji ketahanan mereka. Di kejauhan, cahaya obor prajurit Alderaan terlihat seperti barisan kunang-kunang api yang haus darah, merayap di kaki bukit.Satta sesekali meringis, memegangi pinggangnya. Rasa nyeri itu datang dan pergi, namun ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia tidak ingin menjadi beban lebih dari ini. Jhonatan, yang seakan memiliki mata di balik kepalanya, berhenti sejenak."Istirahatlah di balik pohon besar ini, Satta. Tarik napasmu perlahan," bisik Jhonatan. Ia membimbing Satta duduk di atas akar pohon ek tua yang menonjol."Maafkan aku, Jhonatan. Karena aku, kau harus kehilangan ketenanganmu. Kau harus meninggalkan gubuk yang kau cintai," suara Satta bergetar, hampir hilang ditelan desau angin malam.Jhonatan berj
Ruangan yang semula begitu berisik akibat dari suara Satta, kini tiba-tiba senyap. Langkah kaki dengan tubuh kekar dan menjulang berjalan mendekat. Matanya menatap Satta dengan tatapan penuh intimidasi. “A-Allard?!” Satta menatap keheranan. “Kenapa kau melakukan ini?” Air matanya berlinang. Ya, p
Satta tertegun cukup lama saat melihat melihat kondisi Allard yang begitu mengenaskan. Wajah pemuda itu sudah sepenuhnya ditutupi oleh darah. Satta kemudian berjongkok dan meraih tubuh pria itu dengan penuh kehati-hatian. “Kenapa kau bisa seperti ini, Allard?” Tangisannya oecah, saat melihat keada
“Cepat keluar, Elena ….” Perintahnya saat sang kaisar telah pergi. Satta segera keluar, sebelum langkahnya mendekati Allard, gadis itu segera memungut celana dalamnya yang semoat berserak di atas lantai. Dengan wajah merah menahan malu, Satta kemudian mendekat dan segera pamit pada Allard. Na
Ujung jemari Allard memasuki lembah belukar milik Satta dengan begitu lembut. Membuat gadis itu mendesah penuh hasrat. Saat satu jari sukses masuk, tubuhnya menggelinjang. “Nikmatilah, kau harus tahu jika surga dunia itu nyata, Elena ….” Satta memejamkan matanya, sesekali membeliak hanya ters












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore